
Langit yang tadinya menghitam, kini perlahan mulai cerah kembali. Langit berwarna kuning keemasan. Rembulan yang semalam menggantung di cakrawala, kini telah lenyap digantikan Sang Surya. Sinarnya bercahaya menerangi bumi, menembus celah-celah dedaunan. Embun pagi sebening kristal masih menetes dengan anggun.
Suara burung berdecit silih berganti. Satu persatu mereka keluar dari sarang untuk mencari makan bagi keluarganya.
Suasana masih belum benar-benar pagi, tapi kehidupan sudah ramai. Para petani sudah bangun sejak subuh untuk pergi ke sawah ladang mereka. Para pedagang sudah menggelar lapak dagangan meraih sepeser pundi-pundi rezeki.
Di sebuah bangunan tua pinggiran hutan, empat orang yang terpaut usia cukup jauh sedang duduk di sebuah bale-bale sambil menyambut indahnya pagi. Di depan mereka seperti biasanya ada teh hangat dan ubi serta singkong rebus.
"Pagi yang indah, hari yang cerah," gumam Gagak Bodas lalu menyeruput teh hangat kesukaannya.
"Benar. Indah sekali pagi ini. Aku merasa sungguh bahagia bisa menikmatinya," kata Pendekar Tangan Seribu menyahut.
"Bahagia itu tergantung diri sendiri. Tapi sayangnya tidak banyak orang yang mengerti akan hal ini," ucap Jalak Putih.
"Kakang benar. Bahagia itu kita yang menciptakan. Bukan mencari. Kebahagiaan itu sangat dekat, hanya kitanya saja yang menjauh. Bahagia itu sederhana, tapi kitanya saja yang membuat menjadi rumit. Manusia memang unik," timpal Jalak Putih lalu memasukan ubi rebus ke mulutnya.
Cakra Buana hanya diam saja. Ia tidak bicara. Dalam hati, pemuda serba putih itu bersyukur karena sepagi ini, dirinya telah mendapatkan falsafah kehidupan.
Saat semuanya sedang tenggelam bersama lamunannya, tiba-tiba saja Gagak Bodas bertanya kepada Cakra Buana tentang tujuan selanjutnya.
"Mungkin aku dan paman Pendekar Tangan Seribu akan kembali lagi ke Kerajaan Kawasenan," jawab Cakra Buana.
"Untuk apa pangeran kembali lagi ke sana?" tanya Jalak Putih.
"Masih ada suatu hal yang harus kami selesaikan,"
"Apakah kau tidak memilih untuk kembali ke Kerajaan Tunggilis bersama kami?" tanya Gagak Bodas.
"Terimakasih atas kebaikan paman. Mungkin kalau sempat, kita akan bertemu di pertengahan jalan,"
"Baiklah kalau begitu. Semoga saja kita bertemu. Kapan kau akan pergi?"
"Sekarang," jawab Cakra Buana.
__ADS_1
"Bukankah ini masih terlalu pagi untuk ke sana?"
"Paman benar. Tapi setidaknya aku akan sampai di istana mungkin saat matahari sudah agak tinggi,"
Gagak Bodas dan Jalak Putih membisu. Keduanya sudah tahu bahwa mereka tidak akan bisa menahan Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak bisa melarang lagi," ucap Gagak Putih.
"Terimakasih paman. Kalau begitu, sekarang juga aku pamit undur diri. Terimakasih karena paman berdua sudah mau menyelamatkan kami," kata Cakra Buana dengan sopan.
"Kau ini bicara apa pangeran. Sudah tentu kami akan menyelamatkanmu, bahkan saat sekarang sudah tahu kau siapa, kami siap mengorbankan nyawa untukmu," kata Gagak Bodas lalu diikuti anggukan oleh Jalak Putih.
"Sekali lagi terimakasih paman. Kalau begitu, aku pamit undur diri," ucapnya lalu memberikan hormat diikuti Pendekar Tangan Seribu.
Kedua orang itu segera mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya. Hanya dalam tiga tarikan nafas, dua pendekar tersebut sudah hilang dari pandangan Gagak Bodas dan Jalak Putih.
"Pemuda yang pantas untuk jadi seorang pemimpin besar …" gumam Gagak Bodas lalu menghembuskan nafas panjang.
###
Mereka tidak tahu bahwa beberapa hari yang lalu, sebelas pendekar Kerajaan Kawasenan mencari-carinya gara-gara kematian sepuluh pendekar. Bahkan mereka mencari sampai ke berbagai daerah sekitar.
Cakra Buana sendiri berniat untuk kembali ke Kerajaan Kawasenan karena memang sengaja. Niatnya supaya menghilangkan rasa curiga atas kematian sepuluh pendekar dan supaya pihak kerajaan tidak melibatkannya. Karena logikanya, kalau ia terlibat, mana mungkin berani datang lagi?
Menjelang siang hari, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu sudah tiba di kotaraja. Pendekar Maung Kulon kembali memakai pakaian seperti sebelumnya. Yaitu memakai jubah dan topeng kayu yang memiliki ukiran indah.
Keduanya segera berjalan menuju ke pintu gerbang. Karena penjaga sudah tahu siapa dua orang tersebut, maka mereka tidak mempersulit lagi Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu seperti sebelumnya.
Kedua pendekar itu langsung disambut oleh penjaga pintu masuk utama istana kerajaan. Mereka langsung di bawa ke ruangan utama. Di sana seperti biasanya, selalu ramai oleh pendekar-pendekar berilmu tinggi.
Prabu Ajiraga memandangi Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu begitu baru masuk.
"Aku tidak melihat kalian beberapa hari ini, apakah ada masalah yang sedang kalian hadapi?" tanya Prabu Ajiraga.
__ADS_1
"Tidak Yang Mulia Raja. Hanya ada masalah sedikit, dan sekarang masalah itu sudah berhasil kami selesaikan," jawab Pendekar Tangan Seribu.
"Syukurlah kalau begitu. Silahkan duduk," ucap sang raja mempersilahkan.
Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu kemudian duduk bersama para pendekar lainnya. Semua pendekar di sana diam, tidak ada yang berani bicara. Cakra Buana merasa ada yang tidak beres. Bahkan sekali waktu, Cakra Buana memergoki ada seorang pendekar yang memandang dirinya dengan sinis.
Pendekar Maung Kulon dan Pendekar Tangan Seribu tidak tahu, semua orang yang ada di sana saat ini sedang menjalankan siasat. Sebelumnya penasihat Kerajaan Kawasenan yaitu Wahyu Pamungkas, sudah memberitahu kepada Prabu Ajiraga bagaimana cara membongkar siapa yang sudah membunuh sepuluh pendekarnya.
Mereka semua curiga kepada dua pendekar tersebut. Dan rencananya, Prabu Ajiraga akan membuat kedua tamunya tertangkap basah bahwa memang mereka lah pelakunya dengan menggunakan rencana yang sudah di buat oleh Penasihat Wahyu Pamungkas.
"Yang Mulia, jadi bagaimana? Apakah kami harus memberikan jatah upeti lagi, atau tidak?" tanya Pendekar Tangan Seribu.
Prabu Ajiraga tidak menjawab pertanyaan tersebut. Justru ia malah bertanya hal lain.
"Pendekar, apakah kau sudah mendengar sebuah berita yang cukup mengejutkan?" tanya Prabu Ajiraga.
"Berita? Berita apa yang dimaksudkan oleh Yang Mulia Raja?" tanya Pendekar Seribu sedikit kebingungan.
"Sepuluh pendekar Kerajaan Kawasenan telah tewas,"
"Apa?" Pendekar Tangan Seribu berseru kaget. Tentu saja dia sudah tahu, ekspresi ini hanyalah pura-pura belaka.
"Siapa yang sudah membunuhnya Yang Mulia? Berani-beraninya orang yang melakukan tindakan itu. Ini sama saja menantang Yang Mulia Raja," ucap Pendekar Tangan Seribu.
"Kau benar. Orang ini sama saja menantangku,"
"Jadi siapa pelakunya? Apakah ada perintah untuk hamba?"
Suasana semakin tegang. Para pendekar yang ada di ruangan tersebut mulai membetulkan posisi duduk mereka. Tak ada yang bicara. Di ruangan itu seketika menjadi hening.
"Pelakunya ada di ruangan ini," kata Prabu Ajiraga menjadi dingin.
Pendekar Tangan Seribu dan Cakra Buana semakin merasakan ada yang ganjil. Hati mereka sudah mengatakan firasat buruk. Tapi sekuat tenaga keduanya menutupi semua itu.
__ADS_1
"Siapa Yang Mulia?" tanya Pendekar Tangan Seribu lagi.