Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Eyang, Biar Aku Yang Menghadapi Iblis Ini


__ADS_3

Maha guru Padepokan Kuda Sembrani itu mengeluh kesakitan. Dadanya terlihat menghitam dan mengeluarkan asap. Dadanya terasa remuk. Dia kesulitan untuk bernafas. Dengan susah payah pendekar tua itu berusaha untuk berdiri dengan benar.


Karena musuh mengeluarkan ajian pamungkas. Dia pun tak mau kalah, setelah berhasil mengobati luka akibat tendangan Ilmu Langkah Iblis, Eyang Tajimalela pun langsung merapalkan ajian pamungkasnya.


Mulutnya mulai komat-kamit membaca sebuah rapalan. Tak lama tangannya angin mendadak berhembus dengan kencang. Ternyata Eyang Tajimalela berniat untuk mengeluarkan sebuah ajian bernama Ajian Batu Karang.


Ajian Batu Karang ini sebenarnya hampir sama dengan Ajian Tapak Banyu. Bedanya Ajian Batu Karang lebih kepada memberikan serangan pukulan daripada serangan tapak. Dan tentu saja kekuatannya lebih mengerikan.


Bahkan jika dia memukul batu karang di laut, maka bisa dipastikan batu karang itu bakal hancur lebih menjadi serpihan-serpihan kecil. Memang ajian yang sangat dahsyat.


Tapi jika dibandingkan dengan Ilmu Langkah Iblis, Ajian Batu Karang ini masih berada satu tingkat dibawahnya. Sebab Ajian Batu karang memang agak lambat dalam gerakan, tapi sangat dahsyat jika pukulannya mengenai sasaran.


Sedangkan Ilmu Langkah Iblis gerakannya lebih cepat, bahkan seperti menghilang. Kekuatan yang terkandung pun tak kalah mengerikan, Ilmu Langkah Iblis bisa membobol sebuah baja sekalipun.


Tidak banyak yang bisa menandingi ajian ini, tapi tak ada cara lain lagi. Eyang Tajimalela hanya berharap untuk kali ini Ajian Batu Karang miliknya bisa mengimbangi Ilmu Langkah Iblis.


Orang tua itu sudah selesai merapalkan Ajian Batu Karang, kini tangannya terlihat lebih kuat daripada sebelumnya. Dengan percaya diri dia segera menyerang Braja Suta lebih dahulu.


Dua buah ajian tingkat tinggi mulai beradu sekarang. Gerakan keduanya sangat cepat, bahkan sesekali terlihat ada kilatan sinar berwarna putih dan hitam dibawah gelapnya malam ini.


Tendangan dan pukulan sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Keduanya terus bergantian dalam posisi bertahan dan menyerang. Eyang Tajimalela terus memberikan pukulan Ajian Batu Karang.


Tapi di sisi lain, Braja Suta pun bisa menangkis dan menghindar menggunakan Ilmu Langkah Iblis. Tak jarang dia juga memberikan tendangan yang sangat hebat.


Setelah sekian lama beradu ajian tingkat tinggi. Akhirnya Eyang Taji malela merasa kelelahan juga karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam miliknya.

__ADS_1


Hingga pada satu kesempatan pendekat tua itu kehilangan konsentrasi, akibatnya tendangan dari Ilmu Langkah Iblis yang dahsyat dengan sangat telak menghantam tulang rusuk sebelah kananya.


"Ahhh …"


Eyang Tajimalela terpental sampai enam tombak ke samping. Sampai-sampai maha guru Padepokan Kuda Sembrani itu bergulingan beberapa kali. Tulang rusuknya terasa remuk, bahkan dia sampai kesulitan untuk bergerak.


Ini sebuah keuntungan bagi lawan. Dengan segera Braja Suta maju untuk menyerang Eyang Tajimalela yang sekarang terlihat menahan rasa sakit yang teramat sangat.


Dia langsung berniat untuk memberikan serangan terakhirnya kepada Eyang Tajimalela. Tapi tiba-tiba tubuhnya seperti terdorong angin ke belakang ketika tinggal satu buku jari lagi tendangannya akan mengenai Eyang Tajimalela.


Eyang Tajimalela pun cukup kaget dengan kejadian ini. Tapi setelah melihat ada seorang pendekar dengan pakaian serba putih yang kini berdiri didepannya, orang tua itu akhirnya tau siapa yang sudah menolong dirinya.


Sebelumnya memang dia sempat memohon kepada Sang Hyang Widhi supaya memberikan sebuah keajaiban untuk menyelamatkan nyawanya. Keinginannya dikabul, tapi yang menolongnya malah seorang pendekar muda? Seorang maha guru seperti dia saja masih bisa dikalahkan dengan mudah, apalagi ini yang hanya seorang pemuda?


Sebenarya Eyang Tajimalela agak ragu saat ini. Tapi dia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa pemuda bernama Langlang Cakra Buana bisa menolong dirinya. Setidaknya Sang Hyang Widhi sudah mau mengabulkan keinginannya.


"Terimakasih Langlang. Tapi apakah kau yakin bisa mengalahkan dia?" tanya Eyang Tajimalela sedikit ragu.


Tentu saja dia ragu. Alasannya karena Braja Suta adalah pendekar pilih tanding, bahkan mungkin tanpa tanding. Sedangkan pemuda yang ada didepannya ini? Bahkan dia belum melihat kemampuannya sendiri, kecuali mendengar dari cerita muridnya.


"Kita lihat saja nanti Eyang." kata Langlang Cakra Buana dengan mantap.


Akhirnya mau tidak mau Eyang Tajimalela menuruti saja apa yang dikatakan pemuda itu. Lagi pula memang tenaga dalamnya sudah hampir habis. Luka dalamnya pun sangat parah. Dia terus memegangi dadanya sembari berjalan lalu duduk dibawah sebuah pohon.


"Hei anak muda, siapa kau? Berani sekali mencampuri urusanku. Apa kau tidak takut mati?" tanya Braja Suta dengan nada marah karena urusannya dicampuri orang lain.

__ADS_1


"Aku? Aku mungkin orang yang kau cari paman. Karena akulah yang membunuh kedua muridmu," balas pemuda serba putih itu dengan sorotan mata yang tajam.


Tentu saja Braja Suta langsung memuncak amarahnya setelah mendengar jawaban dari pemuda itu siapa dia sebenarnya. Tanpa harus dicari, ternyata kerbau menghampiri tukang jagal.


"Keparat. Kau pikir bisa membunuhku juga heh? Baik, biar sekalian saja aku mengirimkanmu ke neraka bersama tua bangka Tajimalela," gertak Braja Suta yang sudah memuncah amarahnya.


"Kita lihat saja nanti. Aku tidak takut mati, semua sudah ditentukan oleh Sang Hyang Widhi," ucap Langlang Cakra Buana. Nada bicaranya masih tenang saat ini.


"Cuihhh …" Braja Suta meludah benci. "Jangan so suci didepanku bocah, kau belum tahu apa-apa. Kekuatanlah yang menentukan kau akan hidup akan mati,"


"Baik. Kita segera buktikan saja, jangan hanya membual paman. Aku tidak akan takut untuk memberantas keangkara murkaan yang terjadi di tanah Pasundan ini," jawab Pendekar Maung Kulon itu.


"******** …"


Mendengar semua balasan dari Langlang Cakra Buana, maha guru Padepokan Goa Neraka itu sungguh marah. Karena pemuda itu secara tidak langsung sudah merendahkan dirinya secara langsung. Dengan segera dia menyerang Langlang Cakra Buana menggunakan Ilmu Langkah Iblis miliknya.


Langlang Cakra Buana sudah siap dari tadi untuk menyambut serangan yang datang. Braja Suta kini sudah mulai memberikan serangan yang ganas dan kuat padanya. Ilmu Langkah Iblisnya terus dia gunakan untuk menyerang Langlang Cakra Buana.


Pemuda itu hanya menghindar untuk saat ini. Dia masih belum membalas menyerang, murid Eyang Resi Patok Pati masih mengukur sampai dimana dan seperti apa kekuatannya.


Tapi Braja Suta tidak mempedulikan hal tersebut, dia terus memberikan sebuah tendangan dan pukulan yang sama kuat kepada Langlang Cakra Buana. Serangannya sama cepat dan sama kuat seperti saat bertarung dengan Eyang Tajimalela.


Bahkan beberapa kali Langlang Cakra Buana hampir terkena serangan itu. Tapi dengan tangkas dia segera menghindar. Bosan di posisi menghindar, terlebih karena musuhnya terus berusaha untuk memojokkan, akhirnya dia mulai mengeluarkan jurus silatnya.


Langlang Cakra Buana mengambil kuda-kuda, dia ingin mengeluarkan jurus dari Kitab Maung Mega Mendung. Pemuda itu langsung mengeluarkan jurus silat tingkat tinggi, Harimau Membelah Gunung.

__ADS_1


###


Ini Up smalem ya, mohon maaf kalau agak melebihi waktu biasanya, kecapean jadi ketiduran dehπŸ˜πŸ˜πŸ™


__ADS_2