Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Sepasang Guru dan Murid Pembawa Maut


__ADS_3

Bidadari Tak Bersayap benar-benar tidak mampu berkutik sama sekali. Kecuali hanya mulutnya saja yang masih dapat berbicara, tapi itupun harus mengerahkan sedikit tenaga.


"Tua bangka, apa yang ingin kau lakukan kepadaku?" tanya gadis itu khawatir.


"Hahaha, apapun yang akan aku lakukan, maka akan aku lakukan. Kau tidak akan bisa membebaskan diri dari Totokan Jari Maut milikku," ucapnya sambil membanggakan jurus totokan yang dia gunakan.


"Jangan kurang ajar. Kalau kau memang mau membunuhku, langsung bunuh saja," kata gadis itu mulai merasa takut atas apa yang akan menimpa dirinya.


"Hahaha, kau tenang saja gadis manis. Aku tidak akan membunuhmu. Biarlah nanti muridku saja yang memutuskan," kata orang tua itu sambil mengelus jenggotnya.


Si kakek tua itu lalu menjauh. Dia duduk bersandar di bawah pohon untuk menunggu kedatangan muridnya.


Tidak berapa la kemudian, sebuah bayangan berwarna biru tua melesat dari kejauhan ke arah dua orang tersebut. Dewa Maut langsung berdiri lalu menghampiri lagi Bidadari Tak Bersayap.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya Dewa Maut kepada sosok yang baru datang dan ternyata merupakan muridnya.


"Maaf guru, aku hampir kehilangan jejakmu,"


"Hemm, sudahlah. Sekarang giliranmu. Kau bebas melakukan apa yang kau mau kepada gadis pujaan hatimu itu," ucap si kakek tua lalu kembali duduk dengan santainya.


Si pemuda itu mulai mengitari tubuh Bidadari Tak Bersayap yang kini berada dalam keadaan tertotok. Matanya memandang liar dan buas bagaikan seekor serigala. Tangan kanannya mulai merasa pipi yang lembut dan halus itu.


"Kau tidak papa?" tanyanya basa-basi.


"Jangan banyak bicara. Bunuh saja aku,"


"Hehehe, mana tega aku membunuhmu?"


"Bangsat. Guru dan murid sama saja,"


"Hemm, lebih baik kau menikah denganku saja. Aku jamin hidupmu akan bahagia,"


"Najis! Cuihh!!"


Saking geramnya, Bidadari Tak Bersayap bahkan sampai meludah tepat di wajah pemuda itu.


Orang yang diludahi tentu saja sangat marah. Dia mengelap ludah di wajahnya terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.

__ADS_1


"Wanita jalang. Berani sekali kau meludahi wajah Kagendra Malawa," katanya dengan marah. Sangat marah.


Saking marahnya, dia sudah mengayunkan tangan dan siap untuk menampar wajah Bidadari Tak Bersayap.


Saat tangan kanan tersebut di ayunkan dan hampir mengenai pipi mulus si gadis, tiba-tiba tangan pemuda bernama Kagendra Malawa itu terpental dan tubuhnya terdorong dua langkah ke belakang.


Baik dia maupun gurunya sangat kaget menyaksikan hal tidak terduga ini.


"Ada apa Kagendra?" tanya Dewa Maut.


"Seseorang telah menyerangku dengan kerikil guru," jawabnya sambil menahan sakit.


"Hemm, lakukan saja apa yang ingin kau perbuat. Biar aku yang menjagamu dari sini,"


"Baik,"


Kagendra Malawa mengulangi lagi. Dia masih tetap ingin menampar Bidadari Tak Bersayap. Kali ini sasarannya bukan pipi. Melainkan mulut yang merah merekah serta mungil menggoda itu.


Dan lagi-lagi kejadian seperti sebelumnya terjadi. Sekalipun Dewa Maut sudah memperhatikan dengan seksama, tapi dia tidak dapat melihat luncuran batu kerikil.


"Sekali lagi kau berbuat kurang ajar kepada gadis di hadapanmu. Maka jangan salahkan aku kalau bertindak kurang ajar,"


Dewa Maut langsung melompat ke arah muridnya. Kali ini dia tidak bisa diam saja. Peristiwa yang dua kali terjadi sudah cukup untuk membuktikan bahwa ada seorang tokoh hebat di sekitar hutan itu.


"Mohon perlihatkan diri tuan pendekar. Aku yang tua ingin bertemu denganmu. Barangkali ini adalah daerah kekuasaan dan kami telah menyinggung tuan, mohon maafkan," ucap Dewa Maut.


Walaupun dia sudah merupakan tokoh kelas atas, tapi orang tua itu tidak mau berlaku seenaknya. Apalagi dia belum melihat siapa orang yang telah melemparkan kerikil kepada muridnya.


"Kalau kalian ingin aku ampuni, lekas pergi dari sini dan biarkan gadis itu," kata suara tanpa wujud tersebut.


Kagendra Malawa tentu merasa sangat marah mendengarnya. Siapa juga orang itu sehingga berani sekali berkata lancang seperti barusan?


Amarhanya sudah tidak mampu ditahan lagi.


"Tuan yang sombong. Kalau kau memang punya nyali, keluar dan hadapi aku. Kalau kau bisa mengalahkanku, maka aku akan pergi," kata Kagendra geram.


"Kau belum pantas untuk menjadi lawanku. Sudah pasti kau akan kalah dalam beberapa puluh jurus. Hanya saja, kalau kau kalah, apakah gurumu yang sudah tua itu akan terima?"

__ADS_1


Bukan main marahnya si Dewa Maut. Bagaimanapun juga, dia tokoh sakti. Mendapat hinaan seperti barusan, tentu saja telinganya panas. Darahnya seketika mendidih.


"Sombong. Kalau memang berani, hadapi saja aku. Kalau aku sampai kalah, maka gadis ini akan dilepaskan," ucap kakek tua tersebut.


"Hahaha, sayang, sayang sekali. Aku tidak pernah melepaskan orang sepertimu hidup-hidup. Kalau memang berani mengadu jiwa, baru aku akan setuju," ucap suara tersebut.


Sementara itu, Bidadari Tak Bersayap merasa sangat girang. Dia ingin berteriak saking girangnya. Sayang, kali ini waktunya tidak tepat. Lagi pula, sekarang dia tidak mampu berkutik.


Alasannya dia girang tentu saja karena dia mengenali dengan pasti siapa pemilik suara tersebut. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri.


"Baik, aku terima tantanganmu. Kita mengadu jiwa, aku ingin melihat sampai di mana kepandaian manusia sombong sepertimu," ucap Dewa Maut dengan suaranya yang tidak kalah menyeramkan.


"Guru,"


"Kau diam saja. Aku yakin dengan kemampuanku," jawab Dewa Maut singkat.


"Hahaha, bagus. Kau memang kakek tua yang jantan,"


Selesai suara itu terdengar, sebuah hembusan angin kencang dan bayangan melesat sangat cepat ke depan guru dan murid itu. Saking cepatnya sampai-sampai mereka menggeserkan kaki.


Berikutnya, Dewa Maut dan Kagendra Malawa dibuat terkejut. Gadis yang ada di hadapannya menghilang dan tiba-tiba sudah berdiri di bawah sebuah pohon bersama seorang pemuda tampan sekaligus gagah.


Bahkan hebatnya, gadis itu sudah terlepas dari Totokan Jari Maut miliknya.


"Terimakasih kakang," kata Bidadari Tak Bersayap kepada si penolong.


Benar, penolongnya bukan lain adalah Cakra Buana sendiri. Kalau bukan dia, memangna siapa lagi yang sanggup melakukannya?


Cakra Buana bukan datang terlambat. Bahkan sebelum siapapun berada di sana, dia sudah lebih dulu tiba. Hanya saja, Pendekar Tanpa Nama itu ingin mengetahui terlebih dahulu permasalahan sebenarnya.


"Tidak perlu sungkan. Sekarang kau istirahatlah. Biar aku yang menghadapi mereka," kata Cakra Buana.


"Tidak. Aku ingin bertarung melawan pemuda keparat itu. Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri," ucap Bidadari Tak Bersayap menolak.


Cakra Buana hanya menghela nafas saja. Dia paham bahwa maksud gadis cantik ini tentu saja karena ingin balas dendam.


"Baiklah. Tapi kau harus berhati-hati. Aku tidak mau kau terluka," kata Cakra Buana penuh perhatian.

__ADS_1


Kalau dalam keadaan keadaan normal, tentu keduanya akan merasa canggung. Tetapi kali ini berbeda. Karena mereka akan segera bertarung melawan dua orang yang mendapat julukan Sepasang Guru dan Murid Pembawa Maut.


__ADS_2