Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Berkeliling


__ADS_3

Tak terasa satu bulan telah berlalu. Artinya, Cakra Buana dan Ling Zhi pun sudah sebulan tinggal di dalam Kerajaan Tungglis. Kedua pendekar muda itu hidup dengan tenang di dalam kerajaan. Semua yang mereka butuhkan, pasti akan di penuhi oleh Prabu Katapangan Kresna.


Akan tetapi, Cakra Buana dan Ling Zhi adalah orang yang sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Jadi mereka tidak pernah meminta hal-hal aneh kecuali yang hanya mereka butuhkan saja.


Baik Cakra Buna mau pun Ling Zhi, sama-sama di ajarkan oleh gurunya untuk berlaku sederhana dalam menjalani hidup. Jangan terlalu berlebihan, apa pun itu. Meskipun kita mampu, tapi tetap harus berlaku sederhana. Jika mampu dalam hal materi, lebih baik pentingkan juga orang lain. Jangan hanya diri sendiri.


Saat ini hari sudah pagi. Mentari memancarkan seluruh sinarnya ke bumi dengan sempurna. Langit lenggang tanpa adanya awan. Birunya langit nampak indah, semilir angin membuat kehidupan bertambah nyaman.


Hari ini Cakra Buana berniat untuk keluar kerajaan. Pendekar Maung Kulon itu ingin berkeliling memeriksa keadaan rakyatnya. Sekali pun dia bukan seorang raja, tapi dirinya seorang pangeran yang kelak akan menjadi raja. Sudah sepantasnya kalau ia mulai belajar bagaimana menjadi pemimpin yang baik supaya dicintai oleh rakyatnya.


Seorang pemimpin akan di katakan baik dan dicintai semua orang ketika dia mampu mensejahterakan kehidupan rakyatnya.


Setelah berpenampilan sederhana seperti biasanya yang menggambarkan seorang pendekar, Cakra Buana lalu keluar dari kamar dan menuju ke singgasana raja. Dia menghadap ke Prabu Katapangan Kresna yang nampak sendirian di sana. Orang-orang yang mendampingi raja itu langsung hormat saat melihat Cakra Buana.


"Pamanda prabu, ananda meminta izin. Ananda ingin memeriksa keadaan rakyat," kata Cakra Buana sambil memberikan hormatnya.


"Hemmm … mau apa kau kesana pangeran?" tanya sang prabu.


"Tidak ada apa-apa. Ananda hanya ingin melihat-lihat kehidupan rakyat. Ananda ingin sekali menghirup udara luar," ucap Cakra Buana.


"Baiklah kalau begitu. Dua orang pendekar akan mengawalmu," katanya.


"Tidak perlu repot-repot pamanda. Ananda bisa menjaga diri,"


"Apa kau yakin?"


"Hamba yakin pamanda. Lagi pula, ananda tidak lama. Ananda hanya ingin melihat sebentar," kata Cakra Buana.


"Baiklah kalau begitu. Aku mengizinkanmu. Senja nanti kau harus kembali," katanya.


"Baik pamanda. Ananda pamit," kata Cakra Buana sambil melangkahkan kakinya ke luar.


Pendekar Maung Kulon itu memang sangat ingin sekali melihat kehidupan di luar. Sebenarnya dia sendiri sudah tidak betah kalau harus terus berdiam di dalam kerajaan. Yang hanya dia lihat hanya itu-itu saja.

__ADS_1


Selain itu, di dalam kerajaan pun harus memakai tata krama. Sangat ketat. Dan sebagai seorang pendekar, dia tentu tidak biasa dengan hal-hal seperti itu. Ditambah lagi, jiwa ingin mengembaranya semakin hari semakin bertambah.


Sebagian orang mungkin akan mengira bahwa hidup dalam kerajaan itu sangat enak. Apa yang diinginkan pasti di dapatkan. Padahal sejatinya tidak seperti itu. Cakra Buana memang merasakannya, tapi tetap saja dia tidak bisa atau belum terbiasa hidup dalam lingkungan kerajaan. Dia malah merasa bagaikan burung dalam sangkar.


Cakra Buana pergi menunggangi seekor kuda putih yang gagah. Dengan gerakan mantap, Cakra Buana langsung menggebrak kudanya. Sehingga kuda putih tersebut langsung lari kencang. Tak perlu lama, dia sudah berada di luar gerbang.


Cakra Buana lalu memperlambat laju kudanya. Ia mengawasi kehidupan rakyat sekitar istana kerajaan. Mereka yang tinggal di sekitar istana, memang mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Mereka banyak yang menjadi seorang pedagang makanan atau pun lainnya.


Di kehidupan sekitar istana, rakyat merasakan kesejahteraan ekonomi. Tapi bukan itu tujuan Cakra Buana sebenarnya. Tujuannya justru ingin melihat kehidupan di desa-desa terpencil yang masih dalam wilayah Kerajaan Tunggilis.


Pemuda serba putih itu mulai menyusuri desa-desa dan melihat-lihat kehidupan rakyatnya. Ternyata di pelosok desa, mereka banyak yang menjadi petani atau bekerja di ladang. Cakra Buana kadang-kadang turun dari kuda untuk sekedar bicara ringan dengan orang-orang yang ia temui.


Menjelang siang hari, perutnya mulai merengek minta di isi. Cakra Buana lalu mencari kedai yang ada di sekitar sana. Ternyata memang ada. Kedai itu tidak terlalu kecil, juga tidak terlalu besar. Ukurannya sedang saja. Pemuda serba putih itu pun lalu menuju ke sana.


Dia mengikatkan kudanya dan dibiarkan merumput di bawah pohon sukun. Setelah itu, Cakra Buana berjalan menuju masuk ke kedai makan. Ternyata di dalam kedai terdapat beberapa orang petani yang sedang makan siang. Cakra Buana sempat berbincang sebentar sambil menunggu pesanannya datang.


Para warga itu tidak mengetahui bahwa pemuda yang bicara dengannya adalah seorang pangeran. Tentu saja, karena mereka tinggal di pelosok desa.


Saat sedang enak makan. tiba-tiba ada seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun masuk ke dalam kedai. Dari langkahnya jelas memperlihatkan kesombongan.


"Arak. Berikan aku arak yang enak," kata orang itu dengan lagak bagaikan seorang preman. Dia duduk di seberang Cakra Buana. Kakinya di angkat ke bangku. Golok besarnya ia letakkan di meja dengan kasar.


"I-ini Ki Suro," kata pemilik kedai sedikit ketakutan sambil memberikan satu kendi arak.


"Aku mau makan, berikan makanan yang enak," katanya tanpa mengurangi nada angkuhnya.


Tak berselang lama, makanan pun datang. Dia makan dengan lahapnya. Bahkan porsi makan pun dua kali lebih banyak daripada orang-orang yang ada di sana. Semua orang tidak ada yang berani memandangi orang yang dipanggil ki Suro tersebut kecuali Cakra Buana.


Nama ki Suro sudah terkenal di desa itu. Dia di kenal dengan seorang yang kasar dan kejam. Ki Suro ini sangat sering meminta-minta jatah kepada pars pedagang yang ada di sesa tersebut.


Setelah selesai makan, dia menghampiri pemilik kedai.


"Mana jatahku. Berikan semua uangmu yang ada," katanya kepada pemilik kedai.

__ADS_1


"Ma-maaf ki. Saya belum dapat uang, mereka yang makan belum bayar,"


"Bohong," ucap ki Suro sambil menggebrak meja sampai retak. Dari retakan itu, bisa dipastikan bahwa dia seorang yang berasal dari rimba persilatan.


"Su-sungguh ki, saya tidak berani berbohong," ucap pemilik kedai yang seorang ibu-ibu tua.


"*******. Belajar dari mana kau sehingga berani menipu ki Suro," katanya sambil berniat melayangkan sebuah tamparan.


"Wutt …"


Tapi sebelum tamparan itu mengenai wajah si pemilik kedai, tiba-tiba tangannya terhenti seketika.


"Aw …" katanya sambil menarik tangan. Ada sesuatu yang menghantam tangannya. Ternyata punggung tangan ki Suro berdarah sedikit. Ada duri ikan yang menancap di punggung tangan dan tepat mengenai uratnya.


"Kunyuk. Siapa yang melemparkan duri ikan ini?" katanya sambil mengacungkan duri yang dimaksud. Matanya memandang berkeliling, tapi tidak ada yang mencurigakan.


Sekali lagi ia layangkan tamparan. Tapi lagi-lagi kejadian seperti sebelumnya terulang sehingga menyebabkan timbulnya kemarahan ki Suro.


"Brakkk …" meja langsung hancur saat ki suro memukulnya.


Cakra Buana mulai kesal. Ia bangkit berdiri dari tempat duduknya.


"Tolong ki dulur. Jangan mengganggu orang-orang yang sedang makan di sini. Kau minta arak gratis, makan juga di kasih gratis. Tapi kau masih memaksa minta jatah kepadanya.


Mata ki Suro langsung mendelik ke arah Cakra Buana. Baru kali ini ada seseorang yang berani berkata bicara seperti itu padanya. Bahkan yang bicaranya adalah seorang pemuda.


"Diam kau bocah tengik. Jangan sok mengguruiku," katanya sambil memelototi Cakra Buana.


"Aku tidak menggurui, aku hanya mengingatkanmu,"


"Perduli setan,"


"Wuttt …"

__ADS_1


Tangan ki Suro lalu mencabut duri ikan yang barusan membuatnya punggung tangannya berdarah. Lemparan itu cepat dan mengarah kepada Cakra Buana. Untung bahwa pemuda serba putih itu sudah menduga hal tersebut. Dia pun miringkan kepalanya ke kanan sedikit. Sehingga duri ikan itu menyasar ke luar jendela kedai.


__ADS_2