
Di sebuah rumah yang besar dan mempunyai halaman cukup luas, terlihat ada seorang sedang menaiki kuda dan menuju kearahnya dengan tergesa-gesa. Orang itu turun dari kuda dan langsung memberi hormat kepada seorang yang sedang duduki di bangku depan rumahnya.
"Ada apa Begang? Kenapa kau seperti begitu ketakutan sekali? Coba jelaskan, di mana juga rekanmu si Wikatma?" tanya orang yang sedang duduk itu kepada seorang yang baru saja datang dan ternyata itu adalah Begang, pendekar yang tadi bertarung dengan Langlang Cakra Buana.
"Ampun tuan kades, Wikatma tewas dibunuh seorang pemuda. Aku kesini untuk memberitahukan hal tersebut. Pemuda itu jelas bisa mengacaukan rencana tuan untuk menguasai desa ini," ucap Begang kepada orang yang sedang duduk itu dan ternyata dialah majikannya, kepala desa setempat.
"Hemmm … siapa pemuda itu? Apakah sehebat yang kau ceritakan?" tanya kades sembari mengerutkan keningnya.
"Begitulah kenyataannya tuan. Lebih baik kita segera bertindak cepat sebelum semuanya terlambat," kata si Begang memberikan usulnya.
"Baiklah, kita pikirkan nanti saja. Sekarang kembalilah, melawa pemuda sada tidak becus …" kades itu menggerutu sendiri meskipun Begang sudah pergi dari hadapannya.
Ditempat lain …
Langlang Cakra Buana kini kembali memasuki kedai berniat untuk melanjutkan makannya. Setelah selesai, dia membayar kemudian mengobati luka pemilik kedai tersebut.
"Maaf bibi, siapa kedua pendekar tadi? Apakah bibi mengenalnya?" tanya Langlang Cakra Buana setelah selesai mengobati wanita pemilik kedai.
__ADS_1
"Mereka itu suruhannya kepala desa den. Biasanya mereka meminta upeti ke warga dengan jumlah besar dan secara paksa. Kalau tidak bisa bayar, bagi yang mempunyai anak gadis kadang anak itu dijadikan gantinya. Mereka juga sangat suka beli tanah warga dengan harga sangat miring," kata pemilik kedai menjelaskan.
"Biadab … bibi, apakah bibi tahu rumah sesepuh disini?" tanya Langlang Cakra Buana.
"Tahu den tahu. Aden tinggal lurus saja terus, lalu nanti belok ke kanan, namanya Ki Jaya Wikalpa. Disana ada rumah dengan patung burung rajawali diatas gentengnya," kata pemilik warung itu memberitahu dimana rumah sesepuh setempat.
"Terimakasih bibi. Aku akan segera pergi kesana." ucap Pendekar Maung Kulon itu.
Dia segera pergi dari kedai untuk menuju ke rumah sesepuh yang tadi sudah ditunjukkan oleh pemilik kedai. Langlang Cakra Buana langsung menggunakan Saifi Angin miliknya. Dia tidak mau lagi berlama-lama.
Beberapa tarikan nafas kemudian, Langlang Cakra Buana sudah sampai didepan sebuah rumah yang cukup besar. Bangunannya masih memakai kayu-kayu yang kuat. Paku diganti dengan tali dari rotan. Diatasnya ada patung burung rajawali yang sedang mengepakan sayapnya.
"Sampurasun …" pemuda itu mengucap salam cukup kencang supaya terdengar.
"Rampes …" terdengar jawaban dari dalam. Lalu tak lama seorang pria yang sudah tua keluar dan menyambutnya.
"Cari siapa nak?" tanya orang tua itu dengan senyuman ramah.
__ADS_1
"Aku sedang mencari rumah Ki Jaya Wikalpa, apakah benar ini rumahnya?" tanya Langlang Cakra Buana.
"Ahhh … benar. Ini … aku sendiri orang yang kau cari. Mari, silahkan masuk," kata Ki Jaya Wikalpa mempersilhakan masuk kepada Langlang Cakra Buana.
Keduanya lalu duduk di ruang tamu yang lumayan besar. Meja dan kayunya terbuat dari kayu Jati. Dengan ukiran burung rajawali dan seekor naga, kayu serta meja itu terlihat begitu indah dan antik.
Setelah keduanya duduk, orang tua itu langsung memerintahkan pelayannya untuk membuatkan dua teh hangat. Lalu Ki Jaya Wikalpa memulai obrolan dengan pemuda serba putih itu.
"Bisa kau perkenalkan namamu dan apa tujuanmu mencariku anak muda?" tanya Ki Jaya Wikalpa.
"Namaku Langlang Cakra Buana, aku mencari aki karena ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan terkait kepala desa ini," ucap Langlang Cakra Buana.
"Hemmm … ada hubungan apa andika (anda)? Sehingga menanyakan tentang kepala desa itu," ucap Aki Jaya Wikalpa.
"Kebetulan aku tadi makan disebuah kedai, lalu ada dua orang pendekar meminta upeti secara paksa kepada pemilik kedai dan para petani, katanya kedua pendekar tersebut merupakan suruhan dari kepala desa. Lalu aku meminta pemilik kedai itu bagaimana kelakuan kepala desa ini, dan ternyata setelah mendengar penjelasan dari pemilik kedai … kelakuan kepala desa ini sungguh jauh dari watak seorang pemimpin," kata Pendekar Maung Kulon itu dengan raut wajah sedikit kesal.
"Yang diceritakan pemilik kedai tentang kepala desa Karanpaningal ini memang benar nak Langlang. Kepala desa bahkan lebih pantas disebut sebagai penjajah pribumi," kata Ki Jaya Wikalpa menggambarkan kekesalannya juga.
__ADS_1
"Kalau begitu, kita harus melakukan langkah untuk mengagalkan niat buruknya itu ki," tutur Langlang Cakra Buana memberikan usul.
Memang, jika semua rencana jahat kepala desa itu tidak segera dihentikan, maka bukan tidak mungkin bahwa dia akan melakukan tindakan yang lebih parah lagi dari sekarang.