
"Maafkan atas sikap kami selama Pangeran. Kami sungguh tidak mengetahui bahwa kau adalah seseorang yang sedang kita tunggu itu," kata Kakek Rajawali.
"Tidak masalah paman. Lupakan soal itu, aku ingin bicara hal penting," kata Cakra Buana. Wajahnya langsung berubah menjadi lebih serius.
Semua orang yang ada di sana terdiam. Mereka tidak ada yang bicara. Bahkan rasanya bernafas pun tidak berani, apalagi setelah mereka tahu bahwa Cakra Buana adalah orang yang mengemban tugas besar.
"Jika dalam waktu dekat ini perang besar antara Kerajaan Tunggilis dan Kerajaan Kawasenan terjadi, apakah kalian siap mengulurkan tangan untuk membantu kami?" tanya Cakra Buana sambil melirik semua orang yang ada di sana.
"Tentu saja pangeran. Kami bersumpah bahwa jika memang perang akan terjadi sebentar lagi, maka kami siap membantu Kerajaan Tunggilis. Bahkan walau pun taruhan nyawa, kami tidak keberatan. Asalkan itu demi kebaikan tanah Pasundan, apalah arti nyawaku yang sudah tua ini jika dibandingkan dengan kesejahteraan semua rakyat?" kata Kakek Rajawali yang turut diangguki oleh semua muridnya.
Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu pun mengangguk dan tersenyum. Keduanya percaya kepada ucapakan kakek tua itu. Sebab dalam ucapannya barusan, tak ada kebohongan yang tergambarkan.
"Meskipun itu tidak ada timbal balik dari kerajaan?" tanya Cakra Buana kembali.
"Tentu pangeran. Kami turun tangan karena rela. Kami tidak ingin melihat kehidupan rakyat yang semakin hari semakin sengsara,"
"Baiklah kalau begitu. Aku sungguh sangat berterimakasih. Usiaku masih muda, jadi aku meminta bimbingan kalian dalam hal ini, kalau aku salah, tolong tegur. Jangan di biarkan," kata Cakra Buana.
Semua orang mengangguk. Mereka mengakui bahwa Cakra Buana memang pantas menjadi seseorang yang terpilih untuk menjadi pemimpin besar. Sebab sikap dasar sebagai pemimpin, sudah tergambar dalam dirinya dari sekarang.
Setelah teh dan cemilan habis. Obrolan pun selesai. Hari semakin larut bahkan sebentar lagi waktu subuh akan segera tiba. Mereka memutuskan untuk beristirahat walau sebentar.
Semua orang sudah kembali dan mulai beristirahat. Keadaan di Perguruan Rajawali Putih, sangat sepi sunyi. Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu tidur di kamar yang sudah di sediakan. Tidak mewah, tapi setidaknya kamar itu masih terbilang layak.
Saat pagi-pagi setelah selesai sarapan. Semua murid yang ada mulai melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Mereka membereskan perguruan, membetulkan benteng yang hancur dan sebagainya.
Cakra Buana dan Kakek Rajawali serta yang lainnya, berada di halaman belakang. Pendekar Maung Kulon berniat untuk melanjutkan perjalanannya lagi ke Kerajaan Kawasenan. Mereka khawatir kalau terlalu lama.
__ADS_1
"Paman, kami pamit undur diri. Terimakasih atas segala jamuannya. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu," kata Pendekar Tangan Seribu.
"Justru akulah yang harusnya berterimakasih pendekar. Kau bahkan sudah membawa orang yang selama ini ditunggu-tunggu. Bahkan juga, kalian sudi membantuku melawan musuh," ucap Kakek Rajawali sedikit tidak enak hati saat mengingat perlakuannya kepada Cakra Buana.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu paman," kata Pendekar Tangan Seribu.
"Mari silahkan pendekar. Biar kami antar kalian,"
Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu lalu berjalan ke luar perguruan. Semua murid yang tadi sedang menjalankan aktivitas, seketika berhenti dan langsung membungkuk hormat saat melihat Cakra Buana. Mereka semua tidak berani berdiri sebelum Cakra Buana memerintahkani.
"Berdirilah kalian. Jaga perguruan ini baik-baik. Berlatihlah yang rajin supaya kelal bisa membantu sesama manusia," ucap Cakra Buana penuh wibawa.
"Baik pangeran. Kami akan berlatih lebih rajin lagi," jawab mereka serempak yang kini memanggil Cakra Buana dengan sebutan pangeran.
Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu sudah sampai di luar perguruan. Keduanya lalu menaiki kuda masing-masing yang kemarin sempat di beli. Mereka langsung menggebrak kudanya dengan cepat. Sehingga baru beberapa saat saja, dua orang pendekar itu sudah tidak nampak. Yang tersisa hanyalah kepulan debu akibat lari kuda yang kencang.
"Hahh …" Kakek Rajawali menghela nafas sambil terus melihat ke arah perginya Cakra Buana. "Tak kusangka, orang yang sudah lama ditunggu, kini telah ditemukan. Sepertinya sebentar lagi tanah airku akan sejahtera," gumamnya pelan.
Prabu Ajiraga sedang berbicara bersama beberapa pendekar yang mengabdi kepada kerajaannya. Di kirinya ada sang istri yang selalu menemani bersama puteranya. Semua orang itu sedang berbincang-bincang ringan membicarakan berita terhangat yang di dapat dari para telik sandi.
Di saat mereka sedang berbicara dan tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba seorang dengan pakaian serba hitam yang lebih mirip ninja, datang tergesa-gesa.
"Ada laporan apa? Kenapa kau terlihat sangat terburu-buru," kata Prabu Ajiraga tak senang atas kedatangan orang yang diduga telik sandi kerajaan tersebut.
"Ampun Baginda Raja, hamba membawakan berita yang amat penting," kata telik sandi tersebut.
"Berita penting? Berita apakah itu?" tanya Prabu Ajiraga.
__ADS_1
"Sepuluh Pendekar Saudara tewas Baginda Raja," katanya.
"Apa katamu? Mereka tewas? Siapa yang sudah berani membunuh Sepuluh Pendekar Saudara? Lagi pula, bukankah mereka memiliki ilmu yang cukup tinggi? Beritamu pasti salah," tanya Prabu Ajiraga dengan marah. Semua orang yang ada di sana, terkejut mendengar berita ini.
"Tidak Baginda Raja. Berita ini benar. Menurut informasi yang kami dapat, Sepuluh Pendekar Saudara tewas di tangan seorang pendekar saat mereka berada di penginapan restoran kotaraja Kerajaan Tunggilis,"
"Kenapa mereka sampai ke sana? Bukankah aku hanya menyuruh mereka untuk meminta jatah upeti? Untuk apa mereka ke tempat itu,"
"Menurut informasi, mereka akan menginap beberapa hari sambil menunggu pihak Kerajaan Tunggilis menyiapkan upeti. Karena sebelumnya, sang raja mengatakan lupa akan jatah upeti. Jadi dia meminta Sepuluh Pendekar Saudara untuk menunggu,"
"Hemm, lalu siapakah seseorang yang sudah membunuh orang-orangku itu?"
"Untuk namanya kami belum tahu. Tapi yang jelas si pelaku memakai pakaian serba putih dan di punggungnya tersoren pedang yang dibungkus kain putih," ucap telik sandi tersebut.
"Braggg …"
Sang raja memukul kursi singgasana miliknya. Wajahnya seketika menggambarkan kemarahan besar. Semua orang yang ada di sana tidak berani bicara. Mereka semua menundukkan kepalanya.
"Kau boleh pergi. Cari tahu siapa pelakunya," kata Prabu Ajiraga.
Meskipun ia sudah menduga siapa orang yang disebutkan oleh telik sandi tadi, namun dia masih sangsi. Prabu Ajiraga belum yakin benar bahwa pembunuhnya adalah Cakra Buana. Sebah yang dia tahu, anak muda itu belum memiliki ilmu silat yang dapat mengalahkan Sepuluh Pendekar Saudara, meskipun dia sendiri menyadari bahwa Cakra Buana memiliki kepandaian tinggi.
Namun menurut perhitungannya, Sepuluh Pendekar Saudara itu bukanlah sembarangan pendekar. Apalagi mereka terkenal dengan serangkaian jurus gabungannya yang terbilang susah ditembus oleh lawan.
"Paman Wahyu Pamungkas, menurutmu apakah pelakunya memang orang yang saat ini aku inginkan kematiannya (Cakra Buana)?" tanya Prabu Ajiraga kepada seorang tua yang memakai pakaian putih. Usianya sudah sekitar enam puluh lima tahun, dia merupakan seorang penasihat kerajaan.
"Hal ini bisa saja terjadi Baginda Raja. Namun aku sendiri masih belum yakin bahwa bocah itu pelakunya. Sebab aku tahu sampai di mana ilmu Sepuluh Pendekar Saudara. Seperti yang Baginda Raja sampaikan sebelumnya. Mereka bukanlah pendekar biasa," katanya sambil mencoba menerka-nerka siapa pelakunya.
__ADS_1
"Kalau begitu baiklah. Aku minta selidiki siapa orang itu. Sekarang kalian pergi untuk mencari informasi," kata Prabu Ajiraga memberikan perintah kepada semua pendekar yang ada di ruangan tersebut.
"Perintah segera dilaksanakan Baginda Raja," ucap para pendekar yang berjumlah sekitar lima belas orang tersebut.