Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Tiga Pengawas dan Pelindung Cabang Organisasi Tengkorak Maut


__ADS_3

Hantu Bertangan Enam masih gencar memberikan pukulan dan tendangan kepada Cakra Buana. Tetapi pemuda itu justru tidak bergeming sama sekali.


Bahkan dia tidak melawan sedikitpun. Hal ini dikarenakan Cakra Buana sudah mengaliri seluruh tubuhnya dengan tenaga sakti yang sempat dia pelajari saat di lembah. Oleh sebah itulah rasa sakit yang di akibatkan semua serangan Hantu Bertangan Enam tidak terlalu berpengaruh baginya.


Apalagi kesaktian Cakra Buana sendiri berada di atas Hantu Bertangan Enam sendiri.


Kakek tua itu lama kelamaan merasa lelah juga. Nafasnya mulai memburu tidak karuan. Apalagi dengan usianya yang sudah tua.


Untuk beberapa saat dia menghentikan serangannya sambil memastikan kondisi Cakra Buana. Pada saat itu, pemuda tersebut sedang dalam keadaan memegangi kepalanya dengan tangan.


Karena dia tidak merasakan lagi ada pukulan dan tendangan ke tubuhnya, maka Cakra Buana sontak segera berdiri. Saat berdiri, dia melihat bahwa kakek tua tersebut sedang ngos-ngosan berusaha mengatur nafasnya.


"Apakah kau sudah puas menyiksaku?" tanya Cakra Buana tanpa beban.


Hantu Bertangan Enam langsung kaget. Dia yang kepalanya sedang menghadap ke bawah, tiba-tiba saja langsung mendongak ke asal suara.


Begitu tatapan matanya bertemu dengan Cakra Buana, kakek tua itu terkejutnya bukan kepalang. Entah perasaan apa yang ada dalam benaknya saat ini. Yang jelas, rasa kesal, marah, ingin menangis atau bahkan mungkin berteriak, sudah bercampur menjadi satu.


Setelah beberapa saat menenangkan dirinya, Hantu Bertangan Enam kemudian bertanya kepada Cakra Buana. "Apakah kau tidak merasakan sakit akibat pukulan dan tendanganku?" tanyanya.


"Hemm, enak. Bahkan seperti di pijit," jawab Cakra Buana memberikan ejekan lagi.


"Kau ini manusia apa bukan?" bentak Hantu Bertangan Enam.


"Apakah aku terlihat seperti binatang?" tanya balik Cakra Buana.


"Kalau kau memang manusia, bagaimana mungkin tidak merasakan sakit sama sekali setelah aku serang sekian lama?"


"Entah. Mungkin karena kau memukulnya tidak memakai tenaga," jawabnya pura-pura tidak mengetahui apa yang sudah terjadi.


Hantu Bertangan Enam tidak mampu bicara lagi. Ini adalah hari tersial selama sepanjang hidupnya. Malam ini, adalah malam yang paling buruk baginya.

__ADS_1


Padahal namanya lumayan terkenal di daerah kotaraja. Apalagi dia dikenal sebagai ketua cabang sebuah organisasi. Tetapi siapa sangka, di hadapan seorang pendekar muda, justru semua itu tidak ada artinya sama sekali.


Bahkan semua anggotanya yang sedari tadi menyaksikan di pinggir pun merasa kebingungan sekali. Sama seperti dirinya, berbagai rasa sudah bercampur dalam benaknya.


Rasa takut, ngeri, segan, heran, semuanya bercampur aduk. Mereka ada yang saling memandang dengan rekannya sendiri. Ada pula yang menggaruk kepalanya. Padahal kepala itu tidak gatal sama sekali.


"Sang Hyang Otipati … kenapa kau mempertemukan aku dengan manusia seperti pemuda ini. Daripada aku harus menanggung malu, lebih baik aku mengakhiri hidup saja," katanya berteriak nyaring sehingga menggetarkan sukma.


Detik berikutnya, tangan kanan kakek tua itu sudah memukul ubun-ubun kepalanya sendiri sehingga bagian dalamnya pecah. Darah seketika mengalir dari hidung dan mulut.


Puluhan anggota semakin mematung. Sebagian dari mereka ada yang lari terbirit-birit. Ada juga yang kencing di celana saking takutnya kepada Cakra Buana.


Sedangkan pemuda itu sendiri tidak menyangka bahwa Hantu Bertangan Enam akan memilih untuk mengakhiri hidupnya.


Tetapi bagi mereka yang sudah terkenal, hal seperti itu sudah sangat lumrah. Orang-orang atau pendekar yang telah mempunyai nama, biasanya lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri daripada harus menanggung malu dan menjadi bahan cemoohan di dunia persilatan.


Hal seperti ini menjadi kebiasaan bagi orang-orang zaman dahulu. Terlebih di kalangan dunia persilatan.


Tapi kalau sekarang … rasanya tidak jauh berbeda juga. Meskipun tidak banyak, tetap saja ada.


"Sungguh sayang …" gumam seseorang dalam kegelapan.


"Tapi kalau aku menjadi dia, tentu aku pun mungkin akan melakukan hal yang senada," tutur seseorang, suaranya lembut dan syahdu. Tentunya dia pasti seorang wanita.


"Pemuda itu memang benar-benar berbahaya. Kalau benar dia orang yang kita cari, tentu dia akan menjadi lawan berat," ucap salah seorang yang memiliki suara serak parau.


Cakra Buana memandang ke tempat sekeliling. Tatapan matanya menjadi dingin bagaikan gunung es.


"Pergi sebelum aku berubah pikiran," katanya ke semua anggota Organisasi Tengkorak Maut.


Sontak puluhan orang tersebut seperti seekor anjing yang menuruti perintah majikannya. Tanpa mengucapkan kata lagi, mereka segera pergi dari sana.

__ADS_1


Tetapi sebelum semua anggota pergi, tiba-tiba saja ada sebuah senjata rahasia yang meluncur dengan deras ke arah Cakra Buana.


Pendekar Tanpa Nama alias Cakra Buana yang sudah mengetahui adanya senjata tersebut, langsung menggerakan tanganya sehingga senjata itu bisa tertangkap. Setelah itu, dia melemparkan kembali ke tempat munculnya tadi.


Lemparannya menjadi lebih bertenaga. Bahkan senjata rahasia tersebut meledak saat mengenai batang pohon besar. Berbarengan dengan kejadian tersebut, dari kegelapan muncul tiga sosok asing.


Mereka semua memakai pakaian serba hitam. Di belakang punggung bajunya terdapat sebuah gambar tengkorak yang menyeramkan.


Sekali lirik saja, Cakra Buana sudah paham bahwa ketiga orang ini pastilah orang-orang dari Organisasi Tengkorak Maut. Namun yang dia herankan, ketiga orang tersebut justru terasa lebih hebat daripada si Hantu Bertangan Enam sendiri.


Ketiga orang itu sudah berdiri di hadapan Cakra Buana. Mata mereka menebarkan sinar kebencian. Bola mata itu seperti sumur yang dalam. Terlihat tenang namun sangat susah di ukur.


Pemuda itu sudah tahu bahwa ketiga orang asing ini, pasti memiliki kemampuan yang lebih berbahaya lagi.


"Siapa kalian?" tanya Cakra Buana berubah menjadi lebih serius.


"Kami orang-orang yang ditugaskan untuk mengawasi dan melindungi cabang Organisasi Tengkorak Maut. Aku si Gada Pemukul Gunung, dia si Tubuh Besi Pukulan Baja, dan dia si Banteng Tanpa Ampun," kata orang yang mengaku bernama Gada Pemukul Gunung dengan angkuh.


"Hemm, ada urusan apa kalian datang kemari?"


"Mengambil nyawamu. Kau telah membunuh Hantu Bertangan Enam. Karena itu, nyawamu harus kami cabut sebagai gantinya," kata si Banteng Tanpa Ampun.


"Enak saja. Kau pikir kalian malaikat maut heh? Mudah sekali kalian bicara, kau kira aku ayam yang seenaknya bisa di sembelih," kata Cakra Buana mulai kesal.


"Lagi pula, aku sama sekali tidak membunuhnya. Dia sendiri yang mengakhiri hidup," lanjutnya sambil menunjuk ke jasad Hantu Bertangan Enam.


"Tapi secara tidak langsung kaulah yang membuatnya mengakhiri hidup,"


"Dianya saja yang tidak mampu melawanku,"


"Hemm …" si Tubuh Besi Pukulan Baja mendengus kesal.

__ADS_1


Sementara itu, semenjak mereka datang di hadapan Cakra Buana, semua anggota Organisasi Tengkorak Maut yang ada di sana, masih memberikan hormat dari tadi hingga sekarang. Dari sini saja bisa dipastikan bahwa ketiga orang tersebut lebih memiliki kedudukan dibandingkan seorang ketua cabang.


'Pastinya mereka bukan orang kosong,' batin Cakra Buana.


__ADS_2