
"Benar, merekalah orangnya," jawab Tuan Santeno.
Darah Cakra Buana seketika mendidih bagaikan lahar yang siap menyembur kapan saja. Tubuhnya sedikit bergetar. Ternyata ini orangnya yang sudah berani menebarkan fitnah. Satu orang telah tewas, tinggal dua yang belum. Karena yang satu lagi belum ketemu.
Masalah kematian Tuan Muda Margono Tanuwijaya akan segera selesai jika kedua orang di hadapannya ini berhasil di bunuh.
Manusia Pasir Besi Panas tertawa. Suara tawa yang sangat menyeramkan. Tak ubahnya bagaikan suara tetangga yang menagih hutang karena sudah lama tidak dibayar.
"Apakah kau kaget anak muda? Sekarang kami berdua sudah ada di hadapanmu. Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya si Manusi Pasir Besi Panas.
Orangnya sudah tua. Usianya bahkan sudah mencapai enam puluh lima tahunan. Tubuhnya tinggi sedang dan kurus. Wajahnya sudah keriput dengan pakaian abu-abu lusuh. Dia tidak terlihat membawa senjata apapun.
Karena memang orang tua itu tidak pernah bertarung menggunakan senjata. Justru senjata andalannya adalah dua kepalan tangan itu. Kalau dia sudah marah, tembok saja bisa dia jebol.
Karena kerasnya dia melatih pukulan, sampai-sampai tangannya penuh luka. Terutama di bagian telapak dan punggung tangan. Kalau di lihat lebih teliti lagi, akan terlihat bahwa warna tangan itu berbeda dengan anggota tubuh lainnya. Warnanya merah membara. Seperti sebuah besi panas yang dibakar sampai ke tahap panas tertinggi.
"Tentu saja aku akan membunuh kalian. Kalian sudah terlalu banyak membuat kesalahan. Rasanya kalian memang pantas untuk mati," kata Cakra Buana.
Keduanya tertawa lagi dengan masing-masing suara khas tawa mereka. Walaupun dus tokoh tersebut tahu bagaimana kemampuan Cakra Buana, tetapi mereka yakin masih mampu untuk menghadapinya.
Di dunia persilatan Tanah Jawa, nama Manusia Pasir Besi Panas dan Hantu Tanpa Wajah memang sudah terkenal ke seantero negeri. Janganlah kalangan pendekar, sang raja sendiri juga tahu siapa mereka itu.
"Apakah kau yakin mampu membunuh kami berdua?" tanya si Hantu Tanpa Wajah.
"Kenapa tidak? Justru aku sudah lama ingin bertarung dengan orang yang sudah menyebarkan fitnah atas diriku. Dan sekarang sudah bertemu, rasanya tidak mungkin juga aku akan melepaskan kalian,"
"Anak muda yang sombong," kata si Manusia Pasir Besi Panas.
"Dua orang tua yang sudah bau tanah, tetapi tidak tahu diri," ejek Pendekar Tanpa Nama.
Di ejek oleh pendekar muda sepantaran Cakra Buana, kedua tokoh tersebut tentu saja tidak terima. Selama malang melintang dalam dunia persilatan, belum pernah ada yang menghina mereka seperti apa yang dilakukan Cakra Buana barusan.
__ADS_1
Sehingga saat mendengarnya, mereka merasa telinganya panas.
Secara tiba-tiba, Manusia Pasir Besi Panas langsung menyerang Cakra Buana dengan cara melayangkan pukulan keras ke arah ulu hati.
Gerakannya memang cepat dan sangat tepat. Sayangnya yang menjadi sasaran bukanlah patung. Dia adalah pendekar muda yang namanya sedang naik daun belakangan ini. Baginya, serangan seperti itu bukanlah masalah.
Hanya dengan memiringkan posisi tubuh ke samping kanan, pukulan tersebut segera luput dari sasaran dan mengenai ruang hampa.
"Jumlah kita sama, lalu kenapa kita tidak bertarung satu-satu saja?" tantang Tuan Santeno Tanuwijaya.
"Hahaha, ide yang bagus. Baiklah, kita bertarung satu lawan satu. Anak muda, siapa yang ingin kau pilih menjadi lawanmu?" tanya si Hantu Tanpa Wajah.
"Kau. Aku ingin bertarung denganmu sampai ada yang tewas di antara kita berdua," jawab Pendekar Tanpa Nama.
"Baiklah. Aku layani permintaanmu," jawabnya.
Si Hantu Tanpa Wajah ini terkenal karena kecepatan dan gayanya dalam bertarung. Semua serangan yang dia lancarkan mengandung kekuatan tinggi. Sehingga satu kali serang saja, sudah mampu untuk mencabut nyawa musuh.
Selain itu, tokoh kelas atas tersebut juga ahli dalam senjata rahasia. Konon katanya, dia mampu menyambitkan tiga senjata rahasia dengan bentuk berbeda dalam satu kali menyerang. Keahilan yang sudah jarang terlihat dalam dunia persilatan. Tetapi dia mampu melakukannya, bahkan secara sempurna.
Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama belum menyadari bahwa si Hantu Tanpa Wajah, justru lebih menakutkan daripada Manusia Pasir Besi Panas.
Tetapi andai kata dia tahu sekalipun, Cakra Buana tentu tidak akan mengubah niatnya. Dia sudah memantapkan hati untuk membunuhnya. Apapun yang terjadi, Hantu Tanpa Wajah harus mati di tangannya.
Di pinggir Cakra Buana, Tuan Santeno sudah memulai pertarungannya melawan Manusia Pasir Besi Panas.
Kedua tokoh kelas atas tersebut langsung menggelar berbagai macam jurus hebat. Pertarungan memang baru berjalan, tapi ketegangan sudah menyelimuti area sekitar.
"Sampai kapan kau akan berdiam diri?" tanya si Hantu Tanpa Wajah.
"Sampai kau menyerang duluan," jawabnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban tersebut, Hantu Tanpa Wajah tidak banyak bicara lagi. Begitu menggeram bagaikan singa, kakinya sudah menghentak ke tanah lalu tubuhnya meluncur deras melancarkan serangan pertama.
Serangan pertama itu datang berupa sebuah pukulan keras berhawa panas dari tangan kanan. Saking cepatnya, Cakra Buana sampai-sampai tidak melihat ancang-ancang. Tahu-tahu, di depan matanya sudah terlihat sebuah tangan yang ingin menjebol bagian dada.
Pendekar Tanpa Nama spontan melompat. Begitu mendapatkan posisi, dia segera melancarkan serangan balasan yang lebih dahsyat lagi.
Tangan kanan di hentakkan ke depan. Dia sendiri berteriak keras. Suaranya bagaikan guntur yang mampu merobek telinga.
"Ajian Gelap Ngampar …"
Ajian pertama yang dia miliki keluar. Sebuah jurus hebat yang mampu membunuh belasan pendekar kelas bawah jika mendengar teriakannya saja. Kalau teriakannya mampu membunuh, apalagi pukulan atau hantaman tapaknya?
Namun yang dia hadapi sekarang bukanlah pendekar kelas bawah. Justru lawannya sudah kelas atas.
Teriakan Cakra Buana sama sekali tidak memberikan pengaruh kepada orang-orang yang ada di sana. Bahkan mereka masih tampak tenang seolah tidak mendengar teriakan hebat tersebut.
Si Hantu Tanpa Wajah menghindarinya dengan sangat mudah. Tubuhnya melayang seperti arwah gentayangan.
Serangan balasan kembali dia lancarkan. Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama juga dengan mudah menangkisnya.
Benturan tangan dua orang itu menjadi awal sebuah pertarungan yang akan berjalan dahsyat. Dari benturan barusan, Cakra Buana sudah dapat menebak bahwa lawannya berada satu tingkat dibawahnya.
Namun walaupun begitu, dia lebih banyak pengalaman mengingat umurnya yang sudah tua. Sehingga tidak mudah juga untuk mengalahkannya.
Pendekar Tanpa Nama dan Hantu Tanpa Wajah sudah bertukar jurus. Gerakan keduanya hampir seimbang. Tapi yang lebih mantap, tentunya si Hantu Tanpa Wajah. Namun jika di lihat dari segi kekuatan, sudah pasti Cakra Buana pemenangnya.
Empat pendekar sudah bertarung dengan jurus-jurus yang mereka miliki. Suara ledakan keras yang berasal dari jurus-jurus para pendekar sudah mulai meramaikan suasana.
Saat ini masih tengah malam. Sehingga percikan api dan sinar dari berbagai macam jurus, bisa terlihat dengan jelas.
Pertarungan hebat sudah dimulai. Maka pembaca diharapkan tenang dengan secangkir kopinya.
__ADS_1