
Pada saat kejadian tersebut, Cakra Buana sedang bertarung sengit dengan Dewa Tapak Racun. Keduanya saling menggempur keras dengan jurusnya masing-masing. Ketika mendengar suara tertahan Ling Zhi, pendekar Maung Kulon itu sangat terkejut.
Seketika itu juga dia mengeluarkan seluruh tenaganya saat beradu dengan telapak tangan Dewa Tapak Racun.
"Haaa …"
Dewa Tapak Racun seketika terpental sepuluh langkah. Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa dirinya bisa kalah tenaga dari pemuda yang menjadi lawannya saat ini. Murid Penguasa Kegelapan itu langsung muntah darah seketika.
Dia berniat untuk menyerang kembali, tetapi sang guru lebih dulu menahannya. Karena gurunya menahan, maka Dewa Tapak Racun tidak menyerang lagi. Dia kembali ke sisi Penguasa Kegelapan bersama tiga saudara seperguruan lainnya.
Sedangkan Cakra Buana, dia langsung berlari menghampiri Ling Zhi dengan perasaan sangat khawatir.
Dia mengambil tubuh kekasihnya lalu di dipangkunya. Tubuh yang tadinya putih mulus, kini bersimbah darah. Wajah yang cantiknya bagaikan dewi, kini sudah tidak karuan lagi karena banyaknya darah kering.
Dari sini saja bisa diduga bahwa selama peperangan terjadi, entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang di tangan kekasihnya tersebut.
"Ling Zhi, Ling Zhi …" pangil Cakra Buana dengan isak tangis tak tertahankan lagi.
Ternyata Ling Zhi belum tewas, saat itu dia sedang berada dalam keadaan sekarat.
"Ka-kakang, kau ja-jangan menangis. Kau su-sudah berjanji padaku bahwa dulu tidak akan menangisi kepergianku. Kau masih ingat semua janji kita saat di bukit itu?" Ling Zhi berusaha bicara dengan nada tersendat.
"Tentu, tentu, aku masih ingat semuanya," jawab Cakra Buana masih dalam keadaan bercucuran air mata.
"Syukurlah, jadi kau tak boleh menangis ataupun bersedih lagi. Kau harus tersenyum untukku,"
"Tidak Ling Zhi, kau jangan bicara sembarangan. Aku akan menyelamatkanmu. Aku pasti bisa, kau bisa bersamaku lagi,"
"Percuma kakang. Aku sudah tidak kuat lagi, jangan membuang waktumu untukku,"
"Tidak Ling Zhi. Kau harus tetap hidup. Bukankah dulu kau pernah berjanji kepadaku akan selalu bersama selamanya? Aku ingin selalu bersamamu, hidup bahagia dengan tenang dan damai. Kita akan mengungsi ke tempat sunyi supaya aman. Kita bisa selalu bersama membesarkan anak-anak kita, kau mau kan?"
"Ak-aku sangat mau kakang. Tetapi Sang Hyang Widhi tidak mengizinkan aku untuk mendampingimu lebih lama. Dia punya cara lain, aku tidak bisa memaksa. Ma-maafkan aku,"
"Ling Zhi, kau jangan banyak bicara lagi. Aku akan menyalurkan tenaga dalam supaya kau bisa bertahan,"
__ADS_1
Ling Zhi hanya menggeleng sambil tersenyum simpul. Senyuman yang memikat setiap pria kembali terlihat, walaupun senyuman itu bercampur darah, tapi kemanisannya tidak dapat dihilangkan. Beberapa titik air mata keluar dari dua matanya yang lentik itu.
"Kakang, aku ingin kau berjanji kepadaku,"
"Katakan, katakanlah. Aku pasti akan memenuhinya,"
"Terimakasih. A-aku ingin kau hidup lebih baik lagi. Hiasi harimu dengan senyuman, jangan ada kesedihan lagi. Kalau kau bersedih, aku juga akan bersedih. Kau pantas berbahagia, kau berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku,"
"Tidak Ling Zhi. Aku tidak menginginkan wanita lain. Cukup kau seorang, aku hanya ingin dirimu,"
"Kakang, kau jangan bicara seperti itu. Tolong kabulkan permintaan terakhirku, berjanjilah,"
"Baik, baik. Aku berjanji sayang. Aku berjanji, mari kita pulang. Aku akan segera mengobati lukamu,"
"Te-terimakasih kekasihku. Aku bahagia. Tidak, waktuku sudah tidak banyak lagi,"
"Ling Zhi, Ling Zhi,"
Gadis itu hanya tersenyum. Tangan kiri yang berlumuran darah itu memegang pipi Cakra Buana dan membelainya dengan lembut. Cakra Buana juga membelai rambut kekasihnya, kemudian dia menciumnya.
Tepat pada saat kalimat terkahir keluar, tangan Ling Zhi langsung jatuh kembali. Dua titik air matanya keluar saat dia menutupkan mata untuk yang terakhir kalinya. Dia tersenyum dan terlihat damai.
"Ling Zhi, Ling Zhi, Ling Zhi …" Cakra Buana berteriak sekencang mungkin.
Tempat di sekitar bergetar hebat seperti diguncang gempa bumi. Angin berhembus kencang, rintik air hujan mulai turun membasahi bumi mengiringi seorang pahlawan pendekar wanita.
Bidadari Penebar Nyawa!
Dia pergi dengan tenang dan damai. Ucapannya beberapa waktu lalu yang ingin menyusul gurunya, kini menjadi sebuah bukti nyata. Firasat Cakra Buana, ternyata bukan sebuah firasat kosong belaka.
Dia terus menangisi kepergian kekasihnya. Air matanya semakin deras seiring derasnya air hujan. Bukan hanya Cakra Buana dan para pendekar yang ada di sana saja yang bersedih.
Bahkan langit pun menangis lewat hujannya. Angin bersedih lewat hembusan. Dan bumi, menangis lewat getarannya.
Pada saat seperti itu, diam-diam Penguasa Kegelapan bersama empat muridnya berniat untuk pergi dari sana. Sebelum itu, Dewa Tapak Racun memungut dulu Pedang Pusaka Dewa yang tergeletak di tanah.
__ADS_1
Cakra Buana tahu bahwa musuhnya mengambil pedang pusaka tersebut. Tapi dia tidak peduli, jangankan pedang pusaka, bahkan nyawanya pun tidak dia pikirkan.
Kelima orang-orang aliran hitam tersebut pergi melayang. Hanya beberapa helaan nafas, mereka telah lenyap dari pandangan.
Bukan tidak ada yang mau mengejar, tapi siapapun dia, merasakan apa yang Cakra Buana rasakan. Tubuh mereka terasa tidak ada tenaga sama sekali. Berdiri pun rasanya sangat susah sehingga tubuh mereka bergetar hebat.
"Aku gagal. Aku menjadi orang gagal, orang-orang mengakui bahwa ilmuku sangat tinggi, kekuatanku jarang ada yang menandingi. Tetapi bahkan aku gagal melindungi orang-orang yang aku cintai, aku tidak berguna …" teriak Cakra Buana masih dalam keadaan menangis.
Dalam sejarah hidupnya, baru kali ini Cakra Buana menangis sampai sebegitunya. Dia sudah kenyang ditinggalkan orang-orang yang dia cintai. Keluarga, guru, sahabat, bahkan orang tuanya. Tapi mengapa sekarang dia harus kembali merasakan keheningan wanita yang sangat dicintainya?
Hati siapa yang tidak akan terpukul. Siapa yang akan kuat menerima cobaan seberat ini? Walaupun dia pendekar sakti, dia masih manusia. Masih punya hati, punya perasaan.
Hari ini, benar-benar menjadi hari yang paling menyedihkan bagi Cakra Buana.
"Ling Zhi, aku bersumpah di depan mayatmu. Aku akan membunuh semua guru dan murid itu. Aku akan mencari siapa saja pendekar yang ikut dalam perang ini. Aku bersumpah …"
"Gggrrhh …"
Petir menyambar menggelegar ke bumi. Suara auman seekor harimau terdengar memenuhi alam semesta. Cakra Buana benar-benar marah. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Perang langsung berhenti. Tidak ada lagi pertarungan. Tidak ada lagi hentakan dan suara beradunya pukulan atau senjata tajam. Bahkan, suara seseorang pun tidak terdengar sama sekali.
Yang ada hanyalah suara petir menyambar. Rintik air hujan yang semakin deras mengalirkan darah para prajurit dan semua orang yang telah gugur di medan perang.
Dan yang paling penting, yang ada hanyalah kesedihan!
Entah sampai kapan kesedihan ini akan berakhir.
Manusia ditakdirkan untuk hidup dengan baik menjaga bumi ini. Setelah tiba waktunya, mereka akan kembali lagi ke asal untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama di bumi.
Tak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya akan mati. Orang-orang yang kita sayangi pun akan meninggalkan kita suatu saat nanti. Entah sekarang, esok, atau nanti. Yang jelas!
Suatu saat akan tiba waktunya …
Ada pertemuan, pasti akan ada juga perpisahan …
__ADS_1