
Dan memang benar, kedua sosok tadi adalah dua datuk dari dunia persilatan. Nama mereka sudah terkenal ke seantero negeri. Kekejamannya bahkan mungkin mengalahkan Malaikat Pencabut Nyawa.
Keduanya berjalan berdampingan dengan santai. Setiap tanah bebatuan yang mereka pijak, meninggalkan jejak kaki yang cukup dalam. Keduanya sengaja memamerkan ilmunya untuk menakuti lawan.
Kera Gila, kali ini dia datang dengan penampilannya yang berbeda daripada yang lain. Tubuhnya yang dipenuhi bulu dan selalu gatal, hanya mengenakan pakaian robek berwarna kuning cokelat agak lusuh. Di tangan kanannya terdapat sebuah tongkat kayu mengkilap.
Sedangkan Raja Sembilan Nyawa datang dengan pakaiannya merah darah. Kepalanya diikat kain sutera hitam. Penampilannya terlihat sangat gagah dan angker. Matanya tajam seperti mata elang. Alisnya panjang tebal mirip golok. Di usia tuanya, bahkan dia masih terlihat gagah.
Dia datang tanpa membawa senjata karena memang keahliannya memainkan jurus tangan kosong. Namun jangan salah, kedua tangan itu mampu mematahkan baja sekalipun.
Keduanya berhenti di depan Prabu Katapangan dalam jarak lima belas langkah. Prabu Katapangan sendiri berdiri persis di samping Cakra Buana. Pendekar Maung kulon itu saat ini sedang bersemdi mengembalikan tenaganya yang hilang.
Prabu Katapangan buru-buru mengambil Tongkat Dewa Batara supaya tidak di ambil oleh musuh.
"Hehehe, ternyata di sini baru saja selesai sebuah pertunjukan yang hebat," kata Raja Sembilan Nyawa sambil tertawa.
"Mau apa kalian datang kemari?" tanya Prabu Katapangan.
"Kau sudah tahu tujuan kami. Untuk apa masih pura-pura bertanya?" kata Kera Gila sambil menggaruk-garuk tubuhnya.
"Selama aku masih hidup, jangan harap kalian bisa memiliki Tiga Pusaka Legenda ini," kata Prabu Katapangan.
"Benarkah? Hemm, jangan serakah. Berikan saja Pedang Pusaka Dewa kepada kami. Sisanya buat kau saja," kata Kera Gila sambil mengejek.
"Aku akan memberikannya padamu. Dengan syarat kau harus mati terlebih dahulu ditanganku," kata Prabu Katapangan lalu menyerang Kera Gila.
Panah Raden Arjuna sudah ia taruh di punggung, dia menyerang dengan Tongkat Dewa Batara. Walaupun bukan ahli tongkat, setidaknya dia bisa memainkan beberapa jurus tongkat karena pernah di ajarkan oleh gurunya dulu.
Tongkat pusaka itu dia sabetan dari bawah ke atas. Sabetannya membawa kesiur angin dingin sekuat badai. Kera Gila bukanlah sembarangan tokoh, dia sudah lama menjadi datuk rimba hijau. Maka ketika serangan tersebut mengarah kepada dirinya, dia hanya cukup menyilangkan tongkat saktinya di depan.
"Trangg …"
Kedua tongkat itu berbenturan hingga membuat seluruh bagian tongkat bergetar. Kera Gila menghentakkan tongkatnya menyerang balik sehingga membuat Prabu Katapangan terpundur tiga langkah.
Keduanya lalu bertarung kembali setelah berhenti beberapa saat. Kali ini Kera Gila menyerang lebih dulu. Jurus-jurus tongkatnya yang hebat sudah dia keluarkan. Pertarungan baru berlangsung beberapa jurus saja, tapi pertempuran tersebut sudah menyita perhatian banyak pendekar.
__ADS_1
Di sisi lain, Raja Sembilan Nyawa melihat kesempatan emas. Dia menyaksikan bahwa Cakra Buana sedang berada dalam semedinya sehingga dia tidak mendengar apapun sebab lukanya cukup dalam, jadi dia harus benar-benar berkonsentrasi.
Di saat itulah Raja Sembilan Nyawa menghentakkan kakinya mecelat ke arah Cakra Buana. Tangan kanannya dia julurkan berniat menyerang Cakra Buana dengan tapak.
Dari telapak tangan itu muncul serangkum tenaga yang dahsyat siap untuk membunuh Cakra Buana.
Tetapi tepat saat jaraknya sudah dekat, dari arah sebelah kiri tiba-tiba ada serangkum angin dingin yang menebarkan hawa pembunuhan sedang melesat ke arahnya.
Raja Sembilan Nyawa tersentak, terpaksa dia menangkis serangan tersebut dengan cara mengibaskan tangan kanannya yang tadi sudah di aliri tenaga dalam.
"Wushh …"
"Blarr …"
Benturan jurus terjadi. Raja Sembilan Nyawa sudah kembali lagi ke tempat semula. Wajahnya menatap arah datangnya angin tadi. Tak lama, dia melihat dua orang kakek tua bersenjata kipas dan tongkat sedang berjalan santai ke arahnya.
"Kau …" kata Raja Sembilan Nyawa agak kaget sambil menunjuk ke arah dua orang tersebut.
"Gagak Bodas dan Jalak Putih. Apakah kau masih kenal kepada kami berdua?" kata seorang tua sambil terus melangkah.
"Hemm, ternyata kalian berdua. Tak disangka kalian ada di sini juga," kata datuk rimba hijau itu.
"Tidak usah banyak mulut. Jangan harap kau bisa melukai anak itu selagi kami dua saudara seperguruan masih bernafas," kata Jalak Putih.
"Baik, kalau begitu biar aku lukai dulu kalian berdua," kata Raja Sembilan Nyawa.
Dia mengirimkan pukulan jarak jauh. Sinar berwarna merah darah melesat ke arah Jalak Putih dam Gagak Bodas.
Tapi kedua kakek tua itu bukanlah pendekar sembarangan, kekuatannya jarang ada yang mengalahkan jika mereka sudah bersatu seperti ini.
Dengan gerakan sederhana, Jalak Putih sudah mengibaskan kipas saktinya sehingga serangan lawan berbelok arah mengenai tempat kosong.
"Blarr …"
Benturan jurus itu menimbulkan suara ledakan sehingga membuat bebatuan hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Belum habis efek ledakan tadi, tubuh Raja Sembilan Nyawa sudah meluncur ke depan. Tanpa sungkan lagi, serangan pukulan sudah dia lancarkan dengan ganas.
Gagak Bodas dan Jalak Putih tidak mau tinggal diam, mereka tahu siapa yang jadi lawannya saat ini, jadi keduanya tidak lagi main-main.
"Srett …"
"Sringg …"
Kipas maut sudah dikembangkan. Pedang yang tajam sudah keluar dari sarung. Dalam satu tarikan nafas, dua saudara seperguruan itu sudah membalas serangan Raja Sembilan Nyawa.
Kipas milik Jalak Putih menggebu setiap kali di kibaskan. Pedang milik Gagak Bodas mendesing tajam setiap kali di ayunkan. Dua buah senjata pusaka menggempur Raja Sembilan Nyawa.
Tetapi dengan kekuatan sempurna, datuk rimba hijau itu masih bisa menghindari serangan lawan dengan entengnya.
Sementara itu, Prabu Katapangan masih bertarung sengit melawan Kera Gila. Tongkat Dewa Batara memang benar-benar ampuh. Beberkali tongkat itu menghancurkan tempat sekitar karena serangannya yang meleset, bahkan Kera Gila pun sudah merasakan bagaimana saktinya tongkat tersebut.
Untung bahwa dia merupakan datuk rimba hijau, sehingga walaupun tubuhnya sudah merasakan pusaka legenda itu, dia masih tetap bertahan bertahan walaupun harus menahan rasa sakit.
Sekarang giliran Kera Gila yang berada dalam posisi menyerang. Ujung tongkat pusakanya bergetar sehingga menjadi beberapa bayangan. Dengan gerakan singkat, dia menyodok tongkat itu ke bagian perut. Begitu dekat, tongkat itu justru berubah arah menjadi ke atas mengincar dagu.
"Trangg …"
Tongkat Dewa Batara telah menahan senjata lawan.
"Bukk …"
Prabu Katapangan mengirimkan tendangan yang tepat mengenai dada Kera Gila. Datuk dunia persilatan itu tidak menyangka sama sekali, sehingga dia tidak sempat menahan tendangan tersebut.
Akibatnya, dia terpental hingga enam langkah. Namun begitu posisinya sudah kembali, manusia aneh itu segera menyerang lagi. Tongkatnya dia putarkan seperti kincir. Setiap putarannya membawa deru angin yang dahsyat.
Dengan gerakan kilat, dari putaran angin tersebut meluncur serangkum tenaga dalam tinggi.
"Wushh …"
"Bagus. Aku sudah menunggu saat seperti ini," kata Prabu Katapangan penuh semangat.
__ADS_1