
Melihat bahwa Pendekar Tangan Seribu terluka, Gagak Bodas segera menyerangnya. Sabetan pedang di tangannya menimbulkan angin dahsyat. Dewa Trisula Peram merasakan adanya hawa dingin dari arah belakang, secepat kilat dia membalikan tubuh lalu menahan serangan Gagak Bodas dengan cara mengangkat trisula peraknya di depan dada.
Ujung pedang Gagak Bodas yang sebentar lagi akan sampai, pada akhirnya tertahan di antara celah trisula tersebut.
Gagak Bodas segera mencabutnya lalu memberikan serangan susulan. Pedang itu bergetar mengarah ke dada, begitu dekat, berubah menjadi sabetan dahsyat. Andai kata berhasil, sudah pasti lawan tidak akan selamat.
Tetapi Dewa Trisula Perak bukanlah pendekar kelas teri, trisula di tangannya dia gerakan mengikuti arah serangan Gagak Bodas. Tubuh kedua pendekar tersebut berputar sambil terus menyerang.
Pada jurus ke dua puluh, Gagak Bodas mulai merasa kewalahan. Dia terdesak hebat. Tusukan trisula lawan membayangi ke mana dirinya pergi. Trisula itu memberikan tusukan berbahaya yang mengancam nyawa Gagak Bodas.
Melihat ini, Ling Zhi tidak tinggal diam. Bidadari Penebar Maut menghentakkan kakinya lalu meluncur deras memberikan tusukan pedang. Tanpa sungkan, dia langsung menggelar serangkaian jurus dari Kitab Tujuh Jurus Bunga Kembang.
Dal waktu sekejap, pertarungan sengit terjadi. Pedang Bunga memancarkan sinar merah muda yang menggulung Dewa Trisula Perak. Serangan gadis cepat dan mematikan.
"Bagus. Kau bisa memuaskanmu daripada kedua orang itu," kata Dewa Trisula Perak sambil terus menahan serangan Ling Zhi.
Trisula pusaka tersebut bergerak dari atas ke bawah menangkis semua serangan yang dilancarkan oleh Ling Zhi. Kedua pendekar itu bertarung di bawah gulungan sinar merah muda dan sinar perak.
Suara desingan mewarnai pertarungan mereka. Semakin lama, Ling Zhi bertarung semakin hebat lagi. Pedang Bunga menebarkan kengerian tersendiri bagi lawannya. Batang pedang tersebut mengkilat di bawah terpaan sinar matahari yang baru saja muncul setelah daritadi mendung.
Dewa Trisula Perak tidak mau kalah, jurus mautnya dia keluarkan. Sekali gebrak, sinar perak memanjang menggulung Ling Zhi. Keadaan seketika langsung berbalik, hany dalam lima jurus, Ling Zhi sudah dalam keadaan terdesak hebat.
Pendekar Tangan Seribu dan Gagak Bodas berniat untuk membantu gadis itu, hanya saja keduanya sedang menunggu waktu yang tepat. Sebab mereka merasa kesulitan karena kedua orang itu tidak nampak. Yang terlihat hanyalah gulungan sinar tajam dan selalu menimbulkan bunyi berdesing.
Pertarungan Cakra Buana melawan Dewa Tapak Racun sudah melewati jurus kelima puluh tiga. Dua pendekar itu sepertinya seimbang. Dewa Tapak Racun sendiri tidak percaya bahwa pemuda serba putih itu mampu bertarung dengannya sampai ratusan jurus.
Kemarahannya semakin memuncak, gerakannya tiba-tiba berubah arah. Dua telapak tangan itu seperti bayangan di mata Cakra Buana. Dia tidak mampu mengikutinya dengan jelas.
__ADS_1
Pendekar Maung Kulon masih menggunakan jurus Harimau Mengguncang Semesta. Dia sendiri terkejut karena jurus dahsyatnya tidak mampu membunuh lawan. Padahal, kekuatan jurus ini sudah tidak diragukan lagi. Sebelumnya tidak pernah ada yang selamat dari jurus ini.
Pendekar Maung Kulon awalnya ingin menggunakan jurus Ajian Curuk Dewa. Namun dia mengurungkan niatnya karena keadaan tidak tepat. Ajian Curuk Dewa hanya cocok dengan pertarungan yang memakai jarak, sedangkan saat ini dia bertarung tanpa jarak. Maka kalau menggunkan jurus tersebut, rasanya kurang cocok.
Oleh sebab itu dia terus mengeluarkan serangan mautnya. Kedua tangan yang sudah mengeras bagai baja itu melesat mengincar wajah lawan. Dewa Tapak Racun meundukan kepalanya sambil berniat menyerang perut Cakra Buana.
Tetapi siapa sangka, begitu niatnya akan dilakukan, Cakra Buana justru mengubah arah serangannya beberapa kali sehingga membuat dia kebingungan. Begitu melihat lawan tidak berdaya dengan tipuannya, Pendekar Maung Kulon berpindah tempat jadi ke belakang secara cepat.
"Srettt …"
Tangan kanannya mencakar bagian punggung Dewa Tapak Racun. Suara kain robek segera terdengar. Selanjutnya, punggung murid Penguasa Kegelapan itu telah robek dari atas sampai bawah.
Dia menjerit keras sampai menggetarkan langit. Secepat kilat dia memberikan serangan balasan berupa tendangan dahsyat. Cakra Buana yang tidak menduga akan hal ini, tak mampu menghindarinya lagi.
"Bukk …"
"Cakra …" teriak Prabu Katapangan kaget.
Dia segera menghampiri Cakra Buana dengan susah payah.
Sementara itu Dewa Tapak Racun pun saat ini sedang berlutut menahan rasa sakit yang tiada duanya. Luka di punggungnya terasa sangat panas bagaikan kobaran api. Dia merogoh saku bajunya, mengeluarkan serbuk pereda nyeri lalu meminumnya.
Di sisi lain pertarungan Dewa Tombak melawan empat pendekar sudah sampai tujuh puluh jurus lebih. Keempat pendekar tersebut sudah mengalami luka di sekujur tubuh. Luka itu walaupun tidak berat, tapi tidak juga dirasakan ringan.
Wajah keempatnya sudah memucat. Bahkan untuk bertarung pun mereka memaksakan dirinya sendiri.
Namun luka tersebut bukan hanya ada di tubuh keempat pendekar. Sebagian tubuh Dewa Tombak sendiri menerima luka yang tidak sedikit. Ini disebabkan saat tadi dia bertarung dengan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Dia tidak menyangka bahwa kedua orang tua itu mempunyai jurus pedang yang dahsyat.
__ADS_1
Di tambah lagi dengan serangan kipas Jalak Putih, maka lengkap sudah lukanya.
Yang tersisa hanyalah pertarungan antara Dewa Trisula Perak melawan tiga pendekar. Saat ini ketiganya sudah menyerang bersama lagi. Tetapi kali ini mereka merasa lebih terdesak sebab Dewa Trisula Perak mengerahkan seluruh kemampuannya.
Jurus Trisula Halilintar sudah dia keluarkan. Setiap serangannya cepat bagaikan kilat. Setiap tusukannya menimbulkan suara bergemuruh dan mengandung hawa membunuh yang sangat kental.
Pendekar Tangan Seribu tidak tinggal diam, dia berniat mengeluarkan jurus pamungkasnya untuk melawan Dewa Trisula Perak yang kini mendesak Ling Zhi. Selain itu, pedang milik Gagak Bodas juga sudah berkelebat memberikan sabetan maut.
Tapi Dewa Trisula Perak cerdik. Dia selalu saja menjauh di saat jurus maut dua pendekar itu mendekat ke arahnya.
Ling Zhi semakin terdesak. Pedang Bunga seperti tidak berguna. Setiap serangan balasannya selalu patah di tengah jalan. Trisula perak terus memberikan ancaman maut kepadanya. Tusukan trisula itu semakin lama semakin cepat.
Satu kesempatan, Ling Zhi berhasil menahan tusukan yang akan mengarah ke lehernya dengan Pedang Bunga. Tetapi siapa sangka, saat beradu tenaga dalam lewat senjata, tangan kiri Dewa Trisula Perak justru menontoknya sehingga pedang tersebut bergerak.
Sesuatu yang tidak diinginkan akhirnya terjadi. Secepat kilat, trisula tersebut menusuk tepat pada jantung Ling Zhi.
"Slebb …"
"Heughh …"
Suara parau terdengar. Ling Zhi tidak dapat menghindari tusukan tersebut. Dia tidak mampu membalasnya karena trisula itu semakin di tusukan ke dalam.
Setelah menusuk lebih dalam, Dewa Trisula Perak segera mencabut kembali senjatanya yang kini telah dipenuhi darah.
Seketika itu juga Ling Zhi jatuh terduduk. Tubuhnya langsung berubah pucat. Darah segar terus keluar deras dari tubuhnya.
Semua orang tercengang. Ketegangan segera menyelimuti tempat tersebut.
__ADS_1