Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Biarkan Mereka Pergi


__ADS_3

Dua murid inti dari Perguruan Rajawali Putih itu mulai kewalahan dengan semua serangan Pendekar Tangan Seribu. Mereka bahu membahu membantu satu sama lainnya. Tapi tak urung juga keduanya kena pukul atau tendangan yang membuat mereka tersentak beberapa kali.


Dua puluh jurus sudah berlalu. Saat ini pertarungan di dominasi oleh Pendekar Tangan Seribu. Dia menyerang dengan ganas. Menerkam bagaikan seekor singa yang sedang marah.


Sanca dan Dadung Amuk terus dibuat terpojok tak berdaya. Keduanya berusaha untuk memberikan serangan balasan berbahaya yang mengincar titik lemah di tubuh lawan. Sayangnya semua serangan mereka bisa di mentahkan dengan mudah oleh Pendekar Tangan Seribu.


"Bukkk …"


"Plakk …"


Sebuah pukulan dengan telak menghantam ulu hati Sanca. Dia terpental dan merasakan rasa sakit serta susah bernafas. Dadung Amuk bernasib sama dengan rekannya tersebut, tengkuknya jadi sasaran telak tamparan tangan kiri Pendekar Tangan Seribu. Dia tersungkur ke depan, hampir saja wajahnya mencium tanah.


Pertarungan berhenti sejenak. Dadung Amuk dan Sanca berdiri sejajar. Nafas mereka terengah-engah, di beberapa anggota tubuhnya nampak luka lebam akibat pukulan atau tendangan Pendekar Tangan Seribu. Sedangkan lawannya masih tetap berdiri dengan tegak tanpa ada luka serius di tubuhnya. Kecuali hanya beberapa luka ringan.


Sebenarnya kalau Pendekar Tangan Seribu hanya bertarung dengan salah satu di antara mereka, tentu pertarungan ini tidak akan lama seperti sekarang. Hanya saja, Dadung Amuk dan Sanca selalu menyerang bersamaan, sehingga pertarungan jadi berjalan seimbang.


"Kalian berdua, sudahlah. Aku bukan lawan kalian, biarkan kami pergi saja. Kami datang kemari bukan untuk bertarung," kata Pendekar Tangan Seribu.


"Sombong. Kami belum mengeluarkan semua kemampuan yang dimiliki. Kalau kau ingin melihat kemampuan kami yang sesungguhnya, baiklah … aku turuti maumu," ucap Sanca.


Dia menghimpun tenaga dalamnya. Kedua tangan ia rapatkan di dada dalam posisi seperti menyembah. Di sisi lain Dadung Amuk juga turut mengeluarkan jurusnya. Kedua tangan Dadung Amuk mengeluarkan asap putih. Bahkan sampai kepalanya pun mengeluarkan asap.


Detik berikutnya, Sanca menyerang lebih dulu. Kedua tangannya mengeras bagaikan baja dan membentuk cakar burung rajawali.


"Rajawali Mencakar Bumi …"


"Wuttt …"


Sanca melompat tinggi ke atas. Kedua jari tangannya mengeras seperti baja. Dia lalu menukik dengan posisi tangan kanan di depan.


Dadung Amuk tak mau kalah. Ia pun turut mengeluarkan jurus andalannya. Setelah tubuhnya mengeluarkan asap warna putih dan warna kulitnya memerah, Dadung Amuk segera melesat ke depan memberikan serangan maut.

__ADS_1


"Pukulan Lahar Merapi …"


"Wuttt …"


Dua serangan jurus maut melesat cepat ke arah Pendekar Tangan Seribu. Dua hawa panas sangat terasa di arena pertarungan tersebut. Sebagian dedaunan rontok karena layu tak kuasa menahan panas.


Sanca dan Dadung Amuk sudah dekat jaraknya dengan Pendekar Tangan Seribu. Namun yang di tuju hanya berdiri dengan tenang tanpa terlihat ekspresi panik di tubuhnya.


Begitu jaraknya tinggal terisa tiga langkah, Pendekar Tangan Seribu baru mulai bergerak. Kedua tangannya di putarkan ke kanan satu kali, lalu dua angkat sampai ke pinggang. Begitu di pinggang, dia langsung kedua tangannya tersebut langsung dia hentakkan.


"Tapak Badai …"


"Wushh …"


Dari telapak tangannya keluar tenaga dalam transparan selebar lima langkah. Jurus tersebut merontokkan dedaunan bahkan menerbangkan bebatuan. Tenaga dalam itu melesat cepat ke depan menyambut dua lawannya yang kini terbang ke arah Pendekar Tangan Seribu.


Di sisi lain Dadung Amuk dan Sanca kaget dengan serangan jarak jauh tersebut. Tapi karena kepalang tanggung, maka keduanya tidak berpikir panjang lagi. Mereka menambah kecepatan sehingga tak lama, tiga jurus maut itu bertemu di udara.


Sanca dan Dadung Amuk tertahan di udara dengan posisi tangan sama-sama terjulur ke depan. Keringat semakin membanjiri tubuh keduanya. Sedangkan Pendekar Tangan Seribu hanya berdiri dengan posisi kedua tangan membentuk tapak di depan dada.


"Haaa …" Pendekar Tangan Seribu menghentakkan kembali kedua tangannya.


"Blarrr …" suara bergemuruh terdengar seiring tiga jurus maut itu hancur menimbulkan cahaya beberapa warna. Dadung Amuk dan Sanca terlempar hingga sepuluh langkah. Keduanya jatuh bergulingan.


"Rai …"


"Kakang …"


Dua murid Kakek Rajawali menghampiri Sanca dan Dadung Amuk. Mereka membantu kedua orang tersebut untuk bangun. Dari mulutnya keluar darah kental cukup banyak. Dada Sanca dan Dadung Amuk serasa sesak bagaikan terhimpit batu besar.


Sedangkan Pendekar Tangan Seribu hanya terpental tiga langkah, bahkan dia sempat bersalto di udara dua kali sebelum akhirnya mendarat dengan mulus. Dia langsung menyalurkan hawa murni untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.

__ADS_1


"Sudah puas? Kalau sudah, biarkan aku pergi sekarang," kata Pendekar Tangan Seribu sambil berjalan keluar di ikuti oleh Cakra Buana.


Para murid Perguruan Rajawali Putih berniat untuk mengejar kedua pendekar tersebut. Sayangnya segera di tahan oleh Kakek Rajawali.


"Biarkan mereka pergi. Jangan di tahan," kata kakek tua itu.


Kini Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu sudah berada di luar Perguruan Rajawali Putih. Keduanya sedang mengaso di bawah pohon randu. Kedua kuda mereka dibiarkan merumput.


"Pangeran, bagaimana ini. Mereka tidak percaya dengan apa yang kita katakan," kata Pendekar Tangan Seribu.


"Tidak masalah paman. Besok saat waktu penyerangan tiba, kita harus ada di sekitar wilayah sini supaya bisa membantu mereka," ucap Cakra Buana.


"Baiklah, aku ikut saja apa kata pangeran,"


"Terimakasih paman. Ngomong-ngomong, kau tidak papa kan?"


"Tidak pangeran. Aku baik-baik saja. Kalau bukan melihat murid Kakek Rajawali, sudah dari tadi aku bunuh mereka," Pendekar Tangan Seribu terlihat kesal dengan perlakuan dua murid inti tadi.


"Hemm, tapi aku merasa seperti ada yang aneh,"


"Maksud pangeran?"


"Iya, aku merasa aneh kepada si Sanca dan Dadung Amuk itu," kata Cakra Buana menceritakan keanehan yang ia dapati pada dua murid inti tersebut.


"Memangnya aneh kenapa?"


"Apakah paman ingat waktu aku menjelaskan bahwa Perguruan Ular Sendok sudah memasukan orang-orangnya di Perguruan Rajawali Putih?"


"Tentu aku ingat. Tapi aku merasa tidak ada yang aneh, menurutku wajar saja kalau mereka tidak terima. Mungkin aku juga akan begitu kalau di posisi mereka,"


"Memang benar bahwa sikap seperti itu adalah hal wajar. Tapi apakah kau tidak melihat perubahan wajah Sanca dan Dadung Amuk? Mereka seperti kaget karena terbuka kedoknya. Bahkan begitu aku bicara seperti itu, keduanya langsung melotot serta aku melihat ada beberapa butir keringat di kening mereka. Wajah mereka seperti mendadak panik," kata Cakra Buana menjelaskan.

__ADS_1


"Hemm, apakah maksudmu kedua murid itu merupakan orang-orang Perguruan Ular Sendok?" tanya Pendekar Tangan Seribu masih belum mengerti dengan jelas.


"Kurang lebih seperti itu. Tapi untuk lebih jelasnya, kita lihat saja besok," ucap Cakra Buana.


__ADS_2