
Seminggu sudah pihak Kerajaan Kawasenan dan Kerajaan Galunggung Sukma berada di istana Kerajaan Sindang Haji untuk berjaga barang kali ada serangan lain, tapi hal yang ditakutkan itu tidak terjadi hingga sekarang.
Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma dan Prabu Karta Kajayaan Pasundan serta para petinggi lainnya, beberapa hari yang lalu sudah membicarakan tentang rampasan perang dan juga pembagian lainnya.
Hingga pada akhirnya, dua raja besar itu sepakat untuk membagi hasil dengan adil. Namun karena letak Kerajaan Galunggung Sukma terlalu jauh jaraknya dengan Kerajaan Kawasenan, maka wilayah yang harusnya didapat diganti dengan wilayah lain yang letaknya dekat dengan Kerajaan Galunggung Sukma sendiri.
Dengan begini, semuanya mendapatkan bagian secara adil dan sama rata. Sehingga tidak ada lagi perselisihan diantara keduanya, apalagi rapat tersebut dipimpin oleh Eyang Resi Patok Pati.
Sedangkan bagian Kerajaan Kawasenan yaitu mendapatkan seluruh wilayah kekuasaan Sindang Haji, karena memang jaraknya cukup dekat dengan Kerajaan Kawasenan.
Dengan begini, dua kerajaan besar itu menjadi lebih besar lagi karena mendapatkan bagian wilayah baru yang terbilang luas. Tapi tetap, Kerajaan Galunggung Sukma tidak bisa mengalahkan luasnya Kerajaan Kawasenan.
Setelah semua kesepakatan dan hasil dibagi rata, maka Prabu Karta Kajayaan Pasundan pun pamit undur diri kepada Prabu Ajiraga dan yang lainnya. Rasanya, sudah terlalu lama dia meninggalkan kerajaannya.
"Prabu, Eyang Resi, dan yang lainnya, aku haturkan terimakasih kepada kalian semua. Aku pamit dulu, karena aku sudah terlalu lama pergi. Semoga dengan ini, hubungan kita bisa menjadi lebih akrab lagi," kata Prabu Karya Kajayaan Pasundan pamit untuk kembali kepada kerajaannya.
"Terimakasih pula karena Prabu Karta sudah mau bekerja sama dengan kami. Kami akan selalu mengingat jasa besar ini, jika perlu bantuan, datang dan bicarakan saja kepada kami. Jika kami sanggup, pasti kami akan membantu Prabu Karta," kata Prabu Ajiraga sambil membungkuk hormat.
"Terimakasih prabu. Pasti, kami juga tidak akan melupakan semua ini. Kami pergi dulu, sampurasun," ucap Prabu Karta Kajayaan Pasundan sambil hormat dan diikuti semua prajurit yang tersisa.
__ADS_1
"Rampes …" jawab pihak kerajaan Kawasenan dengan serentak.
Setelah semuanya selesai, berangkatlah rombongan Kerajaan Galunggung Sukma bersama puluhan kereta kuda yang mengangkut semua harta rampasan yang sudah dibagi rata itu.
Mereka akan pulang ke Tasikmalaya, tempat dimana Kerajaan Galunggung Sukma berdiri. Langkah kaki kuda pun bergema pada siang hari itu, bendera berlambangkan Kerajaan Galunggung Sukma pun berkibar sepanjang jalan.
Kini yang ada disana hanyalah pihak Kerajaan Kawasenan, tak kurang dari seribu pasukan menjaga pengawalan ketat karena beberapa hari lalu datang pula para pasukan untuk membantu lebih keamanan dan membereskan semua sisa perang saudara.
###
Kabar tentang perang besar yang melibatkan tiga kerajaan Pasundan pun terdengar hingga ke semua pelosok tatar Pasundan. Bahkan kabar ini terdengar pula oleh Kerajaan Tunggilis, sebuah kerajaan yang masih termasuk kerjaan Pasundan, letaknya agak jauh di Timur kerjaan Kawasenan.
Berbeda dengan dua kerajaan lainnya, Kerajaan Tunggilis yang dipimpin oleh Prabu Katapangan Kresna menyatakan bersedia untuk menyatukan kerajaannya jika kerajaan lain sudah bersatu juga.
Mendengar berita ini, tentu menggemparkan seluruh pihak kerajaan. Tapi mereka tidak berniat untuk bertindak ataupun lainnya, karena sebelumnya memang pihak Kerajaan Kawasenan sempat mengutus seseorang kesana untuk menanyakan kesediaan Prabu Katapangan Kresna dalam membantu penyerangan ke Kerajaan Sindang Haji.
Tapi sayangnya Kerajaan Tunggilis tidak mau campur tangan dalam perang itu. Alasannya karena tidak ingin membunuh sesama saudara.
Karena itulah pihaknya kaget mendengar tentang perang besar yang terjadi belum lama ini. Tidak disangka rencana perang itu akan twrjadi.
__ADS_1
"Semoga saja semua kerajaan di tanah Pasundan bisa bersatu," gumam Prabu Katapangan dalam ruangannya.
Ternyata berita perang besar pun bukan hanya menggemparkan Kerajaan Tunggilis saja, para tokoh aliran hitam dan putih pun mendengar tentang berita ini.
Dan semuanya memberikan respon yang berbeda-beda. Tokoh aliran putih merasa senang, karena mungkin impian untuk bersatu bisa tercapai. Sedangkan para aliran hitam semakin geram, karena mereka akan semakin sulit untuk menguasai wilayah kerajaan.
###
Dua hari setelah pulangnya pihak Kerajaan Galunggung Sukma pun berlalu, saat ini tinggal pihak Kerajaan Kawasenan lah yang akan pulang kembali ke kerajaannya.
Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma berniat untuk mempercayakan Kerajaan Sindang Haji kepada seorang sepuh bernama Eyang Batara Bodas sebagai penasihat untuk membantu menjaga dan mengurus kerajaan itu dengan semua orang-orangnya. Tapi tetap dibawah kendali Kerajaan Kawasenan.
Eyang Batara Bodas adalah adik dari guru Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma, yaitu Eyang Panembahan. Dua hari lalu Prabu Ajiraga memang mengundang sepuh itu untuk datang menghadap kepadanya.
"Eyang, ananda mohon supaya eyang sudi mengurus tempat ini. Ananda percayakan semuanya kepada eyang, biarlah eyang menjadi penasihat. Ananda akan memilih yang lain untuk menjadi pemimpin disini. Ananda sangat butuh bantuan," pinta Prabu Ajiraga sambil berlutut dihadapan orang tua itu.
"Baik ananda prabu. Karena eyang memandang dirimu dan juga Eyang Resi Patok Pati, maka eyang bersedia. Tapi eyang tidak akan banyak ikut campur jika bukan bagian eyang," kata Eyang Batara Bodas.
"Hatur nuhun (terimakasih) eyang. Ananda pamit undur diri, jika ananda sudah tiba disana, ananda akan mengirim pasukan kembali untuk disini," kata Prabu Ajiraga.
__ADS_1
Rombongan Prabu Ajiraga pun segera kembali ke Kerajaan Kawasenan setelah semua persiapan selesai dengan diiringi lima ratus pasukan dan juga para pendekar lainnya.
Derap langkah kaki kuda dan langkah kaki prajurit pun bergema. Mereka pulang dengan sebuah kebanggaan dan sebuah harapan besar. Serta membawa sebuah kemenangan yang menjadi titik terang untuk Pasundan yang lebih jaya lagi.