
Pagi harinya, kembali berita tentang pendekar misterius itu semakin menyebar. Sebab para pendekar yang semalam dibunuh olehnya merupakan pendekar yang cukup mempunyai nama. Malah, di dalamnya terdapat beberapa orang murid ternama dari sebuah perguruan yang ternama di dunia persilatan.
Dan berita ini, telah sampai ke lingkungan Kerajaan Tunggilis. Mereka pun membicarakan berita hangat dan terbaru ini saat sarapan pagi.
Prabu Katapangan Kresna merasa sedikit khawatir. Diam-diam dia melirik Cakra Buana yang sedang sarapan. Pendekar Maung Kulon itu memang terhilat biasa-biasa saja, padahal di dalam hatinya dia sendiri merasa terkejut.
Harus Cakra Buana akui bahwa pertarungan yang semalam itu, memang merupakan pertarungan terberat daripada pertarungan-pertarungan lainnya setelah dia membunuh lewat cara meraga sukma.
Tak disangka, ternyata orang-orang itu telah mempunyai nama.
'Pantas saja semalam aku beberapa kali kewalahan. Hemmm … untung bahwa Sang Hyang Widhi masih mempercayaiku untuk hidup,' batin Cakra Buana.
Sepanjang sarapan pagi, orang-orang Istana Kerajaan Tunggilis terus-menerus membicarakan tentang si pendekar misterius itu.
Setelah selesai sarapan, Prabu Katapangan lalu memanggil Cakra Buana ke ruangan kecil. Di sana hanya ada mereka saja. Tak ada orang lain.
"Ada apa paman memanggilku kemari? Tidak biasanya berbicara hanya berdua seperti ini," kata Cakra Buana merasa sedikit ada hal lain.
"Karena paman rasa, hal ini memang tidak usah ada yang mendengarnya. Sebab ini merupakan rahasia, bukan begitu?" Prabu Katapangan tersenyum saat melihat wajah Cakra Buana yang semakin kebingungan.
"Maksud paman? Aku benar-benar tidak mengerti paman bicara apa," ucap Cakra Buana mengerutkan kening.
"Hemm, menurutmu, kalau paman mengucapkan terimakasih kepada pendekar misterius yang sedang ramai di bicarakan itu, apa hal itu boleh?"
"Tentu saja boleh paman. Mengucapkan terimakasih tidak ada larangannya. Tapi, apakah paman tahu siapa orang yang disebut pendekar misterius itu?"
"Tentu saja. Kalau tidak tahu, buat apa paman bertanya seperti itu kepadamu?"
"Hemm, tapi kalau tidak tahu pun, cukup berterimakasih dalam hati, itu sudah cukup," kata Cakra Buana.
'Kenapa paman tiba-tiba bicara seperti ini, apa dia sudah tahu bahwa akulah yang dimaksud pendekar misterius itu?' batin pemuda serba putih itu saat ini dipenuhi dengan tanda tanya besar.
"Karena paman sudah tahu, jadi paman tidak harus mengucapkannya di dalam hati,"
Setelah berkata seperti itu, kemudian kepala Prabu Katapangan mendekat kepada Cakra Buana, seolah dia ingin memakannya hidup-hidup.
"Terimakasih pendekar misterius. Karenamu, bebanku menjadi berkurang banyak," kata Prabu Katapangan sedikit berbisik di telinganya.
Cakra Buana tersentak kaget mendengar perkataan pamannya itu.
__ADS_1
"Tu-tunggu! Maksud paman apa? Aku bukan pendekar misterius. Aku Cakra Buana, keponakan paman," kata Cakra Buana masih mengelak.
"Benar, dan sekaligus, kau juga si pendekar misterius itu,"
"Bu-bukan. Paman salah sangka,"
"Sstt … sudahlah Cakra, paman tahu kau yang melakukannya. Percayalah, paman tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun,"
"Ta-tapi …"
"Kau harus ingat bahwa paman paling tidak suka di bohongi," katanya lalu ekspresi wajah Prabu Katapangan berubah serius.
Kalau sudah seperti ini, Cakra Buana harus bicara apa lagi? Sedikit banyak dia sudah tahu watak pamannya itu. Maka setelah menghela nafas panjang, Cakra Buana pun akhirnya mengakui.
"Baiklah, aku tidak berbohong lagi. Tapi tolong, paman rahasiakan hal ini," pinta Cakra Buana.
"Hahaha … akhirnya rahasia terbongkar juga. Tenang saja, paman tidak akan bicara kepada siapapun," ucapanya penuh kemenangan.
"Terimakasih kalau begitu. Tapi, bagaimana paman bisa tahu bahwa aku yang melakukannya?" tanya Cakra Buana terheran-heran.
"Karena kau sendiri yang memberitahu,"
"Saat di ruangan utama kita sedang membicarakan tentang berita itu. Paman melihat ada hal lain di wajahmu. Maka setelah malam tiba, diam-diam paman melakukan perjalanan sukma ke kamarmu. Paman melihat sukmamu pergi, lalu sukma paman mengikuti sampai tiba di tempat tujuan. Dan ternyata … dugaan paman tidak salah,"
"Hemm, pantas saja," kata Cakra Buana agak kesal.
"Hahaha … sudah, sudah. Paman berjanji tidak akan menceritakan hal ini,"
"Baiklah,"
Obrolan keduanya berhenti sebentar. Mereka menikmati hidangan yang ada dulu. Setelah itu, Prabu Katapangan kembali berkata dengan wajah serius.
"Cakra, paman minta kau jangan melakukan hal itu lagi,"
"Memangnya kenapa?"
"Haishh, kau tahu, semalam itu tanpa sadar kau telah melakukan perbuatan gila. Semalam yang kau bunuh itu, sebagian adalah para murid utama dari Perguruan Sayap Hitam,"
"Perguruan Sayap Hitam?"
__ADS_1
"Benar, perguruan itu merupakan salah satu perguruan aliran hitam terbesar yang ada di Pasundan. Mereka terkenal dengan ilmu-ilmu hitamnya yang sangat ganas. Dan paman merasa, mereka sudah mengetahui bahwa kau yang melakukan pembunuhan ini,"
"Hah? Bagaimana bisa tahu?" Cakra Buana tersentak kaget.
Dia memang pernah mendengar beberapa kali tentang perguruan ini. Tapi baru sekarang Cakra Buana tahu bahwa Perguruan Sayap Hitam, adalah salah satu perguruan besar.
"Karena mereka menguasai ilmu hitam langka. Setiap anggota Perguruan Sayap Hitam tewas dibunuh seseorang, maka dengan sendirinya mereka akan tahu siapa pelakunya. Saat ini, hanya mereka saja yang mempunyai ilmu seperti itu,"
"Kalau begitu, masalah ini pasti akan bertambah rumit nantinya,"
"Karena itulah paman memintamu untuk berhenti melakukan semua ini. Yang paman takutkan adalah di saat kau membunuh dengan cara meraga sukma, pihak mereka akan menjebakmu dengan cara kejam," ucap Prabu Katapangan.
"Hemm, baiklah kalau begitu. Aku akan menuruti permintaan paman. Mulai sekarang, aku tidak akan melakukan cara itu lagi,"
"Bagus. Memang itu yang paman mau,"
Setelah pembicaraan rahasia itu selesai, keduanya lalu keluar ruangan dan kembali bergabung bersama yang lainnya. Tapi saat sampai di ruangan utama, di sana nampak sepi.
Setelah bertanya kepada seorang prajurit, ternyata para pendekar dan yang lainnya sedang membantu para prajurit mempersiapkan kebutuhan perang. Selain itu, mereka juga sedang mengadakan latih tanding bersama untuk mengukur sampai di mana kekuatan mereka.
Cakra Buana dan Prabu Katapangan segera menuju ke tempat di mana para pendekar berada. Tapi karena ada urusan lain, maka Prabu Katapangan kembali lagi ke dalam.
Cakra Buana akhirnya berjalan sendirian ke halaman. Dia menemukan Ling Zhi yang sedang melihat kata pendekar berlatih itu.
"Kakang, kau dari mana?" tanya Ling Zhi saat Cakra Buana tiba di sisinya.
"Aku habis bicara dengan Prabu Katapangan. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan,"
"Emmm, pantas lama sekali," ucap Ling Zhi.
"Maaf," kata Cakra Buana sambil memegangi kedua lundak kekasihnya.
Kini keduanya kembali memperhatikan para pendekar itu. Selang beberapa saat, Cakra Buana melirik Ling Zhi lagi.
"Kau juga ingin berlatih?"
"Emm, tentu," jawabnya.
"Baik, kalau begitu mari kita bertarung," ajak Cakra Buana yang segera dibalas anggukan oleh Ling Zhi.
__ADS_1
Tanpa berkata lagi, keduanya sudah melompat ke halaman lalu mulai bertarung bersama para pendekar lainnya.