
Cakra Buana geram, berbagai macam jurus sudah dia keluarkan. Namun hasilnya masih sama, pertarungannya seimbang untuk sejauh ini. Tetapi bukan berarti dia tidak mampu mengalahkannya. Apalagi mengharapkan bantuan, tidak sama sekali.
Masih terdapat banyak jurus dahsyat yang masih dia simpan. Termasuk jurus warisan dari Pendekar Tanpa Nama.
Hantu Tanpa Wajah menyerang. Serangan yang penuh kekuatan dan mengandung racun ganas. Tangan kanannya mencakar ke arah perut. Tangan kirinya berniat untuk menarik lengan Cakra Buana.
Gerakan tersebut dilakukan secara bersamaan dalam waktu singkat. Sehingga kalau orang lain, rasanya mustahil untuk dapat menghindarinya. Tetapi Cakra Buana bukanlah orang lain, dia adalah dia. Orang lain adalah orang lain.
Dengan gerakan sederhana, tubuhnya berputar sambil melancarkan serangan. Begitu melihat kesempatan emas, Pendekar Tanpa Nama segera menggelar jurus pertama dari Kitab 7 Jurus Naga dan Harimau.
"Tapak Dewa Naga …"
Tangan kanannya dia hentakkan ke depan dengan keras dan penuh tenaga dalam. Sebuah sinar putih melesat ke arah Hantu Tanpa Wajah dengan sangat cepat sekali. Sinar putih tersebut mengandung hawa yang panas.
Karena pada dasarnya Cakra Buana memang mengeluarkan jurus tersebut sambil menyisipkan hawa panas di dalamnya. Hawa panas pemberian Ki Wayang Rupa Sukma Saketi dan hawa dingin Pemberian Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat, kini sudah semakin sempurna dikuasai oleh Cakra Buana.
Sehingga, pendekar Tanpa Nama itu bebas mengeluarkan hawa tersebut kapan saja.
Hantu Tanpa Wajah kaget. Buru-buru dia melompat ke pinggir supaya terhindar dari serangan Tapak Dewa Naga milik Cakra Buana, sayangnya begitu dia berdiri kembali, Pendekar Tanpa Nama sudah kembali melancarkan serangan yang sama.
Kali ini bukan hanya hawa panas, melainkan ada hawa dingin juga. Cakra Buana mulai mencecar lawannya dengan jurus Tapak Dewa Naga. Hantaman demi hantaman dia lancarkan dengan beringas.
Pertarungan keduanya sudah berjalan hampir tiga puluh jurus. Hantu Tanpa Wajah mulai terdesak. Dia tidak percaya bahwa pemuda tersebut mampu mendesaknya. Padahal, empat puluh persen kekuatannya sudah dia keluarkan.
Tetapi nyatanya belum cukup untuk menghadapi si pemuda.
Di saat Cakra Buana melancarkan hujan serangan yang datang tanpa henti, Hantu Tanpa Wajah diam-diam mengeluarkan kembali kekuatannya. Kali ini menjadi lima puluh persen.
Setiap pendekar, tidak ingin mengeluarkan jurusnya untuk langsung ke titik puncak. Hal ini disebabkan karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Bisa saja jumlah lawan malah lebih banyak, atau ada sesuatu yang lainnya. Sehingga kalau dikeluarkan seluruh kekuatan dalam pertarungan, maka mereka tidak mampu mempertahankan diri kalau ada bahaya lain.
Berbeda halnya jika masih memakai ukuran, mereka bisa mengantisipasi berbagai ancaman yang mungkin bisa saja terjadi setiap waktu.
Dan hal tersebut berlaku bagi pendekar siapa saja.
Ketika lima puluh persen kekuatan Hantu Tanpa Wajah keluar, perubahan pertarungan segera terlihat.
__ADS_1
Cakra Buana yang tadinya menggempur tanpa mendapat perlawanan berarti, kini mulai merasakan perbedaan. Hantu Tanpa Wajah mulai mampu membalas gempuran serangannya. Bahkan balasan serangan tersebut cukup berefek baginya.
Hanya dalam beberapa saat kemudian, Hantu Tanpa Wajah kembali mengeluarkan kekuatannya hingga ke tingkat mencapai delapan puluh persen.
Alhasil pertarungan pun semakin berjalan lebih seru. Karena tidak mau kalah atau dibilang lemah oleh pembaca, Cakra Buana segera menambah kekuatan.
Tanpa sungkan lagi, Pendekar Tanpa Nama segera mengeluarkan jurus ketiga.
"Naga Terbang di Angkasa …"
Gaya bertarung Cakra Buana berubah. Serangan pun berbeda dari sebelumnya. Pemuda itu mendadak seperti terbang di angkasa. Gempuran kedua tangannya membawa dua hawa berlawanan.
Gerakannya menjadi sangat lincah dan gesit. Dia bagaikan seekor naga yang terbang di angkasa lalu berputar-putar dengan cepat.
Serangan demi serangan mulai kembali menghujani Hantu Tanpa Wajah. Orang tua tersebut bertambah marah, jurus mautnya segera digelar juga.
"Hantu Menangkap Manusia Mengambil Kepala …"
Dia menjejak tanah. Tubuhnya segera melesat secepat kilat ke arah Cakra Buana. Kedua tangannya bergerak menebarkan maut. Kepala Cakra Buana menjadi incaran utama Hantu Tanpa Wajah.
Saat dia mendapat kesempatan baik, jurus berikutnya segera keluar lagi.
"Harimau Bertempur Liar …"
Cakra Buana turun ke bumi. Tapi dengan segera dia menerjang bagaikan seekor harimau yang sedang kalap. Gerakannya sangat sulit untuk di prediksi.
Cakaran dan tendangan yang keluar membawa kekuatan hebat. Pertarungan mereka baru berjalan delapan puluh jurus, sebelumnya masih bisa dibilang imbang. Tetapi setelah Cakra Buana mengeluarkan jurus Harimau Bertempur Liar, keadaan menjadi berat sebelah.
Si Hantu Tanpa Wajah mulai keteteran. Hujan serangan Cakra Buana sangat hebat dan mengandung berbagai macam tipuan. Sesekali dirinya memang menyambitkan senjata rahasia, sayangnya itu semua adalah usaha yang sia-sia.
Keadaan menjadi berat sebelah. Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama sama sekali tidak memberikan ruang kepada Hantu Tanpa Wajah untuk meningkatkan kekuatannya.
Mencapai jurus kesembilan puluh tiga, dua tangan Cakra Buana berhasil memberikan serangan terkahir. Dua cakaran dari tangan seorang pendekar muda, menembus tubuh Hantu Tanpa Wajah.
Dia tewas, tewasnya tanpa sempat mengeluarkan suara pula. Matanya mendelik di balik topeng. Tubuhnya menggeliat sedikit sebelum terbujur kaku.
__ADS_1
Pertarungan Tuan Santeno Tanuwijaya melawan Manusia Pasir Besi Panas sama sengitnya dengan pertarungan Pendekar Tanpa Nama.
Si Tangan Tanpa Belas Kasihan memperlihatkan kekuatannya kepada lawan. Dua tangannya bercahaya hijau terang. Kekuatan dahsyat berada di balik sinar hijau tersebut.
Sedangkan si Manusia Pasir Besi Panas juga tidak mau kalah. Kedua lengannya berubah menjadi merah membara. Jurus yang paling dia andalkan sudah keluar.
"Pukulan Pasir Besi Bara Api …"
Sebuah jurus pukulan yang sanggup menggosongkan lawannya. Kalau pukulan tersebut mengenai batang pohon, rasanya mustahil kalau pohon itu tidak hangus terbakar.
Tetapi di sisi lain, Tuan Santeno atau yang biasa disebut si Tangan Tanpa Belas Kasihan juga sudah mengeluarkan jurus terhebatnya.
Jurus Dewa Bumi Memukul Langit Membalik Gunung sudah dia keluarkan beberapa saat lalu.
Awalnya posisi maha guru tersebut berada dalam kondisi terdesak, namun setelah dia mengeluarkan jurus pamungkasnya, keadaan segera berubah dalam waktu singkat.
Manusia Pasir Besi Panas justru kini sedang berada di posisi bawah. Jurus pukulan yang selalu dia andalkan nyatanya tidak dapat membantunya supaya lepas dari kondisi tersebut.
Justru sebaliknya, hawa panas dari jurus itu berbalik malah menyerang dia sendiri. Hal tersebut terjadi karena Tuan Santeno menyerang tanpa berhenti. Julukan Tangan Tanpa Belas Kasihan rasanya memang cocok untuknya.
Terbukti sekarang, walaupun lawan sudah mengeluh, meskipun tidak bicara ampun, Tuan Santeno masih tetap menyerangnya dengan pukulan hebat.
"Grrrr …"
Si Manusia Pasir Besi Panas tiba-tiba menggeram. Hawa yang lebih panas segera terasa di sekitar pertarungan mereka.
###
Kalau beberapa hari ke depan up cuma satu maaf ya, bukan karena habis ide, ide udah ada soalnya wkwk. Tapi karena repot, author juga lagi ngurus novel satu lagi supaya mencapai target.
Mohon pengertian dan dukungannya ya. Tetapi kalau ada waktu lebih, author pasti up dua bab sehari seperti biasanya.
Jangan lupa juga untuk membaca novel terbaru author. Mengisahkan tentang perjalanan lanjutan Pendekar Halilintar dan anaknya.
Semoga bisa memuaskan kalian juga
__ADS_1
Sampurasun …