Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Hutan Larangan IV


__ADS_3

Kedua pendekar kelas atas tersebut saling pandang. Walaupun mulut mereka tidak berkata, tapi mata mereka telah bicara.


Keduanya merasakan hal yang sama. Dua pendekar muda di hadapannya, jelas bukan seorang pendekar sembarangan. Baik si wanita maupun si pria, menurut mereka berdua, semuanya memiliki kemampuan di jauh atas pendekar muda pada umumnya.


"Bocah, siapa kalian sebenarnya?" tanyanya sekali lagi kepada Pendekar Tanpa Nama.


"Bukankah jawabannya sudah aku berikan? Apakah kurang jelas?"


Cakra Buana sengaja memancing emosi kedua lawannya. Tanpa sadar, pemuda itu mendapatkan sebuah ilmu baru.


Jika kau akan melakukan pertarungan, maka usahakan untuk bisa menguasai emosi musuh terlebih dahulu. Kalau emosinya sudah berhasil kau pegang, maka kemenanganlah yang akan kau raih.


Sebab di saat manusia sedang dalam keadaan emosi dan tidak bisa mengontrolnya, biasanya apapun yang dia lakukan tidak akan memakai perhitungan.


Semua yang dilakukannya hanya merupakan pengaruh karena emosi itu sendiri.


Orang hebat adalah dia yang mampu mengendalikan emosinya sendiri.


Mau bagaimanapun seseorang, jika dia belum bisa mengendalikan emosi, maka orang tersebut rasanya belum pantas untuk disebut sebagai orang hebat.


Lalu, bagaimana cara mengendalikannya? Setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda.


Kedua pendekar Organisasi Tengkorak Maut bertambah marah saat mereka mendapatkan jawaban tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.


Amarahnya semakin berkobar seperti sebuah lahar dalam perut bumi. Wajah mereka bahkan memerah bak kepiting rebus saking marahnya.


"Bangsat. Dua bocah bau kencur yang sangat sombong. Hari ini kalau bukan kami yang mati, maka kalian yang akan mampus," bentak salah seorang pendekar.


Mereka berniat untuk mengadu jiwa.


Mendengar ucapan musuh, baik Cakra Buana maupun Sinta Putri, keduanya merasa senang. Karena memang ucapan itulah yang sedang mereka tunggu-tunggu.


"Baik, kami setuju. Jangan sampai melarikan diri seperti pengecut," bentak Bidadari Tak Bersayap.


"Justru yang harusnya berkata seperti itu adalah kami kepada kalian. Awas saja kalau menangis merengek minta ampun," ejeknya kepada sepasang kekasih tersebut.


"Hahaha, baik, baik. Kami tidak akan merengek meminta ampun kepada kalian,"


"Bagus. Mari kita mulai bocah laknat,"

__ADS_1


Keduanya bersiap mengumpulkan tenaga dalam. Setelah terkumpul, mereka langsung melesat ke arah Cakra Buana dan kekasihnya.


Dua serangan keras dari dua pendekar kelas atas hampir tiba. Sebuah pukulan mengincar jantung Pendekar Tanpa Nama. Dan satu lagi, sebuah hantaman tapak mengincar ulu hati Bidadari Tak Bersayap.


Pendekar muda yang merupakan sepasang kekasih telah siap. Mereka menangkis serangan lawannya masing-masing dengan mudah.


Namun kali ini tidak ada lagi kejadian meringis menahan sakit. Sebab kedua lawan sudah mengeluarkan kekuatannya sampai ke titik puncak.


Sebaliknya, giliran Cakra Buana dan Sinta Putri yang merasakan tangannya kesemutan seperti tersetrum. Mereka belum menyadari bahwa dua lawan telah berlalu serius.


Setelah mengetahui bahwa dua pendekar kelas atas serius, maka Cakra Buana dan Sinta Putri pun melakukan hal yang sama.


Bidadari Tak Bersayap mengeluarkan tenaga dalam dan hawa saktinya. Udara di sekitar gadis itu menjadi terasa panas seperti dibakar.


Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan dua hawa yang berbeda sekaligus. Rasa dingin dan panas menyelimuti area sekitarnya.


Keadaan di sekitar menjadi berubah hanya dalam waktu sekejap mata. Empat pendekar sudah mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya.


Hanya saja, tanpa diketahui oleh dua pendekar Organisasi Tengkorak Maut, Cakra Buana dan Sinta Putri belum mengeluarkan kekuatannya sampai ke titik puncak.


Keduanya hanya mengeluarkan sekitar delapan puluh persen kekuatannya saja. Selain masih banyak urusan, mereka juga memerlukan tenaga untuk bertahan dari segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya.


Kali ini giliran Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap yang menyerang lebih dulu.


Lawan yang menjadi sasaran Pendekar Tanpa Nama tidak tinggal diam. Dia menggerakkan tangannya mengeluarkan jurus yang dimiliki.


Dua tangan itu menahan serangan Cakra Buana. Benturan terjadi, pendekar kelas atas tersebut terdorong dua langkah ke belakang.


Tak berhenti sampai di situ saja, Pendekar Tanpa Nama langsung melancarkan serangan berikutnya. Serangkaian pukulan dia keluarkan lalu disambung dengan jurus Harimau Mencabut nyawa.


Kedua tangan yang tadinya sudah keras itu, kini bertambah keras di saat mengeluarkan jurus tersebut. Kuku ghaib mendadak muncul di sepuluh jari tangan Pendekar Tanpa Nama.


Serangkaian serangan dia lancarkan kembali kepada lawannya. Kesiur angin berhawa panas dan dingin bercampur menjadi satu.


Kalau lawannya pendekar kelas menengah, mungkin dia sudah tewas berkali-kali sejak tadi.


Untung bahwa yang menjadi lawan Cakra Buana adalah pendekar kelas atas. Pendekar tua yang telah malang melintang di dunia persilatan.


Mendapati rangkaian serangan maut seperti itu, dia juga turut mengeluarkan jurusnya yang tidak kalah hebat.

__ADS_1


Kedua tokoh telah bertarung sengit. Jurus demi jurus sudah mereka keluar dan benturkan dengan lawan. Lima belas jurus berlalu, keadaan masih tetap imbang.


Walaupun Cakra Buana menang seurat, tapi pengalamannya dalam pertarungan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan lawannya kali ini.


Benturan dahsyat terus terdengar mewarnai sepinya hutan. Bentakan dari mulut terdengar mengiringi setiap serangan.


Cakra Buana berputar sambil melancarkan serangkaian cakaran hebat. Sinar biru dan merah berkelebat setiap kali dia menggerakkan tangannya.


Si tokoh tua tidak mau kalah. Dia memiringkan badan atau kadang melompat untuk menghindari serangan Pendekar Tanpa Nama.


Tiga puluh jurus berlalu. Cakra Buana mulai terlihat berada di atas angin.


Dia mengubah gaya serangan dan gubahan jurusnya.


Kali ini, jurus ketiga dari 7 Jurus Naga dan Harimau yang dia keluarkan.


"Naga Terbang di Angkasa …" teriak Cakra Buana sekeras mungkin.


Karena menurut kitab yang dia pelajari, jika mengeluarkan rangkaian 7 Jurus Naga dan Harimau sambil berteriak, maka tenaga yang akan terhimpun dan jurus yang akan keluar, akan semakin bertambah kedahsyatannya.


Dan Cakra Buana melakukan hal itu sekarang.


Pendekar Tanpa Nama berlari mengelilingi musuhnya. Kakinya tidak menapak ke tanah setinggi satu jengkal. Gempuran serangan yang dia berikan jauh lebih hebat dan dahsyat.


Pemuda itu layaknya seekor naga yang sedang mengamuk di angkasa. Dengusan nafasnya membawa hawa panas.


Lawan Cakra Buana semakin kewalahan. Seumur hidupnya, baru kali ini dia mengetahui ada jurus seperti sekaran.


Ke mana pun dia bergerak, lawan selalu dapat menebak sebelum dia mengambil tindakan. Semua ruang gerak tertutup dapat.


Mencapai jurus kelima puluh, sepak terjang Pendekar Tanpa Nama bertambah gesit.


Gerakannya semakin cepat sehingga membuat bingung lawannya. Tepat pada jurus kelima puluh tiga, sebuah hantaman telapak tangan dengan telak mengenai jantung lawan.


"Bukkk …"


Pendekar Organisasi Tengkorak Maut terpental jauh ke belakang hingga menabrak pohon.


"Hoekk …"

__ADS_1


Orang tua itu memuntahkan darah segar. Tubuhnya langsung pucat pasi lalu ambruk dan tidak bergerak lagi.


Mati.


__ADS_2