Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Melepas Kerinduan


__ADS_3

Ruangan itu besar dan megah. Permadaninya sangat indah dengan warna merah terang. Di kanan kiri dinding, terlihat ada beberapa lukisan yang harganya pasti sangat mahal. Ruangan tersebut di penuhi oleh punggawa kerajaan.


Bukan hanya punggawa, bahkan para pendekar kelas atas pun terlihat hadir di sana. Mereka sedang duduk berjejer sambil berbincang-bincang. Di sebelah depannya, ada seorang pria dan wanita mengenakan pakaian yang mewah.


Mereka mengenakan mahkota yang terbuat dari logam mulia dilapisi emas. Di tengahnya ada satu butir batu ruby merah sebesar kelingking. Si pria terlihat sangat gagah dan tampan dengan postur tubuh agak tinggi kekar. Wajahnya putih dengan tatapan mata yang menyejukan. Alisnya agak tebal menggambarkan keberanian. Dialah Prabu Katapangan Kresna, sang raja dari Kerajaan Tunggilis.


Di pinggirnya, ada seorang wanita yang amat cantik. Bahkan kecantikannya bisa di sejajarkan dengan Ling Zhi atau bahkan lebih. Wanita itu memiliki sepasang alis berbentuk golok. Tatapan matanya tajam namun tenang. Senyuman selalu tersungging di bibirnya. Pipi kanannya lesung, jika tertawa selalu menampakkan giginya yang putih. Kulitnya kuning langsat seperti orang sunda pada umumnya. Namun dia memiliki daya tarik tersendiri.


Siapapun yang melihatnya, tidak akan bisa melupakannya. Dia di kenal sebagai seorang wanita yang baik dan tegas. Dialah sang ratu dari Kerajaan Tunggilis, Ratu Dewi Nila Ningrum.


Mereka sedang berbicara bersama para pendekar. Di sana ada juga satu orang puteranya yang sudah berumur sekitar tiga puluh tahun. Dia belum menikah. Tubuhnya tinggi tegap dengan senyuman yang tak pernah hilang. Sekilas, kecantikan dan ketampanan orang tuanya, menyerap kepada anak itu. Dan dia diberi nama Raden Kalacakra Mangkubumi.


Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sudah tiba di sana. Mereka langsung memberi hormat kepada semuanya. Terutama kepada raja dan ratu.


"Salam hormat baginda raja dan ratu. Mohon maaf kalau hamba sudah menggangu, tapi kedatangan hamba ke sini adalah untuk memberitahukan, bahwa tamu yang sudah baginda tunggu-tunggu telah datang," kata Kakek Sakti memberi hormat diikuti yang lainnya.


Percakapan seketika berhenti. Suasana hening sejenak. Semua orang memandang tamu yang dimaksudkan oleh Kakek Sakti. Tak lain adalah Cakra Buana dan Ling Zhi.


"Apakah memang dia orangnya paman?" tanya Prabu Katapangan.


"Benar gusti. Dialah Cakra Buana, tamu yang selama ini gusti nantikan. Dia keponakan gusti," katanya sambil terus memberi hormat.


"Aihhh … keponakanku," kata Prabu Katapangan.


Dia langsung turun dari singgasananya lalu berjalan menghampiri Cakra Buana.

__ADS_1


"Bangunlah anakku, bagaimana kabarmu selama ini?"


Prabu Katapangan memegangi pundak Cakra Buana untuk membuatnya berdiri. Kemudian ia memeluknya dengan sangat erat. Tak kuasa menahan kerinduan, sang raja pun akhirnya meneteskan air matanya. Mereka berpelukan cukup lama.


"Akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggumu lama sekali," ucap Prabu Katapangan sambil melepaskan pelukannya perlahan.


"Maafkan hamba yang telah membuat gusti prabu menunggu," jawab Cakra Buana.


"Aihh tidak perlu pakai gusti segala. Kau itu keponakanku, mari ikut paman. Semuanya, tolong kalian pergi dulu. Kami ingin berbicara sebentar," ucapnya kepada semua pendekar.


"Baik gusti. Kami undur diri," kata para pendekar itu secara bersamaan.


Prabu Katapangan berserta keluarganya membawa Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, Cakra Buana serta Ling Zhi ke sebuah ruangan khusus. Tak ada yang lain kecuali mereka.


Kini semua orang itu sudah duduk berhadapan di sebuah ruangan cukup mewah. Suguhan sudah tersedia penuh. Ruangan ini biasanya di khususkan untuk rapat kerajaan.


"Sudah gusti. Beberapa waktu lalu guruku sudah menceritakan semuanya. Oleh sebab itulah aku menuju ke sini dengan harapan bisa di terima dengan baik," kata Cakra Buana.


"Hushh kau ini bicara apa. Tentu saja aku menerimamu dengan baik. Kau ini keponakanku, anak dari kakakku sendiri,"


"Hah? Jadi …, jadi …," Cakra Buana tidak bisa melanjutkan perkataannya.


Terlalu banyak rahasia-rahasia besar yang baru terungkap. Dia mengira bahwa rahasia besarnya sudah diceritakan semua oleh Ki Wayang Rupa Sukma Saketi, ternyata belum semuanya. Cakra Buana langsung mematung ketika mendengar bahwa Prabu Katapangan merupakan adik orang tuanya.


"Benar sekali. Aku adik dari ibumu Cakra. Ceritanya panjang, tapi aku akan menjelaskan garis besarnya saja," ucap Prabu Katapangan lalu mulai menceritakan semuanya.

__ADS_1


Selama raja itu bercerita, Cakra Buana tidak dapat berkata apa-apa. Entah rasa sedih atau bahagia yang harus dia ungkapkan saat ini. Kepalanya terasa berat, ternyata identitasnya tidak sesederhana yang ia kira.


Cakra Buana baru tahu sekarang bahwa ternyata, leluhurnya sendiri merupakan orang-orang penting bagi Pasundan.


Pada zaman ini, hubungan keluarga memang sudah lazim untuk ditutupi beberapa waktu. Terlebih lagi mereka yang memiliki peran. Biasanya, orang yang bersangkutan sengaja menyembunyikan silsilah untuk menyelamatkan generasi berikutnya. Seperti yang terjadi pada Cakra Buana sekarang. Sebab kalau tidak begitu, maka bisa jadi dia sudah di bunuh jauh-jauh hari.


"Gusti,"


"Jangan panggil gusti. Kita tidak di depan umum. Panggil aku paman," kata Prabu Katapangan memotong cepat perkataan Cakra Buana.


"Baiklah, pa-paman. Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk saat ini?"


"Tentu saja merebut hakmu kembali anakku. Kerajaan Kawasenan adalah hakmu. Kau harus merebutnya kembali dan menyatukan Pasundan. Aku sudah siap membantu perjuanganmu. Bahkan aku menunggu waktu itu, kau tahu, bahwa aku menjadi raja seperti sekarang hanya menuruti pesan wasiat orang tuamu. Jika kau sudah berhasil merebut hakmu kembali, maka aku siap meleburkan diri ke dalam Kerajaan Kawasenan. Kau berhak menjadi seorang raja besar," katanya.


"Tapi, aku belum bisa apa-apa paman. Bahkan ilmuku masih rendah," ucap Cakra Buana.


"Jangan terlalu merendahkan dirimu nak. Aku tahu semuanya. Pedang Pusaka Dewa sudah ada di tanganmu. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk kita bergerak. Matangkan semua ilmu yang kau miliki. Di sini, kau bebas melakukan apapun. Untuk masalah kapan waktu dimulainya, biar aku yang mengatur. Asalkan kau sudah siap untuk merebut hakmu,"


"Baik paman. Aku akan menuruti semua perintahmu. Aku siap merebut kembali hak milikku. Bahkan dengan taruhan nyawaku," katanya dengan semangat menggebu.


"Bagus, ini baru namanya keponakanku," kata Prabu Katapangan sambil mengelus-elus punggungnya.


Semua orang itu terus berbicara segala hal. Bahkan ketika Sepasang Kakek dan Nenek Sakti undur diri, Prabu Katapangan dan yang lainnya masih berbincang-bincang di sana. Mereka sedang melepas kerinduan yang sudah lama di pendam.


Rasa rindu terhadap orang-orang terkasih memang selalu hadir kapan saja. Kadang kala, rindu itu semakin tak tertahankan seiring bertambahnya waktu. Rindu tidak dapat dicegah, rindu juga tidak dapat dipaksakan.

__ADS_1


Orang yang sedang merindukan seseorang, dia tidak perlu hal mewah. Hanya cukup untuk duduk bersama, rindu itu akan segera terobati. Dan inilah yang sekarang sedang dilakukan oleh Prabu Katapangan Kresna kepada Cakra Buana.


__ADS_2