Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Latar Belakang Singkat Bidadari Tak Bersayap


__ADS_3

"Kakang, apakah kau tidak ingin mengetahui latar belakangku?" tanya Bidadari Tak Bersayap memecah keheningan setelah suasana di antara mereka sedikit kaku karena kejadian Cakra Buana yang salah minum arak.


Sebelum menjawab pertanyaan gadis cantik itu, Cakra Buana menghela nafas dalam. Bahkan sedalam mungkin, kalau dia bisa menghirup nafas seisi bumi, mungkin dia akan menghirupnya supaya terlepas dari belenggu buyutnya malu.


"Tidak, aku tidak ingin berlaku kurang ajar. Bagaimanapun juga, itu pribadimu. Rasanya kurang pantas kalau aku langsung menanyakan latar belakangmu. Apalagi kita baru bertemu dan baru kenal sekarang," ucap Cakra Buana.


Entah kenapa, setelah menghirup nafas, rasa malunya perlahan mulai lenyap. Bahkan rasa gugupnya juga hilang.


Bidadari Tak Bersayap diam-diam memuji Cakra Buana. Walaupun pemuda tampan itu kadang bersifat konyol, tapi sopan santunnya masih dia terapkan.


"Tapi, wajahmu jelas menggambarkan rasa penasaran terhadap diriku," katanya sambil memandang wajah Cakra Buana.


"Mungkin memang aku penasaran. Tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, aku tidak mau berlaku kurang ajar," jawab Cakra Buana tetap pada pendiriannya.


"Kalau aku bersedia untuk menceritakannya tanpa kau minta, apakah kau bersedia?" tanya Bidadari Tak Bersayap sambil menatap penuh selidik.


"Kalau itu, dengan senang hati aku akan mendengarkannya,"


"Baiklah. Aku akan menceritakannya secara singkat," kata Bidadari Tak Bersayap.


Sinta Putri Wulansari mulai menceritakan latar belakangnya secara singkat, di mana gadis itu merupakan yatim piatu semenjak kecil. Keluarganya tewas dalam sebuah peristiwa yang menimpa kampungnya.


Ayah ibu Sinta tewas di bunuh oleh segerombolan perampok. Bahkan yang paling menyedihkan serta menyayat hati adalah bahwa ibunya di perkosa lebih dulu sebelum kemudian dibunuh.


Yang paling parah lagi, bahkan perbuatan bejat tersebut dilakukan di depan anak serta suaminya. Ketika itu umur Bidadari Tak Bersayap masih terbilang kecil. Paling baru berumur sekitar sepuluh atau sebelas tahun saja.


Semenjak kejadian tersebut, gadis cantik itu sempat terlunta-lunta sehingga pernah diganggu oleh pria hidung belang bersifat keji.


Untung bahwa ada seorang wanita sakti yang menyelamatkan dirinya dan bahkan mengangkat dia sebagai murid hingga kemudian hari.


Semenjak itu, Sinta Putri Wulansari selalu mengikuti ke mana pun gurunya pergi. Dia di latih silat dari semenjak diterima menjadi murid.


Di latih keras selama kurang lebih sepuluh tahun, Sinta tumbuh menjadi sosok gadis yang memiliki kekuatan sakti. Dia dikenal dengan pendekar wanita hebat dan pembela kebenaran.

__ADS_1


Semenjak berusia delapan belas tahun, gurunya memerintahkan untuk turun gunung dan menjalankan tugasnya sebagai pendekar pembela kebenaran. Setahun sekali dia pulang ke tempat kediaman gurunya sekedar menengok serta melakukan hal lainnnya.


Termasuk menyempurnakan ilmu yang sudah dia miliki. Bahkan menurut ceritanya, sang guru yang juga waktu mudanya merupakan pendekar wanita sakti, menurunkan semua kepandaian yang dia miliki kepada Sinta Putri Wulansari, murid tunggalnya.


Semenjak semua ilmu sudah dia terima, gadis cantik itu kembali turun gunung. Entah sudah berapa banyak perbuatan baik yang telah dia lakukan. Hanya saja, terkenalnya gadis tersebut memang belum lama belakangan ini.


Menurut pengakuannya juga dia merupakan keturunan asli Pasundan, akan tetapi karena ibunya dari Tanah Jawa, maka kemudian dia berpindah tempat.


Sepanjang pengembaraannya, Sinta selalu berusaha mencari siapa pelaku yang dulu telah mendatangkan malapetaka terhadap keluarganya. Sayang, sampai saat ini pelaku belum juga berhasil dia temukan.


Karena merasa sudah lama tidak kembali, akhirnya gadis tersebut memutuskan untuk pulang ke tempat gurunya menyepi. Tapi di tengah jalan, Bidadari Tak Bersayap bertemu dengan pasangan guru dan murid.


Guru dari murid yang merupakan pemuda itu mengatakan bahwa si murid menyukai dirinya. Tapi Sinta menolak karena dia sama sekali belum berpikir untuk menikah.


Tak nyana, ternyata dua orang itu kenal dengan gurunya sendiri. Bahkan mereka berdua pernah mengatakan kalau sampai tidak mau menerima "lamaran", maka nyawa gurunya berada dalam bahaya.


Tentu saja dia tidak khawatir sama sekali. Karena gadis itu tahu sampai di mana ketinggian ilmu yang dimiliki sang guru.


Namun betapa kagetnya dia ketika sampai di tempat kediaman gurunya, ternyata beliau sudah berada dalam keadaan sekarat. Kondisinya benar-benar mengkhawatirkan.


Masih untung bahwa sebelum tiba kematiannya, guru dari gadis itu sempat memberikan wasiat dan menyuruhnya untuk membalaskan dendam atas kematiannya.


"Jadi, apakah salah satu alasan kau turun gunung karena hal itu? Kau ingin membalaskan dendam gurumu?" tanya Cakra Buana yang merasa sedih setelah mendengar cerita singkat Bidadari Tak Bersayap.


"Benar. Walaupun aku bukan lawan guru dan murid itu, tapi perintah guru harus tetap aku laksanakan. Aku rela kehilangan nyawa asalkan salah satu di antara mereka tewas. Bahkan kalau bisa tewas keduanya, aku sangat senang. Dan pasti, di alam nirwana guruku akan sangat bangga," katanya sambil menahan air mata yang akan menetes.


"Apakah kau sudah mengetahui siapa dan di mana tempat persembunyian guru dan murid itu?" tanya Cakra Buana.


"Tidak. Tapi yang jelas, akhir-akhir ini mereka terus mengejarku dan memaksa supaya aku menjadi istrinya,"


"Apakah kemarin juga kau sedang di kejar?" tanya Cakra Buana.


"Benar. Tapi untungnya aku berhasil melarikan diri dari mereka,"

__ADS_1


"Kalau mereka menemukanmu?"


"Tentu saja aku akan menghindar lagi, karena sekarang belum saatnya untuk membalas dendam. Aku harus mematangkan semua ilmuku dulu," jawab Bidadari Tak Bersayap sungguh-sungguh.


Ketika Cakra Buana dan si gadis sedang berbicara, tiba-tiba saja telinga Sinta Putri mendengar derap langkah kuda.


Wajahnya panik. Dia mengenali suara tersebut. Maka sebelum langkah kudanya semakin mendekat, Bidadari Tak Bersayap sudah undur diri dari hadapan Cakra Buana.


"Kakang, suatu saat kita akan berjumpa lagi. Terimakasih atas kebaikanmu, aku harus pergi sekarang. Ada suatu masalah mendadak yang menghampiriku," katanya dengan terburu-buru.


Tanpa menunggu jawaban Cakra Buana, Bidadari Tak Bersayap sudah lebih dulu pergi dari tempatnya. Hanya dalam sekejap mata, gadis itu telah lenyap dari hadapan Pendekar Tanpa Nama.


Bahkan bayangan atau jejaknya saja tidak terlihat sama sekali.


Cakra Buana diam-diam memuji ilmu meringankan tubuh gadis itu yang ternyata sudah sangat tinggi.


"Hemm, siapa guru dan murid itu. Kalau sampai dia melarikan diri, itu artinya kepandaian mereka tidak terukur lagi. Lalu, masalah apa pula yang mendadak menghampirinya?"


Cakra Buana bertanya kepada dirinya sendiri. Berbagai macam pertanyaan yang sulit mendapatkan jawaban mulai terngiang di telinganya.


"Apakah yang dia maksud adalah si guru dan murid? Hemm, kalau benar, maka ini akan berbahaya. Nyawa gadis itu berada dalam bahaya, aku harus menyelamatkannya. Bagaimanapun, aku harus menemukannya," gumam Cakra Buana penuh semangat.


Dia bangkit dari duduknya. Arak dalam kendi segera dia habiskan. Setelah membayar biaya makan dan minum, Cakra Buana segera melesat mencari jejak Bidadari Tak Bersayap.


Setelah hampir satu tahun dia hidup di alam liar bersama binatang, hal ini ternyata mendatangkan keuntungan bahwa dia bisa mengejar seseorang hanya berasa dari baunya saja.


###


Aku baca komentar di eps sebelumnya, nyampe ngakak wkwkwk. Terimakasih yang sudah berkomentar, semoga tidak bosan dengan perjalanan Cakra Buana ya.


Yah, beginilah si Penulis Astral ini wkwk. Apapun yang terlintas, selalu dituangkan, dengan catatan tidak keluar tema.


Maaf ya gabisa balas satu-satu komentarnya. Intinya, author sangat berterimakasih.

__ADS_1


Jangan lupa kopinya☕


__ADS_2