Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Api Amarah II


__ADS_3

Pedang Cantik Dari Kahyangan meluncur memberikan tusukan. Gerakannya sangat cepat sekali.


Untuk menghindari serangan tersebut, waktu yang ada tentunya tidak cukup. Apalagi gerakannya sangat kilat.


Ratih Kencana memutar otak, keringat sudah menetes deras dari pelipisnya. Wajahnya sedikit pucat.


Di saat seperti itu, dia mendadak menemukan akal. Selendangnya masih tersisa walaupun sebelumnya sudah ditebas pedang lawan.


Dengan harapan besar, Ratih Kencana lalu menggerakan sisa potongan selendang sambil menyerahkan sisa tenaga dalam yang ada.


Tusukan pedang lawan datang, selendang pun sudah bergerak. Kembali dua senjata bertemu menimbulkan ledakan yang tidak terlalu besar.


Ratih Kencana terpundur dua langkah. Kesempatan untuk hidup semakin tipis sekali karena wanita bercadar itu sudah meluncur kembali sambil memberikan tusukan pedang.


Benar saja, detik selanjutnya, sebuah benda dingin telah menusuk kerongkongannya. Rasanya dingin seperti es, lidahnya langsung kelu dan tatapan matanya segera tertuju ke bawah.


Pedang milik lawan sudah menembusnya. Suara tertahan terdengar memilukan. Begitu pedang di cabut, darah segera muncrat. Ratih Kencana sempat memegangi kerongkongannya seolah dua berharap bisa hidup kembali.


Sayang, kematiannya sudah ditetapkan. Beberapa tarikan nafas selanjutnya, dia ambruk ke tanah bersama darah yang terus mengalir.


Bidadari Tak Bersayap segera menyarungkan pedangnya kembali. Dia menghampiri Cakra Buana lalu membuka cadarnya setelah di sisi pemuda itu.


"Bidadari Tak Bersayap …"


Kata salah seorang tokoh kelas atas. Dia terkejut dan tidak menyangka sekali bahwa wanita bercadar itu, ternyata seorang pendekar wanita muda yang namanya sedang naik daun.


Rasa terkejut juga terlihat pada ekspresi wajah beberapa tokoh lainnya. Namun, keterkejutan itu segera berubah menjadi gelak tawa yang saling susul menyusul.


"Hahahaha, sungguh bagus sekali. Sangat bagus, aku suka keadaan seperti ini," kata si pemimpin cabang itu diikuti oleh suara tawa lainnya.


"Apakah ada yang lucu?" tanya Bidadari Tak Bersayap sambil menatap tajam semua tokoh tersebut.


"Tentu saja ada, hahaha …"


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, aku tidak perlu susah payah lagi mencari keberadaan kalian. Karena tidak disangka, kalian malah datang dengan sendirinya," kata si pemimpin cabang. Suaranya bertambah lantang dengan ekspresi sombong.


"Jadi maksudmu, kau juga mencariku?"

__ADS_1


"Cerdas,"


"Hahaha … bagus. Aku senang, aku juga sudah lama ingin membasmi kelompok busuk kalian,"


Kali ini giliran Bidadari Tak Bersayap yang tertawa. Suara tawanya walaupun terdengar halus dan lembut, tapi juga mengandung tenaga dalam dan pengaruh sihir. Bahkan bagi para tokoh yang tidak sempat melindungi telinganya, mereka merasa bahwa suara barusan terdengar sangat cempreng dan melengking tinggi.


"Ternyata gadis ini juga mempunyai bekal yang lebih dari cukup. Hemm, sepertinya memang aku harus mengeroyok mereka," gumam si pemimpin cabang seraya melihat Bidadari Tak Bersayap dari atas sampai bawah.


"Baik, aku harap kau dapat membuktikan perkataanmu itu," gumamnya kepada gadis maha cantik tersebut.


Tangan kanannya memberi isyarat. Lima orang tokoh persilatan langsung maju. Mereka memberikan serangan ringan untuk sekedar menguji sampai di mana kemampuan si gadis.


Tetapi, belum juga tiba serangannya, sebuah kekuatan hebat menghantam mereka sehingga terdengar ledakan karena benturan tenaga dalam.


Bangunan tua itu berguncang. Debu mengepul tinggi.


Yang melakukannya tentu si Pendekar Tanpa Nama. Dia membawa Bidadari Tak Bersayap keluar dari bangunan tua tersebut. Keduanya baru berhenti setelah sampai di sebuah halaman luas yang ada di dalam hutan.


Walaupun Cakra Buana berada dalam kondisi setengah sadar, tapi nampaknya dia masih mampu untuk menguasai dirinya. Walaupun itu cuma sedikit.


Tidak berapa lama kemudian, belasan bayangan manusia sudah menyusul mereka.


Walaupun mereka bukan datuk rimba hijau, tapi bisa dipastikan bahwa orang-orang tersebut setidaknya hanya kalah satu tingkat atau dua tingkat saja.


Dalam hatinya, Bidadari Tak Bersayap berpikir, kalau pemimpin cabang saja sudah sekuat ini, bagaimana jika pemimpin utamanya? Seperti apa kekuatannya?


Pertanyaan tersebut mulai berputar di otaknya. Tapi sayang, dia tidak menemukan jawabannya.


"Aku kira kalian takut sehingga berniat untuk melarikan diri," kata si pemimpin cabang.


"Kami bukan pengecut. Justru kami ke sini untuk membunuh kalian, bagaimana bisa kami malah melarikan diri?" kata Bidadari Tak Bersayap.


"Bisa saja, sebab kalian baru sadar karena terlalu nekad. Sehingga dengan sok berani mendatangi kandang macan,"


"Persetan dengan ucapan kalian,"


Sebuah suara serak parau terdengar. Bahkan sedikit menyeramkan karena mengandung tenaga besar.


Cakra Buana.

__ADS_1


Benar, suara barusan adalah suara Pendekar Tanpa Nama. Entah kenapa hal itu bisa terjadi. Tapi memang begitu faktanya, suaranya berubah. Semuanya berubah. Bahkan kekuatan yang terpancar keluar pun, terasa lebih besar.


Jangankan lima belas tokoh, Sinta Putri yang kini sudah menjadi kekasihnya juga sangat terkejut.


Begitu selesai perkataannya, Cakra Buana sudah melakukan serangan lebih dulu.


Langkah cepatnya ini tidak pernah terbayangkan oleh orang-orang tersebut. Sehingga begitu serangan jarak jauh berupa sinar merah meluncur ke arah mereka, beberapa tokoh ada yang terkena.


Untung bahwa kekuatannya tidak rendah. Sehingga serangan barusan tidak terlalu melukai mereka. Hanya saja, serangan yang lebih hebat datang lagi.


Cakra Buana sudah meluncur kembali. Kali ini dus pedang sudah dia bentangkan siap untuk menebas leher lawan.


Begitupun dengan kekasihnya, Bidadari Tak Bersayap segera mencabut kembali Pedang Cantik Dari Kahyangan.


Kedua pendekar muda yang kini telah menjadi pasangan itu segera melancarkan serangan pertama dengan senjatanya masing-masing.


Bidadari Tak Bersayap langsung mengeluarkan seluruh kekuatannya sampai titik puncak. Dia tahu diri bahwa pertarungan kali ini bukanlah pertarungan kelas rendahan.


Walaupun tidak ada keyakinan untuk membunuh semua musuh, setidaknya dia harus berjuang terlebih dahulu semaksimal mungkin.


Dua pedang pusaka di tangan Cakra Buana langsung mengincar ke sepuluh tokoh. Entah bagaimana pemuda itu mampu menjangkau sepuluh orang, padahal pedangnya tidak terlalu panjang.


Sepuluh orang merasa sebuah tekanan dan angin yang dingin ke arah mereka. Sepuluh tokoh tersebut segera mengeluarkan senjatanya masing-masing.


"Trangg …"


"Trangg …"


Benturan terjadi. Semua senjata menempel keda pedang Cakra Buana. Pendekar Tanpa Nama menyalurkan tenaga dahsyat dengan dua hawa berbeda.


Untuk beberapa saat senjata mereka terus menempel. Pendekar Tanpa Nama perlahan mulai terdorong ke belakang karena tidak kuat menahan sepuluh tokoh kelas atas.


"Grrrr …"


Cakra Buana menggeram keras bagaikan seekor harimau. Kedua pedangnya mementalkan sepuluh senjata yang tadi menempel. Detik selanjutnya, dia segera mengirimkan tebasan pedang jarak jauh.


Sebuah sinar biru dan merah melesat membentuk garis.


Sepuluh pendekar telah siap. Dua orang di antara mereka menangkis tebasan itu sehingga terjadi ledakan. Setelah itu, empat tokoh lainnya menjejakkan kaki ke tanah lalu menyerang Cakra Buana.

__ADS_1


Empat batang senjata mengincar titik penting di tubuh dibarengi tenaga dalam tinggi. Dedaunan kering berhamburan karena terkena sapuan anginnya.


__ADS_2