
Gemuruh kembali terdengar menggema. Setelah itu, serangan Cakra Buana yang berasal dari Kitab Dewa Bermain Pedang tersebut, melesat ke arah Kakek Bungkuk dan Cempaka Biru.
Berbarengan dengan dilepaskan jurus maut tersebut, Kakek Bungkuk dan Cempaka Biru pun, turut melancarkan jurus maut miliknya masing-masing sambil berteriak kencang.
"Gerbang Bunga Cempaka …"
"Wuttt …"
Tanah bergetar. Tak lama mendadak muncul tiga energi berwarna biru muda dan melindungi Cempaka Biru. Inilah salah satu jurus pertahanan hebat milik wanita itu.
"Tongkat Ular Naga …"
"Wushhh …"
Seketika keluar cahaya merah dari ujung tongkat Kakek Bungkuk. Cahaya merah tersebut lalu berubah menjadi seekor ular naga. Secepat kilat cahaya itu melesat dan menyambut serangan jurus milik Cakra Buana.
"Duarrr …"
Ledakan yang lebih keras dari sebelumnya kembali terjadi. Tanah bergetar dengan hebat. Tiga jurus maut bertemu menghancurkan segala yang ada di sekitar. Pohon-pohon beterbangan bagaikan di hempas angin topan. Langit mendung, suara bergemuruh terus terdengar.
Tak lama, ketiga pendekar tersebut sama-sama terpental jauh. Cakra Buana menabrak batu sebesar kerbau. Batu itu langsung hancur jadi serpihan kerikil kecil.
Kakek Bungkuk dan Cempaka Biru terpental lebih jauh lagi. Sampai-sampai keduanya tidak terlihat oleh mata Cakra Buana.
"Hoekk …"
Pendekar Maung Kulon memuntahkan darah segar kehitaman cukup banyak. Organ dalamnya terguncang hebat. Beberapa tulangnya remuk. Dia bersemedi beberapa saat untuk sekedar mengembalikan tenaga dalamnya yang hampir habis. Setelah di rasa cukup, Cakra Buana lalu berjalan mendekat ke arah kuda putihnya yang sedang meringkik saking takutnya melihat apa yang sudah terjadi.
"Kuda putih, tenanglah. Semua sudah kembali seperti semula, sekarang cepat antarkan aku kembali," kata Cakra Buana sambil menarik tali kekang kuda.
Sementara itu di tempat lain, karena hantaman jurus yang sangat dahsyat tersebut, Kakek Bungkuk sampai terpental hingga dua puluh tombak. Tubuh tua renta itu menghantam batu sebesar gubuk. Bahkan batu itu hancur. Dia sendiri muntah darah, tulang punggungnya remuk. Bajunya koyak.
Kakek Bungkuk mencoba untuk bangun walaupun harus susah payah dulu, setelah berhasil dia pun pergi dari sana mencari tempat yang aman.
__ADS_1
Sedangkan Cempaka Biru, dia terpental sampai dua puluh lima tombak. Tubuh mulus itu menghantam pohon sebesar dua lingkaran tangan orang dewasa. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan Cakra Buana dan Kakek Bungkuk. Hanya saja dirinya sedikit lebih mendingan. Dia hanya muntah darah dan terluka dalam sedikit cukup parah.
Keadaan Cempaka Biru yang bisa dibilang lebih baik disebabkan karena dia telah mengeluarkan jurus pelindung andalannya. Pula, dirinya memang terkenal dengan jurus-jurus pertahannya yang jarang bisa di tembus lawan.
###
Menjelang sore hari, Cakra Buana sudah sampai di gerbang kerajaan. Sayangnya, ternyata Pendekar Maung Kulon itu sudah sangat lemas bahkan hingga pingsan. Cakra Buana bahkan tidak mampu untuk mengendalikan kuda putih itu.
Untung bahwa kuda tersebut merupakan salah satu kuda terbaik, sehingga dia sudah tahu ke mana arah pulang.
Para penjaga gerbang kerajaan kaget saat melihat kondisi Cakra Buana yang mengkhawatirkan. Pakaian Cakra Buana terkoyak. Luka-luka memenuhi tubuhnya di sana sini. Wajahnya pucat pasi. Terbukti sudah bahwa dia mengalami luka dalam yang lumayan parah juga. Padahal, baru beberapa waktu lalu dirinya sembuh dari luka yang di akibatkan Penguasa Gunung Waluh.
Penjaga gerbang langsung menggotong Cakra Buana. Mereka semakin panaik saat melihat mulut Cakra Buana membiru. Buru-buru mereka membawa Pendekar Maung Kulon itu ke tempat tabib istana.
Sesudah sampai di tempat tabib, si penjaga pun lalu menghadap ke Prabu Katapangan untuk melaporkan hal itu.
"Lapor baginda," kata penjaga gerbang sambil memberi hormat. Nafasnya terengah-engah. Terlihat kecemasan pada wajahnya.
"Tenanglah. Ada apa? Kenapa kau cemas seperti itu?" tanya Prabu Katapangan.
"Kenapa dengan Pangeran Cakra Buana? Bicaralah dengan jelas," ucapnya.
"Dia, dia terluka parah baginda raja. Saat ini pangeran sedang di ruangan tabib. Dia sedang di obati," kata penjaga itu.
"Apa? Kenapa dia bisa terluka? Siapa yang telah melukainya?"
"Hamba tidak tahu baginda. Kuda putih datang membawanya sampai kemari,"
"Baiklah. Aku ke sana sekarang," kata Prabu Katapangan.
Suasana di ruangan kerajaan jadi riuh. Para pendekar yang biasa mendampingi Prabu Katapangan, mulai menerka-nerka siapa yang sudah melukai Cakra Buana.
Prabu Katapangan lalu bergegas pergi ke ruangan tabib. Semua pendekar yang ada di ruangan itu ikut menuju tempat kediaman tabib istana. Tak lama, muncul juga Sepasang Kakek dan Nenek Sakti bersama Ling Zhi. Mereka lebih cemas dari yang lainnya, terlebih lagi Ling Zhi.
__ADS_1
"Dimana kakang Cakra Buana? Aku ingin melihatnya. Di mana dia?" tanya Ling Zhi kepada salah seorang pendekar pengawal raja.
"Dia di kediaman tabib nona. Mari ikut bersama kami," ajaknya.
Prabu Katapangan Kresna dan yang lainnya pun segera ke sana. Sesampainya di tempat kediaman tabib, ternyata Cakra Buana sudah selesai di obati. Pendekar Maung Kulon itu sedang tertidur saat ini. Kondisinya langsung terlihat lebih baik daripada sebelumnya.
"Tabib, bagaimana keadaan Pangeran Cakra Buana, apakah dia baik-baik saja?" tanya Prabu Katapangan.
"Tabib, apa kakang Cakra Buana baik-baik saja? Apakah dia tidak papa?" tanya Ling Zhi cemas hingga tak sadar dirinya menyebut kakang kepada Cakra Buana.
"Pangeran tidak papa baginda raja. Beliau saat ini sedang tertidur. Dia mengalami luka dalam yang cukup parah, serta beberapa tulangnya remuk. Mungkin beliau terlalu memaksakan diri dalam sebuah pertarungan. Sehingga luka yang sebelumnya menjadi kambuh kembali. Di tambah lagi, organ dalamnya terguncang. Tapi saat ini beliau sudah lebih baik. Hanya tinggal butuh waktu saja untuk membuatnya benar-benar pulih," kata tabib menjelaskan keadaan Cakra Buana.
"Syukurlah kalau begitu. Biarkan dia istirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Sekarang kita kembali saja dulu," kata Prabu Katapangan mengajak yang lainnya meninggalkan kediaman tabib.
"Maaf baginda, kalau boleh biarkan aku di sini. Aku akan mendampingi kakang … ah maksudku Pangeran Cakra Buana,"
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu," katanya sambil menepuk pundak Ling Zhi.
Saat ini yang ada di ruangan tabib hanya Ling Zhi seorang. Dia duduk di samping Cakra Buana. Entah sudah berapa jam gadis itu mendampingi Cakra Buana.
Menjelang tengah malam, Cakra Buana bangun karena terbatuk. Ling Zhi segera mengambilkan air yang dibuat tabib untuknya.
"Minum air ini kakang," katanya sambil menempelkan cangkir bambu ke mulut Cakra Buana.
"Aku di mana Ling Zhi?"
"Sekarang kau ada di kediaman tabib istana. Istirahatlah dulu, kata tabib kau harus banyak istirahat. Lukamu cukup parah," ucap Ling Zhi.
"Hahhh …" Cakra Buana menghela nafas. "Lalu sejak kapan kau ada di sini?"
"Sejak sore hari. Aku sangat khawatir kakang. Kau membuatku cemas,"
"Maafkan aku Ling Zhi. Nanti aku akan menceritakan semuanya kalau sudah enakan. Sekarang aku ingin tidur lagi," kata Cakra Buana.
__ADS_1
"Tidurlah kakang. Aku akan tetap di sini,"
"Terimakasih," balas Cakra Buana sambil mencium kening Ling Zhi.