
Lagi-lagi tidak ada yang berani menjawab. Sepertinya mereka memang sengaja untuk memilih tidak membuka mulut. Sebab jika seseorang bicara saat marah, terkadang ucapan apapun yang keluar dari mulut orang lain, bisa selalu salah.
"Maaf Yang Mulia, hamba berkata demikian karena mempunyai alasan yang menurut hamba cukup kuat untuk dijadikan dasar," kata penasihat Wahyu Pamungkas.
"Benarkah? Katakan alasan apa itu," ucap Prabu Ajiraga, kali ini nada bicaranya mulai melunak.
"Benar, hamba mempunyai dugaan kuat. Salah satunya adalah laporan mereka terkait kematian Sepuluh Pendekar Saudara. Dari kejadian itu saja, sejujurnya hamba sudah tidak lagi mempercayai utusan Kerajaan Tunggilis itu. Laporan mereka dengan laporan telik sandi kita sangat bertolak belakang. Bahkan saat Pendekar Tangan Seribu bicara, hamba menangkap adanya kebohongan dalam ucapan itu,"
"Sikap keduanya pun sungguh mencurigakan. Mereka seperti memiliki maksud tersendiri. Selain itu, hamba juga tidak yakin dengan rekannya yang bernama Pendekar Tangan Seribu dan mengaku sebagai Jagat Sukma Pati itu. Hamba yakin, itu hanyalah nama samaran saja. Dan yang jelas, itu semua memang sudah direncanakan," kata penasihat Wahyu Pamungkas menjelaskan.
Saat ia bicara, tidak ada yang berani memotongnya. Bahkan Prabu Ajiraga pun terdiam dan mendengarkan dengan seksama. Semua orang yang ada di situ mengangguk sebagai tanda setuju, tak terkecuali dengan sang raja sendiri.
"Kau benar, perkataanmu memang masuk akal paman. Jadi, siapa sebenarnya Pendekar Bertopeng atau Jagat Sukma Pati itu?" tanya Prabu Ajiraga.
"Untuk itu, hamba belum mengetahui secara pasti. Namun yang jelas, membunuh sepuluh pendekar kerajaan bukanlah pekerjaan yang mudah. Siapapun dia, pasti orang itu berilmu tinggi," katanya.
"Apakah yang kau maksudkan bahwa Pendekar Bertopeng itu mempunyai ilmu yang sukar di ukur?" tanya sang prabu.
"Kemungkinan begitu," ucapnya.
"Kalau begitu, kira-kira apa motif di balik semua kejadian ini?"
"Entahlah. Yang jelas, ada rencana besar di balik semua ini,"
"Apakah ini artinya Kerajaan Tunggilis akan melakukan perlawanan kepada Kerajaan Kawasenan?" tanya seorang pendekar secara tiba-tiba.
"Mungkin, tapi aku tidak tahu pasti," jawab penasihat tua itu.
__ADS_1
"Baik kalau begitu, kalian segera cari Pendekar Tangan Seribu dan Pendekar Bertopeng itu. Mereka kemarin bicara akan menginap di penginapan terdekat yang ada di kotaraja. Jadi kalian segera cari ke sana, kalau mereka tidak ada di sana, jelas mereka terlibat dala kejadian ini," tegas Prabu Ajiraga memberikan perintah.
"Perintah segera di laksanakan," jawab semua pendekar serempak.
Setelah selesai berkata demikian, mereka segera pergi dari ruangan itu. Kesebelas pendekar akan mencari Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.
'Katapangan, apakah semua ini memang sudah kau rencanakan? Kalau iya, sebenarnya apa yang kau mau?' batin Prabu Ajiraga bertanya-tanya atas semua kejadian saat ini.
###
Kesebelas pendekar Kerajaan Kawasenan sudah bergerak cepat. Mereka berpencar menjadi tiga kelompok. Seluruh penginapan dan restoran ternama yang ada di kotaraja, sudah mereka datangi. Namun sayangnya, apa yang mereka cari tidak ada. Usaha mereka sia-sia.
Senjata telah lewat. Kini digantikan dengan rembulan yang terang benderang. Kesebelas pendekar segera kembali ke istana karena mereka sudah mencari keberadaan Pendekar Bertopeng dan Pendekar Tangan Seribu ke semua tempat, namun hasilnya tetap saja nihil.
Salah seorang dari mereka segera memberikan laporan kepada Prabu Ajiraga. Saat mendengar laporan tersebut, kemarahannya yang sudah reda, kini bangkit kembali.
###
Di sana ada sebuah bangunan tua. Letaknya berada di bawah kaki sebuah bukit. Tak ada lagi bangunan selain bangunan tua tersebut. Sekelilingnya hanyalah pohon-pohon dan rumput ilalang yang memenuhi tempat itu.
Bangunan tua tersebut tidaklah besar, hanya sedang saja. Tapi walaupun begitu, keadaan di sana sangat bersih. Tak ada sampah berserakan, bahkan daun kering pun tidak ada.
Di dalam, ada dua orang pria tua sedang duduk di bangku dari tunggul kelapa dan meja bulat dari tunggul kayu sambil ditemani kopi pahit dan cemilan kecil. Keduanya tak lain adalah Jalak Putih dan Gagak Bodas. Dua pria tua itu merupakan malaikat penyelamat bagi Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.
Mereka merawat dua pendekar kerajaan itu secara ikhlas. Tadi begitu sampai di bangunan tersebut, Jalak Putih dan Gagak Bodas dengan segera menyalurkan tenaga dalam mereka ke Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu. Menurut keduanya, luka yang diderita dua pendekar itu sangat parah.
Kini mereka sudah selesai mengobati Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu. Keduanya saat ini masih dalam keadaan pingsan. Menurut perkiraan Gagak Bodas, 'pasien'nya akan sadar setidaknya nanti tengah malam.
__ADS_1
"Kakang, menurutmu karena masalah apa mereka sampai bertarung mati-matian seperti ini?" tanya Jalak Putih kepada Gagak Bodas.
"Entahlah rai, tapi sepertinya bencana besar akan segera terjadi," kata Gagak Bodas.
"Menurutku, untuk beberapa saat biarkanlah mereka berada di sini. Jangan biarkan mereka pergi kalau belum sembuh," ucap Jalak Putih.
"Aku setuju,"
"Tapi, bagaimana kalau pihak Kerajaan Kawasenan tahu?"
"Tidak mungkin. Kau tenang saja rai,"
"Kakang, kalau perang besar antara Kerajaan Kawasenan dan Kerajaan Tunggilis terjadi, kau akan memihak kepada siapa?" tanya Jalak Putih.
"Tentu saja aku akan memihak Kerajaan Tunggilis. Walaupun kita sudah lama di Kerajaan Kawasenan, tapi kita bukan asli orang sini rai. Toh sekalipun aku asli orang sini, aku tetap tidak akan memihak kepada Kerajaan Kawasenan. Kita sudah tahu bagaimana kelakuan pemerintahan sekarang. Bahkan aku sebenarnya sudah lama menanti perang yang diramalkan oleh guru kita akan segera terjadi itu," ucap Gagak Bodas.
"Kau benar. Bagaimanapun juga, kita harus tetap membela Kerajaan Tunggilis. Lagi pula, Prabu Katapangan bisa menjalankan tampuk pemerintahan dengan baik," kata Jalak Bodas
Untuk diketahui, Gagak Bodas dan Jalak Putih merupakan saudara seperguruan. Mereka berasal dari Kerajaan Tunggilis, mereka pindah dan berdiam di Kerajaan Kawasenan karena mengikuti gurunya yang bernama Resi Bungbulang.
Bahkan walaupun kini Resi Bungbulang sudah tiada, keduanya tetap saja tinggal di sana.
Jalak Putih dan Gagak Bodas sudah terkenal di kalangan dunia persilatan. Keduanya merupakan tokoh tua yang amat disegani. Baik itu lawan, maupun kawan. Dua saudara seperguruan itu tidak suka ikut campur masalah dunia luar. Kecuali hal-hal tertentu.
Mereka akan membantu orang-orang yang menurutnya memang harus dibantu. Mereka tidak suka memihak. Terlebih, keduanya tidak pernah melakukan kejahatan. Sehingga namanya cukup hari di mata rakyat Kerajaan Kawasenan.
Sebenarnya Jalak Putih dan Gagak Bodas pun memiliki perasaan yang sama dengan para tokoh dan pendekar beraliran putih lainnya. Yaitu mereka mempunyai cita-cita untuk menyatukan tanah Pasundan. Dan keduanya sangat tidak suka terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma.
__ADS_1
Karena itulah, diam-diam mereka suka menghalangi tingkah laku para pejabat istana yang terkadang suka memeras rakyat dengan cara mereka sendiri.