
Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu sudah menempuh dua hari perjalanan. Saat ini kedua orang tersebut sedang berjalan ringan di sebuah hutan.
Kondisi saat ini sedang malam bulan purnama. Rembulan bersinar terang menyinari bumi. Menebarkan baru harum semerbak dari bunga-bunga yang mekar. Memberikan kesejukan dan kenyamanan bagi siapapun.
Menurut Pendekar Tangan Seribu, jarak mereka untuk ke Perguruan Merpati Wingit tidaklah jauh. Setidaknya, hanya perlu waktu satu jam pun mereka akan segera tiba di sana.
Saat mereka sedang berjalan dengan santai, tiba-tiba telinga tajam Cakra Buana mendengar adanya orang di depan sana. Dia segera memberikan isyarat kepada Pendekar Tangan Seribu untuk tidak bersuara.
"Apakah ada orang di depan sana?" tanya Pendekar Tangan Seribu.
"Ada, mereka kurang lebih enam orang. Lima orang berseragam serupa, sedangkan satu lagi berbeda,"
"Siapa mereka itu?"
"Aku belum tahu. Tapi kita akan segera mengetahuinya," kata Cakra Buana.
Dia segera melihat tajam ke depan sana. Ajian Dewa Sapta Pangrungu dia keluarkan sehingga Cakra Buana bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.
Di depan sana …
"Apakah tugas yang sebelumnya aku berikan berhasil kau jalankan?" tanya seorang tua bertampang seram.
"Sudah tuan. Orang itu telah tewas, dan aku mengatakan kepada semua orang Perguruan Merpati Wingit bahwa sahabatnya, si Pendekar Tangan Seribu adalah orang yang telah membunuhnya," jawab seseorang dengan pakaian putih berlambang burung merpati di punggungnya.
"Bagus. Lalu apakah kau sudah menemukan Kitab Selayang Jagad milik perguruan itu?"
"Kalau ini belum. Aku masih harus mencari di mana tempat menyimpan kitab tersebut," jawab orang yang diduga merupakan berasal dari Perguruan Merpati Wingit.
"Hemm, baiklah. Dalam satu minggu ke depan, aku akan menemuimu di sini lagi dan menanyakan hasil kerjamu. Kau gunakan bubuk Racun Ular Gunung ini. Taruh di makanan para guru. Kau harus menewaskan beberapa orang lagi dari mereka supaya orang-orang kita bisa masuk dan menyamar ke sana," kata orang tua tadi sambil memberikan kantong kulit kecil yang diduga berisikan racun.
"Baik tuan. Aku pamit undur diri, aku takut orang-orang di sana mencariku,"
"Baik, kau pergilah," kata si orang tua tersebut.
Orang itupun segera pergi, sedangkan lima orang tersebut masih berdiri di sana.
"Tuan, apakah dia akan berhasil?"
__ADS_1
"Semoga saja. Kalau dia berhasil, maka kita bisa mendapatkan Kitab Selayang Jagad dan akan mampu merebut perguruan itu," jawab si orang tua.
Di sisi lain, sepanjang Cakra Buana mendengarkan pembicaraan orang-orang tersebut, dia selalu menuturkannya kembali kepada Pendekar Tangan Seribu. Apa yang mereka bicarakan, itu juga yang Cakra Buana katakan.
Tidak ditambah, apalagi dikurangi.
Karena alasan itulah Pendekar Tangan Seribu semakin yakin bahwa orang tadilah yang sudah memfitnah dan berkhianat kepada Perguruan Merpati Wingit.
"Pangeran, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kita harus tahu siapa lima orang tersebut," jawab Cakra Buana singkat.
Baru saja kata-katanya selesai, tubuhnya sudah melesat dan mendarat di hadapan lima orang tadi. Tak berapa lama, Pendekar Tangan Seribu pun sudah tiba di sana.
"Siapa kalian?" tanya seorang di antara mereka berlima kepada Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Justru kami yang harus tahu siapa kalian ini," bentak Pendekar Tangan Seribu.
"Hemm, dua manusia yang sombong," katanya.
"Dua manusia sombong lebih baik daripada enam manusia iblis yang berniat meracuni orang," ucap Cakra Buana.
Wajahnya menggambarkan kekesalan, tapi hatinya sedikit terkejut juga. Sebab sedari tadi dirinya tidak merasakan ada orang yang menguping, tapi entah bagaimana pendekar asing itu dapat mengetahui pembicaraan mereka.
"Katakan siapa kau sebenarnya? Kalau memang ada nyali, buka cadarmu," bentak orang tua itu kepada Cakra Buana.
Perlu diketahui bahwa setelah dia melakukan pengembaraan ke sana kemari, Cakra Buana memang sedikit mengubah penampilannya. Sekarang dia selalu memakai cadar putih dan bahkan kadang-kadang selalu menggunakan caping dengan pedang yang tetap tersoren di punggungnya.
"Kau belum pantas untuk tahu siapa aku sebenarnya," jawab Cakra Buana dengan tenang.
"Kurang ajar," bentak orang itu.
"Pangeran, apa yang harus aku lakukan?" tanya Pendekar Tangan Seribu berbisik.
"Kau pergilah. Kejar orang tadi, biar kelima orang ini aku yang mengurusnya," kata Cakra Buana.
"Baik. Aku percaya kepadamu,"
__ADS_1
Setelah bicara seperti itu, tubuhnya segera melesat secepat mungkin mengejar orang tadi. Salah seorang di antara kelimanya ingin menahan, tetapi Cakra Buana lebih dulu menghadangnya.
"Sepertinya kau memang cari mati," kata salah seorang lalu kemudian mencabut pedangnya.
Bersamaan dengan itu, tiga orang lainnya segera mencabut pedangnya pula. Sedangkan si orang tua yang diduga pemimpin mereka, masih berdiri dengan tenang.
"Silahkan saja kalau memang kalian mampu," ejek Cakra Buana.
Mendapat ucapan seperti barusan, wajah keempat orang tersebut segera merah padam. Sinar matanya semakin tajam berkilat di bawah gelapnya malam. Tanpa basa-basi lagi, mereka segera menyerang Cakra Buana dengan gerakan serempak.
Sinar pedang segera menyelimuti tempat sekitar. Angin dingin terasa menusuk tulang Cakra Buana.
Empat serangan berupa sabetan dan tusukan datang secara bersamaan. Serangannya cukup cepat, tapi Cakra Buana mampu menghindarinya lebih cepat lagi.
Melihat bahwa musuhnya dapat menghindari serangan dengan mudah, keempat orang itu semakin yakin bahwa pendekar yang sedang mereka hadapi mempunyai kekuatan yang lumayan tinggi.
Tanpa sungkan lagi, serangan susulan datang kembali. Kali ini lebih cepat dan ganas daripada yang pertama tadi.
Cakra Buana tidak bisa untuk diam saja, segera tangannya memapak semua serangan yang datang itu. Hanya dengan gerakan singkat, pedang keempat orang tersebut langsung berbenturan dengan rekannya sendiri.
Mereka semakin geram, bentakan mulai terdengar keluar dari mulut mereka. Sabetan pedang semakin memburu. Tusukannya semakin dahsyat.
Cakra Buana mulai memberikan perlawanan lagi. Kaki tangannya berpindah posisi. Saat keempat serangan kembali memburu dirinya, dia hanya berputar di udara lalu kembali turun sambil memberikan tendangan berputar.
Keempat pendekar seketika terpental saat bagian tubuhnya terasa dihantam sebuah tenaga dahsyat.
Amarah mereka semakin memuncak. Jurus yang dikeluarkan olehnya pun semakin hebat. Mereka berharap dengan segenap kemampuannya ini mampu merobohkan pendekar asing tersebut.
Tapi Cakra Buana bukanlah orang lain. Jurus-jurusnya terdiri dari berbagai gerakan ganas yang sangat berbahaya.
Pukulan dan cengkeraman mulai membalas menyerang keempat pendekar. Tubuh Cakra Buana berubah seperti bayangan. Berbagai macam serangan sudah dia gelar. Hanya dalam hitungan menit saja, keadaan sudah berbalik.
Cakra Buana kini berada di atas angin. Saat mencapai sepuluh jurus kemudian, masing-masing keempat pendekar itu mendapat hantaman telak tepat dibagian dadanya.
Mereka terpental. Pedangnya terlepas dari genggaman. Darah segar segera keluar dari mulut mereka masing-masing. Untuk beberapa saat, keempatnya tak mampu lagi bertarung.
"Dengan kekuatan kalian yang segini saja bertekad untuk membunuhku? Hemm, apakah kalian mimpi?"
__ADS_1
Dengan nada dingin Cakra Buana mengejek mereka. Walaupun dalam hatinya terasa sangat kesal, tapi kini mereka tak sanggup lagi melanjutkan pertarungan.
Siapa sangka, di saat seperti itu tiba-tiba saja si orang tua sudah mencabut goloknya dan siap untuk menyerang Cakra Buana.