
Dua puluh pendekar kelas menengah yang tersisa berusaha keras untuk bisa menangkis jurus maut Cakra Buana. Mereka saling bahu membahu satu sama lain supaya dapat mengurangi akibat dari hebatnya jurus Pendekar Tanpa Nama.
Sayangnya, Cakra Buana terus bergerak tanpa memberikan ampunan. Dia sudah bersumpah akan membunuh semua orang yang ada di sana, jadi, bagaimana mungkin dia akan bermurah hati?
Pedang Haus Darah berkelebat menusuk atau menyabet. Pedang itu membawa sebuah dendam membara. Dendam yang bahkan lebih besar daripada gunung.
Sinar yang keluar dari pedang tersebut membawa perasaan mengerikan. Apalagi sekarang dimainkan oleh Pendekar Tanpa Nama.
Kekuatannya menjadi berlipat ganda. Sedangkan Pedang Naga dan Harimau sendiri, sudah pasti sepak terjangnya sangat ganas. Sama ganasnya dengan nama pedang itu.
Cakra Buana bergerak. Tubuhnya berputar lalu satu pedangnya menyerang dari bawah. Sasarannya adalah lima orang pendekar yang senjatanya telah patah menjadi dua bagian karena beradu dengan pusakanya.
Angin tajam terasa. Bagaikan sebuah pisau yang mengiris tahu. Kaki para pendekar yang menjadi sasaran, dibuat buntung hanya dalam satu kali serangan.
Mereka menjerit menahan sakit. Seolah meminta belas kasihan kepada Pendekar Tanpa Nama.
Sayangnya, rintihan dan semua jeritan tidak akan didengarkan oleh Cakra Buana. Selain karena mereka telah membunuh sahabatnya, saat ini dia juga sedang berada dalam kondisi setengah sadar.
Saat kaki lima pendekar kelas menengah buntung oleh Pedang Haus Darah, saat itu juga Pedang Naga dan Harimau mendapatkan gilirannya.
Cakra Buana berputar lagi.
Sebuah putaran tubuh yang sangat cepat sekaligus mengandung pengarahan tenaga dalam tinggi. Tidak ada yang mampu melihat bagaimana cepatnya gerakan Pendekar Tanpa Nama.
Namun yang jelas, saat tubuhnya berhenti berputar, lima pendekar tersebut sudah tewas dengan luka sabetan di dada yang menganga.
Semuanya tewas membawa rasa penasaran ke alam baka.
Suasana kembali tegang. Lima pendekar kelas menengah kembali menjadi korban. Tidak ada yang sanggup melepaskan diri dari Cakra Buana.
Pemuda itu sudah bergerak lagi memulai serangan lanjutan. Dua pedang pusaka yang sakti digetarkan. Ujung pedangnya bergetar seperti menjadi beberapa bagian.
Hanya dalam beberapa kejap mata, dua orang roboh kembali.
__ADS_1
Semakin lama, Sepak terjang Cakra Buana semakin mengerikan. Bahkan selanjutnya, korban yang berjatuhan malah bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Tiga belas pendekar tersisa, nyali mereka sudah benar-benar ciut.
Kalau di suruh memilih kabur, sudah pasti ketiga belas pendekar kelas menengah yang tersisa itu, akan memilih untuk melarikan diri.
Tetapi, mana mau Pendekar Tanpa Nama memberikan ampunan kepada manusia iblis seperti mereka?
Semua pendekar kelas menengah yang tersisa berusaha keras sebisa mereka mencoba untuk bertahan. Sayangnya justru Pendekar Tanpa Nama semakin mengerikan.
Gerakannya menjadi beberapa kali lebih cepat. Bahkan terlampau cepat. Sehingga terlihat percikan api di kala kedua pedangnya bergerak.
Pusaran angin bergulung-gulung, sebuah kekuatan hebat mendadak terasa. Bahkan orang-orang yang ada di saja merasa bergidik ngeri menyaksikan kejadian tersebut.
Cakra Buana melesat. Tubuhnya sudah tidak terlihat lagi, kecuali hanya bayangan merah bersama dua sinar dari pedang pusaka.
Dia menyerang semua pendekar kelas menengah yang tersisa. Sabetan dan tusukan sudah keluar. Tenaganya menjadi lebih besar ketimbang tadi.
Cakra Buana berada di puncak amarah. Kemarahan akibat tewasnya sang sahabat menjadikan dia lepas kendali.
Hanya dalam dua puluh jurus, tiga belasan pendekar kelas menengah semuanya sudah tewas di tangan Cakra Buana.
Entah bagaimana caranya dia bisa melakukan hal semengerikan itu. Hampir semua pendekar kelas satu tidak ada yang percaya. Bahkan penulisnya sendiri juga tidak percaya.
Tapi apa mau di kata? Pemuda itu memang benar-benar dapat membunuh belasan pendekar kelas menengah hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Mendadak orang-orang yang ada si sana gentar. Mereka yang terkenal sebagai tokoh tua dunia persilatan pun, belum tentu sanggup melakukan seperti yang dilakukan oleh Cakra Buana.
Dan dalam hal ini, semua tokoh masing-masing dalam hatinya memuji kesaktian Cakra Buana. Mereka belum pernah melihat ada seorang pendekar muda sepertinya.
Puluhan orang sudah terkapar tanpa nyawa. Masing-masing mereka mendapatkan luka yang berbeda. Ada yang mendingan, ada yang parah, ada juga yang sangat parah.
Api amarah Cakra Buana sudah membakar semuanya. Jiwa pedang di dalam Pedang Haus Darah sampai keluar sehingga memberikan kekuatan kepadanya secara tanpa sadar.
__ADS_1
Dua pedangnya masih dia genggam. Sorot matanya masih sama tajam, bahkan kali ini lebih tajam lagi. Jika kau tahu bagaimana sorot mata harimau yang sedang marah besar, maka seperti itulah mata Cakra Buana saat ini.
Sementara itu di luar, pertarungan dua wanita cantik masih berlangsung. Keduanya sudah melaksanakan pertarungan selama puluhan jurus.
Puluhan pukulan dan tendangan terus berbenturan mewarnai pertarungan dua bidadari tersebut. Sayangnya sampai lima puluh jurus, Ratih Kencana tidak sanggup membunuh lawannya.
Justru sebaliknya, wanita bercadar tersebut belum membalas serangannya secara serius. Padahal Ratih Kencana sudah mengeluarkan hampir sembilan puluh persen kekuatannya, tak nyana, justru lawannya masih dapat menangkis semua jurus dahsyat yang dia lancarkan.
Ratih Kencana mulai marah saking kesalnya. Selendang yang menari-nari setiap kali dia bergerak, kini mulai di genggam dengan kedua tangannya.
Berselang beberapa saat kemudian, gadis itu sudah meluncur kembali memberikan serangan pertama. Selendang itu terjulur sehingga menjadi panjang beberapa kali lipat.
Selendangnya berputar dengan cepat. Yang satu keras seperti tongkat baja, yang satu lagi meliuk-liuk lemas seperti ular kobra.
Dua serangan berbeda dari satu benda sudah melesat ke arah wanita bercadar atau Bidadari Tak Bersayap.
Ratih Kencana sudah yakin dapat melumpuhkan wanita asing tersebut. Karena kalau dia sudah mengeluarkan selendangnya dalam pertarungan, biasanya kemenangan sudah pasti dapat dia raih.
Sayang, sungguh sayang sekali. Sebab wanita bercadar yang sedang dia hadapi saat ini, tidak sama seperti pendekar yang pernah bertarung dengannya.
Saat dua selendang tersebut hampir tiba, Bidadari Tak Bersayap langsung mencabut senjata andalannya.
Pedang Cantik Dari Kahyangan.
Pedang bersarung biru muda nan indah sudah keluar.
Tanpa banyak basa-basi, gadis itu segera memainkan pedang andalannya. Pedang Cantik Dari Kahyangan bergerak ke atas menebas dua selendang yang sedang meluncur cepat ke arahnya.
Kesalahan fatal yang dilakukan oleh Ratih Kencana adalah dia tidak menarik kembali dua selendangnya. Dia sangat yakin bahwa pedang lawan akan terlilit dan selendang yang satu tentu dapat menghantamnya.
Keyakinan yang terlalu yakin, terkadang juga mendatangkan resiko yang sangat tinggi.
Dan hal tersebut terbukti sekarang. Dua selendangnya berhasil ditebas oleh pedang lawan.
__ADS_1
Ratih Kencana kaget. Dia tidak tahu harus melakukan apa, karena ternyata pedang lawan sudah berbalik meluncur deras ke arahnya.