
Keempat rekannya sangat marah saat melihat satu rekan mereka tewas mengenaskan. Oleh sebab itu, mereka sama sekali tidak memikirkan keselamatan. Sekarang tujuannya hanya satu.
Bunuh Cakra Buana dengan cara apapun!
Keempatnya memiliki pikiran yang sama. Sehingga dari waktu ke waktu, mereka semakin gencar mengirimkan serangannya. Kilatan pedang bagaikan pelangi. Begitu indah dan menawan. Apalgi di balik malam yang kelam.
Akan tetapi siapa sangka, justru di balik keindahannya, terdapat sebuah ancaman yang siapa pun tidak mau terlibat di dalamnya.
Amarah sudah naik sampai ke ubun-ubun. Empat lawan mengerahkan seluruh kemampuan mereka. Akibatnya, serangan yang keluar pun bagaikan kilat menyambar. Sangat cepat dan menakutkan.
Tetapi Cakra Buana tidak merasa takut sedikitpun. Justru dia semakin bersemangat. Semakin melihat lawan semangat, maka dia akan lebih bersemangat lagi.
Pendekar Maung Kulon masih saja memainkan jurus Langit Terbelah Dua. Setiap ayunan pedang yang dia keluarkan, selalu menimbulkan suara bergemuruh. Anginnya menderu-deru membawa serta hawa kematian. Wajahnya berubah bagaikan satu sosok malaikat maut.
Dalam keadaan seperti ini, siapapun tidak ada yang berani memandang wajahnya. Terlebih lagi mata yang tajam bagaikan ujung pedang itu.
Keempat lawan berfokus menyerang titik lemah Cakra Buana. Satu demi satu serangan membawa sebuah tenaga yang sukar dilukiskan. Semakin lama, tenaga lawan semakin besar.
Tapi di balik itu, pertahanan yang tadinya kokoh bagaikan batu hitam di sungai, kini menciptakan sebuah celah sebesar lubang goa.
Kilatan Pedang Pusaka Dewa menghitam menembus langit. Setiap tebasannya seperti membelah langit yang tinggi. Efek sabetannya memanjang dengan hawa membunuh yang terus menerus bertambah kental. Asap hitam dari Pedang Pusaka Dewa keluar semakin pekat.
Cakra Buana telah meningkatkan tenaga dalamnya. Itu artinya, jurus yang dia keluarkan menjadi lebih hebat lagi.
Terbukti bahwa saat ini keempat lawannya semakin kewalahan. Mereka terus dipaksa dalam posisi bertahan. Benturan demi benturan tanpa henti mereka rasakan. Setiap benturan yang terjadi, rasa perih akan dirasakan keempat lawannya mulai dari telapak tangan sampai ke pangkal lengan.
Cakra Buana melihat ini, maka dia pun tidak mengurangi kekuatan serangannya. Justru malah bertambah cepat. Secepat angin yang berhembus meruntuhkan sebuah bangunan. Dalam sekejap, keempatnya dipaksa dalam keadaan terpojok habis.
Cakra Buana membentak sehingga suaranya bagaikan gunung meletus. Pedangnya melesat lebih cepat. Tubuhnya terkurung dalam gulungan pedang yang dia ciptakan. Satu demi satu lawannya tewas di bawah tajamnya Pedang Pusaka Dewa.
__ADS_1
Lima jurus kemudian, mereka semua telah tewas di tengah darah yang terus mengalir deras. Malah lawannya yant terkahir, tewas hingga kepalanya menggelinding tepat sampai di bawah kaki Eyang Batara Bodas.
Melihat ini, mau tidak mau Eyang Batara Bodas pun tergetar hatinya. Nyalinya seketika ciut saat melihat pertarungan Cakra Buana barusan. Pendekar kuda itu dimatanya tidak berbeda jauh dengan malaikat maut.
"Sekarang giliranmu …" bentak Cakra Buana.
Tanpa berhenti walau sesaat, dia kembali meneruskan serangannya. Kali ini sasarannya berbeda, yaitu Eyang Batara Bodas. Nampaknya Cakra Buana benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya. Dendam yang telah lama, kini menguasai Pendekar Maung Kulon.
Sementara itu, para pendekar kini sudah menyelesaikan semua tugas mereka. Setelah pertarungan yang mereka lakukan terhenti, kini saatnya para pendekar menjalankan tugas selanjutnya.
Yaitu menjarah harta kekayaan.
Secepat kilat, puluhan orang berkelebat masuk ke dalam kerajaan yang kini sedang di amuk oleh api. Karena bangunan itu sangat kokoh, sehingga si jago merah pun membutuhkan waktu cukup lama untuk benar-benar meratakannya.
Tak kurang dari dua puluh pendekar, kini sudah berada di dalam kerajaan. Mereka segera mencari harta yang bisa di ambil.
"Kau periksa sebelah kanan. Aku sebelah kiri. Kita harus bergerak cepat. Setelah semua harta terkumpul, langung melapor kepada pangeran harus di apalan harta itu nantinya," kata seorang pendekar kepada semua rekannya.
Di tengah halaman, Ling Zhi sedang bertarung sengit melawan Dewi Penggoda Pria. Pertarungan itu berjalan semakin seru. Sebah kedua wanita tersebut sama-sama tangguh dan ganas.
Semua pendekar yang tidak ikut menjarah, menonton dua pertarungan hebat ini. Para pendekar itu terkejut ketika baru mengetahui kemampuan Ling Zhi. Mata mereka terbelalak tidak mau berkedip.
Dengan wajah cantik bagaikan bidadari, tubuh yang mampu membuat siapapun tergiur dan ditambah ilmu silat tinggi, pria mana yang tidak ingin mempunyai kekasih seperti itu?
Semua pendekar yang ada di sana pasti menginginkannya. Hanya saja mereka tidak beruntung. Sebab yang menjadi kekasih wanita seperti itu adalah pemimpin mereka sendiri.
Pedang Bunga tergenggam erat di tangan kanan Ling Zhi. Dia terus mengirimkan hujan serangan kepada lawan. Dewi Penggoda Pria ternyata menggunakan senjata dua pedang pendek. Akan tetapi walaupun begitu, gerakan pedangnya tidak kalah hebat dengan pedang panjang yang lain.
Gertakan demi gertakan keluar dari mulut dua bidadari itu. Kecantikan wajahnya masih terlihat jelas walau dalam keadaan marah besar sekalipun.
__ADS_1
Dewi Penggoda Pria menyerang Ling Zhi dari arah depan. Kedua pedang pendeknya ia putarkan membentuk pusaran angin. Setiap ayunan pedangnya mengandung tenaga dalam tinggi. Batang pohon besar pun, dipastikan bakal rubuh jika terkena serangannya ini.
Ling Zhi bukanlah pendekar biasa. Ketika melihat lawan mengeluarkan jurus maut, dia pun tak mau kalah.
Kembali gadis itu berteriak keras lalu menerjang ke depan. Tanpa sungkan lagi, Bidadari Penebar Maut kembali mengeluarkan jurus Pedang Bayangan Sukma. Sebuah jurus pedang tingkat tinggi yang jarang ada tandingan pada zamannya.
Pedang di tangan Ling Zhi. Seperti mempunyai mata. Pedang itu berkilat menggempur tubuh montok Dewi Penggoda Pria. Dia menyerang tanpa henti sehingga membuat lawannya kewalahan.
Pedang Bunga semakin ganas. Setiap satu serangan, menebarkan hawa kematian di sekitar tempat pertarungan. Tubuh Ling Zhi sendiri tidak dapat terlihat jelas. Pedangnya berubah jadi memiliki sukma tersendiri. Jadi ke mana pun perginya lawan, maka pedangnya selalu mengejar.
Dewi Penggoda Pria semakin marah. Dia tidak menyangka bahwa lawannya mampu bertahan sampai sejauh ini.
Begitu Ling Zhi membentak untuk yang kesekial kali, kejadian di luar sana gaan terjadi.
"Trangg …"
Benturan pedang terdengar dahsyat. Pedang yang dipegang tangan kiri Dewi Penggoda Pria terpental keras ke atas. Dia sungguh terkejut, kini dirinya terpaksa harus bertarung dengan satu batang pedang.
Di saat serangan Ling Zhi menggempur dirinya, diam-diam Dewi Penggoda Pria mengambil seranhkum jarum menggunakan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya tetap menahan serangan.
"Wuttt …"
Dua puluhan jarum perak melesat secepat kilat. Saat ini jarak Ling Zhi sangat dekat. Paling hanya dua langkah saja. Jika Ling Zhi tidak menghindari jarum tersebut, dia bisa membunuh lawan. Hanya saja kemungkinan dia juga akan tewas.
Tapi kalau menghindari jarum, bisa jadi lawannya lepas dari genggaman dan mungkin dia bakal balik diserang.
Namun karena tidak ada pilihan lain, Ling Zhi lebih memilih pilihan kedua. Ia berusaha menghindari semua jarum itu. Serangan jarum memang meleset. Tapi serangan susulan pedang lawan, tak urung juga akhirnya mampu melukainya.
"Srett …"
__ADS_1
Pangkal lengan kiri Ling Zhi robek. Kulitnya yang putih halus segera berubah merah akibat darah yang mulai merembes keluar.