
"Supaya kau tidak penasaran jika tewas nanti, aku akan memperkenalkan diri, aku Surapati ketua pertama Kelompok Ucing Hideung. Dan ini, Raka Gini, ketua kedua Kelompok Ucing Hideung," ucapnya memperkenalkan diri kepada Langlang Cakra Buana.
"Aku tidak peduli siapapun kalian, yang jelas jika kalian menghalangi aku untuk membawa kepala desa penjajah itu maka kalian juga akan aku bunuh," kata Langlang Cakra Buana dengan nada menantang.
"Buntut kadal!!! Mampuss kau bocah …" kata Surapati dengan nada marah.
Keduanya langsung menyerang kembali Langlang Cakra Buana dengan kesal dan gemas. Keduanya begitu kesal dan gemas tak lain karena merasa direndahkan oleh pemuda serba putih tersebut.
Kini murid Eyang Resi Patok Pati itu sedang bertarung dengan dua ketua Kelompok Ucing Hideung. Ketiganya langsung bertarung sambil menggunakan tenaga dalamnya masing-masing.
Surapati menyerang dari bagian kiri. Sedangkan Raka Gini menyerang dari bagian kanan. Keduanya sama-sama menyerang dan mengincar bagian titik lemah pada lawan.
Sayang, mereka belum menyadari bahwa pemuda yang kini sedang dihadapi bukanlah pemuda biasa. Melainkan pemuda itu merupakan murid dari pendekar yang begitu ditakuti dan disegani di dunia persilatan.
Karena tidak menyerang dengan tenaga dalam penuh, beberapa saat kemudian Langlang Cakra Buana bisa memukul mundur mereka hingga terpental beberapa langkah.
Keduanya cukup kaget juga ternyata, ketika menyadari bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang tinggi. Tanpa basa-basi lagi, kedua ketua Kelompok Ucing Hideung itu langsung mengerahkan jurus silat andalannya.
Gerakannya sangat mirip dengan serangan seekor kucing yang ganas. Setiap cakaran yang diberikan kepada Pendekar Maung Kulon itu mengandung tenaga dalam yang besar kali ini.
Karena diserang dengan kekuatan tenaga dalam yang cukup besar, perlahan Langlang Cakra Buana terpojok juga. Beberapa kali dia hampir terkena cakaran kedua ketua itu, untung pemuda serba putih itu bisa mengelak dengan lincahnya.
Karena sudah tahu kedua lawannya sudah serius, diapun mulai lebih serius. Tak main-main, Pendekar Maung Kulon itu langsung mengeluarkan jurus keenam dari Kitab Maung Mega Mendung.
__ADS_1
"Menyambar Dan Menerkam Mangsa …"
"Wushh …"
Langlang Cakra Buana mengubah pola serangannya. Sekarang dia lebih mirip bagaikan seekor harimau yang akan menerkam mangsanya. Kedua tanganya selalu membentang dan sedikit menekuk siku sambil membentuk cakar yang tajam.
Dia melompat kesana kemari dan menyerang dengan ganas. Gerakannya begitu cepat dan sukar dihindari. Sehingga beberapa kali kedua ketua itu beradu tangan dengannya.
Perlahan Raka Gini mulai terdesak karena Langlang Cakra Buana terus mengincar dirinya. Serangan yang tadinya mampu membuat lawan terpojok kini seakan tiada gunanya.
Bahkan dia merasa takut ketika memandang pemuda serba putih itu. Karena ketika Raka Gini menatap wajahnya, dia seperti melihat seekor harimau yang akan menerkam mangsa.
Langlang Cakra Buana yang melihat kesempatan emas berniat untuk memberikan serangan cakaran yang kuat, tapi tiba-tiba saja Surapati menendangnya dari arah samping kanan dengan ajiannya.
"Ughhhh …"
Langlang Cakra Buana terpental ke samping sekitar dua tombak hingga bergulingan. Tulang rusuknya terasa patah dan amat sakit. Dia terus memegangi tulang rusuk kanan yang terasa patah itu.
Sedangkan Surapati membantu Raka Gini untuk berdiri. Betapa kesalnya Surapati saat menyadari Raka Gini terlihat begitu pucatnya. Mungkin karena dia terus terbayang seperti ada sosok harimau yang akan menerkamnya tadi.
"Jahanam!!! Rasakan Aji Batu Besi ini bocah … hiyaa …"
Surapati lari dan berniat menerjang Langlang Cakra Buana dengan Aji Batu Besi miliknya. Ketua Kelompok Ucing Hideung itu tiba-tiba melompat lalu melipatkan kaki kirinya dan meluncur akan menendang murid Eyang Resi Patok Pati.
__ADS_1
Tapi betapa kagetnya Surapati ketika melihat bayangan hijau yang tiba-tiba berdiri didepan pemuda yang menjadi lawannya itu lalu menahan tendangan Aji Batu Besi miliknya.
"Tapak Bolo Sewu …"
"Desss …"
Dua ajian itu beradu hingga menimbulkan angin yang cukup besar. Hingga pada akhirnya Surapati terpental mundur ke belakang.
"Ughhh …" Surapati mengeluh sambil memuntahkan darah berwarna hitam.
Kini terlihatlah siapa gerangan yang tadi beradu ajian dengan dirinya. Ternyata bayangan hijau tadi merupakan orang yang dia kenal juga.
"Ki Jaya Wikalpa?" kata Surapati kaget.
"Mau apa kau mencampuri urusanku? Lebih baik kau pergi sekarang juga sebelum kau menjadi sasaranku," lanjut Surapati.
"Tentu saja untuk membantu pemuda ini. Sudah lama aku menunggu kedatangan seorang pendekar yang berani menyerang kepala desa yang menyimpan anjing-anjing biadab. Sekarang pendekar itu sudah tiba, dan aku pastinya tidak akan tinggal diam," kata Ki Jaya Wikalpa dengan tenang tapi matanya menatap tajam.
Di sisi lain, Langlang Cakra Buana sekarang sudah bisa bangkit berdiri meskipun tulang rusuk bagian kananya yang masih terasa sakit.
Cukup kaget juga pemuda itu ketika mengetahui siapa gerangan yang menolongnya dari maut. Sungguh tak disangka bahwa Ki Jaya Wikalpa merupakan seorang pendekar tua yang berilmu tinggi.
"Terimakasih aki sudah menolongku. Tapi, kenapa aku tidak menceritakan dari awal bahwa aki adalah seorang pendekar?" tanya Langlang Cakra Buana yang masih tidak percaya.
__ADS_1