
"Besar nyali juga kau berani kesini, pemuda keparat," kata Setan Baja Ireng kepada Langlang Cakra Buana.
"Tentu saja, tidak ada sejarahnya aku harus takut kepada iblis busuk seperti guru dan murid yang ada dihadapanku ini," jawabnya.
Bukan main marahnya Setan Baja Ireng, wajahnya langsung memerah mendengar hinaan ini.
"Pemuda sombong. Terimalah kematianmu." kata Setan Baja Ireng sambil melompat memberikan serangan pukulan dengan tangan kanannya.
Serangan yang datang itu sangat cepat, sehingga hanya satu kedipan mata saja pukulan Setan Baja Ireng sudah hampir mengenai wajah Langlang Cakra Buana.
Pemuda serba putih itu mengelak, kaki kirinya bergeser ke samping lalu diikuti dengan elakkan kepalanya. Pukulan yang demikian cepat dan kuat itupun luput dari sasaran.
Setan Baja Ireng geram karena pukulannya gagal mengenai sasaran, dia buru-buru menarik tangannya lalu bergerak menyerang kembali.
Kali ini kedua tangannya ikut memberikan serangan pukulan yang hebat. Dia mengincar bagian dada dan perut lawan. Tapi dengan mudah bisa dihindari Langlang Cakra Buana.
Pemuda serba putih itu kembali memasukan Pedang Pusaka Dewa ke dalam sarungnya. Bagaimanapun juga, dia malu jika harus menyerang dengan senjata. Sedangkan lawannya tangan kosong.
Pertarungan kembai dilanjut, lebih hebat dan lebih seru lagi. Setan Baja Ireng terus memberikan hujan pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi. Pukulannya begitu cepat dan berbahaya.
Bahkan sebelum pukulannya tiba, angin dari pukulan itu sudah terasa lebih dulu oleh Langlang Cakra Buana.
Murid Eyang Resi Patok Pati itu mulai menangkis sambil membalas serangan setelah sebelumnya berada dalam posisi bertahan.
Gerakan yang dia berikan pun tak kalah hebatnya. Tangannya sudah membentuk sebuah cakar. Kuku yang tajam bagaikan kuku maung (harimau) muncul di seluruh jari tangannya.
Keduanya saat ini sedang memberikan serangan satu sama lain. Gerakan keduanya sama-sama hebat. Deru angin terus mendesir disekitar arena pertarungan.
Guru dari Setan Baja Ireng tidak turun tangan, dia hanya melihat dengan penuh kewaspadaan. Karena dia yakin, muridnya yang memiliki kulit bagaikan baja itu bisa mengalahkan pemuda asing tersebut.
Serangan demi serangan sudah terlihat, jurus-jurus yang mematikan pun sudah dikeluarkan oleh keduanya. Tapi sejauh ini masih terlihat imbang.
Langlang Cakra Buana sudah mengeluarkan jurus dari Kitab Maung Mega Mendung, yaitu Mengejar dan Menerkam Mangsa.
Entah sudah berapa banyak dia memberikan serangan kepada Setan Baja Ireng, tapi semua serangannya seperti tidak berguna. Jangankan melukai, membuat iblis iti meringis pun tidak.
__ADS_1
Kulitnya benar-benar keras seperti baja. Beberapa kali dia melihat percikan bunga api ketika tangannya mencakar bagian tubuh Setan Baja Ireng.
"Hahaha … keluarkan semua kemampuanmu pemuda sombong. Aku akan menerimanya dengan senang hati … hahaha," kata Setan Baja Ireng sambil tersenyum mengejek.
"Keparat …"
Langlang Cakra Buana kembali menyerang, begitupun dengan Setan Baja Ireng.
Keduanya kembali bertukar jurus-jurus hebat. Langlang mencakar mengincar pelipis, tapi dengan mudah bisa dihindari oleh Setan Baja Ireng.
Iblis itu tak mau kalah, dia langsung memberikan serangan pukulan balasan yang dengan telak mengenai ulu hati Langlang Cakra Buana.
"Ughhh …" pemuda serba putih itu terpental ke belakang. Ulu hatinya terasa perih dan mual.
"Hahaha … hanya segini saja kemampuanmu? Jangan mimpi bisa membunuhku dengan kekuatanmu yang lemah ini, hahaha … tidak sia-sia aku menguasai Ajian Tameng Waja ini," ucapnya sambil tertawa lantang sehingga menyebabkan perutnya yang sedikit gendut ikut bergerak naik turun.
Iblis itu kembali melesat ke arah Langlang Cakra Buana yang kini sudah bangun. Kali ini bukan hanya tangannya saja yang menyerang, tapi kedia kakinya yang panjang dan kuat itu turut andil.
Dia mengayunkan kakinua dari bawah ke atas mengincar dagu. Langlang Cakra Buana yang tidak bisa menghindar, terpaksa menahan tendangan itu dengan kedua telapak tangannya.
Tangannya tergetar ketika menahan serangan itu. Belum hilang rasa nyerinya, tiba-tiba sebuah pukulan sudah datang lagi ke ayahnya.
"Terimalah Pukulan Baja ini …"
"Desss …"
"Ughhh …"
Pendekar Maung Kulon itu terpental kembali hingga menabrak pohon. Darah segar keluar dari sudut bibirnya.
"Hahaha … menyedihkan. Mampuslah sekarang …" kata Setan Baja Ireng sambil berjalan dengan congkak menuju ke arah Langlang Cakra Buana.
Pendekar Maung Kulon itu kebingungan harus dengan cara apa mengalahkan musuhnya yang memiliki kulit seperti baja itu. Tiba-tiba ditengah kebingungannya, ada sebuah suara yang terngiang pada telinganya.
"Ambil serumpun daun kelor. Pakailah untuk bertarung dengannya, itulah kelemahan Ajian Tameng Waja," kata suara yang tidak tahu siapa orangnya itu.
__ADS_1
Pendekar Maung Kulon itu bangkit langsung meskipun ulu hatinya masih terasa sakit. Meskipun dia kurang yakin dengan suara aneh barusan, tapi Cakra Buana tidak berpikir panjang lagi.
Dia langsung melesat sebelum serangan terakhir datang, Cakra Buana menuju ke sebuah pohon lalu mematahkan ranting daun kelor yang cukup banyak.
Setelah mendapatkan daun kelor, dia segera kembali lalu menyerang lagi Setan Baja Ireng. Melihat apa yang dibawa oleh pemuda tersebut, Setan Baja Ireng kaget bukan kepalang.
Wajahnua langsung pucat. Dia hendak menghindar, tapi sayangnya serangan sudah lebih dulu mengenai tubuhnya.
"Plakkk …"
"Ahhh …"
Hanya diayunkan sekali mengenai wajah, iblis itu terpundur sambil terhuyung-huyung. Benar saja, dengan daun ini kekebalan seperti tidak berarti. Wajahnya langsung langsung lebam dan semakin pucat.
"Bagus. Ternyata memang ini kelemahanmu ya, sekarang bersiaplah untuk menuju ke akhirat …" kata Langlang Cakra Buana sambil kembali menyerang dengan daun kelor.
Guru dari Setan Baja Ireng berniat menolong muridnya, tapi sayangnya sudah terlambat. Karena pemuda itu sudah menggulung muridnya.
"Plakkk … plakkk …"
"Ahhh …"
Iblis itu menjerit kesakitan sambil berguling-guling karena tubuhnya terasa begitu nyeri. Langlang Cakra Buana tidak memberikan kelonggaran, kali ini dia memberikan serangan terkahirnya.
"Plakkk …"
"Ahhh …" Setan Baja Ireng kembali menjerit sebelum akhirnya diam tak bergerak. Mati.
Gurunya yang mengetahui bahwa muridnua tewas, langsung melompat dan menyerang Pendekar Maunh Kulon itu. Tapi dengan gesit dia melompat mundur ke belakang.
"Keparat jahanam. Kau harus menebus kematian muridku …" katanya sambil memutar-mutar tongkat berkepala tengkorak.
###
Mohon maaf ya kalau jarang up. Kedepannya diusahakan bakal up, meskipun satu chapter sehari. Harap tetap jadikan bacaam favorit meskipun belum sebagus cerita nusantara yang lain😁🙏
__ADS_1
Perjalanannya bakal seperti cersil nusantara zaman dahulu, begitupun pertarungannya. Mungkin karena saya gemar baca cersil jadul, jadi penulisannya seperti ini. Hanya diubah sedikit lebih modern, supaya tidak terlalu kaku😁🙏