Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Perasaan Aneh


__ADS_3

Saat ini Langlang Cakra Buana sudah siuman dari pingsannya. Dia berada disebuah kamar yang sudah lapuk. Bahkan kamar itu sangat berantakkan.


Dan ketika dia sadar, ternyata hari sudah malam. Terdengar samar-samar suara binatang malam saling bersahutan.


Cakra Buana sama sekali tidak tahu saat ini dirinya berada dimana. Karena ketika dia dibawa oleh seseorang, dirinya sama sekali tidak sadar.


"Ah … kau sudah sadar. Syukurlah," kata seseorang yang tiba-tiba memasuki tempatnya berbaring.


Seseorang yang dimaksud tak lain adalah Ayu Pertiwi. Wanita itu lalu menghampiri Cakra Buana sambil membawa sebuah makanan yang dibungkus dengan daun pisang.


Ayu Pertiwi meletakkan makanan itu pada sebuah meja kecil bobrok yang berada dipinggir.


"Ah … ternyata kau yang sudah menyelamatkanku," kata Cakra Buana sambil mencoba untuk bangun.


"Sudah, jangan mencoba bangun. Lukamu belum sembuh total, sebaiknya tetap saja berbaring," ujar Ayu Pertiwi.


Cakra Buana tidak berani membantah. Dia juga memang merasakan bahwa tubuhnya masih sedikit ngilu dan lemas. Untunglah racunnya sudah tidak terasa sakit seperti sebelum dia pingsan.


"Kau makan saja dulu nasi ini. Mumpung masih hangat, aku tadi membelinya sengaja untukmu," kata Ayu Pertiwi sambil membuka makanan yang dibungkus oleh daun pisang itu.


Ternyata isinya berupa nasi dan ayam bakar. Makanan kesukaannya. Tapi bagaimana dia bisa makan jika bangun pun tidak boleh? Dia hanya diam saja tanpa bicara.


"Buka mulutmu. Biar aku suapi," kata Ayu Pertiwi.


"Tidak usah repot-repot. Aku bisa sendiri," ucap Cakra Buana berusaha untuk menolak.


"Sudah jangan membantah. Buka saja mulutmu," ucap Ayu agak sedikit memaksa.


"Ba-baiklah …"


Dengan malu-malu Cakra Buana menuruti perkataan Ayu Pertiwi. Gadis itu menyuapinya dengan lembut dan terasa penuh kasih sayang. Bahkan dari raut wajahnya saja terlihat bahwa dia sangat gembira mendapati Cakra Buana sudah sadar.


Kini Cakra Buana sudah menghabiskan makannya. Dia makan dengan lahap sekali. Selain karena memang lapar, diam-diam dia juga senang karena makannya disupai oleh seorang gadis cantik seperti Ayu Pertiwi.

__ADS_1


Bahkan jika makanannya masih ada, atau dia disuruh makan lagi, maka Cakra Buana pasti takkan menolaknya. Tangan lembut itu masih terasa saja ketika menyuapinya.


"Terimakasih kau sudah menyelamatkan aku Ayu. Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa bertemu denganku tadi?," tanya Cakra Buana sedikit kebingungan.


"Ketika kau pingsan, sebenarnya aku berada tak jauh darimu. Kira-kira jaraknya hanya sekitar dua puluh tombak. Akupun hanya diam saja menantimu, tapi melihat kau akan jatuh pingsan, maka aku dengan cepat turun dari dahan pohon kihujan untuk menyelamatkanmu. Saat ini kita sedang berada disebuah gubuk yang sudah tidak dipakai. Lebih tepatnya di desa Karang Asem," kata Ayu Pertiwi.


"Ah … sekali lagi aku haturkan terimakasih padamu Ayu. Hemmm … desa Karang Asem? Apakah tempatnya masih berdekatan dengan kadipaten Priangan?"


"Tidak. Ke kadipaten Priangan lumayan jauh. Kira-kira kadipaten Priangan berjarak tiga desa dari sini," kata Ayu Pertiwi.


"Ah … syukurlah. Ngomong-ngomong, berapa lama lagi jika kita ingin menunjukkan ke tempat gurumu?" tanya Cakra Buana lagi.


"Jika tidak ada halangan, kurang lebih satu minggu lagi kita akan sampai disana,"


"Hemmm … baiklah. Berarti kita harus mempercepat perjalanan supaya cepat sampai juga," tutur Cakra Buana.


"Sudah, sekarang kau istirahat saja dulu. Hari sudah malam. Kalau besok kau sudah sembuh, lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan. Karena sepertinya berita tentang kematian adipati Surya Wilaloni sudah menyebar luas," kata Ayu Pertiwi sambil berjalan keluar.


Cakra Buana mencoba untuk tertidur. Tapi bagaimanapun dia memejamkan matanya, tetap saja rasa ngantuk tidak mau menghampiri. Entah kenapa.


Apakah mungkin karena dia masih merasakan suatu hal dalam hatinya? Suatu kebahagiaan karena dia melihat betapa Ayu Pertiwi tadi menyuapinya makan? Entah, dia sendiri bingung.


Tapi harus Cakra Buana akui, bahwa hatinya merasakan hal lain ketika disuapi tadi. Dia merasa nyaman, merasakan kehangatan dan kasih sayang keluar dari Ayu Pertiwi. Bahkan senyumannya ketika menyuapi, tak pernah bilang dari bayangannya.


Senyumannya itu, lesung pipinya, ahhh … betapa indahnya.


###


Sementara itu ditempat lain, kabar tentang kematian adipati Surya Wilaloni beserta seluruh pengawal dan prajuritnya memang sudah menyebar. Bahkan sudah sampai ke berbagai daerah sekitar. Bagaimanapun juga, dia merupakan adipati, terlepas dari sikapnya yang lebih mirip seperti penjajah.


Kematian adipati menjadi berita hangat. Orang-orang begitu ramai membicarakan seorang pemuda bernama Cakra Buana yang membunuh adipati itu.


Entah darimana berita itu menyebar. Mungkin saja dari sosok yang sempat mengintip pertarungan Langlang Cakra Buana. Yah … bisa jadi.

__ADS_1


Memang begitulah, kejadian yang cukup menggemparkan selalu cepat tersebar dari mulut satu orang ke mulut orang lainnya. Kadang jika sudah tersebar luas, maka berita itu sudah hilang keasliannya.


Selain itu, berita tentang kemunculan Pedang Pusaka Dewa juga sudah tersiar luas. Apalagi pedang pusaka itu disebut-sebut dimiliki oleh pemuda yang bertarung dan membunuh semua orang-orang kadipaten.


nama Cakra Buana mulai terkenal. Terlebih bagi mereka golongan hitam yang mengincar pusaka keramat tersebut.


###


Kokok ayam hutan sudah berbunyi. Kicau busung pipit dan burung gereja pun sudah terdengar riang. Hari menunjukkan pagi, meskipun mentari belum bersinar sepenuhnya.


Cakra Buana semalaman tak bisa tidur, bahkan hingga sekarang ini. Walaupun dia sudah berusaha keras, tetap saja matanya tidak mau terpejam. Semalaman bayangan senyum Ayu Pertiwi tidak mau hilang dari pandangan.


Ternyata yang merasa seperti itu bukan hanya Cakra Buana saja. Ayi Pertiwi pun merasakan hal yang sama. Bayangan wajah Cakra Buana tak lepas dari penglihatannya. Apalagi ketika pemuda serba putih itu pingsan, walaupun wajah itu sedikit pucat, tapi ketampanannya tidak hilang sedikitpun.


Entah kenapa, ketika pemuda itu siuman, ada rasa bahagia dalam hatinya. Bukan bahagia seperti melihat sahabat yang menangis jadi tersenyum, ini lebih daripada itu. Apakah … dia sudah jatuh cinta? Ayu Pertiwi tidak mau memastikan hal itu.


Ketika dia melamun di ruang tamu pada sebuah kursi dari kayu tua, tiba-tiba Cakra Buana keluar dari kamarnya tanpa dia sadari. Bahkan langkah kakinya pun tidak terdengar.


"Heiii … pagi-pagi sudah melamun," kata Cakra Buana tiba-tiba membuyarkan lamunan Ayu Pertiwi.


Sontak saja secara refleks Ayu Pertiwi melompat dari kursinya. Jantungnya sedikit berdebar. Tapi ketika dia memandang Cakra Buana, jantungnya lebih berdebar lagi. Bukan karena kaget, bukan karena kesal, tapi ada hal lain.


"Ayu, apakah kau sudah sarapan?" tanya Cakra Buana.


"Su-sudah, eh be-belum," jawabnya gugup.


"Aishh … sudah atau belum? Yang benar yang mana?"


"Eh … belum. Ya … aku belum sarapan," katanya berusaha menutupi rasa malu.


"Hemmm … kalau begitu, ayo kita segera mencari sarapan dan melanjutkan perjalanan lagi," ajak Cakra Buana.


"Baiklah. Ayo," ucapnya masih belum berani memandang wajah Cakra Buana.

__ADS_1


__ADS_2