
"Gadis ini memiliki kepandaian yang lumayan. Hemm … sepertinya akan sedikit merepotkan," gumam Sandira sambil mengamati Ling Zhi dari atas sampai bawah.
Selesai bergumam demikian, Sandira lalu menyuruh tiga orang saudara lainnya untuk membantu melawan Ling Zhi. Tiga orang anggota Sepuluh Pendekar Saudara lalu maju berjejer dengan dua orang lainnya. Termasuk si kurus kering.
"Kenapa tidak sekalian maju semua?" tanya Ling Zhi menantang.
"Jangan besar mulut gadis busuk,"
"Lihat serangan …"
"Wuttt …"
Kelima orang itu membagi posisi. Ling Zhi di kepung dari semua sudut. Sedangkan lima orang lainnya, mundur ke belakang untuk menonton jalannya pertarungan ini.
Kelima orang itu sudah menyerang. Pukulan dan tendangan mereka lancarkan dengan mantap. Ling Zhi lebih dulu menyalurkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Setelah itu, dia mulai bergerak.
Satu persatu pukulan dan tendangan lawan berhasil ia hindari. Ling Zhi berkelebat ke sana ke mari bagaikan sebuah bayangan. Kelima orang itu semakin geram, mereka menambah kecepatan serangan.
Lima serangan datang bertubi-tubi bagaikan tumpahan air bah. Semakin lama, tenaga yang dikeluarkan semakin besar. Ling Zhi tak tinggal diam lagi, gadis cantik itu mulai mengeluarkan jurus-jurus yang sudah ia pelajari dari Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat.
"Wuttt …"
Ling Zhi merangsek ke depan mengincar dua orang lawan yang diduga paling lemah. Ia mulai memainkan jurus-jurus mautnya. Gadis itu menari di dalam kurungan senjata lawan. Ke mana tangan dan kakinya bergerak, pasti ada anggota tubuh yang terkena hantamannya.
"Bukkk …"
"Bukkk …"
Pukulan demi pukulan terus Ling Zhi lancarkan kepada dua orang lawan yang paling lemah. Keduanya mulai kewalahan karena kalah cepat. Tiga orang yang berjaga, maju membantu. Kali ini tidak dengan tangan kosong, melainkan menggunakan senjata andalan mereka.
"Wushhh …"
Sabetan golok dan tusukan tombak serta hantaman tongkat, berkelabat mencari sasaran empuk. Ling Zhi bergerak semakin lincah, dia melompat tinggi lalu turun dengan memberikan serangan berupa pukulan. Dua orang yang ia incar, dengan telak mendapatkan serangan tapak dari gadis itu.
"Tapak Bidadari …"
"Bukkk …"
__ADS_1
Keduanya terkena lagi jurus Ling Zhi. Tapak itu berhasil mendarat di jantung kedua lawan. Kedua anggota Sepuluh Pendekar Saudara terpental hingga bergulingan ke belakang. Keduanya merasakan jantung mereka seperti berhenti berdetak. Mereka sulit untuk bernafas.
Melihat dua rekannya berhasil di pukul mundur, yang tiga tidak mau kalah. Ketiganya kembali memainkan senjata masing-masing lebih cepat. Jurus demi jurus berlalu tanpa henti. Gempuran serangan semakin lama semakin gencar.
Ling Zhi mulai merasa kewalahan. Dia terus menghindari setiap sabetan atau tusukan yang diberikan oleh lawan.
"Wuttt …"
"Utss …"
Ling Zhi menarik tubuhnya sedikit ke belakang. Hampir saja sabetan golok merobek perutnya. Untung bahwa dia mampu bergerak lebih cepat. Tapi begitu ia berhasil menghindar, dari arah belakang meluncur lagi tusukan tombak.
Dengan sigap ia menghentakkan kakinya ke tanah. Ling Zhi berhasil melenting tinggi ke atas dan berssalto satu kali. Saat melakukan salto, dia mencabut Pedang Bunga dari sarungnya.
"Sringg …"
pedang Bunga tercabut. Dia lalu turun menukik sambil menjulurkan pedang pusaka itu.
"Trangg …"
Empat senjata bertemu di udara. Ling Zhi tertahan dengan pedang terjulur ke bawah. Keempat pendekar itu mengadu tenaga dalam lewat senjata pusaka.
"Haaa …"
Keempat pendekar terpundur tiga langkah. Debu mengepul tinggi menutupi penglihatan. Ling Zhi tetap memasang posisi waspada.
"Wuttt …"
"Brettt …"
Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah pedang berhasil sedikit merobek bajunya. Bahkan pedang itu turut melukai kulit Ling Zhi di bagian punggung. Untung saja Ling Zhi menghindar tepat pada waktunya, sebab kalau tidak, ia akan terluka parah terkena sabetan itu.
Arena pertarungan perlahan normal kembali sehingga penglihatan bertambah jelas. Ling Zhi membalikan badan ke belakang karena penasaran. Ternyata di sana sudah ada Sandira dan yang lainnya. Kali ini Sepuluh Pendekar Saudara maju semua. Ling Zhi terpaku beberapa saat, ia tidak yakin bisa menghadapi kesepuluh orang itu secara langsung.
Tanpa menunggu lama, Sepuluh Pendekar Saudara itu kembali menyerang Ling Zhi secara serempak. Sepuluh macam senjata sudah melancarkan serangan maut ke tubuhnya. Termasuk jarum hitam yang sempat mengenai dirinya beberapa saat lalu.
"Wuttt …"
__ADS_1
"Blarrr …"
Tiba-tiba sebuah serangan jarak jauh yang mengandung tenaga dalam tinggi, menghantam Sepuluh Pendekar Saudara secara telak sehingga mereka terpental dua tombak.
"Kakang," seru Ling Zhi senang karena melihat Cakra Buana sudah berdiri di depannya.
"Kau mundurlah Ling Zhi. Biar aku yang menghadapi antek-antek iblis ini," kata Cakra Buana dengan tegas.
Awalnya Ling Zhi berniat untuk menolak, tapi ia tidak jadi mengatakannya. Apalagi setelah mendengar suara Cakra Buana yang sudah pasti sedang memendam kemarahan.
Sepuluh Pendekar Saudara segera bangkit. Mereka berdiri sejajar dengan senjata di tangan dan posisi siap bertarung.
"Ka-kau …" kata Sandira terkejut sambil menujuk Cakra Buana.
"Benar, aku Cakra Buana. Orang yang selama ini kalian cari-cari. Kenapa? Kaget?" ucap Cakra Buana dengan tegas.
"Kaget? Hahaha … justru aku sangat senang. Akhirnya aku tidak perlu susah payah untuk mendapatkan uang banyak. Cukup membunuh lalu memenggal kepalamu, aku akan kaya raya … hahaha," kata Sandira sambil memperdengarkan suaranya yang sedikit seram.
"Hahaha …" Cakra Buana ikut tertawa, bahkan suaranya lebih seram lagi. "Apakah kalian sanggup membunuhku?" tanyanya dengan sorot mata setajam pisau.
"*******. Serang!" kata Sandira memberikan perintah kepada sembilan saudaranya.
Sepuluh Pendekar Saudara bergerak. Mereka mengepung Cakra Buana seperti sebelumnya saat mengepung Ling Zhi. Berbagai macam senjata sudah di todongkan kepada Pendekar Maung Kulon itu. Sedangkan Cakra Buana sendiri hanya diam seperti patung. Bahkan ia tersenyum menyeringai.
"Kenapa diam saja? Ayo serang aku," ucap Cakra Buana.
Tanpa bicara lagi, Sepuluh Pendekar Saudara lalu menyerang Cakra Buana menggunakan senjata mereka masing-masing. Desiran angin mengiringi laju senjata-senjata tersebut. Tapi dengan mudahnya Cakra Buana mematahkan sepuluh serangan itu.
Dia memutarkan telapak tangan lalu disaluri dengan tenaga dalam cukup besar. Setelah itu, dia hentakkan kaki ke tanah dengan posisi kedua tangan di kembangkan lurus ke samping.
"Haaa …"
Gelombang tenaga dalam tiba-tiba keluar dari tubuh Cakra Buana menghantam Sepuluh Pendekar Saudara. Kesepuluh orang itu kembali terpental, sebagian dari mereka bahkan ada yang sampai senjatanya lepas. Hal ini tidak di sangka sebelumnya, maka Sepuluh Pendekar Saudara tidak melakukan persiapan lebih dulu.
Mereka bangun kembali dengan amarah yang memuncak. Sepuluh Pendekar Saudara mulai menyalurkan tenaga dalam dengan jumlah besar. Debu mengepul tinggi dan daun kering beterbangan. Suasana yang tadinya sepi, kini semakin ramai karena pertarungan itu menimbulkan suara-suara bergemuruh.
Orang-orang yang tadi sedang makan dan minum, mulai berkumpul mengelilingi para pendekar yang sedang bertarung itu. Di sana ada juga beberapa pendekar yang mengincar Cakra Buana. Hanya saja mereka masih diam menyaksikan pertarungan untuk saat ini.
__ADS_1
Pertarungan di lanjut kembali. Adu tenaga dalam terus terjadi tanpa henti. Sepuluh orang itu bagaikan sekelompok serigala kelaparan. Mereka melakukan berbagai macam cara untuk bisa mendapatkan mangsa.
Gelap malam semakin pekat. Suara binatang malam terdengar mewarnai suara bergemuruh dari pertarungan tersebut. Bintang-bintang berkelipan di atas cakrawala. Seolah mereka semua turut menyaksikan pertarungan ini.