
"Hebat … hebat. Aku tidak menyangka ada seorang pendekar muda sehebat dirimu. Marilah keluarkan seluruh kemampuanmu. Hibur aku walau sebentar," kata ki Baya memandang rendah Cakra Buana. Dia belum tahu siapa sebenarnya pemuda tersebut.
Cakra Buana hampir terpancing emosi mendengar ucapan ki Baya. Tapi dengan cepat dia bisa menguasai diri kembali. Bertarung dengan penuh kemarahan hanya akan membuat semua jurus tidak berguna dan semua serangan sia-sia.
"Terimakasih atas pujianmu ki Baya. Tapi aku bukan orang yang gila pujian. Lihat serangan …"
"Wuttt …"
Cakra Buana menggenjot kedua kakinya pada sampan lalu menerjang ki Baya dengan kecepetan tinggi. Tangan kanannya di julurkan kedepan mengarah ke pelipis. Sedang tangan kirinya mengarah ke lambung.
Melihat kecepatan pemuda serba putih tersebut, ki Baya cukup tersentak juga. Dia tidak menyangka bahwa Cakra Buana memiliki kecepatan seperti itu.
"Bukkk …"
"Bukkk …"
Kedua tangannya menangkis serangan pukulan Cakra Buana. Keduanya kembali sama-sama tergetar tangannya.
Tapi kali ini Cakra Buana sudah berlaku serius. Jika yang pertama ketika selesai beradu dia langsung mundur, kini sebaliknya, selesai beradu tangan, dia kembali melancarkan hujan serangan.
Kedua tangannya bergerak memukul atau menampar lawan. Kaki kiri dan kanannya tak tinggal diam, kedua kaki itu juga turut mengiringi setiap serangan yang diberikan.
Ki Baya pun tak mau kalah, dia seroang tokoh yang sudah mempunyai nama lumayan besar. Tentunya dia tidak mau mengalah atau main-main ketika menyadari kekuatan lawan.
Keduanya sudah serius. Maka kini mereka bertarung sangat sengit. Pertarungan yang menarik untuk dilihat sekaligus juga menegangkan. Terlebih bagi Cakra Buana sendiri.
Baru pertama kali ini dia bertarung diatas sampan, selain tempatnya terbatas, juga dia harus selalu menyalurkan tenaga dalam kepada kedua kakinya supaya sampan tidak bergoyang-goyang ketika dia pijak ataupun dijadikan landasan untuk melompat.
"Bukkk …"
"Bukkk …"
"Plakkk …"
Adu pukulan dan tendangan terus terjadi. Ombak buatan mulai menggoyangkan ssmpan yang mereka pijaki. Meskipun pertarungan itu hanya tangan kosong, tapi sesungguhnya dari setiap serangan kaki dan tangan mereka terdapat tenaga dalam yang besar. Sehingga kekuatan dan efek yang ditimbulkan pun akan semakin berbahaya tentunya.
Dua puluh jurus sudah berlalu. Semakin lama, keduanya semakin mengganas bagaikan dua ekor harimau bertarung demi memperebutkan daerah kekuasaan mereka.
__ADS_1
Cakra Buana memiliki kecepatan dan jurus-jurus yang keras tapi mematikan. Sedangkan kecepatan ki Baya berada setengah tingkat dibawah Cakra Buana, akan tetapi kekurangan itu bisa ditutupi dengan jurusnya yang mengandalkan kelincahan dan kelenturan.
"Bukkk …"
"Ughhh …"
"Ughhh …"
Cakra Buana dan ki Baya sama-sama terpundur ketika merasakan masing-masing dari ulu hati mereka terpukul oleh lawan. Tapi itu tidak lama, karena secara bersmaan, kedua orang itu sudah kembali melakukan serangan.
Cakra Buana menjulurkan tangan kanannya, ki Baya pun begitu. Dari telapak tangan kanan Cakra Buana keluar sinar putih, sedangkan dari telapak tangan kanan ki Baya mengeluarkan sinar hijau.
"Wuttt …"
"Duarrr …"
Dua tenaga sakti beradu ditengah-tengah. Sampan semakin bergoyang, air pun seperti baru saja dilanda badai. Air muncrat hingga membasahi baju kedua pendekar tersebut.
Di sisi lain, nelayan yang tadi bersama Cakra Buana menyaksikan pertarungan ini dengan wajah tegang dan rasa khawatir. Dia sudah tahu bagaimana kehebatan ki Baya, akan tetapi dia juga bersyukur bahwa ternyata pemuda itu bukanlah pemuda sembarangan.
Tiba-tiba mulut ki Baya komat-kamit, beberapa saat kemudian kakinya di hentakkan ke sampan hingga membuat sampan itu bergoyang kembali. Cakra Buana tidak tahu apa yang akan dilakukan orang itu.
Tapi ketidaktahuan itu tak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja sesosok berwarna putih yang agak besar meluncur menyerangnya.
Cakra Buana sedikit kaget ketika mengetahui sosok apa itu. Ternyata sosok yang meluncur itu adalah buaya putih. Ya, buaya putih tungganan ki Baya.
"Wuttt …"
Luncuran buaya itu sedemikian cepat sehingga yang terlihat hanya warna putihnya saja.
Cakra Buana mengambil sikap kuda-kuda. Dia membiarkan buaya itu mendekat kepada dirinya, ketika buaya putih tersebut sudah hampir dekat, barulah pemuda serba putih itu mengeluarkan ajiannya.
"Ajian Tapak Dewa Nanggala …"
"Bukkk …"
Sebuah serangan tapak yang dilairi tenaga dalam besar dengan telak mengenai perut buaya itu hingga mencelat ke atas. Sekali lagi Cakra Buana mengeluarkan kepandaiannya.
__ADS_1
"Pukulan Penghancur Sukma …"
"Wuttt …"
Sebuah pukulan jarak jauh dia arahkan ke atas tepat ke arah perut buaya putih.
"Blarrr …"
Tak ayal lagi, buaya putih tersebut langsung hancur menjadi beberapa bagian. Darah muncrat kesana-kemari. Bau amis pun segera tercium.
Melihat buaya putih kesayangannya tewas, bukan main marahnya ki Baya itu. Matanya tiba-tiba semakin berkilat seperti iblis.
"Kurang ajar, kubunuh kau …" ucapnya dengan marah lalu mengayunkan ekor buaya yang menjadi senjatanya.
"Tarrr …"
Ekor buaya itu disabetkan dengan telak mengarah ke leher Cakra Buana. Akan tetapi pemuda itu pun sudah siap.
Secepat kilat dia mencabut Pedang Pusaka Dewa. Dengan kematangan ilmu dan tenaga dalam yang dia miliki saat ini, maka kehebatannya menjadi bertambah.
"Pedang Dewa Membelah Langit …"
"Wuttt …"
"Crashhh … crashhh …"
Cakra Buana menggerakan Pedang Pusaka Dewa dengan kecepatan diluar nalar. Pedang itu berkelebat menjadi bayangan hitam. Semakin maju, semakin maju lagi, hingga akhirnya ekor buaya yang selalu dibanggakan oleh ki Baya bisa terpapak habis sampai ke pangkalnya.
"Slebbb …"
"Ahhh …"
Beberapa kejapan mata kemudian, Pedang Pusaka Dewa dengan telak sudah bersarang pads jantung ki Baya hingga tembus ke punggung. Cakra Buana lalu mencabut pedangnya.
Ki Baya memegangi luka itu, wajahnya berubah pucat menahan sakit. Lalu tak lama kemudian, dia roboh ke air dan mengambang sudah tidak bergerak lagi. Mati.
Melihat pemimpin mereka tewas, tentu saja kedua anak buahnya yang tersisa sangat tidak menyangka. Dengan buru-buru keduanya melarikan diri ke dalam hutan. Entah kemana. Cakra Buana tidak mengejar mereka, dia lalu melompat kembali ke perahu tumpangannya.
__ADS_1