
Pemuda serba putih itu sudah tidak memiliki nafsu makan lagi akibat berita yang dia dengar barusan itu. Perutnya yang masih lapar mendadak kenyang karena berita yang membuatnya marah.
Bagaimana tidak? Seorang pribumi mau bekerja sama dengan para penjajah dan ikut menjajah tanah airnya sendiri. Bukankah itu sudah kelewatan namanya? Langlang Cakra Buana langsung pamit setelah membayar biaya makannya.
Dia berniat untuk menuju ke markas Golok Setan lagi dan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Rencananya Cakra Buana akan menyelidiki markas itu pada malam hari nanti.
Saat ini dia sedang berjalan mencari tempat yang sepi untuk sekedar menenangkan diri dan memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan nanti.
Di pinggiran hutan, ada sebuah pohon Kihujan yang berukuran besar. Di bawah pohonnya ada sebuah batu yang mirip seperti meja panjang.
Merasa cocok, Cakra Buana lalu duduk dibawah pohon itu dan langsung bersemedi.
Tak terasa waktu sudah malam hari lagi. Langlang Cakra Buana baru bangun dari semedinya setelah merasa keadaan sekitar menjadi gelap.
Setelah keadaannya normal, pemuda serba putih itu lalu beranjak pergi dari sana menuju ke markas penjajah Walanda.
Dia menggunakan ilmu Saifi Angin miliknya. Sehingga baru beberapa saat, Cakra Buana sudah tiba kembali didekat markas Walanda.
Ternyata keadaan di sana cukup terang. Didepan gerbang dipasang obor yang menyala-nyala. Sedangkan didalam markasnya ada lampu minyak tanah yang menerangi seisi ruangan.
Cakra Buana tidak langsung bergerak. Seperti rencana sebelumnya, dia akan menyelidiki dan mengintai sebelum bertindak lebih. Menunggu waktu yang tepat untuk menyusup ke sana.
Semakin malam, ternyata penjagaan malah semakin ramai. Bahkan sekarang ini yang berjaga bukan hanya dari pihak Walanda saja. Melainkan pihak-pihak pribumi pun turut berjaga.
Ada beberapa pribumi yang menjadi antek-antek para penjajah itu. Jika dilihat dari pakaian mereka, jelas bahwa pribumi itu bukanlah orang biasa. Melainkan orang-orang yang memiliki kepandaian silat dan kedigdayaan cukup tinggi.
Saat ini waktu tepat tengah malam. Bulan sabit sudah berada di atas kepala, cuaca pun menjadi agak dingin menusuk tulang. Binatang malam hari terdengar semakin ramai.
Para pasukan Organisasi Golok Setan yang bertugas untuk menjaga pun mulai mengantuk. Ini kesempatan yang baik tentunya. Cakra Buana bergerak secepat kilat.
Dia berhasil menaiki benteng dari tembok itu dengan mulus tanpa diketahui siapapun. Tapi ketika dia berniat menuju ke penjara yang berisi para tawanan, Cakra Buana sangat terkejut karena di sana dijaga oleh lima orang pribumi.
Tubuh mereka tinggi tegap. Wajahnya kasar dengan kumis yang baplang. Pandangan matanya mencorong penuh kebencian. Ketika mengetahui ada penyusup, kelimanya langsung bergerak secara bersamaan.
__ADS_1
Langlang Cakra Buana kaget, tapi hanya sesaat saja. Buru-buru dia membawa para penjaga itu menjauh dari sana menuju ke pinggiran hutan yang gelap dan agak jauh dari markas itu.
"Siapa kau? Kurang ajar. Berani sekali menyusup ke markas kami," kata salah seorang diantara mereka yang bertubuh paling tinggi.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas, kalian adalah musuhku. Kalian pengkhianat-pengkhianat Tanah Pasundan. Kalian antek-antek penjajah busuk," kata Cakra Buana dengan nada marah.
"Tutup mulutmu keparat. Dasar makhluk hina," katanya memaki Cakra Buana.
"Kalianlah yang lebih hina daripada aku. Bahkan lebih hina daripada anjing sekalipun. Pengkhianat seperti kalian ini harus dilenyapkan dari muka bumi,"
"Keparat. Habisi manusia sombong ini," katanya memberi perintah.
Keempatnya maju menyerang Cakra Buana secara bersamaan. Golok yang tajam dan tersarung rapi pada pinggang mereka, sudah dicabut pula.
Keempatnya langsung mengepung Cakra Buana. Besi putih dari golok itu bercahaya tertimpa cahaya bulan yang remang-remang. Tanpa dikomando lagi, mereka menyerang secara bersamaan.
Keempatnya memainkan golok mereka dengan lincah. Sinar-sinar putih nampak berkelebatan dibawah gelapnya malam. Deru angin menciut tajam ketika golok mereka diayunkan.
Langlang Cakra Buana tidak gentar menghadapi mereka ini. Justru amarah dan semangatnya semakin berkobar bagaikan api yang menyala-nyala.
Keempatnya mulai merasa geram karena serangan mereka selalu gagal mengenai sasaran. Padahal biasanya, mereka selalu dapat merobohkan lawan.
Bahkan di daerah ini, mereka terkenal sebagai jagoan yang tangguh. Tapi malam ini, di hadapan seorang pemuda asing, mereka semua tidak ada apa-apanya.
Langlang Cakra Buana mulai membalas serangan, dia tidak lagi menghindari serangan seperti tadi. Pemuda serba putih itu menahan setiap serangan golok yang datang dengan tangan kosong.
Dua lawan menyerang bersama dengan mengayunkan goloknya dari kanan dan kiri. Cakra Buana memiringkan kepalanya yang menjadi sasaran, tangan kanannya menepis tangan lawan lalu mengadukan golok mereka dengan golok temannya sendiri.
"Trangg …"
Dua golok beradu keras. Cakra Buana lalu menepak pergelangan tangan mereka yang memegang golok hingga senjata itu terpental. Buru-buru dia memberikan serangan tapak yang dengan telak mengenai dada lawan.
"Ajian Dewa Tapak Nanggala …"
__ADS_1
"Bukk …"
"Ahhh …"
Keduanya terpental beberapa depa. Mereka bergulingan beberapa saat lalu diam tak bergerak karena mulut mereka memuntahkan darah. Mati.
Melihat kedua kawannya tewas, kedua penyerang tadi menjadi bertambah marah kepada Cakra Buana. Sedangkan pemimpin mereka, masih berdiam sambil terus melihat jalannya pertarungan. Sepertinya dia sedang mengukur sampai dimana kekuatan Langlang Cakra Buana.
Keduanya maju menyerang lagi. Tapi kali ini serangan mereka lebih cepat daripada sebelumnya. Karena dikuasi oleh nafsu amarah, maka gerakan keduanya menjadi kacau balau.
Menyadari hal ini, tentu saja menjadi keuntungan tersendiri bagi Cakra Buana. Dengan mudah dia menghindari setiap serangan lalu membalasnya dengan pukulan-pukulan.
Kedua lawannya berhasil menghindar. Tapi mereka langsung maju menyerang lagi. Goloknya semakin bergerak cepat. Menyambar mengarah kepada leher dan jantung.
Cakra Buana menggeser kaki lalu memiringkan tubuhnya. Melihat ada kesempatan, dia kembali mengerahkan Ajian Dewa Tapak Nanggala.
"Bukkk …"
"Ahhh …"
Keduanya terpental kembali seperti dua kawan mereka. Perut mereka terasa mual dan sakit sekali. Keduanya tidak dapat bangun, karena baru beberapa saat saja, mereka sudah tewas dengan mata melotot.
Pertarungan berhenti sesaat. Kini Langlang Cakra Buana berhadapan dengan pemimpin keempat penyerang tadi.
"Hebat, hebat. Agaknya kau memiliki kepandaian yang cukup tinggi bocah. Andai kau mau bergabung, pasti kau akan menjadi wakilku untuk memimpin para tentara, hahaha …" ucap pemimpin itu sambil tertawa lantang.
"Cuihh … najis …" Cakra Buana meludah. "Lebih baik aku tewas daripada harus menjadi anjing penjajah," jawabnya.
"Kadal busuk. Di kasih kesempatan malah di sia-siakan,"
"Jangankan dijadikan wakil pimpinan, dijadikan pimpinan tentara tikus seperti mereka pun aku takkan mau,"
Bukan main marahnya pemimpin itu ketika mendengar cacian pemuda asing tersebut.
__ADS_1
"Sombong. Kau harus mampus …" katanya sambil menerjang Cakra Buana.