
Saat ini semua pendekar yang dipimpin oleh Cakra Buana sudah berada di sebuah tempat luas. Beberapa waktu lalu mereka membangun tempat ini untuk berkumpulnya semua pasukan Kerajaan Tunggilis.
Lokasi tempat ini tidak berada jauh dari Kerajaan Kawasenan. Sehingga bisa dikatakan strategis. Cakra Buana sudah memberikan laporan kepada semua pihak Kerajaan Tunggilis bahwa dia berhasil meruntuhkan salah satu kerajaan musuh.
Kabar ini tentu merupakan sebuah berita yang sangat menggembirakan. Maka saat ini semuanya sedang melakukan syukuran berupa makan bersama. Setelah itu, mereka segera mempersiapkan diri sebab sebentar lagi akan menghadapi perang gelombang kedua.
Pasukan Kerajaan Tunggilis juga sudah dibagi menjadi beberapa kelompok. Di mana setiap kelompoknya dipimpin oleh puluhan orang pendekar kelas pilih tanding. Baik dari tokoh tua maupun tokoh muda. Baik pria ataupun wanita.
Semua ini atas rencananya Gagak Bodas. Dia yang mengatur semuanya. Sedangkan Prabu Katapangan Kresna hanya tinggal menjalankan saja semua rencana yang telah di susun.
Saat ini Cakra Buana dan beberapa orang penting Kerajaan Tunggilis sedang berada di sebuah tenda darurat. Jumlah orang yang ada di sana sekitar tujuh puluh orang. Ling Zhi termasuk di dalamnya.
Mereka sedang membicarakan hal penting untuk menentukan langkah selajutnya. Di hadapan mereka ada hidangan berupa makanan dan minuman. Di sebuah tiang ada kulit rusa berukuran cukup besar. Kulit tersebut merupakan sebuah peta Tanah Pasundan. Termasuk Kerajaan Kawasenan, ada di dalam peta itu.
Gagak Bodas saat ini sedang menjelaskan rencana berikutnya di hadapan orang-orang penting ini. Dia adalah orang yang sangat teliti, kakek tua itu tidak mau ada kesalahan dalam setiap pekerjaan yang dia kerjakan. Sehingga kalau dihitung, dirinya sudah tiga kali menjelaskan lewat peta ini. Tujuannya tentu hanya satu, yaitu supaya semua paham dan tidak terjadi kesalahan.
"Kita harus selalu siap. Walaupun rencana kita dua hari lagi melakukan penyerangan, tapi kita tidak tahu gerakan musuh. Karena aku yakin, mereka sedikit banyak sudah mengetahui hancurnya kerajaan yang ada di bawah kakinya itu. Andai mereka sudah mendengar kabar, tentu tidak akan tinggal diam. Karena itulah aku minta, semua pihak untuk segera bergerak kembali. Dalam sebuah perang besar, telat satu langkah saja kita bisa dipastikan kalah. Sedikit kesalahan, itu sangat mempengaruhi kemenangan yang akan kita raih," kata Gagak Bodas menjelaskan secara panjang lebar di hadapan banyak orang.
"Sebentar lagi aku menyuruh beberapa orang untuk pergi ke perkampungan. Ungsikan dulu para warga supaya tidak ada yang menjadi korban. Setelah itu, jaga keamanan mereka. Kita selaku pemerintahan, wajib menjamin keselamatan rakyat. Sebab bukan tidak mungkin bakal ada saja orang-orang yang memanfaatkan semua ini untuk kepentingan pribadinya sendiri," katanya.
__ADS_1
Sepanjang dia menjelaskan, tidak ada yang berani membantahnya. Semua orang mendengarkan dengan seksama. Bahkan Prabu Katapangan sendiri hanya bisa mengangguk-angguk tanda setuju.
Lebih dari setengah pasukan Kerajaan Tunggilis, ia kerahkan dalam perang ini. Sedangkan sisanya ditugaskan untuk menjaga keamanan di Istana Kerajaan. Termasuk istri dan beberapa selirnya. Raden Kalacakra Mangkubumi turut andil dalam perang ini. Tentu dia tidak mau ketinggalan untuk mengukir namanya dalam sejarah.
Gagak Bodas sudah selesai menjelaskan semua persoalan. Sekarang para pendekar mulai bergerak kembali. Di tempat tersebut hanya ada kelompok itu saja. Sisanya sudah pergi menuju tempat yang sudah ditentukan.
Rencana Gagak Bodas adalah seluruh penjuru harus di isi oleh pihaknya sendiri. Bagian tengah di isi oleh kelompok yang berisi orang-orang pilihan. Cakra Buana dan Ling Zhi berada ditengah.
Saat perang akan berlangsung, mereka akan bergerak serempak mengepung musuh. Dari depan akan membentuk busur panah. Begitupun dari sisi lainnya. Sehingga nantinya musuh tidak bisa melarikan diri ke mana-mana.
Rencana yang bagus dan luar biasa. Cerdas.
Seorang teluk sandi beberapa saat lalu membawa kabar duka terkait hancurnya kerajaan yang dulu bekas Kerajaan Sindang Haji. Hal itu tentu membuat Prabu Ajirga benar-benar sangat marah. Bagaimana marahnya raja itu, tidak ada yang dapat menggambarkan.
Dia sama sekali tidak menyangka, bahkan bermimpi pun tidak. Kerajaan yang dulu dia rebut dengan susah payah, kini hancur dengan mudahnya. Perjuangannya terasa sia-sia.
Prabu Ajiraga semakin marah saat dia mendengar bahwa tidak ada seorangpun yang selamat dari pihaknya. Termasuk Eyang Batara Bodas sendiri.
Saat ini semua pendekar telah berkumpul. Dia tidak habis pikir ternyata musuhnya jauh beberapa kali lebih hebat dalam strategi. Mula-mula pendekar dari seluruh penjuru yang akan membantunya di bantai secara perlahan. Sekarang kerajaan kecilnya dihancurkan tanpa dia mendapatkan kabar terlebih dahulu.
__ADS_1
Sekilas memang tidak masuk akal. Tapi memang begitulah kejadiannya. Jarak antara Kerajaan Kawasenan dan bekas Kerajaan Sindang Haji memang lumayan. Walaupun hanya setengah hari perjalanan, tapi itu juga tetap saja memerlukan waktu.
Alasan masuk akal yang membuat dia tidak mengetahui rencana penyerangan ini adalah para pendekar yang akan melapornya telah dibunuh di perjalanan.
Tadinya Prabu Ajiraga berniat untuk melakukan penyerangan langsung saat ini juga. Namun karena semua pendekar tidak setuju dengan niatnya, maka rencana itu akhirnya di gagalkan.
Para tokoh tua Kerajaan Kawasenan memberikan usul supaya penyerangan dilakukan keesokan harinya. Supaya setidaknya mereka bisa melakukan persiapan lebih matang lagi.
Dan akhirnya, rencana tersebut mendapatkan persetujuan dari semua pihak. Setelah semua setuju, Prabu Ajiraga lalu memerintahkan para pendekarnya untuk melakukan persiapan mendadak.
Semua keluarga Prabu diungsikan ke tempat yang lebih aman. Harta kekayaan semuanya di simpan di gudang. Walaupun mereka merasa sangat khawatir, setidaknya dalam hati masih ada rasa percaya bahwa Kerajaan Kawasenan akan memenangkan perang ini.
Apalagi mereka mengingat kekuatannya jauh lebih hebat lagi. Menurut Prabu Ajiraga, dengan kekuatanya yang sekarang, dia tidak perlu takut pihaknya bakal kalah. Apalagi hanya menghadapi satu kerajaan seperti Kerajaan Tunggilis.
Mereka bisa berpikir seperti itu alasannya karena tidak mengetahui yang sebenarnya. Andai saja Prabu Ajiraga tahu bahwa Pedang Pusaka Dewa masih dalam genggaman Cakra Buana, pasti raja itu tidak akan mempunyai rasa percaya diri seperti sekarang ini.
"Kalian tenang saja. Aku yakin kita akan membawa pulang kemenangan. Kerajaan Tunggilis sama saja dengan menyerahkan nyawa mereka sendiri. Tapi baguslah, biar mereka tahu bagaimana kehebatan Kerajaan Kawasenan … hahaha …, Katapangan, aku sudah tidak sabar ingin melihat kau mati di tanganku sendiri," kata Prabu Ajiraga di hadapan semua pendekar sambil tertawa keras.
Dia sendiri tidak tahu bahwa orang-orang yang ada di sana merasakan kecemasan yang tidak terlukiskan. Hanya saja mereka tidak berani mengatakannya secara langsung.
__ADS_1
Perang besar akan segera dimulai. Korban akan berjatuhan jauh lebih banyak dari sebelumnya. Makhluk yang paling berambisi adalah manusia. Sampai kapanpun, ambisi seorang manusia akan selalu ada. Kecuali mungkin jika dia sudah paham hakikatnya manusia, maka mereka akan sadar dengan sendirinya.