Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Sebuah Pelajaran Berharga


__ADS_3

"Nah sukma, saketi, sekarang Cakra Buana akan tinggal disini untuk beberapa waktu. Berkawanlah baik dengan dia. Ajak dia pergi ke hutan untuk berburu," kata Ki Wayang kepada dua ekor maungnya peliharaannya.


Tanpa diulang dua kali, dua ekor maung itu langsung menghampiri Cakra Buana. Mengajak pemuda serba putih itu berburu di hutan.


"Eyang, aku pamit pergi dulu," kata Cakra Buana.


Bersama kawan barunya, Cakra Buana langsung pergi mencari hewan buruan untuk makan mereka. Ternyata hutan itu memang luas sekali.


Terdapat banyak pohon-pohon jati menjulang tinggi. Ada juga pohon nangka, beringin, dan masih banyak yang lainnya.


Sepertinya hutan ini memang jarang sekali disentuh oleh tangan manusia, sehingga keadaan disana masih alami sekali. Terpaksa Cakra Buana harus membuat jalan dengan membabat rumput-rumput ataupun tumbuhan liar lainnya yang menghalangi jalan.


Karena keadaannya yang masih sangat terjaga, maka tak perlu membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan hewan buruan. Didepan sana, sekitar jarak sepuluh tombak, baik Cakra Buana maupun dua ekor maung itu melihat ada seekor rusa yang cukup besar.


Ketiganya mengendap-endap dan mencari lokasi yang pas untuk menangkap rusa tersebut. Tadinya Cakra Buana berniat turun langsung, tapi dia segera dicegah oleh maung sukma. Seolah dia ingin memberikan contoh bagaimana memburu yang benar.


Maung sukma lantas berjalan mendekati rusa tersebut secara perlahan dan tanpa menimbulkan suara, setelah jaraknya sudah lumayan dekat, tiba-tiba saja dia melompat dan langsung mengigit leher rusa itu.


Siapapun tahu, jika sudah tergigit oleh maung, maka jangan harap bisa lepas lagi. Setelah rusa itu tewas, Cakra Buana lalu menghampiri maung sukma dan membawa hasil buruannya menuju ke tempat Ki Wayang.


Setelah sampai, Cakra Buana langsung menguliti rusa tersebut lalu dia panggang dengan bumbu yang sudah tersedia. Semuanya kebagian, sehingga meskipun menu sederhana, rasa nikmatnya bertambah beberapa kali lipat karena memakannya secara bersamaan.


"Cakra, untuk sekarang kau istirahat saja dulu. Nanti tiga hari lagi baru kita mulai latihan. Sekarang kau bebas pergi kemana pun selama dalam hutan ini untuk sekedar berkenalan dengan alam," kata Ki Wayang Rupa Sukma Saketi setelah selesai menyantap rusa panggang.


"Baik eyang. Kalau begitu, aku izin untuk pergi sebentar," ucap Cakra Buana sambil berdiri.

__ADS_1


Setelah mendapatkan izin, dia pun langsung pergi untuk menjelajah rumah barunya tersebut.


Cakra Buana berkeliling kesana-kemari. Ternyata memang benar kata gurunya, tempat itu menyimpan keindahan tersendiri. Bukan hanya hutan saja, ternyata ada juga air terjun yang tingginya hampir lima belas tombak.


Air itu sangat jernih sekali. Bahkan terasa sangat dingin, selain itu juga, terdapat banyak ikan dan udang yang hidup disungai tersebut.


Di sebelah kanan hutan, terlihat ada pantai. Deru ombak yang menabrak batu karang terdengar sangat keras. Ombak itu sangat ganas, jadi wajar jika tidak ada nelayan yang berani mencari ikan disana.


Cakra Buana sempat duduk disebuah batu dipinggir tebing untuk menikmati keindahan alam yang Tuhan suguhkan ini. Sejauh mata memandang, samudera biru terhampar sangat luas.


Debur ombak terus terdengar bersama semilir angin laut yang sangat dingin.


Betapa indahnya ciptaan Tuhan.


Semua yang manusia perlukan sudah disediakan oleh sang pencipta.


Setelah merasa puas menyaksikan keagungan Tuhan sang pencipta alam semesta, Cakra Buana pun segera kembali ke tempatnya. Matahari sudah memancarkan sinar kemerahan ke bumi. Burung-burung kembali ke rumahnya masing-masing dengan hati riang gembira.


Cakra Buana sudah tiba di kediaman barunya, ketika sampai, hari sudah menjelang malam. Terlihat Ki Wayang sedang melakukan semedi dan dijaga oleh dua hewan peliharaannya.


Cakra Buana lalu masuk dan duduk diatas sebuah batu hitam. Dia tidak berani mengganggu eyang gurunya. Pemuda serba putih itu hanya melamun, tapi entah melamunkan apa. Mungkin melamunkan cintanya yang kandas.


Sekuat-kuatnya manusia, tetap saja mereka tak bisa mengalahkan cinta. Cinta itu luar biasa sekali, dia tidak bisa terlihat. Bahkan tidak berbentuk sama sekali, tapi kenapa hampir semua manusia bisa diperbudak oleh yang namanya cinta? Bukankah ini konyol?


Tapi begitulah kuasa Tuhan. Itu salahsatu anugerah terbesar yang Tuhan berikan. Karena dengan cinta, manusia bisa mengenal siapa dirinya. Dengan cinta pula, manusia bisa mengenal siapa Tuhannya.

__ADS_1


"Bagaimana, sudah selesai berkelilingnya?" tanya Ki Wayang Rupa Sukma Saketi.


"Sudah eyang. Indah sekali pemandangan disini," kata Cakra Buana mengagumi apa yang sudah dia saksikan.


"Itu semua kuasa Sang Hyang Widhi cucuku. Masih banyak sekali keagungan Tuhan yang belum kau saksikan. Bahkan indahnya bisa berkali lipat daripada ini semua. Tinggal kitanya saja yang harus menjaga semua keindahan yang sudah Tuhan suguhkan,"


"Murid mendengarkan eyang guru,"


"Eyang, apakah aku boleh bertanya?"


"Tentu saja, silahkan …"


"Kenapa semua orang selalu memilih tempat yang hening dan jauh dari keramaian jika ingin mendekatkan diri kepada yang maha kuasa eyang?" tanya Cakra Buana.


"Pertanyaan yang bagus. Begini cucuku, ketika seseorang berada dalam keheningan dan kesendirian, kadang orang itu akan mengetahui siapa dia sebenarnya. Sebab dalam keheningan itu, manusia akan menjadi manusia seutuhnya. Berbeda jika dalam kehidupan ramai, manusia hanya mengaku sebagai manusia. Padahal sejatinya belum tentu. Lagi pula, godaan terhadap urusan duniawi itu sangatlah besar. Hampir semua orang diperbudak oleh dunia. Diperbudak oleh nafsu, sehingga mereka lupa siapa dirinya dan siapa tuhannya. Berapa banyak manusia yang lupa kepada sang pencipta hanya karena urusan duniawi? Sangat banyak sekali. Karena itulah, mereka yang memutuskan untuk meninggalkan hiruk-pikuk kehidupan duniawi, lebih memilih tempat-tempat hening seperti hutan maupun pegunungan, dan lain sebagainya," kata Ki Wayang Menjelaskan.


"Tapi eyang guru, bukankah hutan dan gunung juga terdapat kehidupan lain seperti binatang-binatang liar?"


"Betul. Tapi terkadang, hidup bersama alam dan binatang lebih baik dibandingkan hidup berdampingan bersama manusia,"


Mendengar ini, Cakra Buana kaget juga. Bagaimana bisa seperti itu? Bukankah hewan juga berbahaya?


"Tapi eyang … bukankah hewan juga sangat berbahaya?" tanya Cakra Buana penuh dengan keheranan.


"Benar, tapi jangan salah cucuku. Manusia bisa lebih kejam daripada binatang. Coba kau perhatikan, berpa banyak manusia saling bunuh dengan manusia lainnya hanya karena masalah sepele? Bahkan manusia bisa saja saling bunuh hanya untuk memuaskan hawa nafsunya sendiri," jelas Ki Wayang.

__ADS_1


Mau tidak mau, Cakra Buana harus mengakui kebenaran atas semua ucapan eyang gurunya tersebut. Karena memang begitu fakta yang terjadi dari dahulu hingga saat ini. Tidak dapat dipungkiri lagi.


Pula, Cakra Buana juga harus bersyukur karena dia mendapatkan salahsatu pelajaran berharga tentang kehidupan. Tapi tentunya, dia juga harus memecahkan beberapa kata-kata kiasan dalam semua ucapan tersebut.


__ADS_2