Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pangeran …


__ADS_3

Sanca dan Dadung Amuk pergi ke Kerajaan Tunggilis dengan menaiki kuda bekas para murid Perguruan Ular Sendok. Hanya beberapa saat, keduanya sudah lenyap ditelan gelapnya malam. Kini yang ada di sana hanyalah Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu, serta orang-orang Perguruan Rajawali Putih.


Setelah kepergian Sanca dan Dadung Amuk, semua orang itu pun lalu pergi kembali ke perguruan. Beberapa orang murid yang masih mempunyai tenaga cukup, diberikan tugas untuk menguburkan semua mayat yang bergelimpangan tersebut.


Saat ini, semua guru sedang berada di ruangan belakang, tempat biasa Kakek Rajawali merenung dan menikmati kopi pahit kesukaannya. Mereka berkumpul di sana. Para murid inti saling mengobati satu sama lain.


Sedangkan Kakek Rajawali, saat ini sedang di obati oleh Cakra Buana karena dia terkena racun ganas saat bertarung tadi. Kakek Rajawali berada dalam posisi duduk bersila dengan kedua tangan mirip orang menyembah. Sedangkan Cakra Buana duduk bersila di belakangnya sambil menempelkan kedua telapak tangan.


Setelah semuanya selesai, Kakek Rajawali menyuruh Shinta membuatkan teh hangat sebagai penghangat di suasana malam yang dingin seperti sekarang ini.


Mereka semua tidak langsung bicara. Semuanya diam. Pandangan mata menerawang jauh, bayangan pertarungan dan para korban masih terbayang jelas di pikiran mereka. Tak disangka, hanya karena sebuah ambisi, nyawa manusia seolah tiada artinya.


"Pendekar, maafkan atas sikapku kemarin," kata Kakek Rajawali kepada Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.


"Sebenarnya kemarin aku setengah-setengah kepada kalian. Setengah percaya, setengah tidak. Percaya karena aku tahu dan merasa pernah mendengar nama kalian yang berkibar. Tidak percaya karena ucapan kalian sama sekali tidak disertai bukti," ucap Kakek Rajawali penuh penyesalan.


"Sudahlah paman, yang terjadi sudah terjadi. Lebih baik kita memulai dari awal lagi, nanti aku bantu menyembuhkan semua murid yang terluka," kata Cakra Buana yang turut diangguki oleh Pendekar Tangan Seribu.


"Terimakasih sebelumnya. Sungguh, aku merasa sangat malu dan menyesal kalau mengingat kejadian kemarin,"


"Lupakan hal itu paman. Lebih baik sekarang kita sembuhkan dulu para murid yang keracunan itu," kata Cakra Buana memberikan saran.


Perkataan Cakra Buana barusan mendapat persetujuan dari semua guru. Termasuk Pendekar Tangan Seribu sendiri. Mereka lalu bergegas ke ruangan di mana terdapat para murid yang keracunan.


Kini semua orang sedang sibuk mengobati 'pasiennya' masing-masing. Termasuk Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu. Keduanya turut andil dalam pengobatan tersebut, toh memang ini adalah ide dia sendiri. Selain itu, Cakra Buana memang sudah ada niat untuk membantu sejak dari awal mula.


Setelah selesai, barulah mereka kembali lagi ke ruangan belakang. Di sana sudah tersedia teh hangat beserta cemilannya berupa ulen (uli) bakar. Kakek Rajawali dan yang lainnya segera duduk bersama. Malam semakin larut, rembulan yang tadi tertutup oleh awan, kini sudah kembali memancarkan sinarnya dengan indah.

__ADS_1


Gunung Waluh terlihat lebih indah saat terkena sorot cahaya rembulan. Di atasnya beberapa binatang malam seperti kelelawar dan burung malam terbang bolak-balik melintasi gunung tersebut.


Kakek Rajawali memulai pembicaraan di saat semua orang terdiam. Guru besar itu menanyakan tentang ke mana tujuan Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.


"Kami berniat untuk menuju ke Kerajaan Kawasenan. Kami mendapatkan tugas dari Baginda Raja Katapangan," jawab Pendekar Tangan Seribu dengan jujur.


Kakek Rajawali bersama para murid inti saling pandang. Mendengar nama Kerajaan Kawasenan disebut, para guru Perguruan Rajawali Putih langsung berubah wajahnya. Wajah mereka menggambarkan rasa tidak suka terhadap kerajaan tersebut.


"Apakah Kerajaan Tunggilis sudah menyerahkan diri kepada Kerajaan Kawasenan?" tanya Kakek Rajawali sambil memicingkan matanya.


"Maksud paman?" tanya Cakra Buana masih belum mengerti maksud dari orang tua itu.


"Bukankah dari dulu Kerajaan Tunggilis hanya berpura-pura saja tunduk kepada Kerajaan Kawasenan? Bukankah sesungguhnya mereka sedang menunggu saat yang tepat untuk menyerang Kerajaan Kawasenan?" tanya Kakek Rajawali agak mendesak.


Ternyata permasalahan internal kerajaan sudah banyak diketahui oleh para pendekar tua. Dan hal ini memang fakta, sebab beberapa tahun lalu, pihak Kerajaan Tunggilis bersama perguruan dan pendekar yang menentang Kerajaan Kawasenan sudah pernah berkumpul. Dalam pertemuan itu mereka membahas akan menyerang Kerajaan Kawasenan jika sudah tiba waktunya.


"Jangan salah faham dulu paman," kata Cakra Buana saat menyadari perubahan pada wajah Kakek Rajawali.


"Salah faham bagaimana? Sudah jelas Kerajaan Tunggilis mengutus kalian untuk pergi ke Kerajaan Kawasenan. Jadi aku rasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi," katanya sedikit ketus.


Sikap orang-orang itu benar-benar berubah. Sepertinya mereka memang sudah tidak ingin melihat Kerajaan Kawasenan berdiri. Sebab semakin hari, penderitaan rakyat semakin bertambah. Kelaparan di mana-mana. Kejahatan terjadi tak terkendali. Yang kaya semakin kaya, yang miskin bertambah miskin.


"Paman, biarkan aku jelaskan dulu. Semua ini tidak seperti yang kau pikirkan," kata Pendekar Tangan Seribu berusaha menenangkan keadaan yang mulai tegang.


"Jelaskan,"


"Kami berdua ke Kerajaan Kawasenan bukanlah karena sudah menyerah. Justru karena Prabu Katapangan ingin memulai gesekan dengan kerajaan itu. Beberapa hari lalu, ada utusan dari Kerajaan Kawasenan yang meminta jatah upeti. Namun karena beberapa kejadian, utusan itu tewas di bunuh Cakra Buana. Sehingga upeti tidak jadi diberikan. Hanya saja Prabu Katapangan mengutus kami supaya melaporkan bahwa utusan mereka tewas di tengah jalan saat membawa jatah upeti. Nah ketika kami melaporkan kejadian ini kepada Prabu Ajiraga, kami ingin melihat reaksinya. Kalau dia tetap memaksa untuk meminta jatah upeti lagi, maka pada saat itulah gesekan perang akan dimulai," ucap Pendekar Tangan Seribu menjelaskan semuanya kepada Kakek Rajawali.

__ADS_1


"Apakah ucapanmu dapat dipercaya?" tanya Bayu yang tiba-tiba bicara.


"Apakah kalian sudah tidak percaya kepadaku. Apakah di mata kalian, aku ini seorang pembohong?"


Semuanya terdiam. Mereka tak mampu menjawab perkataan Pendekar Tangan Seribu. Apalagi saat bicara, ia menampakkan wajah angkernya.


"Kalau begitu, berarti waktu yang ditunggu akan segera tiba. Itu artinya, seseorang yang akan memimpin saat bersatunya tanah Pasundan sudah ditemukan?" tanya Kakek Rajawali yang mulai tenang lagi.


"Benar paman. Orang yang digariskan menjadi pemimpin besar sudah ditemukan. Dan orang itu ada di sini," kata Pendekar Tangan Seribu.


"Maksudmu? Siapa orang yang kau maksudkan itu?" tanya Kakek Rajawali kebingungan.


"Pemuda inilah orangnya. Dia keponakan Prabu Katapangan Kresna. Yang dahulu kedua orang tuanya di bunuh dan kedudukannya direbut oleh orang tua Prabu Ajiraga," kata Pendekar Tangan Seribu sambil memegangi pundak Cakra Buana.


"Di-dia? Kau tidak bercanda?" tanya Kakek Rajawali masih belum percaya.


"Aku serius. Dialah orang yang terpilih. Bahkan Pedang Pusaka Dewa, saat ini ada di tangannya,"


"Apakah yang dia katakan itu benar?" tanya Kakek Rajawali kepada Cakra Buana. Hatinya masih penasaran, dia belum percaya sepenuhnya.


"Benar paman. Akulah anak dari ayah Bambang Sukma Saketi dan ibu Dewi Sekar Arum," ucap Cakra Buana.


Seketika itu, Kakek Rajawali dan para murid intinya terperanjat. Ternyata orang yang sudah lama ditunggu, kini ada di depan mereka.


"Pangeran …" kata Kakek Rajawali lalu berniat untuk menyembah Cakra Buana diikuti muridnya.


Namun dengan segera Cakra Buana menahan mereka supaya tidak menyembah. Dia tidak terlalu suka dengan hal-hal seperti ini. Tapi kalau nanti sudah jadi raja, maka mau tidak mau dia harus menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2