
"Ling Zhi, kau tidak papa?" tanya Cakra Buana sambil menghampiri Ling Zhi.
"Tidak kakang, kau jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja," jawab Ling Zhi sambil tersenyum manis.
"Aku melihat gerakanmu sudah matang semua, sejak kapan kau berlatih? Kenapa aku tidak tahu,"
"Sejak kau pergi tanpa pamit, aku sering berlatih sendiri. Mengingat-ingat semua gerakan yang menurutku belum sempurna. Karena saat itu aku berpikir kau tidak mau mengajak karena aku terlalu lemah. Makanya aku berlatih supaya menjadi lebih kuat lagi," ucap Ling Zhi.
Cakra Buana tidak mampu menjawab. Dia tidak tahu harus bilang apa. Hanya saja, ia merasa beruntung bisa mendapatkan kekasih seperti Ling Zhi.
"Baiklah kalau begitu, lalu sekarang bagaimana, apakah jadi kau ingin aku memberikan ilmu padamu?"
"Tentu saja aku ingin. Lagi pula itu memang janjimu dulu,"
"Baiklah. Apa yang kau inginkan?"
"Terserah kepadamu saja kakang. Apapun yang kau berikan, aku yakin itu yang terbaik untukku," kata Ling Zhi percaya penuh terhadap Cakra Buana.
Cakra Buana berpikir sebentar, dia sedang memikirkan jurus apa yang cocok untuk Ling Zhi. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ia tahu jawabannya.
"Baik, aku akan menurunkan sebuah jurus ciptaanku padamu waktu belajar di bawah bimbingan Ki Wayang Rupa Sukma Saketi,"
"Jurus apa itu kakang?"
"Karena jurus ini akan aku turunkam padamu, maka akan aku beri nama 'Tangan Bidadari Mencabut Nyawa'" kata Cakra Buana.
"Tangan Bidadari Mencabut Nyawa?"
"Benar. Jurus ini terdiri dari tiga tahapan. Setiap tahapan memiliki kesulitan masing-masing karena jurus ini termasuk jurus tingkat tinggi. Kalau kau memang berjodoh, harusnya dalam waktu tiga hari kau bisa mengusai ketiganya," kata Cakra Buana.
"Baiklah. Semoga saja memang cocok untukku," kata Ling Zhi memberikan senyuman bahagianya.
__ADS_1
Pada akhirnya dia akan di ajarkan oleh Cakra Buana juga. Impiannya menjadi kenyataan.
Wanita itu lalu mengikuti Cakra Buana memasuki bagian hutan yang lebih dalam. Keduanya mencari tempat yang cocok dan agak luas. Setelah menemukan tempat sesuai, Cakra Buana lalu mulai memberikan arahan kepada Ling Zhi.
"Kau perhatikan aku baik-baik. Bagian pertama aku berikan nama Bidadari Mengintai," kata Cakra Buana.
Ling Zhu mengangguk. Ia berdiri dengan seksama memperhatikan Cakra Buana yang mulai memainkan jurusnya.
Pendekar Maung Kulon itu bergerak perlahan-lahan. Ia berjalan berputar, matanya melirik ke segala penjuru. Setelah kembali ke tempat semula, Cakra Buana mulai mengeluarkan jurus Bidadari Mengintai.
Kedua tangannya bergerak perlahan. Semakin lama semakin cepat sampai memberikan pukulan beruntun tanpa henti. Berbagai gerak serangan ia mainkan sampai akhir.
"Lanjut ke bagian kedua. Jurus yang kedua aku berikan nama Bidadari Memetik Bunga. Pada bagian ini, kau harus bisa bergerak lebih cepat. Jurus ini penuh dengan gerak menipu, sehingga jika lawan kurang waspada, tentu kau bisa mengambil banyak keuntungan darinya,"
Cakra Buana kembali bergerak. Gerakannya lebih cepat dan cekatan. Ia seperti terbang. Tangannya seperti hendak memetik bunga. Gerakannya memang penuh dengan tipuan. Kadang ia menyerang ke atas, tapi begitu dekat, berubah ke bawah secara spontan.
Kadan kakinya menendang ke arah perut, tapi lagi-lagi, kaki itu berubah jadi ke atas mengincar leher lawan. Begitu seterusnya.
"Jurus ketiga. Ini jurus terakhir, dan di sinilah tahapan paling berbahaya dari jurus Tangan Bidadari Mencabut Nyawa. Aku beri nama bagian ini Tangan Maut Bidadari. Di bagian ini kau harus menyalurkan seluruh tenaga dalam ke setiap jari tangan dan jari kaki. Di bagian ini, kau juga harus bisa menggabungkan jurus pertama dan kedua secara bersamaan. Dengan begitu, lawan akan merasa semakin kebingungan,"
Cakra Buana kembali bergerak. Kedua jari tangannya ia kembangkan. Kakinya mulai ia aliri tenaga dalam dengan jumlah besar. Mula-mula gerakannya pelan, tapi detik berikutnya gerakan itu semakin cepat dan cepat lagi. Cakra Buana berubah seperti sebuah bayangan. Setiap pijakan kakinya menimbulkan jejak cukup dalam.
Kedua tangannya bergerak mengincar seluruh bagian berbahaya di tubuh lawan. Kakinya bergerak mengikuti irama. Kadang-kadang memberikan tendangan telak dan berbahaya.
Ling Zhi semakin terkagum-kagum. Bahkan ia masih berdiri mematung meskipun Cakra Buana sudah selesai memperagakannya.
"Ling Zhi, Ling Zhi. Apakah kau sudah mengerti?" Cakra Buana melambai-lambaikan tangannya di depan wajah wanita itu untuk menyadarkannya dari lamunan.
"Ehh, maaf kakang. Saking kagumnya, sampai-sampai aku masih terbayang bagaimana kau memperlihatkan jurus-jurus tadi," kata Ling Zhi sedikit malu.
"Aishh, apakah kau sudah mengerti sekarang?"
__ADS_1
"Sudah kakang,"
"Kalau begitu, cepat lakukan seperti yang sudah aku contohkan,"
"Baik kakang,"
Ling Zhi lalu melangkahkan kakinya ke depan. Ia mulai memperagakan gerakan seperti yang sudah di contohkan oleh Cakra Buana.
Awalnya ia merasa kesulitan. Tapi dia tidak menyerah, dengan sabar Cakra Buana membimbingnya sampai Ling Zhi mulai terbiasa.
Latihan tahapan pertama selesai. Ia segera beralih lagi ke tahapan kedua. Di tahapan kedua, butuh waktu sekitar dua jam untuknya bisa membiasakan diri.
Setelah itu, Ling Zhi langsung beralih ke tahapan ketiga. Tahapan ini jelas jauh lebih sulit beberapa kali lipat daripada dua gerakan sebelumnya. Ling Zhi mulai bisa memainkannya dengan lancar saat matahari mulai terbenam.
Karena hari mulai senja, dua pasangan muda itu memutuskan untuk menyudahi latihan kali ini. Lagi pula, Cakra Buana khawatir pamannya akan mencari-cari.
Keeseokan harinya, Ling Zhi dan Cakra Buana kembali lagi ke tempat tersebut. Di hari yang kedua, Ling Zhi atau Bidadari Penebar Maut mulai lancar memainkan ketiga tahapan jurus Tangan Bidadari Mencabut Nyawa.
Gerakannya mulai semakin mantap. Ia memainkan ketiga tahapan dengan mulus, hampir tidak ada kesalahan. Walaupun ada, hanya sedikit saja.
Di hari ketiga, mereka ke tempat itu lagi. Mungkin pepatah yang mengatakan bahwa jodoh tak akan ke mana, memang benar.
Di hari terkahir ini, Ling Zhi bisa memainkam jurus Tangan Bidadari Mencabut Nyawa dengan sempurna. Tidak ada kesalahan dalam setiap gerak langkahnya. Karena memang di khususkan untuk wanita, maka jurus Tangan Bidadari Mencabut Nyawa ini, jauh lebih indah saat di mainkan dengan Ling Zhi.
Walaupun belum menguasai secara sempurna, tapi setidaknya sudah bisa di gunakan dalam sebuah pertarungan. Cakra Buana bangga dengan hasil yang memuaskan ini. Ia semakin bersyukur mempunyai kekasih secerdas Ling Zhi.
Saat ini Ling Zhi masih terus memainkan tiga tahapan jurus Tangan Bidadari Mencabut nyawa tanpa henti. Wanita itu terlihat begitu menikmatinya.
Ling Zhi bergerak sangat lincah. Cepat. Dan tangkas. Setiap gerak tangan dan kakinya mengandung tenaga dalam tinggi. Dedaunan beterbangan terkena angin gerakan Ling Zhi. Ia berputar-putar, lalu merangsek memukul ke depan. Di ganti dengan tendangan. Berganti dengan pukulan lali ia melompat ke atas. Begitu turun, ia menghentakkan tangannya mengarah ke sebatang pohon cukup besar.
"Blarrr …"
__ADS_1
Pohon itu langsung hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Potongannya menyebar ke segala arah. Dalam sekejap mata, tempat itu sudah berantakan dibuatnya.