Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Nini Hideung


__ADS_3

Cakra Buana terus berlari mengurusi hutan dan bukit yang dimana terdapat bekas-bekas tapak kuda. Pemuda serba putih ini yakin bahwa tapak kaki kuda yang dia temukan tentu saja milik kudanya orang-orang yang sudah membuat kekacauan di desa Gading Bodas.


Akan tetapi meskipun Cakra Buana sudah berlari secepat yang dia mampu, tetap saja pemuda serba putih ini tidak bisa mengejar orang-orang itu. Sudah hampir sepeminum teh dia melakukan pengejaran, akan tetapi hasilnya hampa. Tidak ada yang dia temui kecuali bekas tapak kuda itu.


Sementara itu, lima orang yang disebut ki Marga dengan sebutan Lima Setan Darah, sudah tiba disebuah hutan di kaki bukit. Hanya tinggal melewati satu hutan lagi maka mereka akan sampai ke tujuan mereka, yaitu sebuah kadipaten.


Irma Sulastri yang sudah ditotok hingga pingsan, sampai sekarang belum mengetahui dirinya dibawa kemana karena memang dia belum sadar.


Kelima Setan Darah terus memacu kudanya dengan sangat cepat. Hari sudah menjelang malam, mereka bukan takut kepada perampok, karena siapa yang berani merampok mereka? Lima Setan Darah itu hanya khawatir akan kena marah junjungannya jika dia sampai telat datang.


Akan tetapi, ketika Lima Setan Darah sedang memacu kuda dengan kencangnya, tiba-tiba saja secara mendadak kuda mereka terhenti. Kelima kuda itu meringkik dan langsung mengangkat kedua kaki depannya, lima kuda itu langsung terdiam seperti ketakutan.


Jangankan untuk lari, melangkah setapak pun tidak bisa. Seolah kelima kuda milik Lima Setan Darah menabrak sebuah dinding ghaib. Melihat bahwa kudanya tidak mau berjalan, seseorang diantara Lima Setan Darah pun memberikan perintah untuk memeriksa apa yang sudah terjadi.


"Kedung Reja, periksa apa yang menyebabkan kuda kita terhenti," perintah salah seorang anggota Lima Setan Darah yang diduga sebagai pemimpin.


"Baik kakang Munding Aji," kata Kedung Reja yang langsung melompat turun dari kudanya.


Kemudian dia melihat-lihat telapak kaki kudanya barangkali ada sesuatu, ternyata tidak ada apa-apa. Akan tetapi ketika Kedung Reja melangkahkan kakinya selangkah ke depan, tiba-tiba dia pun terjengkang ke belakang seperti didorong oleh sesuatu tak kasat mata.


"*******. Siapa kau? Keluar! Jangan bersembunyi seperti seorang pengecut. Berani sekali kau mengganggu Lima Setan Darah heh. Apakah kau tidak tahu siapa kami?" Kedung Reja berteriak keras saking marahnya. Matanya memandang berkeliling mencari seseorang, akan tetapi dia tidak berhasil menemukannya.


Kedung Reja memang sengaja meneriakan nama Lima Setan Darah, karena pada kenyataannya, kelompok ini memang tidak bisa dipandang remeh. Nama Lima Setan Darah sudah terkenal dalam dunia persilatan, terutama ditanah Pasundan. Siapapun akan berpikir sejenak sebelum mencari perkara dengan mereka.

__ADS_1


Hampir tiga tahun nama Lima Setan Darah berkibar dalam dunia persilatan. Sudah banyak kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan. Awalnya Lima Setan Darah merupakan kelompok bayaran, baik itu pembunuh ataupun kejahatan lainnya.


Namun menurut rumor yang beredar luas, Lima Setan Darah sekarang sudah menjadi kaki tangan seorang adipati di wilayah Bantam ini. Sang adipati sengaja menarik Lima Setan Darah supaya dirinya bisa lebih leluasa dalam menjalankan niatnya untuk memperkaya diri dan menyengsarakan rakyat.


Karena dengan adanya Lima Setan Darah, siapapun pendekar yang akan menghalangi niatnya, akan berhadapan dulu dengan mereka sebelum dengan sang adipati.


Akan tetapi meskipun Kedung Reja sudah berteriak marah, tetap saja tidak ada seorang pun yang keluar. Yang ada justru suara tawa seorang wanita.


"Akakakak … bocah kemarin sore berani melintasi wilayahku tanpa permisi. Dasar tidak mempunyai sopan santun," kata suara itu mirip dengan suara nenek-nenek.


"Keparat. Siapa kau? Tunjukkan batang hidungmu jika ada nyali. Jangan sampai membuat Lima Setan Darah marau, kalau sampai kami marah, maka hutan ini akan rata dengan tanah," kata Kedung Reja memberikan ancaman.


"Berani kau bicara seperti itu? Kita lihat, apakah kau masih berani berkata demikian jika sudah tahu siapa aku?" suara nenek tua itu menggema di seluruh hutan tanpa adanya wujud. Hal ini saja bisa membuktikan betapa hebat tenaga dalamnya.


Tiba-tiba sebuah sambaran angin menyambar Lima Setan Darah dengan kencang. Jika tidak segera melindungi diri dengan tenaga dalam, tentu mereka akan terpental.


Debu mengepul tinggi. Daun-daun kering beterbangan kesana-kemari. Lalu tak lama setelah keadaan kembali seperti semula, didepan Lima Setan Darah dalam jarak empat tombak, sudah berdiri seorang nenek tua yang memakai pakaian hitam.


Rambutnya panjang hingga ke pinggul serta kusut pula. Warnanya sudah memutih tanda rambut itu uban semua. Wajahnya penuh dengan keriput dan giginya hitam. Di tangan kanan nenek tua itu terdapat sebatang tongkat berkepala tengkorak yang digenggam dengan erat.


Melihat siapa sosok yang ada didepannya, Lima Setan Darah terperanjat. Pasalnya nenek tua tersebut bukanlah orang sembarangan, melainkan salahsatu dari tokoh tua yang sakti mandraguna. Bahkan disebut-sebut sebagai salahsatu dari datuk dunia persilatan.


"Nini Hideung …" kata Lima Setan Darah berbarengan.

__ADS_1


"Akakakak … kalian sudah tahu siapa aku he? Kenapa tidak memberikan hormat kepada Nini Hideung? Apakah kalian ingin ******?" kata Nini Hideung dengan suaranya yang cempreng.


"Maafkan kami jika sudah mengganggu ketenangan Nini, sekarang kami mohon diberikan jalan. Kami sudah ditunggu oleh kunjungan kami," kata Munding Aji mewakili yang lainnya.


"Akakakak … semudah itukah kau bicara padaku he? Jika ingin lewat, berikan gadis itu untukku," ucap Nini Hideung sambil menunjuk Irma Sulastri yang masih dalam keadaan pingsan.


"Maaf Ni, justru gadis itulah yang sudah ditunggu oleh junjungan kami. Sekali lagi mohon maaf, kami tidak bisa memberikannya kepada Nini," kata Munding Aji sambil membungkuk.


Perilakunya yang berlagak congkak, kini mendadak takluk ketika dihadapan Nini Hideung. Hal ini jelas menandakan bahwa dia pun segan kepada nenek tua itu.


"Hemmm … kalian berani nolak permintaanku? Jangan sampai aku menurunkan tangan kejam kepada kalian berlima. Siapapun tidak berani menolak apa yang aku katakan, sekarang Lima Setan Darah yang beranggotakan bocah ingusan seperti kalian berani menolak? Akakakak … sudah tidak ingin melihat matahari besok kah?" kata Nini Hideung yang seketika raut wajahnya berubah kesal.


Mendengar ucapan nenek tua itu, Lima Setan Darah pun marah. Mereka kelompok yang ditakuti, belum pernah mengalami penghinaan, akan tetapi sekarang seorang nenek tua berani menghinanya? Tentu saja mereka tidak akan berdiam diri.


Meskipun Lima Setan Darah segan kepada Nini Hideung, tapi jika kelompoknya dihina, maka mereka tidak akan bisa untuk menahan diri lagi.


"Lancang sekali mulutmu itu nenek tua. Kau pikir kami takut kepadamu he? Kami hanya menghormatimu sebagai seorang tokoh tua, tapi bukan berarti kami takut. Sekali lagi kau menghina Lima Setan Darah, maka jangan salahkan kami jika berlaku kurang ajar," kata Munding Aji sambil menahan marah.


"Akakakak … bocah yang ingusnya belum kering berani menantangku? Akakakak … dasar *****. Hayo sini kalau memang kalian merasa hebat," kata Nini Hideung menantang balik.


###


Satu lagi nyusul ya😁

__ADS_1


__ADS_2