
Puluhan senjata berbeda telah berkilat membelah cakrawala. Pemegangnya sendiri sudah maju ke depan.
Tiga tokoh tua dikepung dari segala penjuru. Tapi meraka terlihat sangat tenang. Sama sekali tidak merasa takut ataupun sejenisnya.
Lagi pula, kenapa mereka harus takut? Toh walaupun yang menyerang sebanyak itu, tetapi kekuatan mereka tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya.
Tiga orang tua tersebut belum bergerak. Lebih tepatnya memilih untuk tidak bergerak.
Mereka sengaja menunggu serangan datang secara serempak.
Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Tujuh puluhan anggota Organisasi Tengkorak Maut sudah tiba di hadapan tiga tokoh sakti.
Mereka langsung menyerang bersama kelompok yang sudah ditentukan sebelumnya. Tiga tokoh telah mendapatkan jatahnya masing-masing.
Dua puluh lima anggota organisasi menyerang Kakek Sakti Alis Tebak. Kilatan dari puluhan senjata telah tiba.
Tapi si kakek masih belum bergerak sama sekali. Jangankan bergerak, bahkan wajahnya tidak menimbulkan perasaan apapun.
Seolah dia tidak mempunyai semangat untuk bertarung.
Melihat kenyataan itu, dua puluh lima anggota tersebut semakin bersemangat lagi. Puluhan senjata tiba bersamaan.
Saat jarak senjata dengan tubuh tua renta hanya terpaut satu jengkal, saat itulah Kakek Tua Alis Tebal bereaksi.
Dia memutarkan badannya lalu menghentakkan tangannya. Gelombang kejut tercipta seperti hembusan angin kencang yang menerpa bebatuan kecil.
Puluhan orang tersebut terlempar hanya dalam sekali serangan saja. Walaupun mereka masih sanggup untuk bangkit, tapi keadaan sekarang telah berbeda daripada sebelumnya.
Kakek Sakti Alis Tebal kini telah bergerak.
Gerakan yang sangat cepat dan mematikan. Kedua tangannya dimainkan dengan gerakan rumit. Tubuhnya melesat ke sana kemari dalam waktu yang sangat singkat sekali.
Bayangan berwarna putih berkelebat kadang mengelilingi puluhan anggota. Hanya dalam waktu sekitar lima belas menit, dua puluh orang anggota telah terkapar tak berada di tanah.
__ADS_1
Entah bagaimana caranya Kakek Alis Tebal melakukan hal tersebut. Yang jelas, rombongannya sangat terkejut melihat kejadian tersebut.
Puluhan anggota tersebut memang tidak sampai dibuat tewas, kalaupun ada hanya beberapa orang saja. Tetapi meskipun tidak tewas, mereka tetap tidak sanggup melanjutkan pertarungan lagi karena kini seluruh tubuhnya telah lemas seperti seorang yang lumpuh.
Berbarengan dengan itu, Raja Tombak Emas dari Utara juga melakukan pergerakan. Tubuhnya melesat menembus celah tiga puluh orang yang baginya merupakan segerombolan semut rangrang.
Kedua tangannya dimainkan dengan cepat. Sepasang tangan itu seperti layaknya sepasang pedang.
Dengan beraninya, datuk rimba hijau itu membenturkan kedua tangannya ke setiap senjata lawan. Hebatnya, bukan tangan dia yang buntung ataupun terluka, sebaliknya, setiap senjata yang telah berbenturan dengan tangannya, maka senjata itu akan patah menjadi dua bagian.
Hanya dalam waktu yang relatif singkat, puluhan senjata telah patah jadi dua atau tiga bagian. Suara benda keras berjatuhan ke tanah saling tindih dengan benda keras lainnya terdengar tiada henti.
Puluhan orang itu kaget. Mereka baru melihat ada seorang kakek tua yang sesakti ini. Orang-orang tersebut memang tidak tahu secara pasti bahwa orang tua yang sedang di hadapi saat ini merupakan datuk dunia persilatan.
Sehingga walaupun senjata mereka dapat dipatahkan seperti sebatang golok mematahkan ranting pohon, tekad untuk membunuh di hati puluhan orang itu masih berkobar.
Mereka menyerang kembali. Serangan berupa pukulan dan tendangan datang dari segala penjuru.
Tetapi, lagi-lagi sebuah kejadian diluar dugaan mereka kembali terjadi
Sebelum serangannya mengenai tubuh si kakek tua, tubuh mereka lebih dulu terlempar sejauh lima tombak. Orang-orang tersebut jatuh saling tindih satu sama lain. Atau ada juga yang menabrak batang pohon.
Sementara itu di sebelahnya, Nyai Tangan Racun Hati Suci si datuk dari Barat, juga sedang melakukan pertempuran.
Hanya saja sama seperti dua rekannya yang lain, wanita tua itu terlihat sama sekali tidak merasa kewalahan. Walaupun puluhan orang menyerang ganas seperti segerombolan serigala kelaparan, tetapi mangsa yang mereka hadapi kali ini bukanlah mangsa biasa.
Dengan entengnya Nyai Tangan Racun bergerak ke sana kemari menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf sempurna.
Dia tidak menghantam ataupun memukul. Untuk melawan puluhan orang tersebut, Nyai Tangan Racun Hati Suci hanya perlu menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya saja.
Sentilan.
Benar, hanya dengan menggunakan sentilan, dia sudah cukup untuk melawan puluhan anggota rendahan tersebut. Setiap kali tangannya menyentil, selalu terlihat sinar merah berkilat.
Sentilannya pelan.
__ADS_1
Tap kekuatan yang terkandung dalam sentilan itu sudah lebih dari cukup untuk mementalkan setiap lawan.
Setiap kali sentilannya mengenai satu orang, maka orang yang terkena akan langsung terlempar tiga tombak dan tidak dapat meneruskan pertarungan lagi.
Nyai Tangan Racun Hati Suci terus bergerak memberikan sentilan demi sentilan.
Sepuluh menit kemudian, puluhan anggota Organisasi Tengkorak Maut yang berusaha membunuhnya, kini telah terkapar di tanah.
Dari tiga pertarungan, hanya pertarungan wanita tua itu saja yang terlihat cukup mengerikan. Puluhan anggota yang menjadi lawannya mulai meringis menahan nyeri yang teramat sangat.
Ternyata sentilan yang diberikan oleh Nyai Tangan Racun Hati Suci, bukanlah sentilan biasa.
Sentilan tersebut mengandung racun. Memang tidak terlalu mematikan, tapi jika tidak segera mendapat pertolongan, bisa dipastikan dalam waktu tiga hari saja, korbannya akan tewas mengenaskan.
Tiga pertarungan selesai dalam waktu yang sangat singkat. Tak kurang dari dua puluh menit, tujuh puluh anggota Organisasi Tengkorak Maut telah terkapar tak berdaya.
Di antara mereka, tidak ada yang dapat untuk melarikan diri. Jangankan kabur, mengangkat kepalanya saja rasanya sangat berat sekali. Seolah tubuh mereka telah ditindih oleh sebongkah gunung.
"Hahh, meskipun tidak memuaskan, tapi setidaknya lumayan lah. Ototku terasa lebih lemas dan tubuhku terasa jauh lebih segar," gumam Kakek Sakti Alis Tebal.
"Benar, aku pun merasakan hal yang sama sepertimu," timpal Raja Tombak Emas dari Utara menyetujui perkataan sesepuh Organisasi Pelindung Negeri itu.
Setelah pertarungan mereka selsai, rombongannya segera menghampiri.
"Nyai, apakah kita akan melanjutkan perjalanan sekarang?" tanya Tuan Santeno Tanuwijaya.
"Tidak, tunggu sebentar. Pendekar Tanpa Nama bersama kekasihnya sedang menuju kemari. Sebentar lagi mereka akan segera tiba," jawab Nyai Tangan Racun.
Semua orang mengangguk. Mereka kemudian beristirahat untuk mengumpulkan tenaga sebagai persiapan sambil menunggu kedatangan Cakra Buana.
Sepeminum teh kemudian, dari arah belakang terlihat ada dua bayangan orang sedang melesat cepat ke arah mereka.
Cakra Buana bersama sang kekasih.
Mereka datang juga. Kini, semua orang telah berkumpul kembali. Kalau sudah seperti ini, maka sudah waktunya untuk segera melanjutkan rencana lainnya.
__ADS_1
"Anak muda, kau berhasil mengalahkan dua pendekar itu?" tanya Nyai Tangan Racun Hati Suci kepada Cakra Buana.
"Benar nyai. Mereka telah tewas. Satu olehku, satu lagi oleh Bidadari Tak Bersayap," jawab Pendekar Tanpa Nama sambil melirik sang kekasih