Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Sadarnya Dadung Amuk dan Sanca


__ADS_3

Melihat kedua lawannya sudah menyerang, Cakra Buana mulai bersikap waspada. Tapi pemuda serba putih itu masih terlihat santai. Cakra Buana hanya menggerakan tubuhnya ke samping kanan dan kiri saat dua serangan dari dua arah tersebut tiba.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Serangan pertama Sanca dan Dadung Amuk luput dari sasaran. Serangan tersebut bisa dihindari oleh Cakra Buana tanpa menggerakkan kaki sedikit pun.


"Sebelum kau menyerangku lagi, ceritakan dulu siapa sebenarnya kalian ini dan siapa pula Racun Tua itu bagi kalian," pinta Cakra Buana kepada Sanca dan Dadung Amuk.


"Hemm. Baiklah, aku akan menceritakan kejadian yang sebenarnya supaya kalian tidak penasaran," ucap Dadung Amuk dengan tegas.


Dadung Amuk mulai bersikap tenang walau pun cara berdirinya masih waspada. Semua orang mendekat mengerumuni. Kemudian, Dadung Amuk mulai menceritakan semua kejadiannya.


"Dua puluh tahun lalu, aku tinggal di Desa Kedung Wuluh, dekat dengan Perguruan Ular Sendok. Saat itu aku baru berumur sekitar lima belas tahun. Dunia persilatan sedang kacau, penyerangan antar perguruan terjadi di mana-mana. Termasuk di Perguruan Ular Sendok. Saat itu Perguruan Rajawali Putih datang menyerang. Dua perguruan ini bentrok dan menimbulkan banyak korban jiwa tidak bersalah. Kematian di mana-mana menyelimuti kedua belah pihak. Saat itu guru besar Perguruan Rajawali Putih bukanlah kakek tua ini."


"Aku tidak tahu siapa nama gurunya karena pada saat itu aku belum belajar banyak tentang ilmu silat. Hampir satu hari satu malam pertarungan antara dua perguruan ini berlangsung. Korban yang berjatuhan bukan hanya di pihak terkait, melainkan para warga yang tidak berdosa pun turut menjadi korban keganasan manusia yang menggangap dirinya benar. Salah satunya adalah keluargaku sendiri. Keluargaku tewas di bantai oleh dia," kata Dadung Amuk sambil menunjuk Kakek Rajawali.


"Aku masih teirngat dan bahkan masih terbayang jelas bagaimana saat keluargaku di bunuh. Keluargaku yang hanya merupakan petani, tentu tak sanggup melawan orang-orang dunia persilatan. Keluargaku di bunuh tanpa ampun, yang selamat hanyalah aku sendiri. Begitu pula dengan kisah Sanca, keluarganya di bunuh secara sadis oleh orang-orang Perguruan Rajawali Putih. Walau pun kedua keluarga ini berteriak dan menjelaskan bahwa mereka tidak tahu apa-apa, tapi tetap saja mereka bunuh tanpa belas kasihan."

__ADS_1


"Sejak saat itu aku hidup sendiri. Kemudian aku dan Sanca selalu bersama-sama dan kami menganggap saudara. Hingga pada akhirnya kami diterima jadi murid Perguruan Ular Sendok. Kami berguru di sana selama bertahun-tahun untuk mendapatkan ilmu yang lumayan. Setelah berhasil menguasai beberapa ilmu tingkat tinggi, kami berdua meminta izin untuk pergi membalas dendam kepada Perguruan Rajawali Putih secara halus. Singkat cerita kami di terima di sini dan mempelajari ilmu yang ada di sini juga."


"Penyerangan ini sebenarnya sudah direncanakan beberapa tahun sebelumnya. Aku dan Sanca sangat menunggu saat-saat seperti ini. Di mana aku akan melihat para pembunuh keluargaku tewas di depan mataku, begitu pun dengan Sanca. Tapi sayangnya semua harapan dan rencana yang sudah di bangun, gagal total hanya karena dua orang. Yaitu karena kau dan Pendekar Tangan Seribu."


"Aku melakukan ini semua hanya karena ingin membalaskan dendam kematian keluargaku. Itu saja, tidak lebih. Apakah aku salah kalau membalas kematian ini? Bagiku, hutang darah bayar darah. Hutang nyawa bayar nyawa," kata Dadung Amuk dengan amarah yang sudah membakar dirinya.


Semua orang terdiam, tak ada yang dapat menjawab perkataan Dadung Amuk. Bahkan Kakek Rajawali sendiri hanya bisa terdiam tertunduk. Seolah orang tua itu menyesali apa yang telah ia lakukan dua puluh tahun lalu. Dia menunduk sambil memegangi dadanya yang masih terasa sedikit sesak.


Mendengar semua cerita itu, Cakra Buana hanya tersenyum simpul.


"Kau benar, kalau aku di posisimu, mungkin aku bisa saja berpikir seperti itu. Tapi kalau di pikir secara baik-baik, apa yang kau lakukan ini salah. Kita mempunyai cerita masa lalu yang sama. Hanya saja kejadiannya sedikit berbeda. Keluargaku juga di bunuh, awalnya aku ingin membalskan dendam kematian mereka. Tapi untungnya ada orang yang mengajariku. Bahwa dendam takkan ada habisnya. Dendam pasti akan turun-temurun, misalkan kau berhasil membunuh musuh dengan tanganmu sendiri. Tapi ingat, orang-orang yang ada di belakang musuhmu itu, aku menganggapmu musuh lagi. Begitu seterusnya sampai tiada yang tahu kapan dendam tersebut akan berkahir. Dendam akan mempengaruhi jiwa seseorang. Kau akan diperbudak oleh nafsumu untuk tetap membalaskan dendam. Hingga pada akhirnya, kau akan celaka akibat nafsumu sendiri. Alangkah lebih baiknya kau lupakan dendam itu, semua yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Jodoh, rezeki, kematian, itu sudah di atur oleh Sang Hyang Widhi. Mau berusaha bagaimana pun, kau takkan bisa mengubah takdir yang sudah ditetapkan olehNya," ucap Cakra Buana.


"Hidupnya manusia sudah ditentukan. Begitu pun dengan matinya. Sadarlah sebelum terlambat Dadung Amuk," kata Pendekar Tangan Seribu angkat bicara.


"Kalau begitu, aku harus bagaimana sekarang? Aku juga tidak mau terus-menerus seperti ini. Sebenarnya aku tidak mau mengingat dendam itu lagi. Tapi sulit, sangat sulit. Dendam itu seolah terus menghantui diriku," kata Dadung Amuk. Tatapannya mulai redup, seolah menggambarkan bahwa dia sudah lelah menjalani kehidupan yang penuh dengan dendam.


"Berubahlah jadi orang baik. Salurkan dendamu dengan hal-hal yang positif. Kau melihat keluargamu di tindas, maka jika kau melihat orang lain di tindas, jangan diam. Tolong mereka yang butuh bantuan, dan bantu mereka yang kesusahan. Maka dengan sendirinya, dendam itu akan lenyap. Atau kalau tidak, kau kembali saja ke Perguruan Rajawali Putih. Mulai semuanya dari nol lagi," kata Cakra Buana memberikan saran.


"Tidak, aku tidak mau. Aku merasa malu kalau mengingat semua kelakuanku di sini. Sebenarnya semua murid yang dulu sering tewas tanpa sebab, itu adalah ulahku dan Sanca. Saat dendam yang sudah mendarah daging ini kambuh, saat itu pula nyawa murid perguruan jadi sasaran," ucap Sanca.

__ADS_1


"Kalau begitu baiklah. Lalu, langkah apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"Aku tidak tahu. Tapi kalau terus seperti ini, pasti takkan ada perubahan dalam diriku,"


"Hahh …" Cakra Buana menghela nafas dalam-dalam. "Pergilah ke Kerajaan Tunggilis. Kau berguru saja di sana. Di kerajaan ada seorang resi, mungkin saja kalian bisa di terima jadi murid,"


"Bodoh. Bagaimana aku bisa masuk ke sana? Aku bukan siapa-siapa. Mana mau pihak kerajaan menerimaku," kata Sanca kebingungan.


Cakra Buana lalu menyuruh seorang murid Perguruan Rajawali Putih membawakan secarik kulit sekaligus pena. Kemudia ia menuliskan surat di dalamnya dengan tanda khusus darinya. Setelah itu, Cakra Buana lalu memberikan surat tersebut ke Dadung Amuk.


"Pergilah ke Kerajaan Kawasenan. Dan perlihatkan surat ini ke orang-orang di sana,"


"Apakah ini akan berhasil?" tanya Dadung Amuk.


"Kita lihat saja nanti. Cepatlah pergi," kata Cakra Buana.


Dadung Amuk dan Sanca mengangguk. Keduanya lalu pergi menuju ke Kerajaan Tinggilis setelah berpamitan.


"Pangeran, kau yakin dengan ucapan mereka?" tanya Pendekar Tangan Seribu masih kurang yakin.

__ADS_1


"Semoga saja mereka serius ingin menngubah dirinya paman. Lagi pula aku tidak melihat kebohongan dalam ucapannya," jawab Cakra Buana.


"Baiklah kalau begitu. Aku menuruti apa katamu saja,"


__ADS_2