Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Balas Dendam


__ADS_3

Pertarungan antara Cakra Buana melawan Racun Tua menjadi perhatian para pendekar yang lainnya. Mereka terpukau melihat kedua pendekar yang sama tangguh. Terlebih lagi para murid yang Perguruan Ular Sendok, mereka tidak menyangka bahwa gurunya yang sudah terkenal dalam dunia persilatan, bisa diimbangi oleh seorang pemuda.


Racun Tua semakin geram karena semua jurusnya bisa mentahkan oleh Cakra Buana. Dia mulai memainkan jurus lain. Gerakannya menjadi sedikit lamban tapi berbobot. Setiap ayunan tangan atau kaki yang ia lancarkan, mengandung tenaga dalam tinggi.


Di sisi lain Cakra Buana pun mulai merasa bosan karena pertarungan ini. Sudah hampir empat puluh jurus, tapi lawan belum juga mau menyerah. Cakra Buana menggeram bagaikan seekor harimau terluka.


Dia melompat tinggi ke atas lalu mengirimkan serangan jarak jauh. Sinar berwarna putih transparan melesat cepat mengarah ke Racun Tua.


Tapi dengan mudahnya tokoh tua tersebut menahan serangan Cakra Buana hanya dengan satu kibasan tangan. Sinar putih transparan tadi jadi berbelok arahnya dam menghantam benteng perguruan sampai hancur.


"Blarrr …"


Cakra Buana sudah turun mendarat kembali ke tanah. Jarak antara dirinya dan Racun Tua hanya terpaut tujuh langkah.


Keduanya saling pandang beberapa saat sebelum sama-sama bergerak menyerang kembali. Cakra Buana melancarkan serangan tapak sebelah kiri. Dari tapak keluar sinar merah sebesar lidi. Racun Tua tak mau kalah, ia menahan serangan tersebut dengan tangan kanan, lalu memberikan serangan lain dengan tangan kirinya.


"Wuttt …"


"Wushh …"


Sinar-sinar berkelebat ke sana kemari mencari sasaran. Pertarungan semakin hebat karena Racun Tua mulai mengeluarkan seluruh kemampuan yang ia miliki.


Guru besar tersebut mencabut tongkat berkepala ular sepanjang setengah meter dari punggungnya. Dengan tongkat itu ia mulai merangsek ke depan menggempur Cakra Buana.


Tongkat itu diberi nama Tongkat Seribu Racun, sebab dari kepala ular tersebut, bisa mengeluarkan uap hijau kehitaman yang mengandung racun sangat mematikan. Cakra Buana sudah mengetahui hal ini walaupun baru pertama kali melihat, maka kali ini dia tidak lagi bermain-main.


Cakra Buana mulai memainkan jurus-jurus lainnya. Tangan yang tadi membentuk cakar harimau, kali ini beru ah jadi kepalan. Dia menyambut dengan tingkat tersebut dengan kedua tangannya.


"Trangg …"


"Trangg …"


Racun Tua sangat terkejut dengan kejadian ini. Tak disangka bahwa pendekar muda yang kini sedang bertarung dengannya, mempunyai tulang yang keras bagaikan sebuah besi.


"Sapuan Tongkat Ular …"


"Wushh …"

__ADS_1


Racun Tua mengibaskan tongkatnya dari samping kanan ke samping kiri. Gelombang energi berwarna hitam melesat cepat ke arah Cakra Buana. Gelombang energi itu bahkan membuat beberapa pohon dekat Perguruan Rajawali Putih langsung layu. Bau busuk serasa menyengat hidung.


Cakra Buana tak tinggal diam, begitu gelombang tersebut hampir tiba, Pendekar maung Kulon itu merentangkan tangan lalu memutarkan tubuhnya satu kali. Sebuah pelindung energi tercipta sehingga terjadi pertemuan dua energi bertenaga dalam besar.


"Wushh …"


"Blarrr …"


Ledakan kecil kembali terdengar untuk yang kesekian kalinya. Baik Cakra Buana atau pun Racun Tua sama-sama tersentak ke belakang. Namun itu hanya sesaat karena detik berikutnya mereka sudah saling serang lagi.


Racun Tua menghantamkan tongkat ularnya ke pangkal paha Cakra Buana. Namun dengan sigap pemuda serba putih itu menahan tongkat tersebut menggunakan pungung telapak tangan kiri. Tongkat sedikit terpental, detik berikutnya giliran Cakra Buana yang memberikan serangan.


Dia langsung menghujani Racun Tua dengan jurus-jurus maut.


"Tapak Amarah Dewa Nanggala …"


"Pukulan Penghancur Gunung …"


"Wushh …"


"Wushh …"


Tak berhenti sampai di situ, Cakra Buana lalu kembali melancarkan jurusnya untuk mengakhiri pertarungan ini. Kedua tangannya ia gerakan sedemikian rupa. Debu, kerikil dan daun kering berputar mengelilingi tubuh Cakra Buana.


Dia melompat ke atas lalu berputar kembali satu kali. Kemudian melancarkan jurus pamungkasnya.


"Pukulan Dewa Kresna …"


"Wushh …"


"Blarrr …"


"Ahhh …"


Racun Tua terlempar kembali. Kali ini sampai menabrak benteng perguruan, bahkan benteng tersebut jebol dan dia sendiri masih terpental. Kakek tua itu baru berhenti setelah tubuhnya menabrak batang pohon berukuran dua lingkaran tangan orang dewasa. Racun Tua tewas dengan kondisi yang mengenaskan. Dadanya melesak ke dalam dan tulang kaki serta tangannya patah.


"Guru …" semua murid yang masih terjaga berlari memeriksa keadaan Racun Tua. Tapi sayangnya mereka terlambat, karena begitu jatuh, nyawa orang tua itu langsung melayang.

__ADS_1


Semua murid menggeram marah. Mereka tidak terima atas kematian gurunya yang mengenaskan. Tapi apa daya, sekalipun ada lima puluh murid, tetap saja mereka bukan tandingan Cakra Buana.


Akan tetapi, tiba-tiba dua buah cahaya kuning dan biru melesat cepat mengincar Cakra Buana. Dua sinar itu berukuran sebesar lidi. Pendekar Maung Kulon tidak kaget, dia hanya melompat ke atas dan dua sinar tadi menghantam tanah hingga menimbulkan cekungan.


Cakra Buana sempat melirik cekungan yang masih mengepulkan asap itu sebelum memandang ke depan. Di depan Cakr Buana, saat ini ada dua orang pria yang sudah tidak asing lagi. Terutama bagi Perguruan Rajawali Sakti.


"Dadung Amuk, Sanca," teriak Bayu tiba-tiba. Dia langsung melompat ke pinggir Cakra Buana.


"Hahaha … kau masih mau menyapaku ternyata," kata Dadung Amuk sambil tertawa angkuh.


"Iya, aku menyapa kalian sebagai sapaan terkahir," kata Bayu dengan geram.


"Jangan bermimpi untuk bisa mengalahkanku Bayu. Ilmu yang kau miliki masih rendah," ucap Sanca memanas-manasi.


"Keparat. Kubunuh kau …"


Bayu berniat untuk langsung menyerang. Namun dengan segera Cakra Buana memegangi tangannya.


"Kau bukan lawan mereka. Apa yang keduanya katakan adalah benar adanya,"


"Tapi …"


"Kau diamlah," ucap Cakra Buana yang langsung di turuti oleh Bayu.


Begitu Bayu berhenti, Pendekar Tangan Seribu lali melompat dari belakang. Dia mendarat tepat di samping kiri Cakra Buana.


"Pangeran, biar aku saja yang menghabisi dua iblis ini," kata Pendekar Tangan Seribu.


"Biar aku saja paman. Keduanya mempunyai dendam mendalam kepadaku akibat gurunya aku bunuh, jadi biarkan mereka bertarung denganku. Kau diam lah," pinta Cakra Buana.


"Baiklah kalau begitu," kata Pendekar Tangan Seribu Pasrah.


"Kalian mau nyawaku? Kalau iya, lebih baik bergurulah dulu beberapa tahun lagi. Lalu temui aku kembali. Kalau sekarang, aku bukanlah lawan kalian," kata Cakra Buana sengaja memancing emosi lawan.


"Keparat. Kadal busuk. Besar juga omonganmu bocah, tapi jangan kira kami takut kepadamu. Hari ini juga, kau harus menyusul guruku ke alam baka,"


"Hiattt …",

__ADS_1


Sanca dan Dadung Amuk melompat. Mereka langsung menyerang Cakra Buana tanpa berlama-lama. Sebenarnya Dadung Amuk dan Sanca merasa tidak yakin bisa mengalahkan Cakra Buana. Namun karena keduanya sudah terhasut oleh rayuan setan, maka mereka memaksakan diri untuk tetap membalas dendam kepada Pendekar Maung Kulon tersebut.


__ADS_2