
"Hahaha, kau tidak perlu melakukan itu Cakra. Sebagai sahabat, tentu saja aku akan membantu masalah dalam hidupmu," ucapnya kemudian menenggak guci arak.
Keduanya terus berbicara membahas sesuatu yang mungkin akan terjadi dan akan mereka lakukan besok hari. Setelah beberapa lama berbincang, Cakra Buana segera kembali lagi ke kamar dengan niat ingin mengamankan mayat Tuan Muda Margono Tanuwijaya.
Ketika sampai di kamarnya, kejadian aneh kembali terjadi. Mayat tuan muda itu hilang entah ke mana. Cakra Buana sudah mencari ke kolong tempat tidur, tetapi mayat si tuan muda tetap tidak ditemukan.
"Pasti ada seseorang yang sudah membawanya," gumam Cakra Buana sambil bertanya-tanya.
Menurutnya, si pencuri sudah pasti merupakan kalangan pendekar kelas atas. Karena orang itu tidak meninggalkan jejak sama sekali kecuali hanya sehelai kain berwarna merah muda.
Cakra Buana menyimpan kain tersebut di saku bajunya. Dia tidak mau terlalu memikirkan beban masalah.
Setelah kamar sudah bersih kembali, Pendekar Tanpa Nama segera beristirahat. Walaupun hari belum tengah malam, tetapi Cakra Buana sudah merasa tubuhnya sangat lelah.
Karena itu, dia memilih untuk tidur.
Begitupun yang dilakukan oleh Pendekar Pedang Kesetanan. Orang tua itu segera tidur dan bersemedi untuk persiapan besok.
###
Hari sudah berganti pagi. Walaupun masih belum terang tanah sempurna, tetapi Cakra Buana dan Pendekar Pedang Kesetanan sudah bangun dari tidurnya.
Kedua pendekar tersebut kini merasa tubuhnya sudah jauh lebih segar dan bertenaga. Mereka saat ini sedang melakukan sarapan.
Karena pada dasarnya penginapan sekaligus tempat makan yang mereka sewa ini memang sudah buka sejak hari mulai terang.
Belum banyak pengunjung yang ada di sana. Paling hanya beberapa pedagang dan orang-orang yang menginap saja.
Cakra Buana dan sahabatnya berbicara sesuatu yang sudah mereka rencanakan kemarin. Keduanya terlihat sangat asyik karena bercerita sambil tertawa pula.
Walaupun masalah besar dan rumit sedang di hadapi, tetapi keduanya tidak menampakkan kekhawatiran.
Bagi Cakra Buana, yang terjadi, terjadilah. Dia hanya bisa mengkuti rencana Sang Hyang Widhi. Tanpa bisa menentukan apapun. Dia hanya bisa menjalankan tanpa bisa memilih.
Saat hari mulai terang tanah, ketika itu dua pendekar tersebut sudah keluar penginapan untuk memulai rencana.
Alangkah kagetnya saat mereka melihat kerumunan di pinggir dinding tempat papan pengumuman.
Karena rasa penasaran, mereka segera menghampiri dinding pengumuman yang menjadi tempat orang-orang berkumpul itu.
Cakra Buana mencoba untuk melihat lebih jelas pengumuman yang tertera pada sebuah kulit binatang. Saat dia membaca, jantungnya terasa copot.
"Dicari Pendekar Tanpa Nama, bagi siapa saja yang melihatnya, silahkan bawa ke tempat kami. Baik itu dalam keadaan hidup ataupun tewas. Kami akan memberikan imbalan yang setimpal. Pendekar itu menjadi buronan perguruan karena telah membunuh anak tunggal dari maha guru,"
"Perguruan Tunggal Sadewo"
__ADS_1
Selain terdapat tulisan seperti itu, di pengumuman tersebut juga diceritakan bagaimana ciri-ciri Pendekar Tanpa Nama yang dimaksud.
Tentu saja pengumuman itu mampu mengundang banyak orang. Bahkan beberapa pendekar juga terlihat sudah ada yang datang dan membacanya. Berita ini cukup menggemparkan. Karena menurut para pendekar, hanya orang yang sudah memakan nyali harimau yang berani mencari masalah dengan Perguruan Tunggal Sadewo.
Dengan iming-iming sebuah imbalan besar, tentu saja banyak yang tertarik. Terutama mereka para pendekar pengelana. Sudah pasti ke depannya, Cakra Buana akan mengalami hal yang serupa seperti tahun-tahun sebelumnya.
Yaitu dia akan menjadi buronan. Semua pendekar akan mencarinya. Kalau beberapa tahun lalu dia menjadi buronan Kerajaan Kawasenan saat kerajaan tersebut masih ada, maka kali ini Cakra Buana menjadi buronan sebuah perguruan besar di Tanah Jawa.
Masalah hebat kembali menghampirinya. Sepertinya memang Cakra Buana tidak akan lepas dari yang namanya masalah..
Bukan hanya dia, bahkan setiap manusia tidak akan lepas dari yang namanya masalah hidup. Di dunia ini, mustahil kalau ada manusia yang tidak mempunyai masalah. Siapapun pasti mempunyai masalah.
Hanya saja, setiap orang mempunyai cara dalam menghadapi masalahnya masing-masing.
Pendekar Pedang Kesetanan menarik tubuh Cakra Buana. Dia membawanya ke tempat yang agak sepi.
"Cakra, saranku kau harus bergerak secepat mungkin. Bahkan kalau bisa, cabut semua pengumuman itu. Di manapun pengumuman tersebut berada, kau harus mencabutnya. Ini sebagai langkah antisipasi sebelum semua pendekar mencarimu," kata Giwangkara Baruga memberi saran kepada Cakra Buana.
"Baik paman. Aku mengikuti saranmu. Kalau begitu, sekarang juga aku akan bergerak," ujar Cakra Buana.
"Bagus. Jangan lupa untuk menutupi identitas diri sementara waktu ini,"
"Baik. Masalah itu biar nanti aku pikrikan,"
"Bagus. Aku percaya kau bisa menghadapi semua ini. Jangan lupa, satu minggu lagi kita bertemu di hutan sebelah Timur kotaraja. Sore hari aku akan menunggumu di sana," kata Pendekar Pedang Kesetanan.
"Baik, kalau begitu kita bergerak sekarang. Sampai jumpa lagi anak muda yang gagah perkasa," kata orang tua itu sambil menepuk pundak dan tersenyum kepada Cakra Buana.
Pemuda tersebut hanya membalas dengan anggukan. Beberapa kejap kemudian, sosok Pendekar Pedang Kesetanan sudah lenyap.
Cakra Buana segera menyusul, hanya beberapa tarikan nafas, dia pun sudah pergi dari tempat itu.
Kedua sahabat berpisah. Berpisah sementara untuk kemudian membawa kabaranya masing-masing.
Pertama-tama yang dilakukan oleh Cakra Buana adalah mencabut semua pengumuman tentang fitnahan yang menimpa dirinya. Hampir seharian dia mencabut semua pengumuman yang ada di berbagai penjuru.
Walaupun sudah banyak yang mengetahui tentang pengumuman tersebut, setidaknya belum semua pendekar tahu.
Hal ini dia lakukan hampir sepanjang hari. Semuanya lancar tanpa ada halangan apapun. Tinggal satu tempat keramaian lagi yang menurutnya tertera pengumuman.
Dan tempat terkahir ini, menjadi sebuah tempat yang penuh dengan tantangan. Karena tempatnya merupakan tempat berkumpul para pendekar. Baik pendekar kelas bawah maupun kelas atas, kadang-kadang hadir di sana.
Tempat tersebut tidak lain adalah sebuah rumah makan. Rumah makan yang besar dan mewah serta selalu dipenuhi oleh pengunjung yang rata-rata dari kalangan dunia persilatan.
Letaknya persis di tengah-tengah kotaraja Tanah Jawa.
__ADS_1
Waktu Cakra Buana memasuki rumah makan besar dan mewah tersebut, suasana sudah malam hari. Hampir tengah malam.
Tapi keadaan di sana masih sangat ramai. Cakra Buana memilih tempat duduk tepat di bawah pengumuman. Saat itu banyak para pendekar yang sedang melihatnya.
Sebisa mungkin pendekar muda tersebut menerobos orang-orang yang sedang berkumpul.
Begitu semua orang lengah, dengan secepat kilat dia mencabut pengumuman itu. Gerakannya sangat cepat, bahkan cepat sekali. Mustahil pendekar kelas bawah bisa melihat gerakannya.
Namun tanpa diduga, di saat dia merasa berhasil, tiba-tiba saja pundaknya di tepak oleh seseorang.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa pengumuman itu kau cabut?" tanya orang yang memegang pundaknya tersebut.
Saat Cakra Buana membalikan badan dan memandang wajah orang itu, terlihat tatapan matanya sudah menggambarkan kemarahan.
Belum sempat Cakra Buana menjawab, orang tadi sudah berkata lagi.
"Kau, bukankah kau orang yang dimaksud?" tanyanya dengan suara agak di keraskan.
Sontak kejadian ini menjadi perhatian para pengunjung. Puluhan pasang mata segera memandang kepada Cakra Buana.
"Gawat," gumamnya.
###
Note: Mohon maaf ya, author akan menjelaskan lagi. Entah sudah berapa kali menjelaskan hal kek gini. Tapi kalo ga di jelasin, rasanya ngeganjel.
Bagi yang ga suka sama karya author yang selalu di selipin "kata-kata" mending ga usah di baca. Author ga maksa kok, maaf bukan sombong. Hanya meluruskan.
Author sudah bilang, referensinya penulis jadul dan karya silat jadul. Jadi jelas wajar kalo beda sama novel sekarang.
Penulis dulu kalo buat novel selalu menyelipkan kata kehidupan. Bukan SO BIJAK ataupun KEHABISAN KATA-KATA.
Justru karena mereka tidak ingin membuat pembaca cuma NGAYAL doang saat bacanya. Tujuan mereka ya supaya si pembaca mendapatkan pelajaran lain dari karyanya.
Tanpa MENGGURUI ataupun SO BIJAK. Apalagi kehabisan kata.
Coba baca karya Asmaraman Kho Ping Hoo. Biar tahu bagaimana orang dulu kalo buat novel.
Tolong dibaca ya.
Silahkan tinggalkan komentar. Selama kata-katanya santun, author akan menerima dengan senang hati.
Perlu diketahui, setiap eps yg di up itu jumlah katanya lebih dari 1k, jadi tanpa mengurangi bacaan.
Terimakasih☕
__ADS_1
Insun rahayu balarea waluya🙏