Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Orang-orang Tak Tahu Diri


__ADS_3

"Hahhh …" Cakra Buana menghela nafas dalam-dalam.


Dia tak habis pikir, kenapa Sanca dan Dadung Amuk mesti dibunuh? Padahal setiap orang mempunyai kesempatan untuk memperbaiki dirinya sendiri.


"Harusnya kau memberikan mereka kesempatan untuk hidup lebih lama. Mestinya kau juga bersyukur bahwa mereka mau berubah menjadi orang baik," kata Cakra Buana tenang.


"Persetan denga ucapanmu. Mereka tadinya orang-orangku. Kau tidak ada hak untuk bicara sesuka hati," katanya dengan marah kepada Cakra Buana.


"Hemm, lalu sekarang apa maumu? Dua rekanmu sudah kau bunuh. Sudah tidak ada persoalan lagi bukan? Kalau begitu, lebih baik kau segera pergi dari sini dan bawa semua rekanmu. Biarkan aku menguburkan Sanca dan Dadung Amuk seperti seharusnya," ujar Cakra Buana.


"Tentu saja ada,"


Cakra Buana mengerutkan kening. Padahal sebenarnya dia tahu bahwa mereka ini berniat membunuhnya. Hanya saja, dia sedang tidak ada selera untuk bertarung.


"Bukankah kau yang membantu Perguruan Rajawali Putih saat menghadapi Perguruan Ular Sendok?" tanya orang tersebut kepada Cakra Buana.


"Benar,"


"Bagus, akhirnya kau mengakui sendiri. Karena itulah aku bilang masih ada persoalan lagi. Yaitu aku menginginkan nyawamu sebagai penebus nyawa orang-orang Perguruan Ular Sendok,"


"Lebih baik, jangan sekarang. Aku sedang tidak ingin membunuh orang,"


"Perduli setan. Hari ini, aku ingin nyawamu. Kau yang mati, atau aku yang tewas," ucapnya penuh amarah.


Selesai berkata demikian, orang tersebut lalu menyuruh sepuluh anak buahnya untuk menyerang Cakra Buana. Mereka lalu mengelilingi Pendekar Maung Kulon seperti sedang mengurung ayam jago.


Ling Zhi dan Raden Kalacakra di suruh untuk pindah posisi. Keduanya menurut, tak ada yang berani membantah Cakra Buana.


Sepuluh orang sudah mengeluarkan senjata mereka yang berupa golok agak besar. Kilatan golok berkilau di tempa sinar matahari yang terik.


"Hemm, jangan salahkan aku jika hari ini tidak ada yang selamat dari kalian," kata Cakra Buana sambil menatap dingin.


Sorot matanya seketika berubah jadi lebih tajam bagaikan sebuah pisau yang sanggup menembus jantung.


Orang tadi memberikan isyarat kepada sepuluh anak buahnya untuk mengawali serangan pertama. Melihat perintah itu, mereka pun segera menyerang Cakra Buana dari segala sisi.


Sepuluh orang itu setidaknya mempunyai kepandaian kira-kira dua tingkat di atas perampok bisa yang bisa banyak ditemui. Akan tetapi hal tersebut bukanlah suatu masalah bagi Cakra Buana.


Begitu semua serangan hampir tiba, Cakra Buana baru menunjukkan pergerakan. Dia hanya memiringkan tubuh ke kanan dan kiri. Kadang-kadang ia mengangkat kakinya untuk menghindari sambaran golok yang mengincar kakinya.

__ADS_1


Hanya dengan gerakan menghindar sederhana, sepuluh serangan gagal menemui sasaran. Sepuluh golok itu hanya membacok udara kosong.


Cakra Buana masih berdiam, kini ia sudah kembali ke tempatnya semula.


"Aku harap kalian mendengar perkataanku ini. Lebih baik segera pergi dan jangan memaksaku untuk bertindak lebih jauh lagi," kaynya sungguh-sungguh.


Tapi ucpannya itu hanya sia-sia belaka. Sebab pihak lawan tidak ada yang mau mendengarnya. Justru sebaliknya, mereka kembali menyerang Cakra Buana dengan sambaran dan sabetan golok mematikan.


Kilatan cahaya perak kembali terlihat memenuhi ruang hampa. Tubuh Cakra Buana jadi sasaran. Kilatan itu datang berbarengan bagaikan hujan badai. Tetapi Cakra Buana tidak gentar sama sekali.


Masalah yang begini, baginya hanyalah masalah kecil.


Begitu semua serangan hampir tiba, kembali Cakra Buana bergerak. Kedua tangannya mulai bermain-main bersama senjata tajam itu. Tangan Cakra Buana menjepit golok-golok tersebut dengan kecepatan kilat.


Terdengar bunyi 'krakk … krakk' tiada henti. Begitu tubuhnya berhenti, sepuluh penyerang tersebut merasa ketakutan. Golok tajam mereka, kini tinggal separo. Golok itu dipatahkan oleh Cakra Buana hanya menggunakan jepitan jari tengah dan telunjuk.


Akan tetapi karena sudah di kuasai nafsu, para penyerang itu justru malah menyerang lagi. Sehingga hal tersebut membuat Cakra Buana naik pitam.


"Manusia tidak tahu diri. Baiklah, kalian yang memaksaku untuk bertindak,"


Selesai berkata seperti itu, tubuhnya kembali melesat. Dalam sekejap, suara pukulan dan tamparan keras terdengar susul-menyusul. Detik berikutnya, para penyerang itu sudah terkapar di tanah dengan darah terus keluar dari mulut mereka.


Melihat anak buahnya tewas, dua orang pemimpin mereka yang diduga adalah orang-orang Perguruan Ular Sendok, seketika melancarkan serangan kepada Cakra Buana.


Dua buah sinar hijau dan kuning melesat ke arahnya.


Hanya dengan melompat dan bersalto dua kali, dua buah serangan jarak jauh tersebut gagal menemui sasaran. Sinar itu menghantam satu batang pohon hingga hancur menjadi serpihan kecil.


Begitu tahu serangannya gagal, maka dua orang tersebut melesat ke arah Cakra Buana. Kedua tangan orang itu menjulur bagaikan lidah naga. Satu mencengkeram, satu lagi mengepal.


Cakra Buana menatap tajam kedua serangan lawan ini. Dia hanya memiringkan kepalanya lalu menarik kaki ke belakang satu langkah.


Serangan lawan lewat setengah jengkal di depan wajahnya. Cakra Buana lalu memapak kedua serangan tersebut dengan tangannya yang sudah di aliri oleh tenaga dalam.


Suara bagaikan batu jatuh terdengar saat Pendekar Maung Kulon memapak serangan tersebut. Kedua lawannya terhuyung hampir jatuh, cepat-cepat mereka membetulkan posisinya.


Kedua tangan mereka terasa ngilu saat di papak oleh Cakra Buana. Segera keduanya menyalurkan hawa murni untuk menghilangkan rasa ngilu tersebut.


Sesaat kemudian, orang-orang Perguruan Ular Sendok itu melancarkan serangan mautnya. Jurus berbahaya sudah keluar. Kedua tangan mereka berubah menjadi kehitam-hitaman. Bau busuk segera menyeruak dari tangan lawan.

__ADS_1


Cakra Buana bersikap semakin waspada, sebab ia tahu bahwa ini adalah jurus beracun tingkat tinggi. Diam-diam dia pun segera melindungi seluruh bagian tubuhnya dengan tenaga dalam.


Telapak tangan sudah terisi penuh oleh tenaga dalam. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balasan.


"Wuttt …"


Keduanya menjejak tanah sebelum akhirnya menerjang Cakra Buana.


Serangan lawan telah tiba. Ketiganya kembali bertarung dengan serius. Suara menggelegar turut mewarnai pertarungan ini. Ling Zhi dan Raden Kalacakra hanya berdiri menjadi penonton.


Sedangkan Cakra Buana saat ini telah mengeluarkan beberapa jurusnya. Lawan pun tak mau kalah, jurus-jurus mereka turut dikeluarkan.


Benturan tangan dan kaki terdengar, suara teriakan menakuti lawan mengiringi setiap kali mereka beradu pukulan dan tendangan. Desiran angin tajam berhembus tiada hentinya. Desiran angin itu lebih dulu terasa menyerang sebelum serangan aslinya datang.


Cakra Buana berada di atas angin. Dia bergerak cepat bagaikan hantu. Tubuhnya sama sekali tidak bisa tersentuh oleh kedua lawan. Padahal keduanya telah mengeluarkan segenap kemampuan.


Tapi nyatanya Pendekar Maung Kulon itu selalu bisa berkelit. Saat dia terkurung oleh serangan beracun lawan, entah bagaimana tahu-tahu Cakra Buana sudah berada di luar kurungan serangan tersebut.


Hal seperti ini menyebabkan amarah kedua lawannya tidak terbendung lagi. Mereka segera mengubah gaya serangannya. Kali ini kedua tangan mereka meliuk-liuk seperti ular kobra yang ingin mematuk mangsa.


Tapi Cakra Buana bukanlah pendekar kelas teri. Mendapati serangan seperti itu, maka dia juga mengubah gaya bertarungnya menjadi lebih lincah lagi.


Detik berikutnya, kedua orang tersebut sudah benar-benar terdesak hebat. Pukulan demi pukulan mulai mereka terima. Rasanya percuma saja kedua lengan mereka sudah berubah warna dan mengandung racun, sebab tak ada gunanya.


Jangankan untuk membunuh lawan, hanya merobek bajunya pun mereka tak mampu.


Hujan pukulan yang dilancarkan oleh Cakra Buana semakin membara. Datangnya bagaikan ombak di laut yang ganas. Gelombang pukulannya semakin lama semakin berkekuatan besar.


Hingga pada akhirnya, dia menyudahi pertarungan tersebut dengan serangan terkahir memakai punggung telapak tangan. Cakra Buana menarik kedua tangan terlebih dahulu, kemudian dengan gerakan cepat, dia menghantam dada lawan.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


"Hoekk …" keduanya terpental sejauh tiga tombak lalu muntah darah.


Tubuh mereka menabrak sebuah pohon besar. Begitu terjatuh, keduanya langsung terduduk dengan kedua kaki selonjor. Mereka kejang-kejang sebentar lalu diam tak berkutik lagi.


Mati.

__ADS_1


__ADS_2