Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Harimau Menyongsong Rembulan


__ADS_3

Malembo Kahamana si Manusia Kejam Langkah Seribu tidak mampu menjawab. Mulutnya terkunci, tapi gerak tubuhnya dapat di lihat bahwa dia ketakutan.


Pada akhirnya karena terus menerus dipaksa, Malembo Kahamana mengaku juga.


"Sepertinya tidak ada untuk menyembunyikan sesuatu dari Tuan Santeno Tanuwijaya. Dan mau tidak mau, aku harus mengakui bahwa apa yang kau katakan emang benar," jawabnya karena tidak dapat berbohong lagi.


Tuan Santeno Tanuwijaya geram. Tubuhnya bergetar karena tidak kuasa menahan amarah yang sudah menggunung.


Anak yang paling dia sayangi, tewas di tangan orang lain yang bahkan sebelumnya tidak mempunyai masalah dengannya. Hal ini bukan saja membuatnya sangat marah, bahkan dia tidak percaya karena masih saja ada orang berani mencari masalah dengan Perguruan Tunggal Sadewo.


"Bagus. Akhirnya kini kau mengakui, lalu di mana Wanita Berhati Batu? Biar sekalian aku antarkan kalian ke neraka," ucap Tuan Santeno dengan geram.


"Aku tidak tahu, setelah menyelamatkan muridnya, dia sendiri lantas pergi entah ke mana,"


"Lalu, mana muridnya?"


"Dia sudah tewas,"


"Siapa yang membunuhnya?"


"Bidadari Tak Bersayap," jawab Malembo.


"Hemm, baik, sekarang tidak usah berlama-lama lagi. Pergilah kau ke nereka …"


Tuan Santeno Tanuwijaya melesat ke depan melancarkan pukulan maut. Dia tidak akan bermurah hati kepada pelaku pembunuh anaknya.


Tentu saja, siapapun orangtuanya, pasti dia tidak akan terima kalau anaknya tewas di bunuh.


Tuan Santeno Tanuwijaya terkenal dengan ilmu tangan kosongnya yang sangat mengerikan. Bahkan saking hebatnya, dia sampai diberi julukan Si Tangan Tanpa Belas Kasihan.


Sebab kalau dia marah, siapapun tidak akan mendapat belas kasihan darinya. Jurus terkuat yang dia miliki adalah serangkaian jurus Pukulan Dewa Bumi. Jurus itu terdiri hanya dari tiga tingkatan saja.


Tapi semuanya merupakan jurus kelas atas. Jarang ada orang yang mampu menandingi jika dia sudah menggelar jurus tersebut.


Sekelas datuk rimba hijau saja akan ketetera kalau menghadapi jurus tersebut. Apalagi pendekar ecek-ecek?


Dan saat ini, Tuan Santeno Tanuwijaya sudah menggelar jurus bagian pertama.


"Satu Dewa Memukul Gunung Merapi …"


Sebuah pukulan dahsyat yang berhawa panas. Setiap hawa pukulannya mampu membakar pakaian seseorang. Bisa dibayangkan bagaimana mengerikannya.


Malembo Kahamana tersentak. Dia sudah tahu bagaimana hebatnya maha guru Perguruan Tunggal Sadewo tersebut. Siapa pula yang tidak kenal dengannya? Para pendekar di seluruh Tanah Jawa, sudah pasti pernah mendengar nama besar Tuan Santeno Tanuwijaya si Tangan Tanpa Belas Kasihan.


Sifatnya yang keras tapi berada di golongan merdeka, sudah terkenal ke seantero jagat raya. Karena sifatnya tersebut, jarang ada orang yang berani mencari masalah dengannya. Baik itu per-orangan, maupun per-kelompok.

__ADS_1


Tak nyana, sekarang Organisasi Tengkorak Maut bermain terhadapnya.


Pukulan yang berhawa panas sudah tiba. Malembo Kahamana menghindari dengan cara melompat lalu bersiap untuk melakukan serangan lagi.


Tuan Santeno menyerang lagi. Kedua tokoh kelas atas tersebut sudah memulai kembali pertarungan mereka.


Begitupun dengan para tokoh yang lainnya. Bidadari Tak Bersayap sudah bertarung melawan satu tokoh yang bersenjatakan sebilah pedang.


Gadis itu marah, sehingga sepak terjangnya lebih menakutkan daripada sebelumnya. Jurus pedang terkuat yang dia miliki sudah di gelar kembali.


Si tokoh yang menjadi lawannya tersentak. Karena tidak mau kalah, maka dia juga turut mengeluarkan jurus pamungkas miliknya.


Di sisi lain, Cakra Buana sendiri sudah melakukan pertarungan. Dia bertarung melawan tiga tokoh kelas atas sekaligus.


Kekuatan dahsyat masih tetap merembes keluar dari tubuhnya. Semakin lama semakin dahsyat. Tubuhnya nampak sesekali bercahaya. Sedangkan matanya semakin tajam bagaikan sebilah pedang.


Alasan dia bertarung melawan tiga tokoh sekaligus karena Pendekar Tanpa Nama tidak mau di bilang lemah oleh pembacanya. Khususnya bagi mereka yang tidak menghayati.


Walaupun Cakra Buana kurang setuju, tapi mau bagaimana lagi? Dia ada karena mereka. Hanya saja, mereka sedikit melakukan kesalahan karena tidak menjiwai perjalanannya. (Jangan di ambil hati. Cakra Buana emang gitu)


Cakra Buana sudah kelewat marah. Walaupun pertarungan baru dimulai, tetapi Pendekar Tanpa Nama itu sudah mengeluarkan jurus tangan kosong dari rangkaian 7 Jurus Naga dan Harimau.


Karena sekarang keadaan telah berbeda, maka Cakra Buana tidak mau berlama-lama lagi dalam pertarungan kali ini.


"Harimau Menyongsong Rembulan …"


Pendekar Tanpa Nama menggeram keras. Dia langsung menerjang ketiga lawan dengan dahsyat. Dengan kekuatan 'aneh' yang masih merembes keluar, bukan perkara sulit bagi Cakra Buana untuk dapat melawan tiga tokoh sekaligus.


Kedua tangannya digerakkan dengan tenaga baik luar maupun dalam yang dahsyat. Kedua kakinya memberikan tendangan dari atas ke bawah, atau kadang sebaliknya. Dari sisi kanan ke sisi kiri, sisi kiri ke kanan.


Kedua tangannya seperti orang menyongsong sesuatu. Hanya saja membentuk sebuah cakar harimau.


Tiga tokoh tersebut merasa keteteran. Kalau sebelumnya Cakra Buana berada di bawah angin, maka saat ini dia berada di atas. Kalau tadi terdesak, sekarang justru mendesak.


Gempuran yang dia berikan benar-benar membuat tiga tokoh itu kewalahan. Gerakan tangan dan kakinya penuh dengan tipuan yang berbahaya. Tak jarang berbagai titik penting di tubuh menjadi sasaran utamanya.


Tiga tokoh kelas atas tersebut bertarung dari tiga penjuru. Mereka melakukan hal ini dengan harapan supaya bisa mengecoh Pendekar Tanpa Nama.


Sayangnya yang mereka lakukan adalah kesalahan besar. Justru karena langkah yang mereka pilih tersebut, Cakra Buana malah lebih hebat gaya bertarungnya.


Sementara itu, para guru dari Perguruan Tunggal Sadewo juga telah melewati puluhan jurus. Pertarungan mereka tidak kalah serunya dengan yang lain.


Sebab jurus-jurus yang keluar pun merupakan jurus hebat. Bahkan merupakan ciri khas dari Perguruan Tunggal Sadewo yang terkenal dengan jurus tangan kosong.


Waktu semakin berjalan lambat. Suara binatang hilang tertelan oleh suara dentingan senjata atau benturan tulang para pendekar yang kini sedang bertarung. Rembulan menampakkan diri hanya setengah saja. Seolah dia enggan melihat manusia yang selalu penuh dengan pertumpahan darah.

__ADS_1


Pertarungan Bidadari Tak Bersayap sudah hampir mencapai akhir. Jurus Pedang Cantik Menaburkan Bunga di Surga memperlihatkan kedahsyatannya.


Tokoh yang menjadi lawan gadis itu dibuat tidak berdaya sama sekali. Entah sudah berapa banyak luka goresan pedang yang dia terima dari si gadis. Memasuki jurus keenam puluh, tokoh tersebut berhasil di kalahkan oleh Bidadari Tak Bersayap.


Perutnya koyak. Bahkan bagian dalamnya sampai berceceran.


Pertarungan Cakra Buana juga hampir mencapai akhir. Kalau keadaan tidak berubah, dia hanya membutuhkan sekitar sepuluh sampai lima belas jurus lagi untuk mengalahkan tiga tokoh tersebut.


Jurus Harimau Menyongsong Rembulan memang hebat. Cakra Buana sendiri baru mengetahui kedahsyatan jurus tersebut.


Sekarang dia menyerang di bagian bawah. Bagian perut ke kaki menjadi sasaran utamanya. Namun begitu musuh terfokus kepada titik sasaran tersebut, Pendekar Maung Kulon segera mengubah gaya serangannya dalam waktu singkat.


###


Note:


Mohon maaf buat semuanya ya:-)


Novel ini bukan bertele-tele ataupun Cakra Buana lemah.


Pertama, ini novel di aplikasi online. Per bab/eps. Kalau di tulis sampai akhir dalam satu bab, tekor bandar. Namun, lain lagi kalau novel ini menjadi sebuah buku. Karena tidak akan ada yang namanya "target".


Kalau di buku, tidak akan terasa bertele-tele. Thor, kenapa pendek banget? Ini 1k lebih. Kenapa ga lebih banyak? Maaf, adakah keuntungan lain? Di sini author butuh kebijakan dari kakang dan nyai sekalian. Mohon dimengerti.


Kenapa Cakra Buana kalah terus dan terkesan lemah?


Kapan dia kalah? Setelah mengembara dari lembah tak bernama, dia tidak pernah kalah. Mohon di ingat.


Thor, kenapa bertarung terus?


Kalau dialog terus, nantinya bosan. Makanya sebelumnya sudah disampaikan, selingan. Dialog, bertarung, intrik, misteri.


Kalau ada yang baca novel jadul, pasti tahu. Semisal karya Bastian Tito, SH Mintarja. Dll lah.


Author bisa saja banyak dialog sedikit bertarung. Tapi nanti salah lagi. Selingan aja salah bagi sebagian pihak wkwkwk.


Yah gimana lagi, resiko.


Author bukan gamau di kritik. Hanya saja sebelum mengkritik, ada baiknya untuk mencerna dan menghayati dulu. Jadi author enak jawabnya.


Untuk yang selalu mendukung dan mengerti, author ucapkan terimakasih. Tanpa kalian, author bukan apa-apa.


See u kakang dan nyai sekalian.


Sampurasun.

__ADS_1


__ADS_2