
Eksekusi 'Hukum Iris' sudah berlangsung beberapa waktu. Tapi para warga desa Karangpaningal belum kebagian semuanya. Mereka yang sudah kebagian mendapat kepuasan tersendiri.
Sedangkan kepala desa dan juga anak buah Kelompok Ucing Hideung hanya bisa menahan rasa perih yang terus mereka rasakan. Mereka hanya biss pasrah, menangis, dan tentunya hanya bisa menyesali apa yang sudah mereka berbuat.
Ketika dititipkan jabatan oleh Tuhan, dia tidak menjalankannya dengan baik. Ketika dia diberikan amanah oleh rakyat, tidak bisa pula menjaga amanah tersebut. Maka beginilah jadinya.
Apapun yang kita perbuat didunia akan mendapatkan balasan yang setimpal suatu saat nanti. 'Jika kamu menanam apel, maka kamu akan bisa memanen apelnya dan tidak mungkin akan memanen nanas. Begitupun sebaliknya, jika kamu menanam nanas, maka kamu akan memanen nanas itu sendiri dan tidak mungkin akan memanen apel'.
Semua warga desa Karangpaningal sudah mendapatkan bagian untuk memeras jeruk nipis pada perut 'penjajah' itu. Prosesi 'Hukum Iris' sudah selesai. Para warga pun mulai membubarkan diri.
Kini yang ada disana hanyalah kepala desa, anak buah Kelompok Ucing Hideung, Langlang Cakra Buana dan juga tentunya Ki Jaya Wikalpa. Rencananya orang tua itu akan menindaklanjuti kejahatan ini dan akan segera memberikan laporan kepada pihak yang lebih berwenang.
Karena dirasa masalahnya sudah selesai, Langlang Cakra Buana pun berniat untuk melanjutkan kembali perjalanannya yang beberapa haru sudah tertunda.
"Ki, terimakasih sudah membasmi kejahatan dan terimakasih pula sudah menolong nyawaku. Aku harap suatu saat bisa membalas budi jasa ini. Aku berniat untuk melanjutkan perjalanan kembali," kata Langlang Cakra Buana.
"Aishh … kau hendak kemana nak Langlang? Bukankah kau masih penasaran kenapa aku menyembunyikan diri sebagai pendekar?" tanya Ki Jaya Wikalpa.
"Ah … masalah itu kita bahas lain kalo saja ki. Tapi aku yakin, aki tidak mengatakan sebagai seorang pendekar ketika pertama kali bertemu karena mungkin kurang yakin akan diriku. Aku sudah terlalu lama menunda perjalanan, aku ingin segera menemui eyang guru," ucap Langlang Cakra Buana.
Sebenarnya ucapan pemuda putih itu tidaklah jauh meleset. Memang itu salahsatu alasan Ki Jaya Wikalpa menyembunyikan identitasnya kepada Langlang Cakra Buana. Jadi pendekar tua itu hanya bisa tersenyum dan mengangguk saja.
__ADS_1
"Baiklah, jika kau tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi, maka aku tidak bisa melarangnya. Semoga kita bertemu dilain hari pahlawan muda. Sampaikan salamku kepada Eyang Resi Patok Pati," kata Ki Jaya Wikalpa.
"Baik ki, pasti akan aku sampaikan. Nah, sekarang aku pamit undur diri dulu ki. Sampai juma lagi, sampurasun," ucap Langlang Cakra Buana sambil siap-siap untuk segera pergi.
"Rampes. Semoga Sang Hyang Widhi selalu melindungi setiap langkahmu nak," kata Ki Jaya Wikalpa sambil tersenyum memandangi pemuda yang perlahan hilang dari pandangan.
###
Smentara itu di Kerajaan Kawasenan, situasi disana sangat sibuk. Beberapa waktu lalu Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma sempat mengutus Eyang Resi Patok Pati ke salahsatu kerajaan yang berdekatan dengan mereka.
Letaknya berada di sebelah barat Kerajaan Kawasenan. Kerajaan itu bernama Kerajaan Galunggung Sukma dan dipimpin oleh seorang raja yang adil serta bijaksana bernama Prabu Karta Kajayaan Pasundan.
Tentu saja kedatangan salahsatu tokoh besar aliran putih seperti Eyang Resi Patok Pati yang merupakan pendekar legenda adalah sebuah kehormatan besar bagi Prabu Karta Kajayaan Pasundan.
Tapi ketika Eyang Resi menyampaikan maksud dan tujuan dari kedatangannya ke Kerajaan Galunggung Sukma ini, raut wajah Prabu Karta Kajayaan Pasundan terlihat berubah.
Raja adil dan bijaksana itu bingung dan menimbang-nimbang untuk beberapa saat lamanya. Di sisi lain memang bermaksud baik, tapi di sisi lain juga dia ingin tetap menjadi raja yang dicintai oleh rakyat.
"Eyang, kalau untuk berdamai aku memang sudah menginginkan hal ini untuk beberapa lamanya. Tapi kalau untuk melebur kerajaanku dan bersatu dengan Kerajaan Kawasenan, nyuhun pangampura (meminta maaf), aku harus berpikir dahulu," ucap Prabu Karta Kajayaan Pasundan.
"Tidak masalah prabu. Pikirkan saja baik-baik dahulu kalau hal tersebut, tapi kalau prabu sendiri sudah mau berdamai dan bekerjasama dengan Kerajaan Kawasenan, ini adalah sesuatu yang baik. Karena dalam beberapa waktu dekat, Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma berencana untuk melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Sindang Haji dan melakukan perluasan wilayah. Dan jika penyerangan ini berhasil, maka kerajaan yang ada ditanah Pasundan ini akan berkurang satu."
__ADS_1
"Sebenarnya tujuan Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma mengajak berdamai dan bersatu menjadi sebuah kerajaan yang besar tak lain karena supaya kekuatan kita semakin kuat untuk menyambut serangan-serangan yang mungkin akan datang dari kerajaan lainnya. Mengingat Pasundan ini adalah sebuah tanah yang begitu besar, luas dan juga kaya. Prabu Ajiraga ingin melihat semua rakyat hidup dalam satu pemerintahan dan dipimpin oleh raja yang adil."
"Sedangkan untuk masalah raja yang akan memimpin nantinya biarkan saja waktu yang menjawab. Kita akan diskusikan hal itu ketika empat kerajaan sudah bersatu."
"Tapi aku sadar. Menyatukan empat kerajaan bukanlah perkara yang mudah. Harus butuh perjuangan panjang, maka dari itu aku datang kesini baik-baik kepada Prabu Karta Kajayaan Pasundan. Prabu Ajiraga pun sudah mengutus orang ke Kerajaan Sindang Haji, tapi niat baik kita ditolak mentah-mentah. Bahkan pihak mereka seperti menantang kita karena mereka merasa Kerajaan Sindang Haji lah yang terkuat."
"Begitulah maksud dan tujuan kami yang sebenarnya. Dan jika prabu sudah memutuskan untuk berdamai dan bergabung dengan Kerajaan Kawasenan, maka ini menjadi kabar yang sangat baik. Aku berharap uluran tangan prabu jika penyerangan sudah terjadi," kata Eyang Resi Patok Pati menjelaskan panjang lebar tentang maksud yang sebenarnya.
Begitulah, setelah kedua pihak kerjaan itu setuju untuk melakukan kerjasama dalam penyerangan nanti, maka Eyang Resi Patok Pati pun pamit undur diri.
Dan sekarang, waktu yang sudah ditentukan untuk penyerangan ke Kerajaan Sindang Haji tinggal tersisa satu bulan. Jadi keadaan di Kerajaan Kawasenan sangatlah sibuk guna mempersiapkan semuanya.
###
Langlang Cakra Buana pun sudah cukup jauh jaraknya dari desa Karangpaningal. Sekarang dia sudah tiba disebuah kota yang sangat berdekatan dengan Kerajaan Kawasenan.
Hanya setengah hari saja mungkin pemuda itu akan sampai di Kerajaan Kawasenan. Tapi sebelum melanjutkan perjalanannya, dia ingin mampir ke sebuah kedai makan dahulu karena perutnya terasa sudah sangat lapar.
Setelah mengisi perut, Langlang Cakra Buana lalu kembali melanjutkan perjalannya dengan menggunakan ilmu Saifi Angin. Jarak yang harusnya ditempuh selama setengah hari, bisa menjadi lebih cepat beberapa waktu.
Dan sekarang pun pemuda itu sudah tiba disebuah kerajaan yang begitu megah dan besar. Kehidupan disana tentunya sangat damai dan sejahtera. Langlang Cakra Buana hanya bisa memandang kagum akan kemegahan Kerjaan Kawasenan.
__ADS_1