
Tepat ketika semua pasukan tewas di tangan dua pendekar yang terbilang masih muda, ada empat orang pendekar lain yang keluar dari dalam markas utama itu.
Keempatnya sudah berumur tua, mereka memakai pakaian bermacam-macam. Keempat pendekar itu tak lain mereka para pengkhianat bangsa.
Yang lebih parahnya lagi, ada satu orang pendekar wanita tua diantara mereka itu. Langlang Cakra Buana dan Andi Lumut sudah berdiri berjejer di satu titik tengah-tengah.
Keduanya mengambil sikap waspada karena merasakan aura jahat keluar dari tubuh keempat pendekar yang kini ada dihadapan mereka.
"Siapa dan mau apa kalian?" tanya salah seorang pendekar bertubuh tinggi kurus diantara mereka.
"Aku Langlang Cakra Buana, dan ini temanku Andi Lumut. Tujuanku kesini sudah jelas, yaitu ingin menghancurkan para penjajah busuk sekaligus ingin melenyapkan anjing-anjing pengkhianat seperti kalian ini," ucap Cakra Buana yang sudah tidak bisa menahan kegemasannya.
"Anak setan. Lancang sekali mulutmu itu, apakah kau tidak diajarkan sopan santun oleh gurumu atau orang tuamu?" kali ini pendekar wanita tua yang angkat bicara.
"Sopan santun? Bicara dengan iblis macam kalian, apakah harus ada sopan santun? Aku rasa itu hanya berlaku kepada manusia saja, sedangkan kalian bukanlah manusia," kata Langlang Cakra Buana.
"Bedebah. Masih muda tapi ucapanmu setinggi langit. Kau kira bisa mengalahkan kami seperti halnya para pasukan bodoh ini? Jangan mimpi," kata si wanita sambil bertolak pinggang dengan tangan kiri, tangan kanannya memegang sebuah kipas kuning.
"Lalu, apakah kau juga berpikir bisa mengalahkan kami dengan mudah? Jangan harap nenek tua. Lebih baik kalian bertobat sebelum ajal menjemput," kata Andi Lumut yang dari tadi diam, kini angkat bicara.
"Ternyata kalian sama-sama pemuda sombong. Baik, kita lihat saja siapa yang akan dijemput ajal lebih dulu," kata pendekar tua yang pendek dengan mata buta satu.
"Rasakan ini …" keempat pendekar itu menyerang secara bersamaan.
__ADS_1
Pendekar wanita tua dan yang tinggi kurus menyerang Cakra Buana. Sedangkan pendekar tua yang picak dan sedikit gendut menyerang ke arah Andi Lumut.
Langlang Cakra Buana dan Andi Lumut mengambil jarak supaya pertarungan mereka lebih leluasa lagi.
Dua pendekar itu sudah bertarung melawan dua musuhnya masing-masing.
Cakra Buana terus menerus diserang lawan tanpa jeda. Sehingga terpaksa untuk saat ini dia hanya bisa bertahan dan menghindari setiap serangan yang diberikan oleh lawannya tersebut.
Si pria tinggi menyerang dari depan, kedua tangannya memberikan sebuah pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi mengarah kepada wajah Cakra Buana.
Tak mau kalah, si wanita pun mengirim sebuah serangan dengan kipasnya yang ternyata bukan kipas biasa itu.
Dua serangan datang, keduanya sama-sama berbahaya. Tapi Langlang Cakra Buana tidak menghindar lagi kali ini. Dia menahan pukulan si pria tinggi dengan tangan kanannya.
"Desss …"
Sedangkan lawannya yang beradu pukul, terhuyung tiga langkah ke belakang. Hal ini membuatnya sedikit kaget, karena tidak disangkanya pemuda itu memiliki kepandaian yang tinggi.
Berbarengan dengan itu, diapun memutarkan tubuhnya seperti gasing sehingga serangan jarak jauh dari kipas tadi berbalik kepada tuannya.
Sementara itu, pertarungan Andi Lumut melawan pendekar tua yang pendek dan yang matanya buta sebelah juga tak kalah serunya.
Tiga orang pendekar itu sudah terlibat dalam pertarungan yang sengit dan menegangkan. Dimana ketiganya sudah menggunakan senjata pusaka masing-masing dalam pertarungannya.
__ADS_1
Si pendekar pendek memakai dua belati, sedangkan yang matanya buta sebelah memakai sebuah golok yang berat dan sangat tajam.
Meskipun Andi Lumut harus melawan senjata pusaka lawan yang lebih besar dari badik miliknya, tapi sama sekali dia tidak memperlihatkan rasa takut.
Bahkan Andi Lumut semakin berani dan sangat percaya diri. Dentingan senjata beradu mewarnai pertarungan ketiganya.
Belasan jurus sudah mereka lalui, sinar-sinar keperakan menggulung dan membungkus ketiganya. Sehingga yang terlihat bukan lagi pertarungan pendekar, melainkan pertarungan antar sinar-sinar yang berasal dari senjata pusaka.
Langlang Cakra Buana kali ini mulai bertindak untuk membalas serangan setelah dari tadi hanya bertahan dan menghindar saja. Tanpa mau membuang waktu, Cakra Buana langsung mengerahkan jurus Menyambar Dan Menerkam Mangsa.
Sehingga gerakannya menjadi lebih cepat dan lebih rumit lagi. Dimana dia memberikan serangan berupa kedua jari tangannya membentuk seperti sebuah cakar harimau.
Juga dari kuku-kukunya menjadi tajam seperti kuku harimau pula. Dia menerjang ke arah si pendekar wanita, menurut penilaiannya wanita ini lebih sakti daripada yang satu lagi.
Cakra Buana maju menyerang menggunakan dua tangannya yang mirip cakar harimau itu. Dia mengincar bagian yang paling lemah dari wanita tersebut.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Pendekar wanita itu pun mencoba menahan semua serangan yang diberikan Cakra Buana. Kecepatan menahannya tak kalah cepat dengan serangan pemuda serba putih itu.
Keduanya sudah bertarung dengan sengit. Sedangkan si pria tinggi untuk saat ini hanya bisa menonton pertarungan mereka. Karena dirinya melihat tidak ada celah sama sekali untuk membantu.
__ADS_1
###
Satu lagi nanti ya, buat dadakan hehe😁🙏