
Untuk diketahui, Ki Wayang Rupa Sukma Saketi sebenarnya merupakan seorang pendekar tanpa tanding pada zaman kejayaannya dahulu sekitar lima puluh tahun yang lalu. Dia berhasil merajain rimba persilatan.
Baik dari yang sejalan dengannya yaitu golongan putih, maupun golongan hitam, semuanya merasa segan dan takluk kepadanya. Nama Ki Wayang Rupa Sukma Saketi harum dimana-mana. Entah sudah berapa banyak pertarungan yang sudah dia lewati. Baik yang biasa saja maupun yang mempertaruhkan nyawa.
Ketika masa kejayaannya, dia tidak hanya mengembara ke seluruh tanah Pasundan. Akan tetapi sampai mengembara keluar pulau, seperti pulau Bali maupun Melayu, dan masih banyak tempat-tempat lainnya yang pernah dia pijaki.
Entah sudah berapa banyak pula dia membantu kerajaan-kerajaan lain dalam memperjuangkan hak-haknya. Sehingga namanya semakin dikenal dan semakin disegani semua orang dan semua kalangan.
Tidak ada yang tahu siapa gurunya dan siapa nama aslinya. Semua orang hanya mengetahui gelarnya yaitu Ki Wayang Rupa Sukma Saketi (seribu sukma pewayangan). Konon katanya, jika dia mau, dia bisa saja merubah dirinya menjadi semua tokoh-tokoh pewayangan, dan lain sebagainya hanya dengan menggunakan ajian bernama Ilmu Malih Rupa (Ganti Rupa).
Sampai sekarang, tidak ada yang bisa menguasi Ilmu Malih Rupa hingga benar-benar sempurna sepertinya, kebanyakan yang lain hanya bisa dasarnya saja. Selain tidak ada yang mampu kecuali hanya Ki Wayang seorang, siapapun yakin jika ingin mendapatkan ilmu itu sampai mencapai tahap sempurna, tentu tirakat yang harus dijalankan pun sangat-sangat berat.
Selain itu, Ki Wayang Rupa Sukma Saketi juga terkenal dengan ajiannya yang menggiriskan siapapun lawannya. Ajian itu dia beri nama Ajian Curuk Dewa (Jari Dewa). Dimana jika dia sudah menggunakan ajian ini, maka apapun bisa dia hancurkan hanya dengan jari-jarinya saja.
Bahkan dia juga terkenal dengan tubuhnya yang tidak mempan senjata apapun. Karena menurut cerita yang tersiar, Ki Wayang Rupa Sukma Saketi pernah direndam di kawan Candradimuka seperti halnya Raden Gatot Kaca putra Bima.
Akan tetapi, semua itu hanyalah cerita pada masa kejayaannya dahulu. Sudah hampir empat puluh tahun dia mengundurkan diri dari dunia persilatan dan mengasingkan dirinya. Baru kali ini dia turun gunung kembali ketika mendapatkan amanah dari sahabatnya, Eyang Resi Patok Pati.
Akan tetapi meskipun begitu, namanya masih tetap melegenda sampai detik ini. Semua pendekar terutama yang sudah tua, pasti tahu siapa itu Ki Wayang Rupa Sukma Saketi.
"Cakra, apakah kau benar-benar yakin ingin berguru padaku?" tanya Ki Wayang.
"Aku yakin eyang guru,"
"Kau siap melakukan segala apa yang aku perintahkan?"
"Siap eyang,"
"Bagus. Aku ingin lihat sampai dimana tekadmu untuk mewujudkan impian gurumu dan para pendekar yang sudah gugur,"
"Murid siap menanti perintah eyang guru," kata Cakra Buana.
__ADS_1
Ketika keduanya sedang asyik bicara, tiba-tiba saja dari luar Cakra Buana mendengar ada dua suara geraman (maung) harimau menuju ke arah goa tempatnya berdiam.
"Grrrhhh …"
"Grrrhhh …"
Semakin lama, suara geraman maung itu semakin mendekat hingga benar-benar terdengar di pintu goa. Tentu saja Cakra Buana kaget. Buru-buru dia mengambil sikap waspada.
Ketika dia berbalik dan hendak berjalan keluar goa, ternyata benar saja, ada dua ekor maung yang akan memasuki goa. Yang satu maung bodas (harimau putih) maung loreng (harimau loreng).
Cakra Buana sudah dalam posisi siap bertarung. Begitupun sebaliknya, dua ekor maung itu memandang tajam dan siap untuk menerjang pemuda yang kini berada dihadapannya.
Kedua ekor maung itu memperlihatkan taring mereka yang sangat tajam. Seolah dia berkata bahwa mereka siap mencabik-cabik tubuh Cakra Buana dengan gigi taring mereka.
"Hemmm … lebih baik kalian pergi, jangan menganggu istirahat eyang guruku. Atau kalau tidak, aku akan menghajar kalian," kata Cakra Buana dengan gagah berani.
"Grrrhhh …"
"Grrrhhh …"
Tanpa disangka-sangka, kedua maung itu langsung menerjang Cakra Buana secara bersamaan. Keduanya menerkam dari sisi kanan dan kiri. Kuku-kuku mereka yang tajam, siap untuk merobek tubuh pemuda serba putih itu. Taring yang runcing, sudah siap untuk memutuskan leher Cakra Buana.
Bukan main marahnya Cakra Buana, dia kemudian melompat mundur ke belakang. Lalu dia giringkan kedua maung itu ke luar goa. Dia berpikir bahwa jika bertarung diluar, tentunya bisa lebih leluasa dan lebih aman.
Sementara itu, Ki Wayang Rupa Sukma Saketi masih tetap saja diam didalam goa. Bahkan kakek tua itu tersenyum melihat apa yang terjadi didepannya.
Kini Cakra Buana sudah bisa melihat "musuhnya" dengan jelas. Ternyata maung itu memiliki ukuran tubuh yang lain daripada maung kebanyakan. Kedua maung itu memiliki ukuran tubuh sebesar kerbau, kira-kira panjang tubuhnya hampir dua meter. Agak kaget juga dia melihatnya, terlebih karena ini kali pertama Cakra Buana menyaksikan ada maung sebesar itu.
"Hemmm … hayo maju jika memang kalian mengajak bertarung," tantang Cakra Buana.
Seolah faham apa yang dibicarakan olehnya, kembali dua maung itu menyerang Cakra Buana.
__ADS_1
Serangannya tidak bisa dipandang remeh, karena kedua maung itu seperti telah terlatih bagaimana cara bertarung dengan manusia. Cakar mereka menghunjam bahu kanan dan kiri Cakra Buana.
Akan tetapi dia masih bisa menghindari serangan itu dengan mudah. Hanya melompat lalu bersalto di udara, serangan pertama dua ekor maung luput.
"Grrrhhh …"
"Grrrhhh …"
Tak mau kalah dengan lawan, Cakra Buana pun segera mengeluarkan jurus pertama dari Kitab Maung Mega Mendung.
"Auman Harimau …"
"Gggrrrhhh …"
Suaranya mirip dengan dua maung itu. "Tiga maung" siap kembali untuk melanjutkan pertarungan. Akan tetapi sebelum pertarungan itu dilanjutkan, tiba-tiba saja Ki Wayang Rupa Sukma Saketi angkat bicara dari tempat duduknya.
"Maung sukma, maung saketi, berhenti. Dia bukan musuh kalian, sebaliknya, dia keluarga kalian. Dia muridku yang baru," kata Ki Wayang.
Serentak kedua maung itu terlihat tunduk. Bahkan tidak lagi menatap tajam Cakra Buana.
"Kalian bertiga kemarilah masuk ke dalam," ucap Ki Wayang.
Ketiganya langsung masuk. Dua maung itu langsung menghampiri Ki Wayang dan duduk di pinggir kanan dan kirinya. Seperti seorang pengawal.
"Cakra, perkenalkan, ini dua ekor peliharaanku. Si putih ini namanya maung sukma, dan si loreng ini maung saketi. Selama ini merekalah yang menemaniku," kata Ki Wayang.
Cakra Buana kaget, buru-buru dia meminta maaf kepada keduanya.
"Maafkan aku eyang. Maafkan aku sukma, saketi, aku tidak tahu bahwa kalian ternyata keluargaku," kata Cakra Buana.
Kedua maung itu hanya menjawab dengan geraman pelan sambil memandang Cakra Buana. Tatapan keduanya seperti mengandung kekuatan yang menekan.
__ADS_1
"Bukan main hebatnya dua maung ini." batin Cakra Buana.