
Tetapi jangan salah, Tiga Setan Timur bukanlah nama kosong belaka. Di daerah Timur sana, tiga setan tersebut mendapatkan nama yang cukup tenar di kalangan dunia persilatan.
Maka ketika melihat jarumnya diluncurkan kembali, salah satu dari ketiganya, yaitu si pemilik jarum, hanya dengan menggerakan tangan seperti melambai, semua jarum sudah kembali berada dalam genggaman tangannya.
"Hehehe, Tiga Setan Timur memang bukan julukan kosong," kata si Orang Tua Aneh.
"Siapa masing-masing nama kalian?" tanyanya lagi.
"Aku Setan Pukulan, dia Setan Pedang, dan satu lagi, dia si Setan Tendangan," kata Setan Pukulan memperkenalkan dua rekannya.
"Hemm, namanya saja bisa bikin anak kecil menangis hahaha. Lalu kalian mau apa lagi? Bukankah sudah aku bilang bahwa dua kita itu tidak berada di tanganku," ucap Orang Tua Aneh.
"Hemm, apakah ucapanmu itu benar?" tanya Setan Pedang.
"Seumur hidup, aku tidak pernah berbohong kepada siapapun. Dan aku rasa, semua orang tahu akan hal ini," jawab Orang Tua Aneh.
"Baik, kami percaya," ujar Setan Pukulan.
"Memang harus percaya. Lalu, kenapa kalian masih belum pergi juga?" tanya Orang Tua Aneh.
"Karena kami sudah datang-datang jauh-jauh kemari, maukah kau memberikan beberapa petunjuk kepada kami bertiga? Dari dulu kami mendengar nama besarmu, tapi belum sempat mencoba sampai di mana kehebatanmu," kata Setan Tendangan.
Si Orang Tua Aneh berpikir sebentar. Tak berapa lama dia segera menganggukkan kepalanya.
"Baik, aku terima tantangan kalian. Sebentar, aku ambil dulu tongkatku," katanya lalu segera pergi ke saung bambu untuk mengambil senjatanya.
Tak perlu waktu yang lama, orang tua itu sudah kembali sambil membwa sebatang tongkat kayu berwarna hitam. Tongkat itu meliuk dua kali. Terlihat sangat jelek dan sudah berumur tua, tetapi jangan salah, tongkat tersebut merupakan tongkat kebanggaannya.
Selama dia mengasingkan diri dari dunia ramai, tongkat tersebut selalu menemaninya. Entah sudah berapa banyak nyawa yang tewas akibat tongkat tersebut. Dan entah sudah berapa kalipula nyawanya tertolong gara-gara tongkat jelek itu.
"Kau sudah siap?" tanya Setan Pedang.
"Sudah,"
"Siapa yang akan kau pilih di antara kami?"
"Semua," jawab Orang Tua Aneh singkat.
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Sangat yakin,"
"Baik. Kita mulai," kata si Setan Pedang.
Setelah itu, dia segera mencabut pedang yang tersoreng di punggungnya. Pedang tersebut tidak begitu mencolok warnanya, tapi dari pedang itu, ada sebuah keangkeran yang sulit untuk di ceritakan.
Si Orang Tua Aneh segera mengambil sikap kuda-kuda. Terlihat santai tetapi sesungguhnya sangat berbahaya.
Detik berikutnya, tiga buah bayangan manusia segera meluncur ke tiga sisi. Mereka membagi tiga bagian. Setelah mendapatkan posisi, Setan Pedang segera melancarkan serangan pertama dari arah depan.
Pedangnya bergerak meluncur deras memberikan sebuah tusukan mematikan. Sekali gebrak, jurus berbahaya sudah keluar.
Si Setan Pukulan tidak mau kalah, dia pun turut melancarkan serangan pertamanya yang berupa pukulan maut. Tangan kanannya dia julurkan ke depan. Dari tangan itu keluar sebuah kekuatan dahsyat.
Setan Tendangan pun tidak tinggal diam, kakinya ia hentakkan ke tanah sehingga membuat tempat sekitar sedikit bergetar. Tubuhnya langsung mencelat ke depan sambil memberikan sebuah tendangan keras dan kejam.
Tiga serangan dalam waktu bersamaan sudah meluncur ke arah Orang Tua Aneh. Kejadian ini terjadi hanya dalam sekejap mata saja. Siapapun yang melihat pertarungan ini, pasti akan berdecak kagum.
Melihat betapa bahayanya ketiga serangan tersebut, Orang Tua Aneh tidak mau berbasa-basi lagi. Tongkatnya dua putarkan menahan serangan pedang. Tangan kirinya bergerak menahan pukulan dahsyat. Dan kaki kananya dia angkat menghalau tendangan yang ganas.
Sekali menggerakan tubuh, tiga serangan berhasil dia tangkis. Keempat pendekar tersebut adu tenaga dalam untuk beberapa saat lamanya.
Begitu menjejak tanah dengan normal, Tiga Setan Timur segera menerjang kembali. Tiga buah serangan berbeda dan dari sisi berbeda pula sudah menerjang lagi.
Ketiga serangan tersebut sama-sama dahsyat dan mematikan. Kalau orang lain yang menerima serangan ini, sudah pasti mereka akan tewas. Tetapi Orang Tua Aneh bukanlah orang lain.
Dia menggelar jurus Tongkat Menyapu Mega. Tongkatnya dia ayunkan dengan kecepatan tinggi. Dari tongkat itu keluar tenaga dalam hebat sehingga menimbulkan suara berdengung seperti ribuan lebah.
Tubuhnya berputar di bawah sinar yang dihasilkan dari tongkatnya tersebut. Terdengar suara bentakan dan bunyi nyaring ketika dia bergerak menahan serangan lawan.
"Wushh …"
"Wushh …"
Suara angin menderu-deru saat keempat pendekar itu bertukar serangan. Dedaunan pohon di tempat tersebut bergoyang dengan keras mengikuti arah angin pertarungan.
Dua puluh jurus telah berlalu, tapi keempat pendekar tersebut masih bertarung dengan sengit. Setan Tendangan melancarkan jurus tendangannya yang menggiriskan hati. Andai tendangan itu mengenai sebuah batu, tentu batu itu langsung hancur lebur.
Si Setan Pedang memperlihatkan kepandaiannya, dengan jurus Pedang Menembus Awan, dia menusuk dari segala sisi mencari celah si Orang Tua Aneh.
__ADS_1
Tapi orang tua itu tetap bisa menerima semua gempuran yang datang secara bersamaan tersebut. Semakin lama, sinar yang dihasilkan dari sabetan dan putaran tongkatnya semakin membesar.
Tongkat itu bergerak mengikuti arah serangan tiga lawannya. Tangan kirinya dia gunakan juga untuk menangkis pukulan dan tendangan yang datang.
Suara bergemuruh terus keluar setiap kali mereka adu serangan dan tenaga dalam. Orang Tua Aneh benar-benar tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan saat mencapai tita puluh lima jurus, dia malah semakin ganas.
Bentakan yang keluar dari mulutnya menggetarkan tempat sekitar. Dia mengubah jurusnya kembali. Tongkat itu lenyap dan menjadi sebuah bayangan hitam.
Jurus terkuat dari Orang Tua Aneh sudah keluar. Jurus ini dia namakan Tongkat Pengusir Iblis. Gerakannya semakin lincah dan dahsyat. Tongkatnya menyapu Tiga Setan Timur.
Hanya dalam beberapa kali gebrakan, tiga lawannya terlempar mundur ke belakang sambil memegangi beberapa bagian tubuh mereka yang terasa sakit.
"Hehehe, bagaimana? Kalian masih ingin berlanjut?" tanya Orang Tua Aneh sambil tertawa nyaring.
Nampaknya ketiga setan itu sudah terburu oleh nafusnya sendiri. Dalam sekejap mata, ketiganya kembali menyerang Orang Tau Aneh. Semua ilmu simpanan yang mereka miliki sudah dikeluarkan.
Gerakan ketiganya sangat berbeda dengan sebelumnya. Serangan yang dilontarkan pun semakin dahsyat. Kilatan pedang serta hembusan angin dari pukulan dan tendangan terasa menusuk tulang.
Orang Tua Aneh mulai kewalahan. Semua serangan balasan yang dia lancarkan putus di tengah jalan. Semua gerakannya tertutup. Sepuluh jurus berikutnya, dia semakin terdesak hebat.
Dalam pertarungan sengit itu, tiba-tiba si Setan Pukulan kembali melemparkan senjata rahasia berupa jarum yang hitam legam.
"Wushh …"
Saat itu, si Orang Tua Aneh sedang serius menangkis semua serangan lawannya. Oleh sebab itu dia tidak menyadari jarum-jarum tersebut.
"Clapp … clapp …"
Puluhan jarum berhasil menembus beberapa bagian tubuhnya. Dia meringis menahan sakit yang tiada terkira. Gerakannya menjadi lambat. Sangat lambat. Pandangan matanya mukai buram.
Di saat seperti itulah Setan Pedang menusukan pedangnya tepat di jantung Orang Tua Aneh.
"Slebb …"
"Heughh …" suaranya tertahan di tenggorokan. Tak lama ketika pedang sudah dicabut, dia langsung roboh ke tanah dalam keadaan telungkup.
Sementara itu, di sisi lain Cakra Buana sedang berlari sekencang mungkin. Telinganya yang sangat tajam sudah mendengar ada pertarungan.
Gerakannya seperti sebuah bayangan di kegelapan malam. Dia berteriak memanggil nama Orang Tua Aneh sepanjang jalan. Tapi sayangnya tidak ada jawaban. Hal ini membuatnya semakin panik sehingga dia menambah kecepatannya.
__ADS_1