
"Bajingan!!! Kubunuh kau …" teriak Ayu Pertiwi tidak kuasa lagi menahan amarah yang sudah bergejolak dalam dirinya.
Dia menerjang ke arah Cakra Buana. Kedua tangannya yang putih mulus itu telah melancarkan serangkaian serangan berupa tapak dan pukulan.
Cakra Buana cukup terkejut ketika menyadari kemampuan wanita itu ternyata telah meningkat pesat. Padahal ketika terkahir bertemu, kekuatan Ayu Pertiwi tidak seperti sekarang yang dia rasakan.
Bahkan dulu, rasanya kekuatan wanita itu hanya pasaran saja. Tetapi sekarang, kekuatannya bertambah. Bahkan menurut Cakra Buana, lebih hebat Ayu Pertiwi dari pada kekasihnya, Brawan.
Namun terlepas dari itu semua, Cakra Buana bertambah terkejut ketika Pendekar Tanpa Nama itu baru menyadari bahwa seluruh rangkaian serangan yang dilancarkan Ayu Pertiwi, lebih condong ke arah jurus-jurus licik yang biasa digunakan oleh mereka orang-orang aliran hitam.
Ayu Pertiwi masih menggempur. Tangan putih mulusnya sekilas terlihat berubah menjadi hitam legam. Setiap pukulan atau hantaman yang dia berikan kepada Cakra Buana, selalu menebarkan bau busuk.
Walaupun belum sanggup melukai Pendekar Tanpa Nama, tapi setidaknya bau busuk yang tercipta dari setiap serangan itu sudah mampu untuk membuat pusing pendekar kelas menengah.
Ketika Ayu Pertiwi menghujani Cakra Buana dengan serangan beracun miliknya, tiba-tiba Wanita Berhati Batu melesat dari tempatnya berdiri.
Kali ini wanita tua tersebut tidak mau tanggung-tanggung lagi. Dia sudah mengetahui sampai di mana kekuatan si Pendekar Tanpa Nama. Sehingga dia memutuskan untuk langsung mengeluarkan seluruh kemampuannya hingga mencapai sembilan puluh persen.
Sebuah sinar merah darah melesat cepat ke arah Cakra Buana. Berikutnya, hujan serangan jarak jauh berupa puluhan jarum beracun, turut serta menggempur dirinya.
Pendekar Maung Kulon mulai diserang dari segala lini. Baik itu serangan jarak jauh, maupun serangan jarak dekat.
Wanita Berhati Batu mengeluarkan senjatanya yang berupa tongkat kayu berduri. Kayunya berwarna hitam legam, sama seperti duri yang tertera di sana.
Duri tersebut sangatlah kecil sekali. Saking kecilnya, kalau tidak di lihat secara seksama, sudah pasti kita tidak mampu untuk melihatnya.
Sayangnya, hal tersebut hanya berlaku bagi orang lain. Karena bagu Cakra Buana, hanya dengan memandang sekilas saja, dia sudah tahu kelebihan dan kekurangan tongkat berduri itu.
Ayu pertiwi menyerang dari sisi sebelah kiri. Pukulan dan sabetan pedang mulai dia lancarkan lagi. Semua serangannya berbahaya dan licik.
Di sisi kanan, Wanita Berhati Batu juga sudah melancarkan serangan yang jauh lebih dahsyat lagi. Tongkat kayu berdiri itu mulai dia mainkan mengincar tubuh Cakra Buana.
Gerakannya sangat cepat dan tangkas. Pendekar Tanpa Nama sudah dapat menebak bahwa wanita tua tersebut, memang sangat ahli dalam hal ilmu tongkat.
Setiap kali tongkat berkelebat, sinar hitam selalu mengiringi. Dua serangan dari sisi berbeda telah mengurung semua pergerakan Pendekar Tanpa Nama.
Si pemuda masih tenang dan kalem. Ketika mencapai jurus ketiga puluh, Cakra Buana mengambil keputusan.
Kalau dia hanya bertahan tanpa mau membalas serangan, maka pertarungannya akan bertambah lama.
__ADS_1
Mungkin dua atau tiga hari lagi baru akan selesai.
Karena Cakra Buana sudah mengubah kembali gaya bertarungnya, maka pertarungan tiga pendekar tersebut seketika langsung berubah drastis.
Pendekar Tanpa Nama bergerak. Dua hawa berbeda dari kedua tangannya sudah dikeluarkan.
Jurus yang pertama Cakra Buana gelar adalah jurus Harimau Mencabut Nyawa.
Jurus kesembilan yang berhawa panas itu, kini telah berubah menjadi hawa panas dan dingin.
Kedua tangan Cakra Buana mengeras seperti sebuah baja. Pedang Ayu Pertiwi tidak dia hindari lagi. Justru saat wanita tersebut menyerang dengan pedangnya, maka Pendekar Tanpa Nama akan meladeni dengan kedua tangannya.
Kini posisinya bergantian. Sekarang giliran Ayu Pertiwi yang mulai didesak oleh semua serangan Cakra Buana. Kedua tangan tersebut bahkan telah mematahkan pedang kesayangannya.
Seorang pendekar pedang kehilangan pedang, maka itu artinya sama saja dengan kehilangan nyawa sendiri.
Pergerakan Ayu Pertiwi semakin kacau tidak karuan.
Beberapa luka cakaran sudah terlukis di tubuhnya yang mulus. Cakra Buana sebenarnya tidak tega untuk melukai mantan kekasihnya tersebut.
Tapi apa daya? Bukankah dia sendiri yang memulainya dan seakan berkata, "kalau kau berani, ayo lukai aku".
Cakra Buana semakin ganas. Di kala dia menghujani serangan kepada Ayu Pertiwi, Wanita Berhati Batu sudah menyerangnya lagi dari arah belakang.
Cakra Buana mulai geram. Sesabar-sabarnya dia, tetap saja pemuda itu juga merupakan manusia.
Pendekar Tanpa Nama memutar tubuhnya. Berikutnya dia langsung menghujani Ayu Pertiwi dengan gempuran telapak tangan.
Ketika menerima gempuran kesepuluh, wanita itu terpental ke belakang sampai menabrak pohon yang tadi ditabrak oleh kekasihnya.
Darah segar menetes. Brawan kalap. Walaupun tubuhnya sudah terluka parah, namun nyatanya, dia tetap nekad.
Baginya, pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama harus dia bunuh. Apapun yang terjadi, dia harus bisa membunuhnya.
Tetapi tak lama, Brawan tiba-tiba kaget saat menyadari bahwa seluruh tubuhnya sudah kaku.
Dia berdiri di tengah jalan seperti patung. Wajahnya masih dapat menengok dan digerakkan, tetapi seluruh tubuhnya benar-benar kaku.
"Mampus kau …" Bentak Cakra Buana. Dia melesat menerjang ke depan.
__ADS_1
Tangan kanan sudah di tarik ke belakang. Sebuah tenaga besar telah terkandung di dalamnya.
"Ajian Dewa Tapak Nanggala …"
"Blarrr …"
Jurus telapak tersebut secara telak mengenai ulu hatinya. Dia langsung terkapar tanpa nyawa karena tidak kuat menahan rasa sakit.
Wanita Tua itu semakin marah. Dia menyerang Cakra Buana dengan permainan tongkat kayu berduri yang sangat cepat.
Sinar hitam dari tongkat kayu berduri mengurung Cakra Buana. Gempuran serangan terus dilancarkan oleh Wanita Berhati Batu.
Wanita tua itu berputar seperti sedang menari. Tongkat kayu hitam mengikuti kemauan tuannya.
Wanita tua itu menyerang semakin ganas. Apalagi sekarang kekuatannya sudah mengerikan.
"Tapak Dewa Naga …"
Jurus pamungkas pertamanya sudah di gelar. Kalau sudah seperti ini, berarti lawan yang dia hadapi bukan orang sembarangan.
Semua serangan Wanita Berhati Batu langsung buyar ketika berbenturan dengan jurus Tapak Dewa Naga milik Pendekar Tanpa Nama, jurus-jurus langsung berubah percikan api yang membumbung tinggi.
Pendekar Tanpa Nama tidak berhenti. Dia melanjutkan kembali serangan susulannya sehingga membuat lawan kerepotan.
Gempuran tapak dan tendangan mulai terlihat. Kali ini Cakra Buana tidak mau berlama-lama lagi.
Mencapai jurus keempat puluh tiga, Wanita Berhati Batu mulai putus asa.
Semua serangan dia gagal. Bahkan pertahanannya sudah tidak kokoh.
Ketika Cakra Buana mendapatkan kesempatan emas, dia langsung memburu si Wanita Berhati Batu.
Pendekar Tanpa Nama melompat ke atas. Dia bersalto sebelum meluncur lebih cepat.
"Bukkk …"
Wanita Berhati Batu langsung terdorong jauh ke belakang.
"Bruggg …"
__ADS_1
Satu pohon roboh karena terkena luncurannya. Dia sempat memperlihatkan pergerakan sebelum akhirnya berhenti bergerak.
Mati!