Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Lima Setan Darah


__ADS_3

Kini yang ada di bale-bale bambu itu hanya Cakra Buana dan ki Marga. Setelah Irma Sulastri masuk, suasana hening sejenak. Cakra Buana merasa canggung atas apa yang terjadi barusan.


"Aden, sebenarnya tujuan aden hendak kemana?" tanya ki Marga memecah keheningan.


"Entah paman. Aku sendiri belum punya tujuan, tapi yang jelas aku akan mengembara untuk melawan tindakan keangkaramurkaan yang selama ini terjadi di atas tanah Pasundan," jawab Cakra Buana.


"Hemmm … ternyata selain memiliki kepandaian tinggi, kau juga merupakan pendekar yang menegakkan kebenaran. Aku salut kepadamu den," puji ki Marga.


"Ah … paman terlalu memuji. Karena jika bukan kita selaku pribumi yang menjaga tanah air, siapa lagi? Bukankah ini merupakan salahsatu kewajiban?"


"Kau benar. Andai aku punya bekal bela diri atau ilmu jaya kajayaan (kesaktian), pasti aku juga akan melakukan seperti apa yang kau lakukan. Tapi sayangnya itu hanyalah mimpi, oleh sebab itu aku hanya bisa berbuat seadanya saja jika desaku ini dilanda musibah," kata ki Marga. Ada rasa kesedihan dalam ucapannya tersebut.


"Paman tidak perlu merendah seperti itu. Dengan cara memimpin benar dan adil pun, paman sudah dalam hitungan berjuang. Bisa kita lihat, berapa banyak pemangku jabatan yang lupa kepada tugasnya dan mementingkan diri sendiri? Sangat tipis sekali pemangku jabatan yang dapat memimpin dengan adil dan menjalankan tugas dengan benar. Sumpah dan janji yang mereka ucapkan tidak ada buktinya, semuanya palsu. Hanya omong kosong belaka. Yang terbukti hanya beberapa dari sekian banyak,"


"Begitulah den. Mungkin pepatah orang tua dulu memang benar. Bahwa kacang kadang lupa kepada kulitnya. Ah … silahkan diminum kopinya dan dimakan hidangannya den," kata ki Marga sambil meminum kopi yang sudah disiapkan oleh anaknya tersebut.


"Terimakasih paman."


Keduanya terus bercerita beberapa saat lamanya, karena hari mulai sore dan udara cukup panas, maka Cakra Buana memilih untuk membersihkan diri.


"Paman, adakah tempat untuk mandi disini? Aku ingin membersihkan diri," kata Cakra Buana.


"Ada den di sungai. Aden tinggal lurus saja, nanti ada pertigaan, aden ambil belokan ke kanan. Tidak jauh, paling hanya lima puluh tombak (kira-kira 150 meter)," kata ki Marga.


"Baiklah paman, terimakasih." kata Cakra Buana yang langsung melangkahkan kaki menuju ke sungai.


Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai di sungai yang dimaksud oleh ki Marga. Sungai itu ternyata berada di hutan. Airnya jernih sekali hingga dasar sungainya saja terlihat. Kanan kiri sungai terdapat bebatuan sebesar kerbau.


Di sebelah depan ada air terjun yang tingginya lima tombak. Ternyata sore hari itu memang agak ramai, karena ada beberapa orang yang sedang mandi pula. Ada juga beberapa gadis yang sedang mencuci pakaian mereka diatas sebuah batu hitam.


Burung-burung mulai beterbangan kembali ke sarangnya masing-masing. Suaranya yang merdu membuat rasa nyaman dihati. Kelelawar mulai keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Desiran angin sore menambah suasana di sungai itu menjadi semakin dingin sekaligus semakin menyejukkan.

__ADS_1


Cakra Buana lalu menceburkan dirinya ke sungai. Tak lupa juga dia sambil mencari ikan yang hidup disungai untuk kemudian ia bawa pulang.


Sedangkan di desa Gading Bodas, sesuatu yang tidak diinginkan sepertinya akan segera terjadi. Dari jarak yang cukup jauh, ada lima orang penunggang kuda. Perawakan mereka tinggi-tinggi. Badannya kekar dan kelimanya memelihara kumis yang tebal.


Kelimanya memakai pakaian merah. Derap langkah kuda mereka yang dipacu cukup kencang menimbulkan kepulan debu. Tak lama kemudian, kelimanya sudah sampai di pintu gerbang desa Gading Bodas. Mereka langsung saja masuk ke dalam. Dan tempat yang dituju pertamanya adalah rumah ki Marga.


"Ki Marga, keluar kau!" teriak salah seorang diantara mereka.


Ki Marga yang baru saja masuk menjadi terkejut karena ada suara yang memanggil namanya. Buru-buru dia keluar dan melihat siapa yang memanggil.


"Sa-saya den, ada apa ini?" tanyanya sedikit ketakutan.


"Setoran. Kami disuruh mengambil upeti oleh junjungan kami. Cepat kumpulkan semua warga, atau kalau tidak berikan saja apa yang kau miliki saat ini,"


"A-ampun den, baru kemarin kami ditagih upeti oleh orang-orang ki Durna Setra. Sekarang kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi den," kata ki Marga memelas.


"Masa bodo. Itu bukan urusanku, cepat berikan upeti seperti biasanya. Atau kalau tidak terpaksa aku akan memaksa. Ini perintah langsung dari gusti," katanya dengan nada membentak.


"Hemmm … bereskan rumah-rumah sekitar ini supaya semua warga keluar. Cepat!" kata orang itu memberi perintah kepada keempat kawannya.


Seketika keempat kawannya langsung bergerak. Mereka langsung mengacau di desa Gading Bodas. Rumah-rumah di obrak-abrik. Para warga disuruh keluar semuanya dan dikumpulkan di sebuah halaman.


"Ayah … ada apa ini?" tiba-tiba Irma Sulastri keluar rumah saat mendengar keributan.


Betapa kagetnya gadis muda itu ketika melihat wajah ayahnya yang sudah pucat pasi.


"Ayah …" gadis itu langsung berlari dan menghampiri ayahnya.


"Hemmm … kau bilang tidak punya apa-apa lagi, ini buktinya apa heh? Kau bahkan memiliki bidadari," kata salah seorang itu sambil tersenyum penuh arti.


"Jangan den, dia anakku satu-satunya,"

__ADS_1


"Diam kau!"


"Plakkk …"


"Aughhh …"


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri ki Marga. Tamparan itu bukanlah tamparan biasa. Melainkan tamparan yang dilambari dengan Aji Semu Gunting. Sebuah ilmu pukulan atau tamparan yang bisa membuat orang gosong.


Maka tak ayal lagi, ki Marga langsung terpelanting roboh. Pipinya gosong dan ada darah keluar dari mulutnya. Pertanda bahwa dia terluka dari dalam.


"Ayahhh …" Irma Sulastri ingin menubruk ayahnya, tapi sayang bahwa dia langsung ditotok hingga pingsan.


Kelima orang itu kemudian membakar sebagian rumah. Menjarah apa saja yang mereka mau. Bukan hal sulit bagi kelimanya melakukan hal seperti ini, karena mereka juga bukan orang sembarangan. Apalagi yang dihajar tidak mempunyai ilmu apapun. Sangat mudah sekali.


Setelah mereka puas, kelimanya lalu pergi sambil tertawa puas. Mereka membawa berbagai harta rampasan dan juga beberapa anak gadis. Termasuk Irma Sulastri.


Cakra Buana tidak tahu akan hal ini karena jaraknya memang lumayan jauh. Namun firasatnya berkata lain, maka buru-buru dia menyelesaikan mandi dan mencari ikannya itu. Setelah melihat ada kobaran api dari jauh, Cakra Buana langsung berlari. Hatinya menjadi khawatir.


Dan kekhawatiran itu terbukti ketika melihat apa yang terjadi. Buru-buru dia ke rumah ki Marga.


"Paman … apa yang sudah terjadi disini? Siapa yang melakukannya?" tanya Cakra Buana ketika melihat ki Matha tergeletak dengan luka yang cukup parah.


"Li-lima Setan Darah den. Di-dia membawa kabur Irma Su-sulastri. Uhukkk … uhukkk …"


"Siapa itu Lima Setan Darah paman?"


"A-anak buah adipati. Pergilah den, tolong selamatkan anakku," kata ki Marga yang langsung lunglai. Mati.


Seketika itu juga wajah Cakra Buana langsung merah padam. Kemarahannya sudah memuncak. Secepat kilat dia pergi dari situ untuk mencari jejak pelakunya.


###

__ADS_1


Maaf ya baru sempet up😁🙏satu dulu ya gengs🙏


__ADS_2