
Tokoh yang memegang pedang itu tersentak mendengar pertanyaan Cakra Buana. Tetapi itu hanya sekejap, karena saat berikutnya dia sudah sadar bahwa di sekelilingnya ada lima tokoh kelas atas lain yang siap memberikan bantuannya untuk menghabisi Cakra Buana.
"Aku akui, kalau hanya sendiri melawanmu, mungkin memang sangat sulit. Bahkan bisa dibilang mustahil. Karena aku sendiri mengagumi kekuatanmu anak muda. Tetapi bagaimana kalau kami bergabung untuk melawanmu?" tanyanya kepada Cakra Buana.
Kini giliran Pendekar Tanpa Nama yang sedikit tersentak. Dia sadar bahwa jika enam tokoh tersebut menyerangnya secara bersamaan, maka situasinya akan sulit. Mungkin jauh lebih sulit dari apa yang dia bayangkan.
Sebab hanya dengan tatapan mata saja, Cakra Buana mampu melihat bahwa keenam tokoh ini sepertinya sepadan dengan Empat Dewa Sesat. Walaupun dipastikan belum mampu melebihi musuh utamanya untuk itu, tetapi keenam pendekar tersebut sepertinya hanya berbeda satu tingkat saja di bawah Empat Dewa Sesat.
"Kalau kalian sudah tidak mempunyai rasa malu, silahkan saja maju bersamaan,"
"Hahaha …" seorang tokoh tua yang memegang gada tertawa puas. "Menurutmu apakah kami masih memikirkan rasa malu? Bagi kami, asalakan itu bisa membunuhmu, maka cara apapun akan dilakukan," katanya gembira.
"Baik, kalau begitu aku terima. Aku ingin melihat sampai di mana kemampuan kalian yang mengaku tokoh kelas atas di Tanah Jawa ini," kata Cakra Buana penuh keyakinan.
Sesaat sebelum dimulainya pertarungan, Cakra Buana sempat memikirkan jurus apa yang paling cocok untuk digunakan dalam pertempuran nanti.
Apakah jurus dari Kitab Maung Mega Mendung, jurus dari Kitab Dewa Bermain Pedang yang sempat dia pelajari sebelum awal pertama turun gunung, atau jurus lainnya yang dia dapatkan dari Ki Wayang Rupa Sukma Saketi dan Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat? Atau juga jurus pemberian pamannya, Prabu Katapangan Kresna?
Tidak, menurutnya semua jurus yang dia miliki sebelumnya tidak cocok untuk pertarungan kelas yang akan terjadi sebentar lagi ini. Jurus yang menurutnya paling cocok adalah warisan dari Pendekar Tanpa Nama.
Jurus dari Kitab 7 Jurus Naga dan Harimau serta Jurus 3 Pedang Kilat adalah jurus yang paling cocok. Bahkan sangat cocok.
Karena kalau melakukan pertarungan hidup dan mati, semuanya wajib di perhitungkan dengan matang. Jangan hanya asal mengeluarkan jurus saja. Tetapi kekuatan, ketepatan, dan kecepatan harus dia pikirkan juga. Dan semua itu, terkandung dalam jurus yang belum lama ini dia kuasai.
"Apakah kau sudah siap?" tanya seorang tokoh yang menggunakan dua pisau hitam.
"Sudah. Mari kita segera tentukan siapa yang akan segera pergi ke neraka," kata Cakra Buana dengan penuh persiapan.
"Sringg …"
Pedang Naga dan Harimau sudah dia cabut kembali dari sarungnya. Kilatan cahaya batang pedang sekejap membuat malam menjadi terang bagaikan siang hari.
__ADS_1
"Lihat pedang …"
Si tokoh tua yang bersenjatakan pedang sudah mencelat. Pedangnya entah sejak kapan dia loloskan. Pedang itu menusuk dengan sangat cepat dan mengandung kekuatan dahsyat.
Serangan pertama saja sudah demikian hebat, bagaimana kalau serangan selanjutnya? Berpikir sampai di situ, tanpa sadar sedikit tergetar juga hati Cakra Buana.
Pedang itu sudah tiba di hadapannya. Dan Cakra Buana pun sudah siap dengan segala kondisi. Dengan gerakan pelan tapi penuh pengarahan tenaga, dia mengangkat Pedang Naga dan Harimau.
"Trangg …"
Benturan pertama terjadi. Dua pedang menempel saling menyedot. Namun tidak lama, lima senjata lain sudah ikut andil menerjang tubuhnya.
Lima serangan berbahaya dari segala sisi sudah tiba. Cakra Buana tidak mau tanggung-tanggung lagi. Jurus hebatnya pun dia keluarkan walau pertarungan baru dimulai.
"Kilat Menyambar Bumi …"
"Wushh …"
Pedang Naga dan Harimau seketika lepas dari genggaman pedang lawan. Pedang pusaka tersebut sudah bergerak menghalau semua terjangan senjata kelima lawannya.
Enam tokoh kelas atas sudah mengeluarkan jurus dahsyat mereka. Hanya dalam beberapa jurus saja, Cakra Buana sudah berada dalam posisi terkepung.
Tubuhnya tertutup rapat oleh enam serangan lawan.
Tetapi walaupun begitu, dia sama sekali tidak merasa kesulitan. Justru semakin dikepung, maka kehebatan jurusnya semakin teruji.
Pedang Naga dan Harimau bergerak bagaikan hujan kilat yang terus menerus menyambar bumi. Kelebatan sinar putih tampak tiada hentinya membuat malam yang gelap menjadi terang.
Bentakan masing-masing pendekar mulai keluar. Enam senjata semakin hebat memberikan gempuran kepada Cakra Buana.
Pedang sudah menyabet ke tubuhnya. Begitupun dengan dua pisau, satu gada, dan tiga senjata lainnya. Tubuh Cakra Buana benar-benar terkurung rapat.
__ADS_1
"Hujan Kilat Sejuta Pedang…"
"Wushh …"
Tanpa diduga sebelumnya, Pendekar Tanpa Nama itu ternyata sudah benar-benar nekad. Jurus terkuat dari rangkaian 3 Jurus Pedang Kilat langsung dia lancarkan.
Cakra Buana sengaja melakukan hal ini supaya pertarungan cepat selesai. Selain itu, penulisnya juga sengaja supaya pembaca tidak terlalu bosan dan penasaran. Ya, meskipun rasa penasaran akan selalu menghampiri.
Karena mau bagaimana lagi, nasib menulis wuxia selalu seperti ini. Harus detail dan menggambarkan suasana. Bukan hanya pembaca yang lelah menunggu, penulisnya juga lelah mendeskripsikan setiap pertarungan.
Cakra Buana mengerti akan hal tersebut, maka tanpa banyak bicara lagi, gaya serangannya sudah berubah.
Dalam jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang ini, Cakra Buana lebih bertumpu kepada penyerangan daripada bertahan. Pertahanannya memang kosong, tapi mustahil bakal ada yang mampu menembusnya.
Walaupun ada, itu hanya menandakan bahwa lawannya benar-benar sakti.
Tubuhnya menghilang. Enam tokoh kelas atas tidak mampu melihatnya dengan jelas. Kalau ada pendekar lain yang melihat pertarungan ini, maka mereka akan mengira bahwa keenam tokoh itu sedang bertarung melawan hantu.
Ya, hantu. Cakra Buana memang berubah seperti hantu. Gerakannya sungguh cepat. Serangan yang datang sangat dahsyat.
Ledakan guntur terdengar dengan sangat jelas di masing-masing telinga keenam tokoh tua itu. Akibatnya serangan dan posisi bertahan mereka sedikit terganggu.
Tetapi enam tokoh ini berbeda dengan pendekar yang Cakra Buana lawan di hutan. Sehingga saat menyadari bahwa mereka telah terkena sihir karena diserang lewat batin juga, hawa saktinya segera keluar melindungi tubuh.
Pertarungan kembali berjalan dengan sangat seru. Pedang Naga dan Harimau memberikan sabetan dan tusukan yang dahsyat. Enam tokoh itu saling bantu satu sama lainnya untuk menghindari semua serangan Cakra Buana.
Pertarungan baru sekejap. Tetapi ketujuh pendekar sudah bertempur lebih dari dua puluh jurus.
Cakra Buana masih berada di atas angin. Semakin lama, Pendekar Tanpa Nama itu semakin mengerikan. Sepak terjangnya mampu membuat siapapun ngeri.
Walaupun sabetan pedang dan gempuran dahsyat lawan menghujani tubuhnya, tapi entah bagaimana pendekar muda itu selalu dapat membebaskan diri.
__ADS_1
Justru sebaliknya, saat lawan menggempur dengan ganas, maka Cakra Buana akan membalas lebih ganas lagi.
Kilatan cahaya dari tujuh senjata pusaka membalah malam sunyi. Bentakan nyaring semakin keras. Dan benturan senjata semakin mengerikan.