
Keempat pendekar tersebut saling pandang. Senjata yang tadinya mereka acungkan, kini mereka turunkan.
Suasana hening. Hanya desiran angin dingin menerpa pakaian mengibarkan jubah dan menggoyangkan daun serta pohon yang ada di sana.
Singa Ekor Lima dan Pendekar Sembilan Jari memandangi Pendekar Kesetanan dengan tatapan penuh tanda tanya besar.
Kedua pendekar itu dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Apa maksud Pendekar Pedang Kesetanan? Kenapa dia melakukan ini? Bukankah bagus kalau anak muda itu bisa dibunuh?
Keduanya terdiam. Mereka masih belum mampu untuk bertanya karena sedang bergelut degan alam pikirnya sendiri.
Hal serupa terjadi juga kepada Cakra Buana. Benaknya penuh dengan pertanyaan keheranan. Apa maksud tokoh tua itu? Tapi dari semua pertanyaan, belum ada jawaban yang membuatnya puas.
Setelah keempat pendekar itu terdiam, tiba-tiba saja Pendekar Sembilan Jari memecah kesunyian di antara mereka.
"Giwangkara Baruga, apa maksudmu?" tanyanya dengan suara berat.
Pendekar Pedang Kesetanan atau Giwangkara Baruga tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia tersenyum lebih dulu sambil melirik Cakra Buana sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Apa maksudku? Maksudku jelas, aku menahan kalian yang ingin membunuh bocah ini," katanya sambil menepuk pundak Cakra Buana.
"Jangan berbasa-basi. Jelaskan semuanya supaya kami mengerti. Katakan sebenarnya apa maksudmu?" Pendekar Sembilan Jari kembali mengulang pertanyaan yang sama.
"Sudah aku katakan. Aku tidak akan membiarkan kalian membunuh bocah ini,"
"Apa maksudmu? Bukankah kita datang kemari untuk membunuhnya? Bukankah kau bilang ingin balas dendam juga?" tanya Singa Ekor Lima.
Dia paling tidak bisa menahan emosi. Karena itu sekalinya bicara, nadanya sangat tinggi.
"Aku memang bilang itu semua. Dan awalnya memang benar, aku punya niat untuk membunuhnya karena dengar-dengar dia merupakan pendekar pedang. Dan kenyataan itu juga terbukti. Hanya saja, sekarang aku mengubah niat. Yang tadinya aku ingin menjadi musuhnya dan membunuhnya, sekarang aku ingin menjadi sahabat dan menjaganya," kata Pendekar Pedang Kesetanan.
Bicaranya tenang. Tidak ada rasa takut dalam wajahnya. Bahkan dia bicara sambil tersenyum melirik Cakra Buana.
Tidak ada keraguan dalam hatinya. Semua yang dia ucapkan adalah kenyataan yang benar-benar keluar dari dalam benaknya.
__ADS_1
Hanya satu detik, seseorang bisa mengubah jalan hidupnya. Hanya satu detik pula, seseorang dapat mengubah niatnya. Dan hanya satu detik juga, siapapun orang itu, dia dapat mengubah segalanya.
Manusia adalah makhluk yang sering berubah-ubah. Setiap saat mereka dapat berubah. Yang tadinya kalem, jadi brutal. Yang tadinya tenang, bisa jadi risau.
Begitulah manusia. Dan itulah sifat unik yang dimiliki setiap manusia.
Bukankah setiap manusia berhak mengubah segala hidupnya?
Mendengar pernyataan barusan, baik Pendekar Sembilan Jari, Singa Ekor Lima ataupun Burung Pemangsa, ketiganya langsung tercengang. Mereka seperti mimpi. Tapi ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan yang sedang terjadi saat ini.
Bahkan Cakra Buana sendiri terkejut mendengarnya. Tetapi dia tidak berbicara. Dia hanya perlu diam dan mendengarkan serta melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Baruga, apakah kau tidak salah? Apakah otakmu sudah miring sehingga akalmu jadi kurang waras?" bentak Singa Ekor Lima.
"Aku masih waras dan otakku masih normal. Aku bicara seperti barusan karena memang itulah kenyataannya. Aku ingin bersahabat dengan pendekar muda ini," katanya penuh keyakinan.
Dia sangat yakin. Bahkan andai kata Cakra Buana membunuhnya pun, dia tidak akan ragu atas pilihannya. Seandainya di ancam sekalipun, dia tidak akan mengubah keputusannya.
"Giwangkara, apakah kau tidak sedang bercanda?" tanya si Burung Pemangsa yang sedari tadi diam.
Karena terkadang, banyak manusia yang pandai bicara tapi tidak paham dan mengerti apa yang dia bicarakan sendiri.
"Apakah aku pernah bercanda kalau bicaraku sudah seperti ini?" Pendekar Pedang Kesetanan justru bertanya balik.
Si Burung Pemangsa mengangguk-angguk tanda mengerti. Yang paling tahu bagaimana sifat Pendekar Pedang Kesetanan memang hanya dia seorang. Bahkan yang mengajaknya kemari juga dia.
"Aku tanya sekali lagi, apakah kau serius?" Singa Ekor Lima kembali membentak. Bahkan kali ingin dengan pengerahan tenaga dalam sehingga suaranya mampu menggetarkan sukma.
Untungnya empat pendekar lain yang ada di sana bukanlah pendekar sembarangan. Suara seperti itu mana mampu menggetarkan sukma mereka?
"Apakah kau kira aku bercanda? Asal kau tahu saja, aku tidak pernah bercanda atas apa yang aku putuskan. Apapun itu. Kalau kau tidak percaya, kita bertarung sampai ada yang tewas di antara kita. Bagaimana?" tanya Pendekar Pedang Kesetanan.
Kembali para pendekar yang ada di sana terkejut. Terlebih lagi ketiga rekannya. Kalau Giwangkara Baruga sudah berkata dengan seperti itu, maka mereka sudah tahu bahwa dia tidak lagi bercanda.
__ADS_1
"Kau menantangku? Apakah kau yakin?" tanya Singa Ekor Lima.
"Kau kira aku tidak mampu melawanmu? Kau belum tahu siapa aku, tapi aku tahu siapa dirimu. Jangan banyak bicara, kalau memang kau berani, kita berduel sampai mati," kata Giwangkara Baruga.
Ketegangan kembali menerpa. Kali ini giliran Cakra Buana yang berbicara.
"Tuan," katanya, dia ingin melanjutkan bicaranya, tapi segera di potong.
"Jangan panggil aku tuan. Panggi aku paman atau sahabat," katanya dengan suara lembut. Berbeda jauh dengan apa yang dia bicarakan kepada Singa Ekor Lima barusan.
"Baiklah, paman, apakah kau benar ingin menjadi sahabatku?" tanya Cakra Buana.
"Sahabat, apakah aku harus berlutut supaya kau percaya kepadaku?"
"Jangan! Baik, aku percaya. Terimakasih karena sudah ingin menjadi sahabatku," kata Cakra Buana lembut kemudian dia memeluk sahabat barunya itu.
"Terimakasih juga karena kau mau menerimaku menjadi sahabatmu," balas Pendekar Pedang Kesetanan.
Cakra Buana sudah percaya penuh kepada Pendekar Pedang Kesetanan. Entah kenapa dia bisa percaya secepat itu. Berjumpa pun baru sekali ini saja. Bahkan dalam pertarungan.
Tapi siapa sangka? Justru karena pertarungan itulah yang membuat keduanya menjadi sahabat dalam waktu singkat.
Siapapun pasti tidak akan percaya. Tapi mereka harus tetap percaya, karena kejadian seperti ini nyata dan sering kali terjadi.
Saat hatimu sudah yakin bahwa seseorang bisa menjadi sahabatmu, maka hatimu tidak akan berbohong. Hati berbeda dengan mulut. Mulut letaknya kebohongan. Tapi hati tempatnya kejujuran. Sejak dunia baru tercipta hingga sekarang, rasanya mungkin belum ada manusia yang mampu membohongi hatinya sendiri.
"Baik, aku terima tantanganmu. Kita bertarung sampai ada yang mampus di antara kita berdua," ucap Singa Ekor Lima dengan geram menerima tantangan Pendekar Pedang Kesetanan.
"Bagus. Kau memang jantan," puji Giwangkara Baruga.
"Sahabat, apakah kau mampu menghadapi kedua orang itu?" tanyanya kepada Cakra Buana sambil memandang Burung Pemangsa dan Pendekar Sembilan Jari.
"Semoga saja aku mampu," katanya merendah.
__ADS_1
"Aku percaya padamu," katanya dengan lembut.