
Melihat bahwa lawan tiba-tiba bisa menjadi tiga, baik itu Lima Setan Darah ataupun adipati Wulung Sangit diam-diam merasa kagum. Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa seorang pendekar muda sudah bisa menguasi Ajian Pecah Raga dengan sempurna.
"Dia bukan pendekar biasa. Pemuda itu pasti mempunyai seorang guru yang sakti," kata Munding Aji lirih sambil mengamati Cakra Buana.
"Kau benar kakang. Kita harus berhati-hati." jabab Kedung Reja.
"Apakah kau sudah siap? Jangan berbangga dulu, sekalipun ada sepuluh dirimu, belum tentu bisa mengalahkan kami," kata Munding Aji dengan senyuman menyombongkan diri.
"Bagus, mari kita buktikan apakah ucapanmu itu sebuah kenyataan atau hanya omong kosong saja," balas Cakra Buana.
"****** kau …"
"Wuttt …"
Lima Setan Darah kembali menyerang secara bersamaan. Dua sosok Cakra Buana bertarung satu melawan satu. Sedangkan sosok dirinya yang asli bertarung melawan dua lawan sekaligus, yaitu Munding Aji dan Kedung Reja.
Pertarungan kembali berlanjut. Dua sosok Cakra Buana sudah bertarung dengan sengit melawan Gombang dan Dendeng Saga. Kedua sosok itu benar-benar mirip dengan Cakra Buana. Hanya saja kekuatan mereka merupakan separuh dari kekuatan asli Cakra Buana.
Tapi mungkin itu saja sudah cukup. Karena Gombang dan Dendeng Saga merupakan yang terlemah diantara Munding Aji dan Kedung Reja.
"Bukkk …"
"Bukkk …"
"Trangg …"
Adu tendangan dan senjata pusaka bertemu sudah berbunyi mengeluarkan suara keras. Mereka bertarung dengan sangat serius. Dua sosok Cakra Buana terus menyerang lawan dengan pedang pusaka mereka. Kedua lawan pun selalu siap menahan atau menghindari setiap serangan dua sosok tersebut.
Sementara itu, pertarungan antara Cakra Buana yang asli melawan Munding Aji dan Kedung Reja pun tak kalah serunya. Mereka sudah terlibat sebuah pertarungan hidup dan mati.
Munding Aji sudah mengeluarkan segenap kemampuan miliknya, tusukan atau tendangan yang dia lancarkan mampu mempu mengeluarkan hawa panas dan kesiur angin tajam. Sedangkan Kedung Reja terlihat sedikit tertinggal dalam pertarungan itu. Diantara ketiganya, hanya dia seorang yang memiliki kecepatan paling lambat.
Tapi dengan adanya Kedung Reja, itu sudah memberikan keuntungan kepada Munding Aji. Sebab rekannya tersebut bisa menjadi pemecah konsentrasi Cakra Buana. Beberapa kali Cakra Buana menarik kembali serangan yang dia berikan kepada Munding Aji.
Hal ini tak lain karena ketika dia menyerang Munding Aji, Kedung Reja pun sudah memberikan serangannya. Baik itu menggunakan senjata pusakanya ataupun dengan ajian-ajian miliknya.
"Wuttt …"
__ADS_1
"Bukkk …"
Pada akhirnya Cakra Buana menjadi nekad. Dia memilih untuk merobohkan Kedung Reja terlebih dahulu tanpa memperdulikan Munding Aji. Tapi disamping itu, Cakra Buana juga harus selalu siap siaga. Sebab jika tidak, sekali melakukan kesalahan maka nyawanya akan melayang karena serangan-serangan Munding Aji.
Pendekar Maung Kulon itu pada akhirnya berhasil memberikan sebuah pukulan yang telak mengenai pundak kiri Kedung Reja hingga membuatnya terpental. Kedung Reja meringis kesakitan, dia baru menyadari bahwa dirinya bukanlah tandingan pemuda serba putih itu.
Rasa gentar mulai menjalar. Tapi rasa gentar itu segera tergantikan karena dia menyadari ada Munding Aji yang bisa diandalkan untuk melindungi dirinya. Kedung Reja bangun kembali. Dia langsung melesat menyerang Cakra Buana.
"Bayangan Gagal Seta …"
Tiba-tiba saja ada sinar hitam yang berbentuk burung gagak siap menyambar Cakra Buana.
"Koakkk …"
"Wuttt …"
Gagak yang dihasilkan dari sinar hitam tadi sudah bergerak dengan kecepatan tinggi. Tapi Cakra Buana sudah siap, maka tanpa menunggu lama, dia juga segera mengeluarkan jurusnya.
"Harimau Mencabut Nyawa …"
"Wuttt …"
"Koakkk …"
"Gggrrrhhh …"
Cakra Buana mengaum dengan keras lalu tiba-tiba saja dia memberikan serangan jarak jauh berupa sinar kuning yang membentuk sebuah cakar harimau.
"Blarrr …"
Ledakan terdengar ketika dua jurus bertemu. Akibatnya adalah Cakra Buana terlontar ke bawah, sedangkan Kedung Reja terpental sepuluh langkah. Dia langsung muntah darah.
Melihat rekannya terluka parah, Munding Aji berniat untuk menolongnya. Sayang, dia terlambat karena Cakra Buana sudah kembali menyerang mendahului dirinya sendiri.
"Matii kau …"
"Pukulan Peremuk Batu Karang …"
__ADS_1
"Wuttt …"
"Bukkk … desss …"
"Ahhh …" mati.
Kedung Reja kembali terpental. Dia terus terpental ke belakang dan berhenti ktika tubuhnya menabrak dinding istana adipati hingga retak. Salahsatu anggota Lima Setan Darah kembali tewas. Kedung Reja tewas dengan kondisi tulang-tulang yang remuk. Darah segar terus mengucur deras dari setiap lukanya.
Sementara itu, pertarungan dua sosok Cakra Buana pun akan segera berakhir. Dua sosok dan dua anggota Lima Setan Darah sudah sama-sama terluka. Tapi yang lebih parah adalah Gombang dan Dendeng Saga. Keduanya terluka parah, luka sayatan dan rusukan pedang sudah terlukis pada seluruh bagian tubuh mereka.
Bahkan nafas mereka sudah terengah-engah. Keduanya berusaha bangun dengan tertatih-tatih, tapi terlambat. Karena dua sosok Cakra Buana sudah melesat menyerang Gombang dan Dendeng Saga sambil memberikan serangan tusukan pedang.
"Slebbb …"
"Slebbb …"
"Ahhh …"
"Ahhh …"
Dua sosok Cakra Buana mendaratkan pedang tepat di jantung lawan. Keduanya sejenak memperhatikan pedang yang tertancap itu. Tapi hanya sejenak, karena kemudian mereka roboh setelah pedang tersebut dicabut kembali oleh pemiliknya.
Setelah dua lawannya tewas, maka dua sosok itu langsung hilang entah kemana. Kini yang ada disana hanyalah Cakra Buana, Munding Aji, adipati Wulung Sangit yang masih berdiri memperhatikan dan beberapa prajurit yang tersisa.
Suasana hening sejenak setelah tiga anggota dari kelompok Lima Setan Darah tewas. Tapi itu tak lama, karena secara tiba-tiba Munding Aji berteriak keras akibat kemarahannya yang sudah menggunung.
"******* …"
"Kau harus membayar kematian rekanku pemuda sialan …"
Munding Aji berteriak hingga membuat gendang telinga seperti akan pecah. Angin tiba-tiba berhembus dengan keras dan tajam.
Adipati Wulung Sangit tak bisa berdiam diri lagi, dia melompat dan mendarat tepat dipinggir Munding Aji. Kemudian adipati itu memberikan tanda, tiba-tiba bermunculan tiga orang pendekar lagi. Mereka adalah pengawal pribadi adipati tersebut.
"Kau sudah mengacaukan kediamanku. Tidak ada cara lain untuk mengampunimu kecuali dengan nyawamu sendiri. Terimalah kematianmu anak muda," kata adipati Wulung Sangit sambil menahan amarah.
###
__ADS_1
Jangan lupa ramaikan kolom komentar ya. Btw, jan lupa juga likenya. Author ga maksa minta vote yang banyak, hanya saja tolong berikan likenya ya🙏